
Di ruang tamu
Kini, mereka semua sudah kumpul dan duduk di kursinya masing-masing.
Qisya yang dari tadi tidak mau berjauhan dari Hana sampai harus membuat Hana mengalah untuk duduk di samping Qisya dan Brian sambil sesekali melirik Brian.
Mereka semua yang melihat Hana, Brian dan Qisya duduk di kursi panjang layaknya seorang suami istri yang sedang menjaga anaknya.
"Nah.., sekarang kan semua sudah terkumpul. Lalu bagaimana kelanjutannya Dew?" tanya Nyonya Syifa sambil menatap Umi.
"Ma-maksudnya bagaimana, Syif?" Umi berbalik bertanya kepada Nyonya Syifa karena belum paham.
"Apa Hana sudah memiliki jodoh? atau calon suami gitu?" Nyonya Syifa memastikan lebih dulu status Hana seperti apa agar ia bisa melanjutkan omongannya ataukah membahas yang lain.
"Hana masih sendiri, Syif. Tahu sendiri anakku ini sudah matang usianya tetapi susah banget untuk menikah, padahal teman-temannya saja sudah memiliki anak" Umi menatap Hana yang sedang bermain dengan Qisya sesekali Hana menatap Uminya.
"Memangnya ada apa? Apakah kalian berdua ingin.." ucap Abah yang menggantungkan pertanyaannya dan di angguki oleh kedua orang tua Brian.
"Ingin apa, Bah? Kok Mamah dan Papah malah mengangguk begitu, memangnya ada apa sih. Kok Brian tidak tahu apa-apa" Brian yang di buat penasaran kini langsung menyerobat dan melontarkan semua pertanyaan kepada mereka.
"Pokonya Hana enggak mau nikah ya Umi, Abah.., Hana belum cukup umur untuk menikah" saut Hana yang sudah tau kemana arah obrolan mereka semua.
"Brian juga tidak mau di jodohkan, emangnya ini di jamannya Siti Nurbaya. Pakai jodoh-jodohan segala" celoteh Brian dengan perasaan kesal.
Kedua orang tua mereka kini saling menatap anaknya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Mereka kira, Brian dan Hana akan langsung menyetujui pernikahan ini tapi nyatanya mereka salah.
Brian dan Hana malah menolaknya dengan sangat lantang di depan semuanya.
"Loh kenapa kalian menolaknya, mbak, mas. Bukannya kalian sudah dapat restu dari Qisya. Bahkan Qisya saja mau kan punya bunda dan ayah yang lengkap?" tanya Arya sambil menatap Qisya.
Qisya kemudian menatap Brian dan Hana saling bergantian dengan wajah yang sangat berharap kalau mereka bisa hidup bersama.
"Ayah, bunda.., kenapa kalian ndak mau ikah? Emangna Isa anak yang andel ya. Ampe Ayah dan Bunda ndak mau tinggal sama Isa baleng-baleng. Anti kan kita bica main baleng, pelgi baleng, oping baleng uga"
Qisya kembali menatap Hana dan Brian sambil memilin bajunya dengan wajah sedihnya. Semasa kecilnya Qisya belum pernah merasakan apa itu ksih kasayang orang tua? Lalu, bagaimana rasanya jika Qisya mempunyai keluarga yang lengkap seperti yang lain?.
"Dengerin mamah ya Brian, mamah dan tante Dewi waktu dulu sudah saling berjanji satu sama lain. Jika anak kami berbeda jenis kelamin, kami akan menjodohkan anak kami. Tetapi jika sama jenis kelaminnya, kami akan membuat mereka menjadi sahabat yang tidak akan terpisahkan"
Nyonya Syifa berbicara dengan tegas sambil menatap Brian, sedangkan Umi hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum penuh harapan.
"Sudahlah, Ndok. Umimu sudah terlanjut bernazar dengan tante Syifa sewaktu dulu untuk menjodohkan anaknya jika berbeda jenis kelamin. Lagian juga kamu sudah seharusnya memiliki keluarga"
__ADS_1
Abah mencoba menasehati Hana dengan suara yang tegas dan lantang sambil menatap serius mata Hana.
"Iya sayang, mas Brian adalah laki-laki yang baik. Umi yakin dia akan bisa menjadi imam yang baik untukmu kok" ucap Umi sambil menatap Hana.
"Jika Brian bermacam-macam ataupun menyakitimu, maka aku orang pertama yang akan menghukum anakku sendiri" saut Tuan Ferry dengan suara tegasnya.
