Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Menabrak Pohon


__ADS_3

3 tahun Qisya selalu berada di dekat Brian, bahkan tidur pun harus bersama Brian.


Tetapi entah kenapa, 1 tahun belakangan ini Brian terlalu sibuk dengan perusahaannya yang baru saja melonjak naik di pasaran.


Bahkan banyak perusahaan-perusahaan kecil yang ingin bergabung dengan perusahaan Brian.


Sampai membuat Brian lupa jika ia mempunyai gadis kecil yang sangat membutuhkan perhatian.


Apa lagi Qisya baru saja memulai untuk memahami semua keadaan di sekitarnya dan berusaha berbicara dengan benar meskipun masih sedikit cadel.


Brian yang terlalu sibuk sama pekerjaannya itu sampai membuat ia jarang pulang ketika pergi keluar kota.


Dan jika Brian berada di kantornya pun ia selalu pulang larut malam dan langsung beristirahat kemudian pagi-pagi sekali langsung berangkat tanpa sarapan.


*


*


*


*


Hari ini Brian sedang melakukan perjalanan menuju sebuah desa SUKA MAJU untuk menyurvei tanah yang sudah ia beli sebulan yang lalu.


Saat ini Brian ingin membangun perusahaan atau PT agar bisa membantu membuka lowongan pekerjaan untuk semua orang di desa tersebut.


Karena di desa SUKA MAJU sangat susah untuk mencari sebuah pekerjaan tetap, mereka semua dominan adalah seorang petani dan peternak.


Sampai akhirnya mereka harus merantau ke kota orang, agar bisa mengubah nasibnya dan lebih mudah menghasilkan pundi-pundi uang untuk mencukupi kehidupan keluarganya yang ada di desa.


Di dalam mobil


Brian sedang asyik menelepon orang kepercayaannya yang ditugaskan Brian untuk menjaga perusahaan utama.


Namun, saat Brian lagi asyik membicarakan tentang pekerjaan.


Tiba-tiba saja handphone nya terjatuh tepat di bawah kaki Brian.


“Ckk!! Kenapa pakai jatuh segala sih” ucap Brian sambil mencoba meraba handphone nya dengan satu tangan yang memegang setir mobil serta mata fokus menatap jalanan.


Saat handphone Brian sudah berhasil ia dapatkan tidak sengaja ada seorang gadis berkerudung yang ingin menyeberang jalan.


“Aaa...” teriak gadis berkerudung itu sambil menutup mata dan telinganya.


Brian yang terkejut melihatnya langsung membanting setirnya ke arah kanan dan menabrak sebuah pohon.


Brakk..


Terdengar suara benturan yang sedikit keras.

__ADS_1


Brian pingsan dengan keadaan kepala yang terbentur setir mobil.


“Alhamdulillah, untung aku slamet. Matur nuwun, Gusti Allah (Alhamdulillah, untung saja aku selamat. Terima kasih ya Allah)” ucap syukur gadis berkerudung sambil membuka matanya.


“Astagfirullahaladzim, innalilahi wainnalilahi rojiun” ucap gadis tersebut sambil mengusap dadanya saat terkejut melihat mobil yang menabrak pohon.


“Kulo kudu enggal nylametake wong kui, melas yen telat ditulungi (aku harus segera menyelamatkan orang itu, kasihan jika dia terlambat untuk di tolong)”


Seorang gadis berkerudung itu langsung berlari untuk membantu dan menyelamatkan nyawanya.


“Piye iki, kula ora mungkin ndemek wong lanang sing dudu mahramku (bagaimana ini, aku tidak mungkin menyentuh pria yang bukan mahramku)” gumam sang gadis berkerudung.


Kemudian sang gadis berlari mencari pertolongan di sekitar tempat kejadian.


“Numun sewu Pak, saged nulungi kula. Ana wong sing kacilakan (permisi pak, bisa tolong saya. Di sana ada seorang pria yang mengalami kecelakaan)” ucap sang gadis dengan nada cemas sambil menunjuk ke arah mobil yang menabrak pohon.


“Astagfirullahaladzim, neng endi mbak? ayo tak tulungi (astagfirullahaladzim, dimana mbak? mari saya bantu)” ucap sang bapak dengan nada terkejut.


