
Mommy Nisha tersenyum mengangguk pelan, lalu Jay berjalan pergi meninggalkan ruangan. Kemudian Daddy Ken yang merasa mulai mengantuk akibat obatnya tanpa di sadari memejamkan kedua matanya, sedangkan Mommy Nisha malah terseyum menyelimuti Daddy Ken sambil mencium keningnya sekilas.
...*...
...*...
1 bulan telah berlalu..
Kini, kondisi Daddy Ken sudah membaik bahkan jahitan operasinya pun sudah mulai mengering meskipun tiap bulan selalu kontrol mengecek semuanya agar benar-benar bisa dinyatakan sehat sepenuhnya.
Saat ini Daddy Ken sedang bersiap-siap dengan sangat rapi, layaknya seseorang yang ingin bertemu sama kekasih hatinya.
Bahkan Mommy Nisha yang melihatnya pun merasa cemburu ketika mencium aroma tubuh Daddy Ken begitu wangi, sampai sedikit mengganggu hidungnya.
"Astaga, Ken! Kamu itu mau kenapa sih rapi banget kek gini, jangan bilang sifatmu yang dulu kumat lagi?" ujar Mommy Nisha melototkan matanya sambil bertolak pinggang.
"Apa sih Sayang, apa hem? Uluhh.. Uluhh.. Ternyata istriku sedang cemburu hihi.." Daddy Ken langsung berjalan mendekati Mommy Nisha dan memeluknya.
"Issshh.. Lepasin enggak! Mentang-mentang udah sehat mau belajar gila lagi, iya? Mau aku gorok lehermu, hem.."
Mommy Nisha melepaskan pelukannya dan mendongak menatap manik mata Daddy Ken yang berwarna sedikit kebiruan.
Daddy Ken mengalungkan kedua tangannya dileher Mommy Nisha sambil mendekatkan wajahnya dan berkata. "Jika aku belajar gilanya sama kamu, boleh? Fiuuhhh..."
"Yakkk.. Dasar suami me*sum! Awas ya kalau sampai kamu macem-macem, langsung aku cincang abis si Totong jadi sop mau?" pekik Mommy Nisha.
"Hihi.. Jangan dong Sayang, kalau si Totong di cincang. Tiap malam aku enggak bisa mendengar suara indahmu lagi dong, fiuuhhh.."
Lagi dan lagi Daddy Ken terus menggoda Mommy Nisha, sampai yang kali ini berhasil membuat tubuhnya menegang, matanya membola dan pipinya merah merona.
"Aku enggak akan pernah macam-macam Sayang. Kan aku sangat mencintamu, lagi pula aku cuman lagi bahagia aja karena hari ini Jay janji akan membawaku untuk bertemu dengan Key, anakku. Aku sudah sangat merindukan dia, udah lama juga kan aku tidak pernah lihat wajahnya lagi"
"Jadi aku harus bersiap serapi mungkin bertemu dengannya. Aku enggak mau mengecewakan Key, pokonya aku pengen banget memperbaiki hubunganku dengannya. Jadi bantu aku ya Sayang, buat yakinin dia kalau aku sudah benar-benar berubah aku mohon.."
Daddy Ken memegang kedua tangan Mommy Nisha membuatnya sedikit gugup, kemudian Mommy Nisha mengangguk kecil.
Di saat mereka sedang menatap satu sama lain, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Daddy Ken segera melepaskan tangannya, lalu Mommy Nisha berjalan membuka pintunya bersamaan munculnya Jay yang sudah siap.
"Daddy sama Mommy udah siap ketemu Kak Key?" tanya Jay.
"Daddy sudh siap, ayo kita ke sana!" sahut Daddy Ken penuh semangat.
Jay mengode Mommy Nisha menandakan bahwa semuanya sudah beres, mereka hanya perlu datang ke sebuah tempat yang akan membuat Daddy Ken menyadari kesalahannya.
Ibarat kata ini adalah hukuman baginya agar tidak lagi-lagi menyiakan Ken selaku anak kandungnya, mungkin dengan begini apa yang Daddy Ken lakukan pada Key di masa kecilnya akan terbayar lunas.
Mereka pun langsung bersiap-siap bergegas mengikuti Jay, karena hanya Jaylah yang di kasih tahu oleh Kakek Iram dan juga Key dimana mereka akan melakukan akting bersandiwara seperti sangat kehilangan Key.
...*...
...*...
__ADS_1
Di Pemakaman Merah Delima
Mobil Kakek Iram sudah terpakir rapi tanpa bisa terlihat oleh Daddy Ken, bahkan mereka pun sudah berada di posisinya masing-masing sebelum mobil Jay sampai.
5 menit kemudian, Jay baru saja sampai langsung memarkirkan mobilnya dan berhasil menarik perhatian Daddy Ken yang sedang melihat sekelilingnya. Perasaan bingung, aneh dan juga penasaran saat ini sedang melanda Daddy Ken.
Mommy Nisha melihat Daddy Ken kebingungnya rasanya ingin sekali mengatakan kebanaran, namun dia selalu mencoba menahannya sesuai dengan perjanjian.
