
Ya meskipun tujuannya untuk mengambil hati Sasya, tetapi di dalam lubuk hatinya Alex juga ingin sedikit demi sedikit bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang jauh lebih baik tanpa adanya kekejaman yang menyelimuti tubuhnya.
Tak membutuhkan waktu lama, Alex dan Pinjai kembali ke tempat persembunyiannya lantaran pasti sebentar lagi Sasya akan kembali ke ruangan Mr. Hans.
Dan benar saja, ada salah satu suster yang masuk ke dalam ruangan Mr. Hans dan tak lama kembali keluar, tentu saja Alex sangat tahu jika suster itu akan memanggil Sasya untuk segera menemui Mr. Hans di ruangannya.
"Rencana apa yang akan Tuan lakukan setelah Nona Sasya mendapatkan izin dari Mr. Hans? Apa Tuan sudah memikirkan semuanya?" ucap Pinjai yang membuat Alex langsung menatapnya.
"Menurutmu, aku harus bagaimana setelah ini? Apa aku langsung saja menawarkan tumpangan padanya, agar dia tidak akan pergi sendirian? Jika tidak begitu, pasti dia akan pergi seorang diri dan itu sangat membahayakan keselamatannya. Jadi, aku tidak mau mengambil resiko apa pun" tegas Alex yang membuat Pinjai seketika terdiam memikirkan sesuatu.
Namun, hanya beberapa detik saja Pinjai sudah menemukan ide cermelang yang mana akan membawa Sasya masuk ke dalam perangkapnya serta membuat Alex dan juga Sasya kembali dekat.
Alex yang melihat Pinjai tersenyum miring, langsung menarik perhatiannya hingga membuatnya begitu penasaran.
"Ada apa kau tersenyum seperti itu? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu untukku?" ucap Alex dengan mengerutkan kedua alisnya.
Pinjai menatap Alex dengan tatapan penuh arti dan segera membisikan sesuatu di telinga Alex, yang kini berhasil membuat Alex tersenyum miring.
"Bagaimana, Tuan? Apakah ideku itu mampu membuatmu bahagia, hem..?" ujar Pinjai dengan nada sombongnya sambil kedua alisnya naik turun yang seolah-olah seperti meledek Alex.
"Cihh.. baru begitu saja sudah sombong. Lagian juga idemu kurang menarik, jadi jangan terlalu percaya diri!" celetuk Alex dengan nada dinginnya.
"Yakin ideku kurang menarik?" tanya Pijai yang benar-benar membuta Alex salah tingkah, tetapi Alex masih bisa mengendalikan semuanya agar tidak terlihat jika ide yang diberikan Pijai sangatlah membantunya untuk bisa kembali dekat dengan Sasya.
"Baiklah, jika ideku tidak menarik serta Tuan tidak mau mengakuinya ya sudah aku tidak akan mengurus semuanya, dan Tuan berjuanglah sendiri supaya bisa mendapatkan hatinya kembali" ucap Pinjai lagi yang kali ini berhasil memancing segala kegengsian Alex untuk mengakui betapa bagusnya ide Pinjai.
__ADS_1
"Oke.. oke.. idemu memang sangat bagus, jadi cepatlah urus semuanya agar Sasya segera berada di pihakku!" tegas Alex dengan nada malasnya, namun wajahnya terlihat sangat kesal.
Sedangkan Pinjai, dia malah tersenyum penuh bangga atas kepintaran otaknya yang begitu cemerlang dan bisa membuat Alex mengakui betapa berharganya ide Pinjai tersebut. Bahkan idenya itu memiliki peran penting dalam kedekatan Alex dan juga Sasya.
"Apa kau masih mau tersenyum seperti itu, Pinjai?" ucap Alex dengan nada penekanan yang mana membuat Pinjai sedikit ketakutan.
"Ma-maaf, Tuan. Baiklah aku akan segera mengurus semuanya, permisi.." sahut Pinjai yang kini melangkahkan kakinya menjauhi Alex, namun hanya beberapa langkah Alex kembali memanggil Pinjai "Tunggu!"
Pinjai terhenti dan segera berbalik menghadap ke arah Alex dengan bingung sambil berkata, "Ada apa Tuan?"
"Tinggalkan kunci mobil itu padaku, dan kau bisa pergi serta jangan lupa ajak yang lain biar aku sendiri saja yang mengawasi pergerakan Sasya. Jika nanti ada kabar apa pun kau bisa segera hubungi diriku" ujar Alex yang membuat Pinjai langsung mengangguk pelan serta menyerahkan kunci mobil kepada Alex.
