Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Perubahan Brian


__ADS_3

Brian, Arya dan Hana sudah sampai ke rumah.


Hana mulai membersihkan dirinya lebih dulu, kemudian bergantian dengan Brian dan Arya.


Kini saatnya mereka makan dan berkumpul di ruang belakang, sampai akhirnya Brian pamit untuk pulang ke Jakarta.


Brian sudah pergi meninggalkan rumah kecil dengan sejuta keharmonisan yang tidak pernah Brian dapatkan dalam keluarganya sendiri.


Bahkan Arya yang memang terkenal sangat jail itu, menceritakan semua kejadian lucu yang menimpa Brian dan Hana sampai-sampai membuat Abah dan Umi tertawa tanpa henti.


Sedangkan Hana hanya bisa menahan malunya dengan keadaan muka yang sudah memerah.


*


*


*


*


Jam menunjukkan pukul 9 malam.


Brian yang baru saja sampai dari perjalanan jauh itu langsung melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Assalammulaikum" Brian memasuki rumah dan berjalan ke arah ruang keluarga dengan mengucapkan salam seperti yang di contohkan oleh keluarga Hana.


"Waalaikumsalam, astaga Brian.., mamah kira siapa?" Nyonya Syifa yang kaget dengan anaknya ini membuat ia merasa bingung.


"Hum.." Brian mendekati mamahnya yang duduk di ruang tamu bersama papahnya dan Qisya yang lagi asyik dengan mainannya.


Kemudian Brian bersalaman kepada kedua orang tuanya, dan malah mendapatkan tatapan aneh dari kedua orang tuanya itu.


"Brian? Apa kamu tidak salah makan tadi, nak?" Tuan Ferry yang melihat tingkah anaknya hari ini malah membuat ia sangat bingung, tidak biasanya Brian melakukan kebiasaan ini setelah kepergian Sandra.


"Kepalamu tidak terbentur benda keras atau sesuatu kan, nak?" tanya Nyonya Syifa dengan keadaan yang melongo.


"Tidak, Brian baik-baik saja. Loh kok anak ayah jam segini belum tidur sih" Brian mendekati Qisya yang asyik bermain tanpa melihat ayahnya yang baru saja pulang.


"Belum, Isa belum ngantuk. Ayah bobo duluan saja" ucap Qisya dengan nada sebalnya dan tanpa menatap wajah Brian seperti biasanya.


Brian yang tahu jika anaknya ini sedang mengambek, langsung mengangkat Qisya dan mendudukannya pada pangkuan Brian.

__ADS_1


"Rupanya anak ayah yang cantik ini sedang mengambek hum.." goda Brian dengan mencolek hidung Qisya.


Qisya hanya berdiam menatap sendu ayahnya dan berkata "Ayah ndak kangen sama Isa ya"


Brian yang terkejut dengan pertanyaan Qisya membuat ia merasakan kesedihan yang telah Qisya rasakan saat ini.


"Kok anak ayah ngomongnya seperi itu sih, ayah kan kangen banget sama Qisya" Brian memeluk Qisya dengan sangat erat dan men*ciumi seluruh wajah Qisya yang membuat ia merasa geli.


"Haha.. ayah ish,, geli tahu" Qisya berusaha menahan wajah ayahnya agat tidak terus men*ciumi dirinya.


Tuan Ferry serta Nyonya Syifa yang melihat ke akraban ayah dan anak ini membuat mereka sangat bahagia, bahkan hampir 3 hari ini Brian meninggalkan Qisya tanpa menelpon ataupun menghubungi Qisya.


Yang membuat Qisya merasa sedih, bahkan akhir-akhir ini Qisya sudah tau jika ia bukanlah anak kandung dari Brian, karena pada waktu itu Brian tidak sengaja keceplosan kepada Qisya yang membuat Qisya merasa sangat sedih.


Hanya karena Qisya memaksa Brian untuk mengajaknya untuk menamani bermain disaat posisi Brian benar-benar kelelahan membuat Brian lepas kendali dan mengeluarkan kata-kata yang seharusnya ia keluarkan nanti di saat umur Qisya sudah cukup.


"Ayah bobo saja gih, kan ayah becok kelja nanti telambat" Qisya berusaha turun dari pangkuan Brian, namun Brian malah menahannya.


"Ayah libur sayang, bagaimana jika besok kita berlibur ke desa?" ajak Brian sambil menatap Qisya yang menatapnya dengan bingung.


"Deca? Deca itu apa ayah? Apa dia tempat mainan?" tanya Qisya dengan muka polosnya.