Awalnya Mommy Nisha tidak percaya bahwa Daddy Ken akan berubah dan bis menyayangi Key, cuman dia salah ketika baru tersadar saja Daddy Ken langsung menyadari kesalahannya sebelum Mommy Nisha mengatakan sesuatu tentang Key.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua turun dari mobil dalam keadaan Daddy Ken berjalan kesana kesini untuk memastikan semuanya, apakah dia benar-benar ada di pemakaman atau tidak.
"Ja-jay? A-apa ma-maksudnya kamu bawa Daddy ke sini? Kan, Daddy mau bertemu Kakakmu. Tapi kenapa di bawa ke tempat seperti ini?" tanya Daddy Ken.
"Daddy mau ketemu Kak Key, kan? Ya, di sini tempatnya. Ini adalah rumah baru Kak Key" ucap Jay sangat lirih dengan mata berkaca-kaca.
Degh!
Degh!
Jantung Daddy Ken berdetak sangat keras, bahkan sampai Daddy Ken reflek memegang dadanya sendiri dengan kondisi terdiam mematung ditempat.
"A-apa ma-maksud u-ucapanmu, Jay?" gumam kecil Daddy Ken. Bibirnya bergetar, suaranya terdengar sangat syok dan matanya mulai memancarkan aura kesedihan.
"Nanti Daddy juga tahu, sekarang ayo kita masuk ke rumah baru Kak Key. Pasti Kak Key sangat senang saat tahu Daddy sudah berubah, tapi-.. Ahyasudah ayo Dad, Mom.."
Mereka masuk bersama-sama dengan perasaan berbeda-beda, dimana Daddy Ken masih sangat syok dengan ucapan Jay, sedangkan Mommy Nisha tak henti-hentinya berjaga-jaga agar kondisi Daddy Ken tetap stabil.
Lalu Jay, dia cukup kasihan melihat Daddynya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini yang terbaik supaya dia bisa kembali menyatukan keluarganya.
Sampai akhirnya mereka berdiri tepat di sebuah makam tanah yang masih terlihat baru bertuliskan nama Key sangat jelas.
"Ke-key? I-ini semua apa ma-maksudnya, Jay? Nis? Kenapa nama anakku ada di nisan itu? Kenapa? Apa yang terjadi dengan anakku selama ini, jawab!! Hiks.."
Tubuh Daddy Ken runtuh berlutut di nisan bertuliskan nama Key, Daddy Ken menatap lekat nisan tersebut hingga akhirnya isak tangis terdengar begitu nyaring.
"Kak Key sudah tiada Dad, ini adalah rumah baru Kak Key 1 bulan yang lalu. Kak Key meninggal akibat kecelakaan saat mendengar kondisi Daddy semakin memburuk"
"Akibat kecelakaan itu membuat kondisi Kak Key sangat kritis bertepatan sama keadaan Daddy yang juga semakin memburuk"
"Namun pesan terakhir Kak Key sebelum tiada, dia mau mendonorkan hatinya untuk Daddy agar Daddy bisa kembali menjalani hidup bahagia bersama kita hiks.."
Jay menangis menatap gundukan tanah yang masih terlihat basah dan juga baru, bukan berarti Jay mendalami perannya. Melainkan dia tidak tega melihat Daddynya seperti ini.
Jay yang awalnya sangat semangat, ketika semakin hari melihat perubahan Daddy Ken malah semakin membuatnya tidak tega harus menghukum Daddynya dengan cara yang sedikit kejam.
"Ja-jadi Key ya-yang sudah me-mendonorkan hatinya untukku? Ke-kenapa Key, kenapa kamu lakuin ini semua buat Daddy Sayang, kenapa hiks.."
"Ji-jika memang Key tidak kuat, mengapa tidak membiarkan Daddy untuk ikut menemani Key saja di atas sana, kan kita bisa pergi berdua kenapa harus Key memilih sendiri. Apa Key tidak sayang sama Daddy hiks.."
"Daddy tahu Daddy sudah banyak melakukan kesalahan pada Key, tapi sekarang Daddy sadar dan Daddy su-sudah berjanji akan memperbaiki hubungan kita. Ta-tapi hiks... Tapi Key sudah tiada hiks.."
__ADS_1
"Ma-maafkan Daddy Key, maafkan Daddy hiks.. Se-selama ini Daddy tidak pernah menyayangi Key seperti Jay"
"Namun di saat Daddy sudah berjanji sama diri Daddy sendiri untuk menyanyangi Key dan Jay sama rata, tidak ada lagi perbedaan di atara kalian tetapi kenapa Key malah pergi hiks.."
"Daddy kangen sama Key, Daddy mau memeluk tubuh Key langsung bukan gundukan tanah seperti ini hiks.."
Daddy Ken menangis sesegukan sambil memeluk gundukan tanah tersebut, bahkan dari jarak jauh Key bisa mendengar suara mereka dari sebuah alat canggih yang terbang di atas mereka memantau semuanya.
