Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kapan Ya Arya Bisa Seperti Mas Brian?


__ADS_3

“Hehe..  mas Brian tunggu sebentar ya 5 menit, Arya mau ganti baju dulu biar keren” ucap Arya sambil berlari ke arah kamar.


Hana hanya bisa terdiam sesekali melihat ke arah Brian.


Tak lama kemudian Arya datang.


Kini Arya sudah siap dan tampan untuk mengantar Brian ke tempat kerjanya.


“Mari mas, Arya antar let’s go..” ucap Arya dengan sangat bersemangat.


“Abah, Umi dan Hana. Brian pamit pergi dulu, maaf sudah merepotkan dan terima kasih banyak. Maaf Brian belum bisa membalas kebaikan kalian. Tapi jika Brian ada waktu, akan menyempatkan datang kesini” pamit Brian dengan bersalaman kepada Abah.


“Jangan lupa main kesini lagi mas Brian, jangan sungkan. Rumah ini akan selalu terbuka buat mas Brian” saut Abah dengan sangat ramah.


Brian hanya mengangguki kepalanya dan sesekali menatap Hana.


Kemudian Brian keluar rumah bersama Arya yang diikuti oleh Abah, Umi serta Hana.


Kini Brian sudah menaiki sepeda motor milik Arya lalu pergi meninggalkan mereka semua.


*


*


*


*


Hampir 1 jam Arya dan Brian melakukan perjalanan menuju tempat kerja.


Dan akhirnya mereka sampai di tanah kosong yang sangat luas.


Di sana sudah terdapat beberapa orang yang sedang mengukur tanah serta yang lainnya.


Arya memberhentikan sepeda motornya tepat di tanah kosong tersebut.


“Loh mas Brian mau kerja jadi kuli di sini?” ucap Arya dengan wajah bingungnya.


“Tidak, aku ke sini untuk memantau tanah yang ingin aku jadikan PT atau pabrik yang akan memproduksi hasil pertanian dan perkebunan warga desa” ucap Brian sambil turun dari motor dan menatap Arya.


“Waw.. mas Brian seriuskah ini? Berarti nanti saat PT mas Brian sudah di bangun banyak membuka lowongan pekerjaan dong?” tanya Arya dengan nada bahagia.


“Ya, awalnya aku ingin membuat perusahaan tetapi tidak jadi. Dan akhirnya aku menggantinya dengan PT ataupun pabrik” jawab Brian tanpa ekspresi.


“Loh memangnya kenapa mas, kok di batalin begitu? Apakah dananya kurang?” celetuk Arya dengan wajah yang sangat penasaran.


“Ini bukan masalah dana Arya. Tetapi ini masalah manusiawi” ucap Brian dengan nada dingin.


“Manusiawi? Apa lagi toh mas, Arya kurang paham maksudnya bagaimana?” tanya Arya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Manusiawi yang aku maksud itu, tentang kurangnya lapangan kerja di sini. Jika aku nekat untuk membuat perusahaan, pasti warga di sini akan sulit untuk bergabung” jawab Brian.


“Tetapi jika aku membuatkan PT ataupun pabrik yang besar maka akan berguna bagi warga di sini. Mereka tidak harus jauh-jauh mengirim hasil panenan sampai harus mengeluarkan uang lagi untuk ongkos pengiriman serta penghasilannya akan utuh” sambung Brian


“Ditambah dengan membuat lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian para warga di sini. Jadi Seperti itulah kurang lebihnya aku tidak bisa menjelaskan semuanya lebih rinci, karena aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku di sini dan kembali ke Jakarta” ucap Brian dengan nada terburu-buru.


“Oalah.. begitu toh mas, ya ampun baik banget sih mas. Arya jadi terharu mendengarnya, semoga jika Arya sudah besar nanti bisa seperti mas Brian menjadi seorang pengusaha sukses” ucap Arya dengan wajah berbinar kagum.


