Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
King Golden Fangs


__ADS_3

Pinjai dan Joko menatap Alex, kemudian mereka ingin melihat tombol di sela tumpukan kayu besar itu namun mereka terdengar suara yang sedikit mengejutkan.


Deemm...


Deemm...


Deemm...


Sebuah lubang terbuka untuk membentuk sebuah anakan tangga.


“Jadi di sini tikus itu berada” ucap Alex.


“Ya Tuan, mungkin dia bisa mengelabui mafia lainnya tetapi tidak dengan Golden Fangs” seru Joko dengan senyuman licik.


Alex dan Pinjai saling menatap sambil menganggukkan kepalanya, kemudian Joko menuruni anakan tangga secara perlahan serta diikuti oleh Alex dan juga Pinjai yang berada di belakang.


“Haha... Dasar mafia bod*doh!! Gampang sekali melabui mereka. Tidak sia-sia aku mendesain ruangan ini agar tidak ada yang mengetahuinya, jadi aku akan aman untuk beberapa hari ke depan. Di saat suasana sudah mulai reda nanti, maka sesegera mungkin aku harus pindah dari sini” gumam Jovan sambil meminum minuman yang mengandung alkohol.


Prokkk...


Prokkk...


Prokkk...


Suara tepukan tangan terdengar sangat nyaring di sudut kegelapan sehingga membuat Jovan menjadi sangat panik, ia pun berdiri dengan wajah ketakutannya. Apa lagi di ruangan itu dia hanya seorang diri, tanpa adanya bodyguard.


“Si-siapa kau? da-dan mengapa kau bisa tahu jika aku berada di sini?” ucap Jovan penuh ketakutan.


Alex seketika melangkahkan kakinya mendekati Jovan, bahkan sekarang wajah Alex pun sudah terlihat berkat pantulan sinar dari lampu yang membuat Jovan langsung melototkan matanya.


“Ki-King Golden Fangs?” ucap Jovan sambil memundurkan langkah kakinya dengan semua keterkejutannya.


Joko dan Pinjai mulai melangkahkan kakinya, lalu mereka berdiri tepat di samping Alex sambil tersenyum licik.


“Akhirnya saya bertemu denganmu, Tuan Jovan. Apakah kau senang bertemu denganku?” tanya Alex penuh penekanan sambil tersenyum ke arahnya.


“Ma-mau apa kau ke-kesini?” tanya Jovan dengan tubuh bergetar.


Alex langsung berjalan duduk di sofa Jovan, yang membuat Jovan sedikit menjauh.


“Tidak usah khawatir, aku tidak akan menyakitimu tenang saja oke...” ucap Alex.


“Ji-jika kau tidak mau menyakitiku, lantas kalian mau apa datang ke sini?” tanya Jovan sambil menatap mereka secara bergantian.


“Aku hanya ingin menjemputmu untuk bertemu dengan sahabatmu” jawab Alex dengan sangat santai.


“Sa-sahabat? Ma-maksudnya?” saut Jovan dengan berpura-pura tidak mengerti ucapan Alex.

__ADS_1


“Sepertinya dia sedang mengecohmu, Tuan” ucap Pinjai yang membuat Jovan langsung menatapnya.


“Apa mak-maksud ucapanmu Tuan, aku tidak mengerti” saut Jovan.


Alex berdiri sambil menepuk bahu Jovan lalu ia berkata, “Ikutlah denganku, maka kau akan tahu apa maksud dari ucapanku”


Alex berjalan lebih dulu sambil memberi kode kepada Pinjai dan Joko untuk segera membawa Jovan. Pinjai dan Joko segera menangkap Jovan dan tak lupa ia memborgol kedua tangannya ke belakang.


“Lepaskan saya, lepaskannn...!!! Saya tidak pernah punya masalah dengan kalian, tapi kenapa kalian menangkapku. Hah!!” Jovan memberontak hingga berteriak yang membuat Pinjai geram.


“Diam!! Atau kau akan aku tembak mati sekarang juga” pekik Pinjai sambil menodongkan pistolnya yang baru saja ia keluarkan dari saku jasnya.


Jovan yang sangat ketakutan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya menurutinya apa yang Pinjai katakan. Kemudian Pinjai menaiki tangga lebih dulu, lalu Jovan yang di pegangi oleh Joko agar tidak bisa melarikan diri meskipun tangannya sudah terborgol. Mereka berjalan keluar rumah itu dan tak lupa ketua mafioso beserta anak buahnya membuat seolah-olah rumah Jovan itu mengalami kebakaran akibat tabung gas yang bocor.


Pinjai dan Alex memasuki mobilnya, sedangkan Joko memasuki mobil yang lain dengan menjaga ketat Jovan agar tidak bisa kabur darinya. Alex memakai kacamatanya kembali sambil membuka kaca mobil.


“Ambil semua barang berharga yang berada di rumah itu tanpa terkecuali, terutama di ruangan rahasia itu. Jika sudah semuanya, maka kalian cepat selesaikan dan bereskan rumah itu agar tidak terlacak oleh siapa pun. Buatlah rumah itu seperti terjadi kebakaran secara logika, paham!” ucap Alex kepada ketua mafioso.


“Paham, Tuan. Saya akan selesaikan semuanya” jawab ketua mafioso sambil menundukkan kepalanya.