"Uhh.. anak ayah ini belum tahu tentang desa ya" ucap Brian sambil mencubit kecil hidung Qisya.


Brian berusaha menjelaskan kepada Qisya dengan bahasa yang bisa Qisya pahami agar mudah dicerna oleh pikiran Qisya yang masih sangat kecil dan sesekali di angguki oleh Qisya.


"Oh begitu ayah,.. wah belalti di deca itu enak ya bisa liat hewan, beda sama di cini. Kalau Isa mau lihat hewan halus ke kebun binatang dulu" ucap Qisya dengan muka yang cemberut.


Brian dan kedua orangnya hanya bisa tertawa dengan perlakuan anak kecil yang sangat menggemaskan ini, bahkan rasa lelah dan cape yang Brian rasakan tadi seketika hilang begitu saja.


"Memang kamu mau ke desa siapa, Brian? Kan kita dari kota, tidak ada keluarga di sana" tanya Tuan Ferry dengan wajah bingungnya.


Brian yang melihat kedua orangnya bingung, langsung mencoba menjelaskan semuanya dari awal Brian bertemu dengan Hana dan mengalami kecelakaan sampai Brian yang merasakan kenyaman di sana.


Tetapi masalah kelucuan Brian dan Hana tidak ia turut sertakan ke dalam cerita, karena Brian masih sangat malu.


"Ya ampun nak, kok bisa sampai seperti itu? Tapi kamu tidak apa-apa kan?" Nyonya Syifa yang mendengarkan cerita Brian kini menjadi sangat khawatir.


"Tidak apa-apa mah, Brian hanya lecet saja kok. Untung saja ada keluarga baik seperti mereka. Coba jika di Jakarta mungkin si korban malah meminta uang pada Brian, tetapi tidak dengan keluarga mereka yang malah merawat Brian" ucap Brian dengan rasa kagum kepada keluarga Hana.


"Alhamdulillah, syukur kalau kamu tidak apa-apa nak. Ya sudah besok kita ke rumahnya saja. Papa dan mamah ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka, sudah mau menolong anak kami satu-satunya dan membuat anak kami kembali menjadi Brian yang hangat"

__ADS_1


Tuan Ferry dan Nyonya Syifa tersenyum menatap perubahan Brian saat ini dengan perasaan yang sangat bahagia. Orang tua mana yang tidak merasakan kebahagiaan jika anaknya kembali menjadi lebih baik.


"Ya sudah besok Brian ajak kalian semua berlibur ke sana, dan Qisya hari ini mau tidur sama ayah tidak?" tanya Brian dengan mencoba menggoda Qisya.


"Hum.. gimana ya? mau apa tidak ya? Bental Isa mikil-mikil dulu" Qisya mengentukkan jari kecilnya di kening sambil menatap ke atas dengan keadaan seperti orang berpikir.


"Yasudah, kalau tidak mau ayah bobo sama Nana dan Nono saja deh" saut Brian yang berusaha ngambek dengan menurunkan Qisya dalam pangkuannya.


Nana dan Nono adalah boneka kembar kesayangan Qisya mulai dari kecil, karena itu adalah hadiah pertama yang Brian kasih saat Qisya sudah mulai berjalan.


"Yakk.. ndak mau, Nana dan Nono halus bobo sama Isa. Kalo ayah mau bobo juga ayo kita ke kamal Isa aja" ucap Qisya sambil berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada sambil memicingkan matanya menantap Brian.


Brian yang sudah tidak kuat lagi menahan tawanya, kini menjadi tertawa sangat keras dan langsung menggendong Qisya kemudian berjalan menuju kamar Qisya.


Dan sesekali menggoda Qisya yang membuat Qisya ikut tertawa dan melupakan kemarahannya kepada Brian yang sudah tega meninggalkan Qisya selama 3 hari tanpa ngasih kabar.


"Semoga saja mereka bisa selalu bahagia ya mas, dan semoga Brian secepatnya bisa menemukan pendampingnya agar bisa membantu Brian mengurus Qisya yang semakin hari semakin dewasa dan sangat-sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu" ucap Nyonya Syifa sambil menatap punggung Brian dan Qisya yang semakin jauh.


"Aamiin ya Allah, semoga doa-doa kita segera Allah kabulkan ya sayang" Tuan Ferry menatap istrinya dan menggenggam tangannya kemudian mereka kembali ke kamarnya untuk beristirahat dengan perasaan yang bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


__ADS_2