
Brian yang sedang fokus menatap ke arah depan kini menjadi mengikuti arahan dari Hana, dan betapa terkejutnya Brian saat tahu Hana sedang menunjuk warung kecil, sempit, kumuh bahkan tidak layak untuk dipandang oleh mata Brian.
“Tidak, kita cari tempat lain saja. Lihat itu sayang, tempat itu sangat tidak higienis untuk kamu dan anak-anak kita. Kasihan mereka kalau sampai harus memakan di tempat seperti itu” ucap Brian sambil menatap warung kecil dari dalam mobilnya.
“Ish... Mas Brian, itu tidak seperti yang Mas bilang ya. Tempat itu bersih kok noh lihat saja banyak yang beli pula. Pokonya Hana mau makan itu titik!!” saut Hana dengan wajah kesalnya.
“Sayang, ayolah mengerti sedikit dong. Nanti kalau anak kita ken...” ucapan Brian terpotong saat mendengar suara klakson yang begitu keras.
Tin ! ...
Tin ! ...
Tin ! ...
“Woi, maju woi. Macet nih...” teriak salah satu pengemudi dengan menongolkan kepalanya dari kaca.
“Ck!! Dasar orang kaya, ini jalanan umum bukan jalanan milik Nenek Moyang lu. Jadi cepetan jalan, gua mau buru-buru antar barang” teriak pengemudi lainnya dengan sangat kesal.
Brian yang mendengar itu pun langsung kembali melajukan mobilnya meninggalkan warung seblak tersebut.
“Yakk... Mas Brian...” teriak Hana dengan sangat kesal.
“Apa sih sayang? Kamu tidak lihat itu, banyak orang yang mengklakson mobil kita karena menutupi jalan mereka. Sudahlah, kita cari tempat makan yang lebih enak saja ya” saut Brian sambil fokus menyetir.
“Ck!! Terserahlah. Makan saja sendiri, aku mau pulang saja!” ucap Hana penuh kekecewaan sambil membuang mukanya menatap ke samping.
“Dasar suami menyebalkan, baru tadi memperlakukanku seperti seorang ratu. Sekarang malah membuat aku kesal” gumam Hana sangat lirih namun masih terdengar di telinga Brian.
“Maafkan aku sayang, aku tidak ada maksud untuk membuatmu kesal seperti ini. Tapi kamu tahu kan, aku tidak bisa melihat tempat seperti itu. Pasti dalam pikiranku tempat kaya gitu banyak sekali kuman, serta penyakit lainnya yang akan mengganggu kesehatan kalian. Apa lagi kamu baru saja keluar dari rumah sakit loh” jawab Brian sambil memegang tangan Hana.
Dengan sangat cepat Hana menarik tangannya dan menyembunyikannya agar Brian tidak bisa kembali menyentuhnya.
Brian yang sudah mengerti jika Hana sedang marah, langsung meminggirkan mobilnya lalu menghentikan laju mobilnya. Brian sedikit mengubah posisi duduknya untuk bisa menghadap Hana.
“Sayang, kamu marah sama aku?” tanya Brian dengan sangat lembut.
“Tidak!! Sudah cepat kembali jalankan mobilnya, aku ingin segera beristirahat di rumah” jawab Hana dengan sangat ketus.
“Sayang, maafin aku ya. Aku cuma...” ucapan Brian terhenti saat melihat tatapan maut dari sang istri yang begitu menyeramkan membuat Brian merasa ketakutan.
“Sa-sayang, ke-kenapa ka-kamu se-seperti i-ini?” saut Brian dengan terbata-bata.
__ADS_1
“Aku bilang pulang ya pulang, SE-KA-RANG!!” ucap Hana dengan menekankan kata-katanya menggunakan nada dinginnya yang berkali-kali lipat mengalahkan sikap dingin Brian.
Brian yang sudah sangat ketakutan langsung terburu-buru untuk menjalankan kembali mobilnya menuju rumah.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, kini mereka telah sampai di depan pintu utama. Dengan sangat cepat Hana keluar dari mobil Brian dengan membanting pintu mobil dengan sangat keras.
Brak ! ...
Brian terkejut melihat sisi lain dari Hana yang begitu menyeramkan.
“Astaghfirullah, ada apa sama istriku ya Allah. Apa dia salah makan? Atau dia kebanyakan tidur? Jadi, bisa galak seperti macan betina yang kehilangan anaknya” gumam Brian sambil mengelus dadanya dan menatap kepergian Hana.
Saat Hana sudah memasuki pintu utama, Brian dengan cepat keluar dari mobilnya dan mengejar Hana.
“Loh, Ndok. Kok masuk rumah tidak mengucapkan salam dulu” ucap Umi yang lagi menyiapkan acara Hana.
“Tidak baik loh, Ndok. Kalau masuk rumah tidak mengucapkan salam. Nanti banyak setan dari luar yang ikut masuk ke dalam rumah sehingga rumah menjadi tidak tenang” ucap Abah.
