
Sudah hampir pukul 03.25, akhirnya mereka mengakhiri permainannya. Alex yang baru saja merasakan tubuh Syasa enggan untuk melepaskannya. Bahkan di saat tertidur pun Alex masih dalam posisi menyusu, sehingga ini merupakan kebiasaannya yang baru baginya.
Pagi hari Syasa terbangun lebih dulu dari pada suaminya. Dia sedikit terkejut melihat Alex masih dalam mode menyusu dengannya dibalik selimut.
Wajah tampan dan juga polos terlihat jelas didepan wajah Syasa. Sampai-sampai rasa sakit yang semalam dia rasakan telah menghilang ketika wajah tenang suaminya berhasil menjadi obat untuknya.
Syasa tersenyum sambil tangannya terangkat untuk mengelus kepala hingga rambut suaminya.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu lucu, Mas. Apa sebahagia itu ketika cintamu sudah terbalaskan? Bahkan kamu sampai enggan untuk melepaskanku hihi ...." gumam kecil Syasa sambil terkekeh.
Namun tanpa sadar mata Syasa terarah menatap jam kecil yang ada diatas meja tepat disebelahnya. Jam 9, itulah yang Syasa lihat dan membuat matanya sedikit melotot terkejut.
"Ya ampun, aku sudah melewatkan ibadahku. Mana hari udah semakin siang, tapi Mas Alex masih terlihat begitu lelah. Apa aku coba perlahan buat bangunin aja kali ya, kasian juga jika Mas Alex bangun terlalu siang." ucap Syasa menatap wajah suaminya.
Syasa mencoba menarik napasnya perlahan, tangannya terus mengelus kepla suaminya sambil berkata. "Mas, bangun yuk. Ini sudah siang loh, kita kan belum sarapan, nanti bisa-bisa badan Mas jadi lemas loh."
__ADS_1
Syasa mencoba membangunkan Alex secara perlahan sambil menoel pipinya. Tak lama mata Alex terbuka perlahan, menatap wajah istrinya yang saat ini sedang tersenyum.
"Selamat pagi, istriku." ucap Alex yang mulutnya masih setia menempel disalah satu balon kembar milik istrinya.
"Selamat pagi menjelang siang juga, suamiku." jawab Syasa.
"Udah ya, Mas nyusunya. Punyaku rasanya sangat perih." sambung Syasa mencoba menahan rasa sakit di ujung balon kembarnya.
Alex melepaskan secara perlahan, hingga membuat Syasa meringis kecil. Rasanya sangat perih ketika mulut Alex berhasil melepaskan balon kembarnya.
"Tapi nanti mau lagi boleh?" ucap Alex dengan suara khas bangun tidur.
"Enggak. Punyaku masih sangat sakit, Mas. Nanti aja tunggu seminggu kemudian baru nyusu lagi." jawab Syasa, spontan.
Wajah Alex seketika berubah setelah mendengar jawaban istrinya yang berhasil membuatnya merasa sedih. Entah enggak tahu bagaimana lagi, rasanya setelah melakukan malam yang panjang itu membuat Alex seperti enggan untuk berjauhan dari tubuh istrinya.
"Ma-mas, ma-maaf ...." gumam Syasa menatap wajah suaminya.
"Tidak apa-apa Sayang, maaf jika aku sudah membuatmu kesakitan. Ya sudah, mau aku bantu kekamar mandi?" sahut Alex mencoba mnutupi rasa sedihnya.
Syasa yang melihat itu hanya bisa menatap wajah suaminya yang berusaha tersenyum. Akan tetapi Syasa dapat merasakan kesedihan dari sorotan mata suaminya.
"Apa ucapanku yang tadi telah menyakiti suamiku? Tapi kan, maksudku bukan seperti itu." batin Syasa berbicara dengan raut wajah yang penuh rasa bersalah.
"Mas, maafkan aku ya. Jika ucapanku tadi membuatmu bersedih, tapi aku tidak ada maksud begitu kok atau kalau Mas mau lagi, aku bisa mengasihnya tapi yang sebelah kiri ya, soalnya yang kanan masih sangat perih,"
"Kalau Mas tidak percaya lihat saja, merah bukan? Itu tandanya kamu sudah bermain lama dengannya hingga membuatnya sedikit iritasi."
__ADS_1
Syasa mencoba menjelaskan secara perlahan kepada suaminya, Alex melihat kearah balon kembar milik istrinya, dan benar saja disana pucuk balon tersebut berwarna kemerahan.
Disitulah Alex meminta maaf pada istrinya jika dia sudah sedikit egois, sedangkan Syasa hanya bisa tersenyum. Dia memaklumkan suaminya, karena mungkin ini hal yang pertama bagi sepasang suami istri yang baru saja menjalani kehidupan baru.
"Sudah tidak apa-apa, Mas. Mending kita mandi yuk, mau kan mandi bareng aku, hem?" rayu Syasa menaik-naikan alihnya seraya menggoda suaminya.
"Memangnya boleh?" tanya Alex, menatap menggunakan mata polosnya.
"Boleh dong, apa sih yang enggak boleh buat suamiku. Tapi ...." Syasa menggantungkan ucapannya, Alex yang mendengar itu malah dibuat penasaran.
"Tapi apa?" tanya Alex menatap lekat manik mata istrinya.
"Tapi tanpa berhubungan, bagaimana?" sahut Syasa.
"Aku tidak janji untuk itu, Sayang." ucapa Alex yang langsung membawa istrinya kedalam gendongannya.
"Yak, Mas, lepaskan aku! Kan, aku cuman mau mengajakmu mandi bareng bukan kembali berhubungan!" pekki Syasa memukul dada suaminya.
Alex hanya terkekeh mendengar istrinya mengoceng sepanjang jalan kearah kamar mandi. Dimana Syasa merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
Namun pada akhirnya mereka mandi bersama, sesekali Alex mencuri start untuk membuat mood istrinya naik dan mereka melakukan hubungan percintaan kembali sebanyak 2 kali.
Kemudian mereka langsung mandi bersih, tak lupa Alex membantu istrinya untuk mandi akibat Syasa belum bisa banyak bergerak.
Hari ini Alex benar-benar memperlakukan istrinya bagaikan seorang ratu untuknya, tanpa rasa lelah Alex terus bersabar menghadapi kebawelan istrinya dan mengurusinya sampai dia rela ngeolesi salep untuk kesembuhan mahkota istrinya.
Alex terkekeh didalam hatinya saat melihat goa istrinya memerah dan juga iritasi, dia tidak menyangka jika belutnya itu sangatlah gagah. Ya terlepas dari umur Alex yang terbilang cukup matang, tetapi stamina hasratnya melebihi anak muda pada umumnya.
__ADS_1