
Hana yang melihat Brian berkelakuan seperti anak kecil malah membuat ia menggelengkan kepalanya. Hana merasa seperti mempunyai 2 orang anak kecil.
“Ya sudah Mas istirahat lagi, Hana mau nyiapin semuanya nanti kalau sudah Hana panggil Mas ke sini” ucap Hana.
“Ya udah jangan lama-lama ya aku pengen banget soalnya” jawab Brian sambil berbaring.
Hana hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sambil menyelimuti Brian.
Kemudian, Hana keluar kamar dan menyiapkan semua pesanan Brian. Entah kenapa saat melihat ikan asin Hana menjadi sangat mual.
“Huek... huek... ya ampun, kenapa saat aku melihat ikan asin malah jadi mual seperti ini sih. Lalu, bagaimana aku memasaknya” gumam Hana sambil menutup hidungnya dan sedikit menjauh dari ikan asin.
Namun, tiba-tiba saja Nyonya Syifa datang ke dapur dengan wajah bingungnya.
“Sayang, ada apa? Kok kamu menutup hidungmu seperti itu?” tanya Nyonya Syifa sambil berjalan mendekati Hana.
“Ini loh, Mah. Hana tidak bisa mencium bau ikan asin. Tapi Mas Brian malah ingin dibuatkan sayur asem, ikan asin, sambal sama tempe mendoan” jawab Hana sambil menatap Nyonya Syifa.
“Tumben banget, padahal Brian belum pernah memakan makanan seperti itu loh” ucap Nyonya Syifa sambil menunjukkan wajah bingungnya.
“Sudah kok, Mah itu waktu awal ketemu sama Mas Brian di desa. Kebetulan keluarga Hana sedang memasak menu itu jadi Mas Brian ikut makan. Namun, dia waktu itu sangat lucu di kiranya itu adalah sayur basi hehe...” jawab Hana sambil tertawa.
Nyonya Syifa yang mendengarnya pun ikut tertawa karena semenjak menikah dengan Tuan Ferry, Nyonya Syifa tidak pernah memasak menu seperti itu. Ia malah lebih memasak ke menu restoran.
“Ya sudah mamah yang masak ikan asin sama sambalnya kamu nanti masak sayur sama mendoannya saja, kita bagi tugas bagaiman?” tanya Nyonya Syifa.
“Tidak perlu, Mah. Mamah tolong masak ikan asin saja sisanya Hana yang memasak. Takutnya jika rasanya beda Mas Brian malah kembali menangis Hana pusing mendengarnya. Bahkan lebih manja Mas Brian daripada Qisya” ucap Hana.
“Ya ampun, segitunya Brian? Sungguh sangat langka. Mamah saja tidak pernah melihat Brian semanja itu loh” jawab Nyonya Syifa sambil memasang wajah penasarannya.
“Entahlah, Mah. Hana tidak tahu, tapi akhir-akhir ini sikap Mas Brian berubah-ubah. Kadang kasar, baik, lembut bahkan cengeng” saut Hana.
“Ya kamu benar juga, lalu bagaimana keadaan Brian? Apa dia masih muntah-muntah? Kalau iya nanti kita bawa dokter saja yuk, Mamah jadi cemas deh” tanya Nyonya Syifa.
“Semalam sudah mendingan kok, Mah. Tapi, tadi dia kembali muntah-muntah bahkan sampai mengeluarkan cairan hijau itu Mah. Tetapi setiap Hana memeriksa suhu tubuhnya Mas Brian, tidak panas bahkan biasa saja cuman wajahnya pucat dan kadang keringat dingin sama muntah-muntah terus. Hana bingung mau kasih obat apa takut salah” jawab Hana.
“Jangan-jangan Hana hamil? Tapi yang merasakan ngidam serta mual-mualnya itu Brian. Kan ada yang seperti itu jika istrinya hamil suaminya juga bisa merasakannya. Habisnya dari kemarin Brian begitu aneh. Jika itu benar, wahh.. aku harus segera memastikannya hihi.. yes, akhirnya aku punya cucu lagi ” ucap Nyonya Syifa di dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
Hana yang melihat Nyonya Syifa senyum-senyum sendiri membuat ia sangat bingung sambil berkata “Mamah kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Hana.
“Eh, hehe... tidak apa-apa sayang. Mamah cuman lagi bahagia sekali” jawab Nyonya Syifa sambil menunjukkan wajah bahagianya.
“Aneh sekali, masa anaknya sakit ibunya malah bahagia. Sepertinya Mamah kurang tidur deh, jadi pikirannya sedikit terganggu. Astaghfirullah Hana... tidak boleh berbicara seperti itu. Maaf ya Allah ” ucap Hana di dalam hatinya.
__ADS_1
“Sudah ayo kita masak untuk Brian yang banyak sekalian biar dia bisa nambah hehe...” ucap Nyonya Syifa sambil bersemangat menyiapkan masakan.
Hana yang sangat heran membuat ia sedikit bingung, tapi ya sudahlah Hana pun menyiapkan bahan masakan lainnya.