“Jika kamu mau, setelah lulus sekolah nanti, kamu lamar kerja saja di sini. Aku akan siapkan jabatan khusus untukmu” ucap Brian dengan nada dingin.


“Waw.. se-serius mas Brian mau terima Arya di PT nanti?” tanya Arya dengan wajah yang sangat bahagia.


Brian hanya menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah aku pergi dulu, terima kasih atas tumpangannya. Dan hati-hati di jalan” ucap Brian dan langsung meninggalkan Arya dengan tergesa-gesa.


Arya yang menatap Brian pun merasa sangat kagum terhadapnya.


“Kapan ya Arya bisa seperti mas Brian?” gumam Arya di dalam hati.


“Pasti mas Brian banyak wanita yang mendekatinya, apa lagi dia kan pengusaha sukses. Coba saja Arya bisa seperti mas Brian, mungkin Arya bisa membuat Abah, Umi dan Mbak Hana bahagia" celoteh Arya.


"Bahkan kita bisa mempunyai rumah yang lebih layak lagi serta bisa pergi menunaikan ibadah di tanah suci” sambung Arya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Meskipun Arya terlihat seperti anak kecil yang suka bercanda, tetapi di balik lubuk hatinya Arya ingin sekali membuat keluarganya bahagia.


Sehingga, Hana jarang sekali mengeluh tentang biaya sekolah ataupun bayaran SPP dan lainnya.


Karena ia selalu menabung dari hasil kerja kerasnya, yang setiap pulang sekolah hanya menyempatkan waktu untuk makan Shalat dan kemudian berangkat untuk bekerja sebagai kuli cuci di perumahan.


Agar bisa sampai di perumahan tersebut, Hana juga harus berjuang untuk menggoes sepedanya yang memakan waktu hampir 1 jam kurang agar bisa mencapai tempat kerjanya.


Hana juga sempat menjadi pengasuh anak kecil di perumahan satunya.


Entahlah, Hana menjalankan semua pekerjaannya sekaligus agar bisa membantu keuangan keluarganya.


Bahkan ternak Abah pun awalnya Hana yang membiayai serta sepeda motor yang dipakai Arya pun hasil dari kerja keras Hana yang di kumpulkan demi sang adik tersayang.


Sedangkan Arya hanya bisa meminta uang kepada Hana ataupun orang tuanya.


Tetapi dengan cara Arya membantu Abah di sawah ataupun mengurusi ternak-tenak yang ada di rumah.


Keluarga Hana memang dari kecil tidak mengajarkan anaknya untuk meminta uang dengan cara yang terbilang sangat gratis.


Mereka akan dibuat untuk bekerja lebih dulu, kemudian baru di kasih uang jajan layaknya pekerja yang meminta upah hasil keringatnya sendiri.


Sehingga mereka bisa merasakan bagaimana susahnya mencari uang meskipun hanya 1000 rupiah.


*

__ADS_1


*


*


*


Malam hari di penginapan


Brian saat ini sedang duduk santai dengan udara yang dingin khas dengan angin sepoi-sepoinya, sambil meminum kopi yang hangat di luar rumah yang telah Brian sewa selama 3 hari ke depan.


“Hana, Hana, Hana?” gumam Brian sambil membayangkan senyum Hana.


“Kenapa kamu mirip sekali dengan mendiang istriku?” celoteh Brian sambil menatap langit.


“Sudah 5 tahun aku hidup seorang diri dengan menolak semua wanita, karena aku belum bisa melupakan mendiang istriku dan belum siap untuk menikah kembali” ucap Brian.


"Tetapi kenapa kamu mempunyai senyum yang sangat mirip dengan Sandra?" gumam Brian.


“Mungkin saja jika Sandra masih ada, pasti sekarang kita sudah hidup bahagia bersama anak kita sayang”


“Apa kamu bahagia di sana Sandra? Dan apakah kamu merindukan aku di sini?”


Brian terus saja mengoceh sambil menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang bersinar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2