
Alex membantah keras, tetapi lagi dan lagi Pinjai menahan semua itu serta Sasya pun melirik Alex dengan kode tertentu. Hingga akhirnya mereka meninggalkan Sasya bersama Chika berdua di kamar, tapi jangan salah Alex masih bisa mengawasi mereka dari pantauan CCTV yang saat ini Joko setel melalui ponselnya.
...*...
...*...
Setelah semuanya keluar Sasya dengan perlahan duduk mendekat ke arah Chika yang masih meringkukkan tubuhnya serta menangis lantaran ketakutan.
"Haii.. bolehkah aku berkenalan denganmu Kak?" Sapa Sasya sambil tersenyum, kemudian Sasya memberanikan diri untuk mengusap lengan Chika.
Chika yang mendengar suara begitu lembut mencoba untuk mengintip seseorang yang sedang berusaha berinteraksi dengannya.
"Hiks.. ja-jangan mendekati aku, aku o-orang jahat. A-aku pembunuh hiks.. ma-maafkan aku hiks.. pe-pergilah dari sini, atau nanti aku juga bisa membunuhmu" Ucap Chika dengan bibir bergetar dan juga matanya tersirat kesedihan cukup mendalam.
"Sssttt.. Kak, heeeii... lihat aku. Apa wajahku ini terlihat seperti ingin menyakitimu hem? Lalu, apakah kamu tega akan menyakitiku? Coba lihat aku baik-baik, wajahku ini sangat manis dan lucu loh nihh.. humpt.."
Sasya berusaha menghibur Chika dengan semua ekspresi wajah yang terlihat begitu lucu, bahkan Pinjai saja yang di luar ruangan melihat wajah Sasya sampai tertawa terbahak-bahak bahkan ia mendapatkan pukulan keras oleh Alex karena telah menertawakan gadis kecil kesayangannya.
Tapi Alex juga tidak bisa menyangkalnya, wajah Sasya memang terlihat begitu menggemaskan. Andai saja Alex bisa menyentuhnya, kemungkinan saat ini Alex sudah memeluk Sasya begitu erat. Sedangkan Joko dia terkekeh kecil melihat aksi Sasya yang selalu berusaha menarik perhatian Chika.
Bahkan Joko terlihat begitu bahagia ketika Chika mulai berhenti menangis dan telah tersenyum hingga tertawa kecil melihat wajah Sasya yang mana tanpa di sengaja Chika mencubit kecil kedua pipi Sasya.
Alex yang melihat itu langsung melototkan matanya, tangannya mengepal dan juga rahangnya mulai mengeras. Joko mengetahui semua itu langsung menahan Alex bersama dengan Pinjai, serta menjelaskan bahwa Chika itu tidak akan menyakiti Sasya hanya saja dia begitu karena gemas dengan wajah Sasya yang sangat lucu.
Di sisi lain Sasya merasa senang ketika ia bisa menghibur seorang wanita yang memiliki trauma cukup mendalam sama seperti dirinya.
__ADS_1
Setidaknya kesalahan Chika sudah dimaafkan oleh Sasya meskipun sebenarnya berat tetapi ketika mendengar kisahnya membuat hati Sasya bergerak untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi padanya.
Mereka bercanda bersama sambil tertawa cekikikan ketika Chika berusaha menggelitiki Sasya begitu juga Saya yang berusaha membalasnya, ini kali pertama Joko melihat wajah Chika bersinar begitu cantik dengan senyuman yang sangat lebar.
"*Cintaku memang tidak salah pilih, selain kamu wanita yang cantik, baik dan juga menggemaskan tetapi hatimu sangatlah lembut. Dimana kamu bisa memaafkan orang yang hampir membuat keluargamu hancur, sedangkan aku? Aku belum bisa menerima semuanya"
"Tolong ajari aku Saa.. ajari aku bagaimana caranya aku bisa memilikimu seutuhnya. Aku benar-benar mencintaimu, sungguh*!"
Alex berbicara di dalam hatinya sambil menatap layar ponsel, yang mana Pinjai dan Joko pun tersenyum. Sasya memang wanita yang luar biasa, hatinya bagaikan sebuah emas yang tidak pernah bisa di tebak.
"Hihihi.. su-sudah Kak capek, oh iya.. kita belum kenalan. Namaku Sasya, kalau Kakak siapa?" Ucap Sasya sambil mengulurkan tangannyan.
"Namaku Chika Indira. Aku berusia 40 tahun. Nama panjangmu siapa dan berapa usiamu?" Jawab Chika sambil menjabat tangan Sasya dan tersenyum.
"A-aku..."
Sasya terdiam sejenak menatap Chika yang sudah mulai tersenyum, apakah ketika mendengar namanya Chika akan kembali ketakutan? Entahlah, Sasya juga tidak bisa menghindar akibat Chika selalu mendesaknya untuk mengatakan siapa nama panjang Sasya.
