
Ibu Shine dan juga Alex diam-diam tengah bersiap-siap untuk membawa bekal, serta beberapa setel baju di dalam ransel Alex yang Mana Alex menyuruh sang Ibu untuk membawa tas bekal saja. Sedangkan dirinya yang akan membawa tas ransel berisikan beberapa setel baju mereka.
Kini tibalah saat yang mereka tunggu-tunggu. Ayah Jack berpamitan kepada mereka serta sedikit memberikan pesan agar mereka berhati-hati di rumah jika dirinya tidak ada. Bahkan jika mereka pergi harus tetap berhati-hati jangan sampai ada yang membuat mereka celaka.
Pesan-pesan itu selalu Ayah Jack ucapkan ketika ia ingin kembali bekerja dan mereka berdua pun hanya bisa mengangguk dengan senyuman agar tidak membuat Ayah Jack curiga. Untungnya tas bekal dan tas ransel milik Alex sudah di sembunyikan di luar rumah yang mana agar mempermudah mereka. Ayah Jack pun pergi meninggalkan rumah dengan berjalan kaki ke depan untuk mencari halte bus yang mana halte tersebut tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
“Apa Alex tidak berat menggendong tas itu? Bagaimana jika kita tukeran, hem... Alex bawa saja tas bekal yang Ibu pegang ini, dan Ibu yang akan membawa tas ransel Alex” ujar Ibu Shine di sela-sela mereka mengikuti Ayah Jack.
“Tidak, Bu. Alex kan anak laki-laki, jadi Alex harus kuat supaya bisa menjaga Ibu. Lagian Ibu kan seorang wanita jadi tidak boleh membawa yang berat-berat” jawab Alex yang memperlakukan Ibunya bagaikan seorang ratu di hatinya.
Ibu Shine tersenyum sangat bahagia, ya meskipun nantinya ia tidak tahu harus bagaimana jika apa yang mereka curigakan terbukti benar adanya. Tapi dengan melihat Alex selalu menjaganya dengan sangat baik, itu bisa membuat Ibu Shine kembali bangkit dan lebih kuat untuk menerima semuanya nanti.
Perlahan demi perlahan mereka berdua mengikuti Ayah Jack dan untung saja Bus yang akan mereka tumpangi ada 2 jadi Alex dan Ibu Shine bisa menaiki Bus di belakang supaya tidak ketahuan. Sedangkan Ayah Jack menaiki Bus dengan tujuan yang sama, namun ia berada di Bus paling depan.
Mata Alex gencar melihat ke arah jendela untuk mengetahui dimana sang Ayah akan turun, dan benar saja. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, Ayah Jack langsung turun di suatu halte. Alex dan Ibu Shine pun segera turun di halte yang sama setelah Bus yang mereka naiki berhenti. Ayah Jack yang merasa seperti ada yang mengikutinya langsung menoleh ke arah belakang.
“Perasaan tadi kaya ada yang mengikutiku deh, tapi siapa? Kok tidak ada...” ujar Ayah Jack sambil menelusuri jalanan, lalu ia kembali berjalan menuju stasiun.
Alex yang sudah dapat membaca gerak-gerak Ayah Jack pun langsung menarik tangan Ibu Shine untuk bersembunyi di sela-sela orang yang sedang berjalan. Seakan-akan mereka sedang menyamar. Begitulah Alex, fisiknya yang masih kecil dan usianya yang masih di bawah umur tetapi untuk masalah kecerdasan Alex benar-benar patut diacungi 2 jempol bahkan 4 sekaligus.
“Astaga, Alex. Untung saja bekal yang Ibu bawa tidak sampai tumpah, lagian kamu kalau mau apa-apa bilang dong jangan langsung tarik Ibu seperti ini. Ibu kan jadi kaget tau...” keluh Ibu Shine sambil mengintip tas bekal yang ia bawa.
“Maaf, Bu. Kalau Alex bilang itu kelamaan, nanti bisa-bisa kita langsung ketahuan sama Ayah karena Alex tahu tadi Ayah sangat curiga jika ada yang mengikutinya” ucap Alex.
__ADS_1
“Ya sudah, lain kali hati-hati. Bagaimana jika nanti kita terjatuh bersama-sama, pasti bahaya kan” ucap Ibu Shine.
