Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kesadaran Atau Kodam Tuan Alex?


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, suasana kini menjadi tenang tanpa adanya obrolan satu sama lain dan hanya terdengar suara dentingan alat makan saja serta sesekali mereka saling menebar senyum kikuknya.


15 menit telah berlalu, Pinjai dan juga Sasya sudah selesai dengan makan sianganya yang mana Sasya kembali ke ruangan Ayahnya untuk mandi serta membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Dan Pinjai pun menunggu di depan ruangan Alex, setelah Sasya selesai dan telah siap kemudian mereka masuk ke ruangan Alex dan melihat Alex sedang menatap ke arah jendela tanpa berkedip sedikit pun.


Ceklek...


"Selamat siang Tuan Alex yang menyebalkan" Sasya berjalan mendekati bangkar Alex dan menatap meja kecil di sampingnya yang mana masih terdapat makanan serta obat-obatan yang masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun.


"Apa ini? Kenapa makanan tadi pagi tidak kau sentuh sedikit pun. Lalu, lihatlah ini obatmu masih utuh. Apa kau sudah bosan untuk sehat?"


Sasya mengoceh bagaikan petasan kretek yang kini langsung menyadarkan Alex dari lamunannya hingga menoleh kearah Sasya dengan sangat cepat dalam keadaan bahagia.


"Ba-baby..." Ucap Alex dengan wajah tersenyum namun mata Alex terlihat sangat sembab layaknya seseorang yang habis menangis.


Seketika tubuh Sasya mematung saat mendengar kalimat yang Alex ucapnya berhasil membuat wajahnya merah merona.


Sedangkan Pinjai yang berdiri di belakang Sasya hanya tersenyum kecil melihat Tuannya bagaikan Big Baby yang hampir kehilangan induknya.


Alex yang begitu bahagia sontak tersadar atas ucapannya sehingga senyuman di raut wajahnya pun memudar dan tergantikan oleh wajah datarnya.


"Ma-maaf, jika aku sudah melewati batasan yang ada. Ohya.. bagaimana kabar Ayahmu? Aku dengar dari dokter, katanya sore ini dia akan pulang ya? Jika benar begitu, kau ikut saja dengan mereka kembali ke rumahmu"

__ADS_1


"Jangan khawatirkan aku, semua ucapanku kemarin tidak perlu dianggap serius. Aku juga sudah besar kok, jadi aku bisa mengurus diriku sendiri. Kasihan keluargamu yang lain mereka sangat rindu kepadamu"


Alex menatap Sasya yang kini sudah tersadar dan malah mengerutkan kedua alisnya saat mendengar penuturan kata Alex sangat berbeda dari biasanya.


"Apa rasa sakit di perutmu bisa membuat otakmu kembali normal?" Tanya Sasya dengan wajah penasaran.


"Aku cuman tidak mau memaksakan kehendakku padamu, aku sadar selama ini aku sudah sangat keras kepadamu. Jadi, aku akan mendekatimu jika kamu mengizinkanku. Namun jika tidak maka aku tidak akan mendekatimu dari jarak yang sangat dekat"


"Tapi aku akan tetap memantaumu dari jauh yang mana aku akan tetap melihatmu meskipun dalam jarak 5 meter, itu sudah membuatku sangat senang. Apa lagi aku tidak mau sampai mengekang dan membuatmu malah menjadi semakin jauh dariku karena itu rasanya akan sangat menyakitkan dari apa yang sudah aku alami selama ini"


"Aku tahu bagaimana rasanya di tolak, tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya mengendalikan semua perasaan ini agar bisa menjadi biasa saja padamu. Yang aku tahu, aku benar-benar mencintaimu Sya.. sangat mencintaimu"


"Apa pun akan aku lakukan untuk bisa kembali mendapatkan kata maaf dari semua keluargamu termaksud mendapat pintu hati darimu. Bahkan aku sudah bertekat untuk berpindah agama agar aku bisa menyamakan agamamu. Namun, jika itu tidak memungkinkan kita bersama pun tidak apa-apa"


"Tapi, tidak apa-apa hehe.. aku sangat yakin semua takdir yang sudah di tentukan tidak akan pernah tertukar termaksud rezeki, dan juga jodoh. Aku akan melepas semua pekerjaan kotorku dan kembali fokus membangun perusahaanku sendiri yang sempat terbengkalai"


"Jatuh bangun akan aku hadapi, bahkan aku juga akan memperdalam semua ilmu yang berkaitan dengan agamamu. Tapi, jangan berpikir aku begini karena seolah-olah aku ingin mendapatkanmu. Tidak!!"