Key tersenyum lebar sambil menangis ketika mendengar bahwa Daddy Ken begitu menyesali perbuatannya pada Key.
Beberapa kali Daddy Ken meminta maaf, menyebut nama Key bahkan mengatakan bahwa dia sudah mulai menyayangi Key.
Disitulah hati Key bergerak ingin sekali rasanya Key berlari memeluk Daddynya, tetapi Kakek Iram selalu menahannya agar tidak mengacaukan rencananya.
Apa yang Daddy Ken rasakan inii belum seberapa, karena Kakek Iram mau melihat reaksi Daddy Ken beberapa hari ke depan setelah menjalani hidupnya tanpa Key disisinya. Apakah dia akan cepat melupakan Key atau tidak, itu yang jadi kuncinya utamanya.
Jika Daddy Ken dalam beberapa hari kedepan bisa menjalani kehidupannya tanpa adanya Key, itu artinya Daddy Ken memang belum sepenuhnya berubah.
Tetapi jika beberapa hari kedepan keadaan Daddy Ken merasa sangat kesepian itu tandanya dia benar-benar sudah menyesali perbuatannya.
Mommy Nisha dan Jay awalnya hanya berpura-pura menangis, seketika menjadi beneran akibat kondisi Daddy Ken yang sangat menyedihkan.
Nenek Mona pun melihat serta mendengar suara pilu Daddy Ken menjadi ikut meneteskan air matanya, sedangkan Key dan Kakek Iram selalu saja cekcok lantaran Key terus berusaha ingin menemui Daddynya lantaran ini saat-saat yang Key nantikan.
"Key mau bertemu Daddy, Kek! Tolong jangan halangi Key! Sudah cukup sandiwara ini, Kakek sudah lihat kan Daddy benar-benar menyesal!"
"Jadi ini adalah kesempatan emas buat Key agar bisa mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap! Jadi jangan coba-coba kembali menghalangi Key. Paham!"
Key memekik keras membuat Kakek Iram dan Nenek Mona langsung menatapnya, Nenek Mona yang tidak tega sama Key mencoba berusaha terus membela Key. Namun naas, semua sia-sia.
Kakek Iram tetap kekeh sama pendiriannya kalau Daddy Ken harus melewati hukuman ini sampai beberapa hari ke depan.
Dengan sangat terpaksa Key menuruti Kakek Iram, karena dia sudah sangat jengah untuk berdebat dengannya.
"Oke, Key ikutin mau Kakek! Tapi ingat, kalau keadaan Daddy sampai kenapa-kenapa Key akan langsung menghentikan sandiwara ini. Paham!" tegas Key.
"Ya kita lihat saja beberapa hari ke depan seperti apa! Palingan juga baru sehari dua hari, dia sudah melupakanmu dan juga penyesalannya karena aku yakin, dia belum sepenuhnya berubah!" sahut Kakek Iram menatap ke arah Daddy Ken.
"Terserah! Yang jelas bagi Key, Daddy Ken sudah berubah bukanlah Daddy Ken yang dulu Key kenal!" jawab Key.
"Sudah-sudah jangan pada ribut, itu lihat Jay! Dia kenapa kok memapah Daddynya? Apa jangan-jangan ada sesuatu?" ucap Nenek Mona penuh kecemasan.
"Daddy!! Ada apa dengan Daddy, Nek? Apa Daddy sakit lagi?" ucap Key begitu gelisah dan juga panik.
"Paling juga dia pura-pura sakit biar terkesan seperti orang yang sangat menyesal, padahal di hatinya dia begitu bahagia saat tahu anak yang tidak di harapkan sudah tiada. Bukannya itu kan yang selalu dia ucapkan padamu? Lantas kenapa dia malah pura-pura sakit!"
Celoteh Kakek Iram berhasil membuat Key mantap tajam ke arahnya, bahkan Nenek Mona pun langsung memegang tangan Key agar tidak sampai ke bawa emosi.
"Cukup, Kek! Cukup! Apa Kakek tidak lihat wajah Daddy begitu pucat, padahal tadi saat mau ketemu denganku Daddy terlihat begitu bahagia dan juga segar!" ucap Key menjelaskan kondisi Daddy Ken saat Jay tadi mengirimkan foto padanya.
Kakek Iram hanya menatap ke arah depan dimana Mommy Nisha dan Jay sedang memapah Daddy Key yang terlihat begitu lemas, pucat dan juga lesu. Terlihat banget jika semua ini bisa membuat Daddy Ken sangat syok.
__ADS_1
Kemudian mereka pergi dari pemakaman untuk membawa Daddy Ken ke rumah sakit, begitu juga dengan Key yang cukup merasa kesal segera pergi begitu saja mengikuti Jay agar bisa selalu memantau kondisi Daddy Ken dari jauh.
Sehingga Nenek Mona dan Kakek Iram juga kembali pulang dalam keadaan Nenek Mona yang terus mengoceh sepanjang perjalanan akibat ulah suaminya, yang begitu menyebalkan.