“Ya, Bu. Alex minta maaf ya... Ibu enggak apa-apa kan, tangannya apa ada yang sakit karena Alex tarik Ibu terlalu kencang?” tanya Alex dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Ibu tidak apa-apa kok, sayang. Ya sudah ayo kita ikuti Ayah lagi, Ibu penasaran banget. Hati Ibu berasa tidak tenang” jawab Ibu Shine.
“Oke... Ibu tenang ya, kan ada Alex di sini. Kalau Ibu cemas nanti asma Ibu kambuh loh, Alex enggak mau lihat ibu susah nafas” saut Alex.
Ibu Shine hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala Alex dengan kelembutan. Hingga pada akhirnya mereka kembali mengikuti Ayah Jack yang saat ini sudah masuk ke dalam stasiun. Ayah Jack yang sudah memiliki kartu kereta pun, langsung masuk ke dalam dengan tempelkannya pada tempat sensor agar bisa terbuka untuk memasuki area penumpang.
Alex dan Ibu Shine seketika bingung mereka harus bagaimana agar bisa masuk ke dalam. Lalu Alex memutar otaknya begitu cepat dan seketika ia teringat dengan ucapan sang Ayah jika ingin menaiki kereta mereka harus membeli tiket lebih dulu. Akibat teknologi semakin canggih, jadi mereka hanya memerlukan kartu untuk di tempelkan pada area sensor tersebut.
Alex langsung mengajak Ibu Shine untuk membeli kartu khusus, lalu tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah bisa mendapatkan 2 kartu. Untung saja Ibu Shine memegang uang yang lebih dari cukup agar mereka bisa mengikuti Ayah Jack.
Alex menyuruh Ibu Shine untuk duduk lebih dulu, karena Alex haru selalu mengawasi sang Ayah. Kali ini Alex benar-benar terlihat seperti intel yang profesional yang di usianya terbilang sangat kecil, namun ia memiliki ide-ide yang begitu cemerlang.
Hampir 2 jam mereka menaiki kereta tersebut, hingga kereta pun berhenti di stasiun tempat Ayah Jack tinggal bersama anak dan istri sahnya. Ayah Jack turun dari kereta yang langsung diikuti oleh Alex dan juga Ibu Shine dan ternyata, Ayah Jack menaiki sebuah taksi.
Di situ Alex ketar ketir untuk mencari taksi yang lewat karena hanya taksi Ayah Jack-lah yang satu-satunya ada di stasiun. Ibu Shine yang melihat kegigihan Alex dalam mencari kebenaran tentang Ayahnya membuat ia begitu bangga pada Alex. Ya meskipun di dalam hati kecil Ibu Shine sangat khawatir, tetapi berkat Alex ia sedikit mengesamping perasaan itu.
Tak butuh waktu lama Alex berhasil mendapatkan sebuah taksi yang ternyata sopirnya tadi sedang makan, namun Alex berhasil membujuknya agar segera mengantarkannya dengan sang Ibu ke tempat tujuan untuk mengikuti Ayah Jack. Sopir itu yang merasa kasihan, langsung meninggalkan makanannya dan secepat mungkin menyusul taksi Ayah Jack yang sudah berada sangat jauh. Jarak dari stasiun ke tujuan mereka kurang lebih sekitar 15 kilo meter.
Hingga sampailah mereka di rumah yang cukup besar namun tidak terlalu besar dan juga tidak kecil seperti rumah yang mereka tempati. Ayah Jack memasuki rumah tersebut dan menutup gerbangnya rapat-rapat. Alex dan Ibu Shine menatap bingung tetapi sangat mencurigai rumah tersebut.
__ADS_1
“Ibu, itu rumah siapa? Apa rumah orang tua Ayah? Tapi bukannya Ayah pernah bilang kalau dia tidak memiliki keluarga selain kita kan, lalu ini rumah siapa dong?” tanya Alex yang menatap lurus ke arah rumah tersebut dari jarak kurang lebih 10 meter.
“Kok perasaanku jadi tidak enak begini ya, apa yang dibilang Alex memang benar? Jika Alex bisa bertanya rumah siapa ini, maka aku juga punya pertanyaan. Ada hubungan apa Jack dengan semua penghuni rumah ini ya...” gumam Ibu Shine di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Mohon dukungan kalian semua untuk karya baru Author ini 😊😊😊
Serta karya-karya Author lainnya yang semoga kalian juga sukai 😄😄😄
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1