Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Sakit Mas Sakit


__ADS_3

Di dalam ruang persalinan


“Nyonya ikuti aba-aba saya ya” ucap sang dokter.


“Hiks... Sakit dok, sakit aaaaa...” teriak Hana dengan sangat kencang.


“Sabar ya Nyonya, sebentar lagi pembukaannya telah sempurna. Baru bisa kita segera melakukan proses persalinannya” ucap sang dokter yang terus mengecek jalur keluar sang bayi.


“Hiks... Hana sudah enggak kuat lagi, dok hiks... Mas Brian...” teriak Hana sambil menangis.


“Sus, cepat panggilkan Tuan Brian agar ia bisa menyemangati istrinya” ucap sang dokter dengan cemas.


“Baik, Dok. Saya akan panggilkan Tuan Brian untuk bisa menemani istrinya saat persalinan” jawab sang suster kemudian langsung berjalan ke arah pintu lalu ia membukanya.


“Tuan Brian, Anda silakan masuk. Nyonya saat ini benar-benar sangat membutuhkan semangat dan dukungan dari Tuan” ucap sang suster.


“Ayo Brian cepat bantu Hana untuk melewati semua ini, kamu harus bisa kuat dan terus semangatin Hana” ucap Nyonya Syifa.


Brian yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, ia yang sangat takut melihat banyak darah membuat ia sangat bimbang. Tetapi saat ini Hana benar-benar membutuhkan Brian agar berada di sampingnya untuk menyemangatinya. Tanpa pikir panjang Brian melawan rasa takutnya dan masuk bersama sang suster.


“Qisya mau ikut ke dalam juga hiks...” ucap Qisya yang berlari ke arah pintu kemudian di tahan oleh Nyonya Syifa dan langsung menggendongnya untuk menenangkan Qisya.


“Qisya enggak boleh masuk sayang, kita doakan Bunda sama dedek dari sini saja ya. Biar Ayah saja yang menemani Bunda” ucap Nyonya Syifa sambil duduk memangku Qisya.


“Kalau nanti Qisya ke dalam, bisa-bisa diomeli dokter. Jadi Qisya di sini saja bareng Opa sama Oma ya” saut Tuan Ferry sambil mengusap kepala Qisya.


“Hiks... Tapi Qisya mau di samping Bunda Opa, Oma hiks... Qisya mau lihat Bunda sama dedek” ucap Qisya sambil menangis.


“Ssttt... Kakak jangan nangis lagi ya” ucap Nyonya Syifa sambil memeluk Qisya mencoba membuatnya mengerti bersama Tuan Ferry.


Di dalam ruangan persalinan


Brian yang sudah lengkap dengan pakaian medisnya dengan perlahan melangkahkan kakinya dengan perasaan gugup.


“Mas Brian... hiks... sakittt” teriak Hana saat melihat Brian yang berdiri di sampingnya.


“Hiks... Sayang, sabar ya kamu kuat kok. Ayo sayang ini demi Baby twins” ucap Brian sambil menggenggam tangan Hana sambil menciumi keningnya dengan air mata yang terus saja menetes.


“Hiks... sakit, Mas sakit hiks...” ucap Hana sambil menangis.

__ADS_1


“Nah... Sempurna, bagaimana Nyonya dan Tuan, apakah sudah siap? Jalur keluar sang bayi sudah terbuka jadi dengan sedikit dorongan saja maka mereka akan tahu jalan keluarnya” ucap sang dokter.


“Sakit, Dok sakit... Dokter ngerti sakit gak sih hah hiks...” bentak Hana dengan merasakan kesakitan yang luar biasa.


“Sayang, sabar kamu harus kuat ingat anak kita sebentar lagi akan bertemu dengan kita. Jadi kamu jangan marah-marah nanti mereka enggak mau keluar” ucap Brian.


“Sakit Mas sakitt... hiks... Coba deh gantian Mas yang ngerasain nih biar tahu gimana rasa sakitnya” ucap Hana sambil meremas tangan Brian.


“Yakk... Kamu kira aku wanita apa, aku ini tugasnya cuman bikin doang, kamu yang ngeluarinnya” ucap Brian.


“Dasar laki-laki bereng*sek arghh... bisa-bisanya cuman maunya enak doang bagian enggak enaknya perempuan yang ngerasain hiks...” teriak Hana sambil meremas kuat paha Brian.


“Arrrrghh... Sakit sayang” teriak Brian.