"Na-namaku Ba-balqisya Zhafira. U-usiaku 23 tahun" Jawab Sasya dengan sedikit cemas.
"Wahh.. nama yang bagus, cantik seperti orangnya. Ehh.. tunggu deh, sepertinya aku kaya pernah dengar nama itu. Tapi kapan ya?" Ucap Chika dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di samping matanya mencoba untuk mengingat semuanya.
"A-ahyaa.. su-sudahlah Kak ja-jangan di ingat. Lebih baik kita bicarakan yang lain saja" Sahut Sasya yang semakin cemas.
Beberapa detik berlalu Chika sudah berhasil mengingat nama itu, dimana wajahnya kembali berubah serta matanya menyorot ketakuan kepada Sasya.
__ADS_1
"A-apa ka-kamu a-anak da-dari Tuan Bri-brian?" Tanya Chika dengan tubuh yang mulai bergetar. Sasya melihat reaksi tubuh Chika langsung berusaha kembali menenangkannya.
"Ya-ya aku anak dari Ayah Brian dan juga Bunda Hana, tapi Kak Chika tenang ya jangan takut. Aku tidak akan menghukum Kakak atau pun menyakiti Kakak, aku ke sini karena aku mau berteman dengan Kakak dan juga aku bawa berita baik loh. Apa Kakak mau dengarkanku, hem..?" Ucap Sasya dengan suara yang selembut mungkin.
"Ka-kabar ba-baik a-apa? La-lalu a-apa ka-kamu mau berteman denganku, a-aku kan orang jahat" Jawab Chika dengan nada ketakutannya bahkan dia sedikit menjauhi Sasya.
Sasya melihat reaksi Chika kembali seperti tadi, hanya bisa tersenyum lalu berkata, "Kabar baiknya karena aku sudah memaafkan semua kesalahan Kak Chika, dan aku mau mengajak Kakak berteman. Apa Kakak mau berteman denganku? Aku di sini tidak ada teman loh, masa Kakak tega sama aku. Nanti aku nangis nih.."
Sasya merucutkan bibirnya seolah-olah ia sangat sedih ketika Chika hanya bisa terdiam meliriknya, ya walau pun Chika masih sangat takut tetapi saat mendengar ucapan Sasya membuat Chika sedikit lega.
Chika langsung kembali mendekati Sasya yang hanya menundukkan sedikit wajahnya sambil cemberut, dimana Chika merasa bersalah langsung mulai mengeluarkan suaranya.
"Ka-kamu su-sudah me-memaafkan ke-kesalahanku? I-itu tandanya ke-keluargamu ju-juga sudah memaafkanku?" Tanya Chika membuat Sasya langsung menatapnya sambil memegang tangan Chika yang masih terlihat beberapa bekas luka.
Sasya yang melihat luka di tangan Chika membuat hatinya sedikit tersentuh, sebegitu dendamnya Alex kepada Chika hingga hampir seluruh tubuh Chika terpenuhi dengan luka lebam.
"Untuk saat ini hanya aku yang bisa memaafkan Kakak, tapi suatu saat nanti aku yakin semua orang yang Kak Chika sakiti akan memaafkan Kakak asalkan Kakak berniat mau berubah menjadi lebih baik serta Kakak juga harus janji sama aku untuk melawan semua bayangan trauma yang Kak Chika ingat. Bagaimana? Jika Kakak mau libur kerja, aku bisa menemui Kakak tapi kalau Kakak mau jadi sahabatku"
Sasya menjelaskan semuanya secara lembut agar Chika tidak kembali mempunyai pikiran jika dirinya adalah orang yang jahat dan tidak pantas untuk di maafkan. Namun, kali ini Chika tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Tanpa basa-basi Chika memeluk Sasya serta menumpahkan rasa bahagianya karena ini kali pertamanya dia memiliki seorang sahabat sebaik Sasya, dan juga Sasya telah memaafkan dirinya.
Kemudian mereka melepaskan pelukannya sambil memegang kedua tangannya masing-masing dan tersenyum. Hingga akhirnya Chika tidak lagi merasa takut jika berada di dekat Sasya, hanya saja kalau Chika melihat Alex maka trauma itu kembali berputar di dalam ingatannya.
Sampai akhirnya Sasya melihat Chika sudah mulai nyaman dengannya, Sasya langsung berpamitan untuk pulang lantaran besok pagi dia sudah harus kembali bekerja mengurus semua pasien yang beberapa hari Sasya tinggalkan.
__ADS_1
Awalnya Chika keberatan tetapi ketika Sasya mencoba menjelaskannya secara pelan-pelan, Chika pun mengerti dan melepaskan Sasya serta tak lupa mengatakannya bahwa Sasya harus sering-sering main ke sini agar bisa menemaninya bermain.
Ya, walaupun umur Chika terbilang sudah tua tetapi sikapnya masih seperti anak muda akibat hampir seumur hidupnya di habiskan di dalam sel yang di rancang khusus untuknya oleh Alex agar bisa selalu menyiksanya dengan puas.