
Tapi yang lebih bahagianya Chika sudah dinyatakan sembuh dari depresinya, jadi dia tidak akan takut jika harus berhadapan dengan Alex atau pun Pinjai.
Begitu juga dengan keluarga kecil Pinjai yang juga akan menjadi mualaf bersama dengan Alex.
...*...
...*...
Di New York, Alex baru saja tiba dengan penampilan yang sangat rapi. Ya meskipun tidak terlalu berubah, tetapi terlihat jelas bahwa wajah Alex sedikit bersinar akibat perubahannya yang sudah mulai jauh lebih baik.
Alex mendatangi rumah sakit dimana Sasya bekerja, semuanya Alex lakukan tanpa mengabari Sasya terlebih dahulu karena dia mau memberi sedikit kejutan untuknya.
"Syaa.. Makan yuk, aku laper nih. Soalnya dari tadi pagi belum nyarap sama sekali, gara-gara waktu udah mepet banget" ucap Ash yang sudah tidak lagi memanggil Sasya dengan panggilan Kiss, kesayangannya.
"Boleh, tapi teraktir ya hehe.." sahut Sasya sambil tersenyum.
"Ckk.. Kebiasaan! Ya sudah ayo, tapi ingat jangan makan banyak-banyak yang ada aku bangkrut lagi!" celetuk Ash.
"Tenang aja, aku kan lagi proses diet jadi kantongmu akan aman dari kebangkrutan hihi.."
Sasya tertawa kecil membuat Ash semakin kesal, lalu Ash berjalan lebih dulu sehingga Sasya harus mengejarnya dengan cara berlari kecil.
Sesampainya di kantin mereka segera memesan minuman serta makanan untuk mengisi perutnya. Namun tanpa mereka sadari seorang pria tanpam dan gagah berdiri di ambang pintu kantin dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, Sya.. Sudah lama aku merindukan saat-saat ini. Tetapi, apalah dayaku! Takdir baru membawaku sekarang untuk segera menemuimu, cuman aku harus berjuang sedikit lagi agar bisa memenangkan hati keluargamu"
"Setidaknya aku sudah mengantongi dukungan sebesar 70 persen dari keluargamu, hanya tersisa 30 persen lagi agar aku bisa menggapaimu seutuhnya tanpa harus melihatmu dari jauh seperti ini"
Alex berbicara di dalam hatinya dengan fokus matanya tertuju pada Sasya, langkah demi langkah Alex pijakkan mendekati meja Sasya.
"Assalammualikum, apa boleh saya ikut bergadung dengan kalian?" tanya Alex yang sudah berdiri di samping Ash.
"Waalaikumsalam, ohya.. Silak-..." Ucapan Sasya terhenti ketika matanya berhasil menatap wajah Alex.
Sasya dan Ash segera bangkit dari kursinya. Lalu mereka menatap intens ke arah Alex dengan ekspresi wajah yang sudah tidak bisa di jelaskan lagi.
Mata Sasy membola besar saat menatap wajah pria yang selama ini dia rindukan. Dimana Alex hanya tersenyum kecil menatap ke arahnya dengan wajah yang sedikit berseri.
Ash terlihat sangat terkejut, bahkan matanya pun berhasil menatap wajah Alex yang semakin ke sini semakin tampan dan juga dewasa.
Entah mengapa Ash takut jika Sasya bersatu dengan Alex, maka tidak ada lagi peluang baginya untuk mendekatinya. Sehingga Ash akan merasa sangat kesepian akibat Alex akan menjaga ketat Sasya agar tidak ada satu pria pun yang mendekati.
"Tenang saja, aku tidak sejahat itu memisahkan kalian. Paling juga aku hanya membuat kalian sedikit berjaga jarak agar tidak akan menimpulkan kesalah pahaman di antara kita" jawab Alex.
Lagi dan lagi Ash terkejut mendengar penuturan kata Alex yang benar-benar tenang, tidak seperti Alex yang dulu selalu penuh dengan kecuekn dan juga emosi.
"Syaa.. A-apa benar dia ini Tuan Alex?" bisik Ash.
__ADS_1
"Entahlah, a-aku juga bingung. Di-dia seperti bukan Alex yang aku kenal? A-apa jangan-jangan dia kembarannya?" bisik Sasya kembali membuat Ash semakin penasaran.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Alex yang langsung diangguki oleh Sasya dan juga Ash.
Lalu, Alex duduk dengan perlahan diikuti oleh Sasya dan juga Ash. Alex segera memesan minuman serta makanan agar bisa mengisi perutnya yang sedikit lapar.
Tak lama pesenan Alex pun datang, kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada sang pelayan. Lalu Alex menatap mereka secara bergantian dan meminta mereka untuk kembali meneruskan makan siangnya bareng bersama dirinya.
Alex membaca doa dan memakan makananya secara perlahan, sedangkan Sasya dan Ash masih terus memperhatikan gerak-gerik Alex yang membuat mereka masih tidak percaya sama apa yang mereka lihat di depannya. Jika orang yang selama ini mereka ketahui memiliki sifat arrogan dan juga dingin tiba-tiba telah berubah drastis. Bagaikan langit dan bumi.
Tidak sia-sia Alex berjuang beberapa tahun terakhir ini, akhirnya dia mampu membuat wanita yang dia cintai terpesona dengan perubahannya.
Sasya tersenyum melihat wajah Alex yang tak henti-hentinya selalu menjadi pusat perhatiannya.
Tak terasa waktu terus berjalan, dan suasana pun mulai tenang tanpa adanya ketegangan di antara mereka. Bahkan Sasya dan Ash juga sudah percaya jika Alex yang ada di hadapannya adalah Alex yang sama, cuman kali ini Alex telah berhasil membuang sifat buruknya dan menggantinya dengan sifat yang lebih baik.
Perlahan mereka mulai berbincang sampai akhirnya jam istirahat Sasya dan Ash pun telah berakhir. Mau tidak mau mereka harus kembali melakukan tugasnya sebagai seorang dokter profesional.
Sasya dan Ash pun pergi keluar dari kantin meninggalkan Alex yang masih setia duduk kursinya, Sasya langsung melambaikan tangannya dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu bahagia.
Selepas kepergian mereka, Alex pun bergegas berjalan keluar kantin meninggalkan rumah sakit untuk kembali menuju Apartemennya.
Di sepanjang perjalanan Alex hanya bisa tersenyum bahagia ketika dia sudah berhasil menemui dambaan hatinya yang sudah lama tidak berjumpa, ya walaupun hanya sebentar tetapi itu sudah bisa mengobati rasa rindunya selama ini di dalam hatinya.
__ADS_1