“Ayo Pak, kula tuduhake dalane (mari Pak, saya tunjukkan jalannya)”


Sang gadis berkerudung tersebut langsung berlari menunjukkan jalan serta diikuti oleh si bapak dan temannya dari belakang dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.


Kemudian si bapak serta temannya mencoba untuk membuka pintu mobil dan langsung mengeluarkan Brian serta menidurkannya di rerumputan.


Untung saja Brian tidak mengunci pintunya dari dalam, jadi mereka dengan mudah membuka pintu mobil.


“Kayane wong iki boten nopo-nopo mbak, dheweke mung semaput lan ana tatu ing bathuk lan sawetara tatu cilik (sepertinya orang ini tidak apa-apa kok mbak, dia hanya pingsan dan ada luka memar di keningnya serta beberapa luka ringan)” ucap sang bapak.


“Iso mbak, sedhela wae kita arep njupuk motor dhisik lan kain kanggo naleni wong ini supoyo ora tiba (bisa mbak, tunggu sebentar kami mau ambil motor dan kain dulu untuk membawa pria ini ke rumahmu)" jawab sang bapak.


Sang gadis pun hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti.


Kemudian sang bapak dan temannya berlari mengambil motor serta kain untuk mengikat Brian agar tidak jatuh.


Sang bapak berusaha keras menaiki Brian ke motor dan di bantu dengan temannya.


Tubuh Brian yang sangat kekar itu membuat mereka sedikit kewalahan.


Akhirnya sang gadis berkerudung pun menaiki motor teman si bapak dengan keadaan duduk miring ke samping.


Sedangnya Brian duduk di atas motor dengan keadaan pingsan dan terikat di pinggang sang bapak menggunakan kain.


*


*


*


*

__ADS_1


Hampir 10 menit mereka perjalanan kini semuanya telah sampai di rumah kecil yang sangat sederhana.


Kemudian sang gadis langsung menyuruh sang bapak serta temannya untuk masuk ke dalam rumah dan membawa Brian ke dalam kamar.


“Assalamualaikum, Abah, Umi.. iki Hana wis bali saka pasar (assalamualaikum, abah, umi.. ini Hana sudah pulang dari pasar)” ucap Hana sambil memasuki rumah.


“Ayo Pak mlebu rene, kula bakal nuduhake kamare adhiku (mari pak masuk sini, saya akan tunjukkan kamar adik saya)”


Hana langsung menunjukkan kamar sang adik, agar mereka bisa segera membawa Brian untuk beristirahat.


Perlahan demi perlahan sang bapak dan temannya meletakkan Brian di kasur yang kecil serta tipis tersebut.


Kemudian mereka semua keluar dari kamar dan meninggalkan Brian sendiri.


“Matur nuhun pisan toh Pak, sampun paringi pitulungan. Ayo lenggah disek toh kula badhe damel kopi (terima kasih banyak loh Pak, sudah memberi saya bantuan. Mari duduk dulu saya buatkan kopi)” ucap Hana dengan sangat ramah.


“Ojo kuwatir mbak, kita arep muleh ae. Mugo-mugo wong lanang kui iso enggal mari yo (jangan khawatir mbak, kita ingin pulang saja. Semoga pria itu bisa segera sembuh ya)” ucap temannya.


“Enggeh mbak, wis rapopo kulo ambek koncoku arep muleh ae. Sing penting wong lanang kui ora opo-opo (iya mbak, sudah gapapa aku sama temanku mau pulang saja. Yang penting pria itu tidak apa-apa)” saut sang bapak.


“Amin nu Gusti Allah, ya wis toh pak, Sepisan malih kula matur nuwun enggeh, Pak (amin ya Allah, ya sudah toh pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih ya Pak)" ucap Hana dengan sopan.


“Enggeh mbak, sami-sami mawon. Kami pamit yo Assalamualaikum (iya mbak, sama-sama. Kami pamit ya Assalamualaikum)” pamit sang bapak sambil senyuman.


“Waalaikumsalam, ati-ati ing dalane Pak (Waalaikumsalam, hati-hati di jalannya Pak)” ucap Hana sambil berdiri diluar rumah.


Sang bapak dan temannya pun kemudian meninggalkan rumah Hana menggunakan sepeda motornya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


__ADS_2