Lalu, Pinjai kembali berbalik serta pergi meninggalkan Alex seorang diri di rumah sakit. Tak lupa Pinjai mengajak anak buah yang lainnya untuk ikut bersamanya lantaran Pinjai harus mengurus semua kebutuhan serta rencananya agar berjalan dengan sangat mulus.
Sedangkan Alex, dia kembali fokus mengawasi ruangan Mr. Hans yang mana Alex melihat Sasya berjalan bersama dengan suster tadi yang sama percis dengan dugaan Alex jika sang suster pergi memanggil Sasya.
Kemudian, Sasya berjalan dengan perlahan menatap Mr. Hans yang kini juga menatapnya dengan keadaan tersenyum lebar, sehingga membuat Sasya merasa curiga.
"Ada apa Mr. Hans, kenapa kau memanggiku kembali?" ucap Sasya sambil berdiri tidak jauh dari meja Mr. Hans.
"Saya sudah mempertimbangkan kembali mengenai pengajuan permohonan cutti suka relawan yang kau minta karena adanya masalah pribadi yang sangat darurat dari keluargamu"
"Sekarang saya memberikanmu izin cutti 1 minggu untuk mengurusi semua masalah keluargamu. Namun saya tidak akan menambahkan jadwal penambahan masa sukarelawanmu di sini, tapi say akan sedikit memberikan catatan di dalam jurnal sukarelawanmu"
Mr. Hans berbicara dengan tegas sambil menatap Sasya, yang mana saat ini Sasya tersenyum bahgia disertai dengan air mata yang berlinang di kedua matanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih Mr. Hans aku sangat bersyukur atas pengizinanmu untuk pengajuan cuttiku serta tidak menambahkan masa sukarelawanku di sini. Sekali lagi terima kasih Mr. Hans" jawab Sasya dengan rasa syukurnya dan sedikit membungkuk.
"Saya juga bersyukur memiliki sukarelwan yang pintar dan bekerja dengan teliti sepertimu. Ini adalah hadiah yang bisa aku berikan untuk mengapresiasikan semua kerja keras yang kamu lakukan demi rumah sakit ini. Sekarang pulanglah, lalu berkemas dan temui keluargamu serta kembalilah ke sini setelah 1 minggu" ujar Mr. Hans dengan senyum canggungnya.
"Sekali lagi terima kasih Mr. Hans atas semua kebaikanmu untukmu yang mana sangatlah berarti bagi diriku ini. Kalau begitu saya pamit, jagalah diri Anda dengan baik dan sampai jumpa 1 minggu ke depan Mr. Hans" jawab Sasya dengan nada lembutnya dan sedikit membungkuk.
Sasya pun berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Mr. Hans. Sasya pun pergi menuju lobi rumah sakit dengan menggunakan lift lalu dia berjalan keluar dan mencoba untuk menghentikan taksi di depan jalan raya yang tidak jauh dari rumah sakit.
Sebuh taksi berhenti di depan Sasya dan dia langsung masuk serta meminta supir taksi tersebut untuk pergi menuju mesnya secepat mungkin.
Namun tanpa di sadari ada satu mobil hitam mengikuti taksi yang Sasya naiki, yang mana mobil tersebut adalah mobil Alex.
10 menit kemudian, Sasya sampai di depan gedung mesnya dan ia pun turun setelah membayar supir taksi tersebut.
Sasya berlari kedalm mesnya dan masuk ke kamarnya untuk membereskan beberapa barang dan pakaian yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari sebagai oleh-oleh untuk keluarganya.
15 menit kemudian, Sasya keluar dari gedung mesnya dengan pakaian yng lebih nyaman sambil membawa tas kecil serta koper kecil yang bisa ia dorong.
Tidak jauh dari sana Alex melihat hal tersebut dan dia pun menelpon pada Pinjai untuk menanyakan mengenai semua persiapan rencana mereka.
Pinjai pun menjawab yang mana artinya bahwa semua persiapan sudah di persiapkan dengan sangat baik sehingga Sasya tidak akan menyadari hal tersebut.
Tidak lama kemudian Alex melihat Sasya menaiki taksi dan pergi ke suatuu tempat, Alex pun langsung tancap gas mengikuti taksi tersebut dari jauh sehingga dia tidak terlihat seperti orang mencurigakan yang mengikuti Sasya dengan niat buruk.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka sampai di depan pintu masuk bandara. Sasya turun sambil membawa barang-barangnya dengan tergesa-gesa ke dalam bandara menuju loket pembelian tiket pesawat.
__ADS_1
Sedangkan Alex turun dari mobilnya dan meminta anak buahnya yang ada di bandara tersebut untuk memakirkan mobilnya dengan baik, yang mana Alex pun berjalan mengikuti Sasya tanpa di ketahui olehnya.