“Bagus!!” saut Alex sambil menaikkan kaca mobilnya.


“Jalan!” ucap Alex kembali kepada Pinjai.


“Baik, Tuan” jawab Pinjai yang langsung menyalakan mobilnya.


Selang beberapa menit, mafioso lainnya dan juga ketuanya sudah beres mengambil semua benda berharga yang ada di dalam ruangan rahasia termasuk kekayaan Bonnie.


Setelah itu mereka tak lupa menjalankan perintah kedua dari Alex untuk menghilangkan jejak. Kemudian mereka menyusul rombongan menuju Markas Besar Golden Fangs.


...*...


Keesokan harinya...


Joko yang sudah menghubungi Bonnie untuk segera datang ke markas agar bisa bertemu dengan sahabatnya yang bernama Jovan. Sedangkan Alex dan Pinjai, mereka menatap Jovan dari balik jeruji besi yang sangat kuat.


Di sana Jovan sudah terikat di sebuah kursi kayu sambil matanya tertutup dan juga mulutnya tersumpal kain agar tidak membuat suasana ruangan bawah tanah itu menjadi berisik akibat teriakan Jovan yang terus meminta di lepaskan.


“Dimana dia? Kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar menunggu pertunjukkan ini” ucap Alex sambil duduk bersama Pinjai.


“Aku juga sama Tuan. Biasanya kita yang akan memberikan perhitungan pada mereka, namun kali ini malah berbeda” sahut Pinjai.


“Aku yakin pasti ini akan lebih seru dari apa yang kita bayangkan” ucap Alex.


“Pasti, Tuan. Apa lagi ini terkait balas dendam antara sahabat kepada sahabatnya” jawab Pinjai.


Tak lama Joko datang bersama dengan Bonnie yang sudah siap dengan pertunjukkannya.

__ADS_1


“Tuan Alex, terima kasih atas semuanya. Saya tidak akan pernah lupa dengan semua jasamu ini, bahkan semua hartaku sudah kembali lebih dari apa yang aku bayangkan. Maka dari itu, aku sudah menyelesaikan membayaran sesuai dengan perjanjian” ucap Bonnie dengan sangat bahagia.


“Good! Lalu apakah kau sudah siap untuk melampiaskan rasa sakit hatimu padanya?” ucap Alex sambil menatap ke arah Jovan yang masih tertidur dalam keadaan terikat.


“Saya sudah siap, Tuan. Saya akan membuatnya merasakan rasa sakit yang berkali-kali lipat dari rasa sakit yang telah ia ukir di dalam hati ini karena ia sudah mengkhianati saya” ucap Bonnie dengan rasa percaya diri.


“Tunjukkan padaku, bagaimana cara kamu membalaskan dendammu padanya” sahut Alex dengan nada dinginnya.


“Siap Tuan...” jawab Bonnie sambil membungkuk.


Kemudian Joko berjalan untuk membuka pagar jeruji besi itu, dengan diikuti oleh Bonnie yang langsung masuk ke dalamnya.


“Rupanya dia masih bisa tertidur dengan pulas di sini, sedangkan aku tidak bisa tidur karena ulahnya. Dasar pengkhianat” geram Bonnie sambil menjambak rambut Jovan.


Eeeemmmnnnggg...


Jovan terkejut sambil berteriak dalam keadaan wajah mendongak ke atas. Bonnie langsung segera mencabut serta melepaskan kain yang menyumpal di mulut Jovan, dan juga matanya. Seketika mata Jovan melirik ke arah Bonnie.


“Hai kawan, bagaimana? Apa kau sudah senang beberapa hari ini kau bisa menikmati menjadi orang kaya?” ucap Bonnie sambil mengukir senyuman penuh arti.


“Ka-kauu...?” ucap Jovan saat melihat sahabatnya.


“Ya ini aku, kenapa? Bingung? Kesal? Marah? Silahkan, lagi pula hidupmu berada di tanganku sekarang. Jadi sebelum aku mengakhiri hidupmu, bagaimana jika kita bermain sebentar mau? Ya pasti maulah ya haha...” sahut Bonnie sambil melepaskan tangannya dari rambut Jovan, kini sifat Bonnie membuat Alex tersenyum.


“Kaaauu!!! Bisa-bisanya kau mengancamku seperti itu, apa kau lupa siapa aku hahh!!! Aku ini sahabatmu, tapi kenapa kau ingin sekali membunuhku. Apa kau lupa persahabatan kita?!” pekik Jovan.


“Lupa? Aku atau dirimu yang lupa akan persahabatan Jovan!!! Sudah lama kita berteman, bahkan kita membentuk sebuah mafia kecil untuk sama-sama kita kelola, namun apa hasilnya!?"


"Saat mafia itu semakin berkembang, kau malah semakin ingin mengusai semua sendiri. Jadi kau berusaha untuk menjebakku agar aku menyerahkan semua hartaku termaksud mafia yang sudah kita bentuk”


“Apa kau ingat, bagaimana dulu kita selalu merintis semuanya bareng-bareng. Tapi sekarang apa!? Pada akhirnya kaulah yang telah mengkhianatiku, Jovan!!”


Bonnie yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, seketika ia melontarkan sebuah bogeman keras tepat di perut Jovan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2