“Hiks... Bodo. Biar kamu juga merasakan betapa sakitnya aku. Jangan maunya bikin doang tapi enggak mau tanggung jawab buat ngeluarinnya” teriak Hana.


“Sudah-sudah jangan pada berantem kapan bayinya bisa keluar kalau orang tuanya ribut begini bisa-bisa mereka takut untuk keluar” ucap sang dokter.


“Diam!!” ucap Brian dan Hana bersamaan membuat sang dokter langsung terdiam.


“Huaaa... hiks, Mas Brian jahat sudah bikin Hana sakit argghhhh...” ucap Hana sambil mengeden dan menjambak rambut Brian dengan sangat keras.


“Arrghh... sakit sayang, sakit ampun hiks...” jawab Brian.


“Dasar suami tidak tanggung jawab arghhh... huh... huh... Maunya bikin doang bagian kaya gini saja istri yang nanggung” ucap Hana kembali menjambak rambut Brian sampai rontok.


“Arghh... Sakit sayang lepasi rambutku nanti bisa-bisa botak ini” ucap Brian dengan kesal.


“Lebih baik rambut atasmu yang botak arghh... Dari pada rambut si Joni huh... huh...” saut Hana sambil menarik nafasnya penuh dengan keringat yang sudah membasahi seluruh wajahnya.


“Aaaaa... Sayang, kalau si Joni tidak memiliki rambut bagaimana ia bisa terlihat tampan” ucap Brian sambil melepaskan tangan Hana dari rambutnya yang semakin kencang.


“Bodo amat argghhhhhhh...” teriak Hana sangat kencang sambil mengeden berbarengan dengan menarik rambut Brian sampai rambutnya menempel di tangan Hana.


“Arggghhh... Sayaangggg” teriak Brian dengan sangat kencang.


Oeekk... oeekk... oeekk...


Terdengar suara tangisan bayi pertama dengan sangat kencang.

__ADS_1


“Alhamdulillah... Tuan dan Nyonya, bayi yang pertama laki-laki” ucap sang dokter sambil mengangkat sang bayi dan menghadapkan ke arah Hana sama Brian.


“Huaaa... hikss... Mas lihat anak kita itu” ucap Hana sambil menarik baju Brian yang membuat Brian tertarik dan jatuh di dada Hana.


“Astaga sayang, aku tahu itu anak kita. Memangnya anak siapa lagi kalau bukan anak kita. Tapi bukan begini caranya. Harga diriku nanti akan jatuh di depan putra kita” ucap Brian sambil melepaskan tangan Hana.


“Hiks... Anakku” tangis Hana pecah saat menatap putranya yang berada di tangan sang dokter.


Namun, saat sang dokter ingin memberikan sang bayi tak lama Hana kembali merasakan kesakitan yang luar biasa.


“Arrghh... Mas Brian, sakitnya kembali lagi huaaa...” teriak Hana sambil mencubit Brian dengan kencang.


“Awwwssshh.. Sakit woi, di kira ini kulit kebo apa” ucap Brian dengan kesal.


“ Berisikk... hiks... Diamlah ini dia mau keluar lagi” saut Hana.


Sang dokter pun langsung memberikan bayi pertama kepada suster untuk segera di bersihkan dan kembali melanjutkan proses persalinan yang ke dua.


“Ayo Nyonya tarik nafas kemudian keluarkan dengan pelan-pelan, lalu kembali dorong dengan kuat” ucap sang dokter sambil menatap jalur keluar sang bayi.


“Huaaa... hiks... Kalau begini sakitnya Hana engga mau lagi bikin anak” ucap Hana.


“Yakkk... Mana bisa begitu sayang, lalu bagaimana jatahku nanti” ucap Brian.


“Argghhh... huh... huh... kamu masih saja mikirin jatah, apa kamu enggak liat aku kesakitan begini hah!!” bentak Hana sambil kembali menarik baju Brian yang membuat ia mendekati wajah Hana.


“Tapi jatahku bagaimana sayang, aku enggak mau sampai kamu kurangi. Pokoknya jatahku harus ada setiap hari titik” ucap Brian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Dan terima kasih atas dukungan kalian selama ini semuanya 😄😄😄


Semua dukungan kalian itu sangatlah berarti untuk Author 😊😊😊


Author akan berusaha untuk bisa up lebih banyak lagi 💪🏻💪🏻💪🏻


Dan Author juga akan membuat ceritanya lebih menarik 😆😆😆

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa para pembaca setiaku 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2