"Ya memang awalnya aku berubah karena aku ingin bisa selalu bersama denganmu, tapi aku juga tahu jika berubah karena cinta sama saja bohong. Karena perubahan itu ada di dalam diri kita sendiri, jika kita berubah setengah-setengah maka hasilnya pun tidak akan memuaskan. Namun, jika kita berubah sesuai dengan isi hati pasti hasilnya sangat memuaskan"


"Walaupun di saat aku sudah berubah, dan berganti agama tetapi kita memang tidak di takdirkan untuk berjodoh sama Sang Pencipta maka aku tidak akan memaksakan garis takdir yang sudah di tentukan. Setidaknya aku akan tetap meneruskan perjuanganku sekuat tenaga dan juga jiwa ragaku untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi untuk ke depannya"


Alex tersenyum dengan air mata yang menetes saat menatap Sasya yang kini terdiam dalam keadaan menangis. Entahlah, Alex tidak tahu apa yang membuat Sasya sampai menangis yang terpenting hatinya sudah sangat lega di saat bisa mengutarakan apa yang mengganjal di dalam hatinya selama ini.

__ADS_1


Padahal awalnya Alex sangat ingin membuat kejutan kepada Sasya jika dirinya akan pindah agama, namun entah kenapa saat kejadian tadi membuat Alex tersadar jika perubahan hanya untuk mengejar cinta maka tidak akan membuahkan hasil yang baik. Cuman jika memang berubah untuk lebih memantapkan hati mungkin hasilnya akan jauh lebih menyenangkan.


"Betapa indahnya kata-kata yang kau ucapkan itu, Tuan Alex. Sungguh aku tidak bisa menduga dan juga percaya jika semua ucapan itu bisa terlontar dari mulut BISMA ALEXSANDER seorang pria dingin, cuek, arrogan dan juga kejam"


"Tapi dibalik sosok monster tersebut terdapat teka-teki yang membuatku sangat terkejut, ternyata apa yang kita lihat dan kita dengar tidak menutup kemungkinan jika orang tersebut bisa berubah menjadi sosok pangeran berhati emas"


Sasya bergumam di dalam hatinya dengan perasaan yang begitu tersentuh, entah ini adalah sebuah mimpi ataukah memang kenyataan. Jika ini adalah mimpi, maka Sasya tidak akan mau terbangun. Namun jika ini adalah kenyataan Sasya akan sangat senang bahwa takdir seakan mulai berpihak padanya.


"Apakah yang mengomong tadi benar-benar atas kesadaran atau kodam Alex yang bersemayan di dalam tubuhnya? Kok aku jadi merinding ya, entah apa yang dikatakannya barusan kok rasanya sangat menyentuh hatiku"


"Baru kali ini aku mendengar penuturan kata demi kata yang Alex ucapkan berhasil membuatku meneteskan air mata, kalimat itu terdengar begitu indah bahkan jika aku yang ada di posisinya pun aku tidak akan bisa mengucapkan kata-kata seindah itu"


"Apa lagi jika aku sama Manda memiliki perbedaan agama, mungkin saat ini kita tidak akan bisa bersama yang mana aku akan menyerah sebelum perang. Belum jika kita harus memulai kembali belajar agama dari titik nol sama seperti saat kita baru saja di lahirkan. Pasti itu rasanya akan sangat berat"


"Tapi aku selaku Kakaknya akan terus mendukung Adikku itu agar dia terus semangat mengejar apa yang akan menjadi kebahgiaanya. Karena aku sangat mengenalnya, lantaran dia sedari kecil hingga saat ini hanya bisa merasakan pahitnya kehidupan tanpa sedikit pun merasakan apa itu kebahagiaan dan apa itu kasih sayang"


"Apa pun yang terjadi aku akan selalu ada di sampingmu, Lex! Meskipun kita akan berbeda agama dan tinggal di dalam atap yang sama, namun tidak menutup kemungkinan jika kita adalah saudara"


Pinjai menghapus air matanya yang saat ini telah menetes ketika melihat sebegitu cintanya sosok Alex kepada Sasya hingga ia rela mempelajari agama yang sebelumnya tidak pernah sama sekali dia ketahui.


Pinjai bisa merasakan bahwa adanya sececar harapan yang akan mempersatukan mereka, entah kapan yang jelas Pinjai sangat yakin bahwa mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


Hanya saja Pinjai merasa bahwa Alex harus lebih bersemangat lagi untuk menggapai kebahagiaannya, sedangkan Sasya pun harus berusaha untuk meyakinkan kepada semua keluarganya bahwa Alex bukanlah pria kejam seperti apa yang mereka kira selama ini.

__ADS_1


Dan Sasya pun harus bisa meredam api amarah yang melekat dalam di hati Ayah Brian serta Lukas, karena merekalah yang sangat tersakiti saat melihat betapa hancurnya masa kecil Sasya.


__ADS_2