"Tuh, mbak. Sudah ada lampu hijau loh, masa mbak tega sih.. lihat itu Qisya sudah mulai menangis loh. Dia itu butuh mbak, apa lagi Qisya sudah menganggap mbak sebagai bundanya"
Arya yang memang terbilang anak kemarin sore yang masih bersifat masih ke kanak-kanakan itu, membuat dirinya sadar bawah dia harus sangat pintar memposisikan dirinya sendiri di mana saatnya Arya harus bercanda. Dan di mana saatnya Arya harus serius.
"Mah, Pah. Kalian tahu kan Brian tidak akan pernah bisa menggantikan nama Sandra di dalam hati Brian. Jika Hana mau untuk menikah dengan Brian, maka Hana juga harus siap kalau namanya nanti hanya ada di mulut Brian bukan di hati Brian"
Brian mengucapkan kata-katanya tanpa menyaringnya lebih dulu, bahkan Brian sampai melupakan jika di situ masih ada keluarga Hana dan Hana.
"Stop Brian, dengerin Papah!! kamu itu anak laki-laki, coba lihatlah anakmu itu, dia sudah mulai mengerti serta saat ini dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Meskipun bukan dari ibu kandungnya sendiri" bentak Tuan Ferry yang sudah tidak bisa mengontrol ke kesalahannya kepada putranya.
"Hiks.. ayah ahat, ayah ndak cayang Isa agi huaa.., Isa uma mau punya Bunda kaya olang-olang. Api Isa tahu kalau Isa ndak akan punya Bunda amle kapan pun itu, kalena Ibu Isa udah meinggal"
Qisya yang sudah sangat mengerti meskipun umurnya masih kecil, membuat dirinya merasakan sakit hati.
Qisya kira ayahnya akan menjemput Hana untuk membawanya pulang ke Jakarta, tapi malah Brian tidak mau memberikan Bunda kepada Qisya.
Qisya berlari keluar rumah Hana sekencang mungkin, membuat semua yang ada di sana di buat sangat panik.
Tetapi naas, di saat Brian ingin menarik tangan Qisya.
Tiba-tiba saja, ada motor yang super kencang dan langsung menyerempet tubuh kecil nan mungil itu.
Brakk...
Qisya terpental dengan keadaan yang sudah berlumuran darah.
Apa lagi di jalan rumah Hana itu masih penuh dengan bebatuan kecil khas pedesaan.
Hanya saja hari ini mereka kurang beruntung, biasanya tidak ada kendaraan yang melewati jalanan dekat rumah Hana yang terbilang gang sempit. Apa boleh di kata, semua terjadi begitu saja dan secepat kilat.
Semua orang yang berlari kini berteriak menyebutkan nama Qisya.
Brian yang melihat kejadian itu langsung ambruk dan mengangat tubuh Qisya.
"Qisya sayang bangun, nak. Ini ayah please bangun sayang, jangan tinggalin ayah hiks.." Brian langsung memeluk tubuh Qisya dengan sangat erat sambil menangis dengan rasa penyesalan.
"Hiks.. Qisya bangun, ini ante Hana sayang. Ayo Qisya anak yang kuat, ante Hana yakin Qisya tidak akan pernah bisa meninggalkan kita" ucap Hana yang sudah menangis dengan sangat histeris.
__ADS_1
Semua orang dan tetangga mendekati Brian dan Hana yang duduk di jalan dengan memeluk Qisya dengan keadaan sudah menutup matanya serta penuh darah di bagian kepalanya.
Sedangkan sang motor, entah mereka lari kemana sampai-sampai sudah tidak terlihat.
Tuan Ferry, Abah, Umi serta Nyonya Syifa langsung menyadarkan Brian dan Hana untuk segera membawa Qisya ke rumah sakit terdekat agar bisa secepatnya menangani ke adaan Qisya.
Brian dan Hana berlari mendekati mobil Brian.
Hana duduk di belakanv sambil memangku Qisya yang sudah berlumuran darah.
Sedangkan Tuan Ferry duduk di depan bersama Brian, kemudian Nyonya Syifa duduk di samping Hana yang memangku Qisya sambil menangis
Lalu Abah dan Umi sudah masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi belakang.
Tetapi tidak dengan Arya yang tidak ikut, karena mobil sudah tidak muat.
Arya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Qisya sambil menjaga rumah.
Brian dengan cepat langsung menjalankan mobilnya untuk segera pergi membawa Qisya ke rumah sakit terdekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1
Papay 🤗🤗