Kemudian mereka berdua memasak dengan sangat serius. Tetapi, tak henti-hentinya Nyonya Syifa tersenyum seperti orang yang sedang bahagia.
Hana yang melihatnya selalu heran, tapi apa boleh buat mungkin mood Nyonya Syifa sedang baik jadi ia selalu saja tersenyum.
Seketika jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Hana dan Nyonya Syifa sudah selesai dengan masakannya , meski pun Hana beberapa kali mual saat mencium bau ikan asin tapi itu malah membuat Nyonya Syifa semakin tersenyum.
Kini saatnya mereka meletakkan semua makanan di meja makan. Di saat Hana senang menatanya tiba-tiba saja Qisya datang dan minta untuk di mandikan oleh Hana.
Dengan begitu Hana meminta izin kepada Nyonya Syifa kemudian kembali ke kamar Qisya dengan bergandengan.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Qisya lalu Hana membantu Qisya serta mengajarinya bagaimana caranya mandi sendiri. Qisya yang mudah menanggapi ia langsung bisa mandi sendiri, Hana hanya perlu memperhatikan dan mengarahkan Qisya.
Hampir satu jam kurang kini Qisya sudah selesai mandi, kemudian ia langsung turun dan menemui Opa sama Omanya di meja makan.
Sedangkan Hana kembali ke kamar untuk mandi dan membangunkan Brian. Dengan langkah pelan Hana melihat Brian tertidur begitu pulas, membuat ia langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Kali ini Hana mandi dengan begitu cepat tidak membutuhkan waktu satu jam lamanya ia sudah rapi dengan semuanya.
Kini, saatnya Hana membangunkan Brian.
“Ergh...” reng*kuhan Brian.
“Mana bubur ayamku” ucap Brian sambil duduk dan menatap Hana.
“Bubur ayam? Bukannya Mas minta sayur asem?” tanya Hana dengan wajah bingungnya.
“Aku minta bubur ayam, bukan sayur basi!” bentak Brian.
“Loh Hana cuman masak sayur asem bukan bubur ayam. Tadi Mas di tawarin bubur tidak mau, malah memilih sayur asem” jawab Hana.
“Pokonya aku mau bubur ayam titik!” ucap Brian sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hana yang sudah mulai kesal hanya bisa sedikit mengentakkan kakinya kemudian pergi dari kamar.
Dengan wajah kesal Hana turun ke bawah dan mendapati Nyonya Syifa yang sedang menata piring.
“Loh sayang, kenapa dengan wajahmu?” tanya Nyonya Syifa.
__ADS_1
“Ya, Nak. Apa Brian menyakitimu, bilang sama Papah” ucap Tuan Ferry dengan serius.
“Bunda napa malah?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya.
“Itu Mas Brian... Tadi Hana tawarin bubur ayam mintanya sayur asem. Bagian sudah Hana bikinin sekarang malah minta bubur ayam. Bagaimana tidak jengkel, Mah, Pah” jawab Hana dengan wajah penuh kesal.
“Pfftt...” Nyonya Syifa menahan tawanya sambil menutup mulutnya.
“Mamah kenapa ketawa sih, dari tadi Mamah tuh ketawa mulu. Ada apa sih sama Hana? Memangnya Hana lucu apa?” tanya Hana dengan nada mulai emosi.
“Bunda ndak boyeh malah-malah. Anti temennya cetan loh” ucap Qisya.
“Astaghfirullah, maaf Mah. Hana hilap” ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.
“Hehe... tidak apa-apa sayang, harusnya Mamah yang minta maaf sudah menertawakan kamu di saat kamu sedang kesal. Ya sudah ayo mamah bantu buatkan bubur ayam” ucap Nyonya Syifa.
“Tidak usah, Mah. Mamah di sini saja nemenin Papah dan Qisya, karena sepertinya sebentar lagi Mas Brian turun. Ya sudah Hana mau buatkan bubur dulu ya” ucap Hana.
“Isa uga mau bubul, Bunda” saut Qisya sambil menatap Hana penuh harap.
“Oke.., Bunda buatin dulu ya” ucap Hana sambil tersenyum.
“Oteh ciap..” jawab Qisya sambil tersenyum.
Hana kemudian pergi ke arah dapur sambil membuatkan bubur ayam yang di minta Brian dan Qisya.
Hampir satu jam kurang Hana sudah berhasil membuatkan bubur dengan begitu cepat.
Sedangkan Brian sudah duduk di meja makan sambil menunggu bubur ayamnya siap. Tetapi, mata Brian selalu menatap sayur asem yang begitu menggoda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai... Hello guys... Apa kabar kalian semuanya? 😃😃😃
Author harap kalian baik-baik saja dan selalu bahagia 😁😁😁
Sepertinya para pembaca mulai menjadi satu ya sekarang... 🤭🤭🤭
Kalian bahkan komentar dengan inti topik yang sama semua 😆😆😆
Tapi... Mohon bersabar yaaa karena kebenaran akan segera terungkap 😉😉😉
Terus nantikan bab selanjutnya jika kalian ingin tahu jawabannya 😗😗😗
__ADS_1
Sampai jumpa lagi dan jaga diri kalian semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