Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Nasib Gadis Malang


__ADS_3

Kemudian mereka langsung berjalan perlahan melewati pintu utama menuju mobilnya masing-masing.


Yang mana, kini mobil Lukas dan Lily berada di depan sedangkan mobil Jay, Key serta Mommy Nisha berada di belakangnya yang mana ada mobil satu lagi dengan berisikan 2 bodyguard untuk menjaga mereka semuanya menuju rumah sakit.


...*...


...*...


Pesawat yang Alex dan Sasya tumpangi saat ini sudah mendarat dengan sangat sempurna yang mana rasa rindu di dalam hati Sasya semakin menggebu-gebu.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di kota New York. Aku harus segera menuju rumah sakit dimana Ayah di rawat, jika belum bertemu dengannya perasaanku tidak bisa tenang"


"Bahkan untuk tidur aja mataku sangatlah susah, meskipun mataku meram tapi pikiranmu selalu saja berjalan kemana-mana memikirkan keadaan semuanya begitu juga dengan kesehatan Ayah"


Sasya bergumam di dalam hatinya sambil menuruni anak tangga yang mana di belakangnya sudah di ikuti oleh Alex dan juga Pinjai.


Sesampainya di bawah dan sudah menuruni anak tangga tersebut, kini Sasya langsung berjalan beberapa langkah dan berbalik menatap Alex serta Pinjai bergantian.


"Terima kasih Tuan-Tuan yang baik, atas tumpangannya. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian saat ini. Aku pamit pergi duluan karena aku harus pergi ke rumah sakit" ucap Sasya sambil tersenyum.


Alex dan Pinjai yang mendengar ucapan Sasya langsung saling menatap satu sama lain dengan kode tertentu. Yang mana Pinjai sudah menyiapkan semuanya, jadi Pinjai hanya perlu mengode Alex dengan kedipan perlahan pertanda jika semuanya sudah aman.


"Kenapa kalian malah jadi lihat-lihatan seperti itu?" tanya Sasya dengan bingung.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Ya sudah jika kamu mau pergi ke rumah sakit silakan, hati-hati di jalan. Aku pamit lebih dulu, permisi.." ucap Alex sambil tersenyum kecil, dan langsung pergi bersama Pinjai dan para bodyguard lainnya yang mana Alex tersenyum lebar dengan melirik Pinjai.

__ADS_1


Sasya yang sudah menatap Alex semakin menjauh membuatnya langsung kesal hingga menghentakan kedua kakinya.


"Arrrghhh.. apaan sih ini, udah tahu ini sudah malam masa iya dia tidak ada niatan buat nganterin aku gitu? Kan aku wanita, masa dia tidak mengkhawatirkanku? Apa dia sudah tidak peduli denganku? Apa cintanya sudah mulai memudar untukku? Yaaakk.. kenapa aku malah memikirkan itu sih, sudahlah mending aku pergi saja sendiri lagian juga banyak taksi jadi buat apa aku mengharapkan dia yang akan mengantarku, huhh.. fokus Sasya, fokus.."


Sasya bergumam kecil dengan sangat geram, hingga dia langsung berbalik saling berlawanan dengan arah Alex yang mana Sasya berjalan keluar dari area tersebut dan mencari taksi yang masih mencari tumpangan.


Namun, sayangnya di area bandara tidak ada taksi satu pun yang terlihat. Bahkan semuanya kosong melompong, hanya ada beberapa mobil jemputan yang berlalu lalang serta beberapa mobil driver.


"Huhh.. andai saja aku megang ponsel pasti aku tidak akan seribet ini, jika di sini tidak ada taksi lalu aku pulang naik apa? Bahkan aku tidak bisa menghubungi keluargaku dan juga dia pasti sudah pulang, jadi aku harus bagaimana? Apa aku harus menunggu taksi yang datang? Tapi, apakah itu tidak akan memakan waktu?"


"Arrrghhhhh.. ada apa sih sama hari ini, tadi aku tidak bisa mendapatkan tiket pesawat. Terus sekarang taksi juga susah, nanti apa lagi! Ya ampun, begini banget sih nasip gadis malang yang tidak memiliki ponsel sepertiku ini"


"Bunda, Ayah.. bagaimana aku harus mengabari kalian, masa aku meminjam ponsel para pengunjung lainnya? Nanti yang ada aku dikira mau maling lagi"


"Huaaa.. sudahlah lebih baik aku duduk saja di sana siapa tahu nanti ada orang baik yang akan menolongku seperti di buku novel itu loh pangeran berkuda putih yang menjadi penolong serta pelindung bagi seorang gadis polos dan cantik sepertiku ini hihi.."