“Assalamualaikum!!!” saut Hana dengan sangat cuek.
“Sayang, tunggu aku” teriak Brian sambil berlari ke arah Hana.
Hana yang menengok ke belakang melihat Brian kini segara terburu-buru untuk menaiki tangga menuju kamar.
Hana yang sudah mencapai kamarnya kini langsung membanting pintu kamar dengan sangat keras, tak lupa untuk menguncinya dari dalam.
Brak ! ...
Semua yang ada di bawah pun tersontak kaget mendengar suara pintu yang ditutup sangat keras.
“Ya ampun, Mbak Hana kenapa sih Umi. Kok dia bersikap seperti itu, tidak seperti Mbak Hana yang dulu loh” saut Arya dengan wajah bingungnya.
“Umi juga tidak tahu, coba nanti kita tanyakan saja pada Mbakmu. Kalau dia sudah lebih tenang, mungkin moodnya saja yang lagi kurang baik. Namanya juga orang hamil pasti moodnya berubah-ubah” jawab Umi.
Brian terus berlari ke arah kamar Hana melewati semuanya orang yang di bawah.
“Astaga, anak itu ada apa lagi sih. Ya ampun, enggak ada henti-hentinya bersikap kurang baik pada Hana. Apa lagi ibu hamil kan selalu sensitif” ucap Nyonya Syifa kepada sang suami.
“Namanya juga anakmu ya begitulah ulahnya” saut Tuan Ferry dengan malas.
“Yakk... Brian juga anak Papah ya. Kalau tidak ada yang memproduksi bagaimana bisa jadi. Aku hanyalah pabrik jadi kalau tidak ada yang mengolah bagaimana aku bisa menghasilkan produk? Bagian yang jelek-jelek Mamah mulu yang di bawa-bawa. Bagian bagusnya Papah terus yang di bawa. Dasar suami tidak ada akhlak!”
__ADS_1
Nyonya Syifa mengoceh dengan sangat jengkel kepada sang suami. Namun, malah mendapat tawa kecil dari Umi, Abah bahkan Arya.
Sedangkan Tuan Ferry sangat cuek kepada sang istri. Dari pada ia membantah tidak dapat jatahnya mending diam tapi jatah tetap berjalan dengan sangat baik dan aman terkendali.
“Astaghfirullah, itu tante dan om kenapa selalu saja membicarakan soal jatah. Tidak lihat apa di sini masih ada perjaka, bagaimana kalau nanti aku kebelet nikah. Aduh... jangan sampai deh, aku kan harus menjadi pebisnis terkenal dulu seperti Mas Brian. Lagian juga aku kan sekarang harus bertanggung jawab untuk pabrik Mas Brian yang di desa. Jadi jangan sampai aku mengecewakan Mas Brian ” ucap Arya di dalam hatinya.
Kalian pasti bingung kan kenapa bisa seperti itu? Ya, saat ini Arya sudah mulai merintis untuk menjadi penanggung jawab pabrik yang sudah Brian bangun di desa tempat keluarga Hana tinggal.
Kalian ingat kan Brian pernah berkata jika Arya sudah lulus, maka ia bisa bekerja di sana untuk mengawasi semua karyawan karena Brian tidak akan bisa sering-sering bolak balik desa-kota.
Nah, di saat Arya sudah selesai ujiannya dan di saat itu pula Brian sudah selesai membangun sebuah pabrik besar di desa tersebut untuk semua petani bahkan peternak yang ada di sana supaya tidak repot-repot lagi membawa hasil panennya keluar kota yang akan lebih menghabiskan banyak uang.
Arya hanya menunggu hasil kelulusannya saja, makanya ia langsung minta izin kepada Brian supaya bisa ikut bekerja di sana. Namun, naas Brian malah memberikan jabatan tertinggi untuk anak bocah seperti Arya.
Sampai-sampai Umi dan Abah khawatir jika pabrik yang baru saja Brian bangun bisa langsung hancur karena di kelola oleh bocah tengil seperti Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello para pembaca setiaku... 😁😁😁
Semoga kalian semuanya sehat dan selalu bahagia... 😚😚😘
Author mau kasih sedikit pengumuman dulu nehh buat kalian 👉🏻👈🏻
Kalian tahu... Novel ini akan segera berakhir atau tamat 😱😱😱
Jadi Author ingin meminta pendapat kalian semua disini... 🤭🤭🤭
Adakah yang mau lanjut Season 2 atau bikin novel baru nehh... 🤔🤔🤔
Karena di novel ini kan sudah banyak konflik dan kejadian... 😗😗😗
Jadi Author bingung lebih baik lanjut atau bikin cerita baru 🤷🏻♀️🤷🏻♀️🤷🏻♀️
Tolong berikan masukan dan saran kalian di komentar yaaa... 😊😊😊
Terima kasih atas semua dukungan yang kalian berikan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Itu sangatlah berarti besar untuk Author selama ini semuanya... 🥺🥺🥺
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi pembaca setiaku... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