Awalnya Sasya merasa sangat cemas dan juga khawatir, namun Sasya selalu berusaha tenang dengan harapan jika akan ada suatu ke ajaiban dari Sang Pencipta untuk segera mengirimkan seseorang untuk menolongnya.


...*...


...*...


Alex dan Pinjai yang memantau Sasya dari jauh hanya bisa tersenyum menatapnya. Kasihan? Ya, pastinya. Hanya saja jika mereka tidak bergini mana mungkin Alex bisa berdekatan selama ini dengan Sasya.


Walaupun, tidak selamanya bisa di dekat Sasya tetapi Alex sangat senang hampir seharian ini dia selalu berada bersama Sasya tanpa adanya pengganggu seperti Ash.

__ADS_1


"Bagaimana, Pinjai? Apa sudah waktunya aku mendekatinya? Aku kasihan melihatnya seperti itu, aku tahu saat ini perasaannya pasti sudah tidak nyaman karena dia kepikiran dengan keluarganya terutama Tuan Brian" ucap Alex sambil terus memantau pergerakan Sasya dari tempat persembunyiannya.


"Jangan dulu, Tuan. Kita tunggu saja 15 menit dari sekarang biar kesannya Nona Sasya berpikir jika Tuan itu sudah pulang, tapi nyatanya Tuan masih ada di sini untuk menemui kolega Tuan di bandara. Jadi Tuan ada alasan yang mana Tuan mau kembali mencari penginapan lalu tidak sengaja Tuan melihat Nona Sasya masih duduk di sana. Kemudian Tuan mendekatinya, begitulah kira-kira. Apa Tuan paham dengan apa yang aku jelaskan barusan?"


Pinjai menjelaskan step by step langkah yang akan Alex lakukan agar tidak membuat Sasya menaruh curiga dengannya.


"Baiklah, aku ikuti rencanamu asalkan aku bisa selalu dekat dengannya tapi dia menaruh curiga padaku" sahut Alex sambil mengangguk kecil yang mana hanya di senyumi oleh Pinjai lantaran dia sangat bangga dengan dirinya sendiri karena Pinjai bisa menyusun rencana besar dengan sangat teliti.


...*...


...*...


Sampai tak terasa 20 menit telah berlalu, kini saatnya Alex memancarkan aksinya yang hanya diikuti oleh Pinjai serta para bodyguard dibelakangnya.


"Bagaimana Tuan, apakah sudah siap?" ucap Pinjai pelan sambil menoleh menatap Alex sambil berjalan dengan tatapan penuh arti yang kini hanya mendapatkan anggukan serta senyuman kecilnya dari Alex.


Sasya yang melihat dari jauh seperti mengenali seseorang itu membuatnya langsung berdiri dari kursinya dengan tatapan bingung.


"I-itu bukannya Tuan Alex?" ujar Sasya dengan sangat pelan.


"Astaga, ya benar itu adalah Tuan Alex dan juga Tuan Pinjai. Tapi, kenapa mereka masih ada di sini? Aku kira mereka sudah pulang setengah jam yang lalu, tapi ternyata mereka masih ada di sekitaran sini"


"Apa aku minta tolong kepada mereka aja ya, habisnya tidak ada taksi satu pun yang lewat. Kalau begini terus bisa-bisa aku akan menginap di tempat ini, tapi jika aku meminta tolong padanya nanti dia besar kepala?"


"Huaaa.. bagaimana ini, aku samperi dia atau aku pura-pura tidak lihat saja? Tapi.. arghhh.. sudahlah aku pura-pura tidak lihat saja biar mereka tidak geer jika aku meminta tolong padanya bisa-bisa mereka akan memanfaatkanku lagi"

__ADS_1


Sasya berucap di dalam hati kecilnya sambil kembali duduk menyerong agar tidak menatap ke arah Alex yang akan melewatinya.


Namun, Alex yang memakai kaca mata hitam pun langsung saja terhenti sambil membuka kaca matanya dengan tatapan bingung. Yang mana, Alex hanya menjalankan aktingnya supaya Sasya tidak akan mencurigainya sedikit pun.


__ADS_2