
"Terima kasih Oma, Opa atas hadiahnya... Baby twins senang sekali pastinya” ucap Hana sambil tersenyum dan mengusap perutnya.
“Hoya.., Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang orang yang ingin menyerang Hana waktu itu? Lalu, siapa dalang dari semua ini?” tanya Tuan Ferry sambil bersandar ke sandaran sofa dengan melebarkan kedua tangannya.
“Belum ada perkembangan, Pah. Brian juga sudah menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki semuanya. Tapi sampai saat ini tidak ada hasil apa pun” jawab Brian.
“Apa kamu selama ini punya musuh?” tanya Tuan Ferry.
“Musuh mah banyak, Pah. Tetapi mereka hanya bersaing dalam bisnis saja, tidak sampai mengancam keselamatan keluarga Brian” ucap Brian.
“Apa mungkin kamu punya musuh dalam selimut yang tidak pernah kamu sadari?” tanya Nyonya Syifa dengan wajah seriusnya.
“Entahlah, Mah. Brian juga sedang memikirkan itu. Apa yang mereka inginkan sampai-sampai ingin menyelakai Hana dan Baby twins” ucap Brian.
“Kamu harus secepatnya mencari tahu semuanya Brian, kemungkinan ini akan terjadi lagi karena Papah yakin ada maksud tertentu kenapa mereka sampai melakukan hal nekat itu” ucap Tuan Ferry.
“Sudah, Pah, Mah, Mas. Tidak usah di pikirkan mungkin saja orang itu sudah tidak berani lagi karena sekarang dia sudah menjadi buronan orang suruhan Mas Brian. Apa lagi ini kasusnya sudah masuk ke kantor polisi. Jadi, tidak di khawatirkan lagi” jawab Hana sambil memegang tangan Nyonya Syifa.
“Tidak bisa sayang, aku yakin mereka bukan orang sembarangan. Pasti ada tujuan tertentu dari mereka, jadi aku harus cari tahu hal ini” ucap Brian dengan sangat tegas.
“Ya sudah, Papah mau ke kamar dulu bersih-bersih ya” ucap Tuan Ferry sambil berdiri dan meninggalkan semuanya.
“Mamah juga mau menyusul Papah dulu ya. Dadah sayang...” ucap Nyonya Syifa sambil menyusul suaminya.
Qisya yang sedang anteng dengan baju barunya serta beberapa mainan membuat ia fokus dan tidak mendengarkan semuanya.
“Kamu tenang saja sayang, aku akan selalu menjaga kalian semua. Dan aku tidak akan membuat satu orang pun bisa menyakiti keluargaku. Jika ada pun mereka langsung berurusan denganku, akan aku hancurkan semua keluarganya sampai keturunannya karena telah berani macam-macam dengan keluargaku” ucap Brian sambil mendekati Hana dan memegang tangannya.
“Terima kasih ya Mas, kamu sudah berubah menjadi suami yang jauh lebih baik. Aku bahagia melihat kamu yang sekarang. Semoga nanti tidak akan ada kejadian yang lebih dari kemarin ya, Mas” jawab Hana sambil bersandar di pundak Brian.
“Amin sayang, semoga saja” ucap Brian sambil mencium pucuk kepala Hana dan mengelus kepalanya sambil memeluknya dari samping.
Namun, di saat mereka kembali fokus menonton televisi Hana merasakan perutnya sedikit sakit. Tetapi ia menahannya, mungkin ini kerjaan Baby twins yang ingin kembali menjahili Hana.
Semakin Hana cuek dengan rasa sakit itu, malah membuat Hana semakin merasakan sakit hingga mules. Brian yang merasakan Hana selalu memegangi perutnya sambil meringis kesakitan pun menjadi sangat khawatir.
“Sayang, kamu kenapa kok kaya kesakitan gitu?” tanya Brian.
__ADS_1
“Ya, Bunda. Muka bunda pucet loh” jawab Qisya dengan menatap Hana.
“Hehe... Gapapa kok, mungkin Baby twins ingin mengerjaiku kembali Mas” ucap Hana.
“Kamu kontraksi lagi?” tanya Brian dengan wajah cemas.
“Hehe... Iya Mas, tapi tidak apa-apa kok nanti juga reda sendiri. Kan Hana lahirannya 3 hari lagi jadi ini biasa mereka ingin mengerjai kita lagi” ucap Hana dengan menahan rasa sakitnya.
Sehingga, saat Qisya ingin mengambil mainannya yang berada di dekat kaki Hana ia melihat air yang menetes dari kaki Hana membuat Qisya terkejut.
“Bunda ngompol ya?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya.
“Ngompol?” tanya Brian sama Hana bersamaan sambil menatap kaki Hana yang kini celananya sudah basah.
“Oma, Opa... Bunda ngompol nih” teriak Qisya dengan wajah polosnya.
“Sayang kamu benaran ngompol?” tanya Brian sambil menatap Hana.
“Stt... E-enggak, Mas. Hana enggak ngompol kok, Hana saja kaget ini air apa ya?” tanya Hana sambil mencium aroma air tersebut yang ia coel ke tangannya.
Tuan Ferry dan Nyonya Syifa yang saat itu sudah selesai bersih-bersih, lalu mereka mendengar teriakan Qisya membuat mereka segera turun dengan cepat.
“Itu Opa, Bunda ngompol banyak banget” jawab Qisya sambil menunjuk air yang sudah berada di lantai.
“Stttt... Arghh... Massshhh” ucap Hana sambil memegangi perutnya dengan wajah yang meringis kesakitan.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Brian dengan wajah cemasnya sambil menepuk pelan pipi Hana.
“Astaghfirullah, Brian cepat bawa Hana ke rumah sakit” ucap Nyonya Syifa dengan perasaan cemas.
Brian yang tambah khawatir pun langsung menggendong Hana dan membawanya ke mobil yang diikuti oleh Tuan Ferry, Nyonya Syifa, dan Qisya yang sudah menangis.
Tuan Ferry dan Brian duduk di depan sedangkan Hana, Nyonya Syifa dan Qisya duduk di belakang dengan posisi Hana berada di tengah.
“Arghh... hiks... Mah, sakitttt” teriak Hana sambil menangis kesakitan.
“Sabar sayang, tahan ya karena sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit” ucap Nyonya Syifa sambil menenangi Hana.
__ADS_1
“Mah, apa ini kontraksi lagi?” tanya Brian sambil menyetir dengan wajah cemasnya.
“Tidak Brian, kali ini Hana benar-benar akan melahirkan. Kamu cepat bawa mobilnya karena air ketuban Hana sudah pecah” jawab Nyonya Syifa sambil mengeluarkan air matanya dan terus menguatkan Hana.
“Hiks... Bunda, jangan nangis kan dedek bental lagi kelual. Jadi Bunda halus senang” ucap Qisya sambil memeluk Hana.
“Ayo Brian buruan kasihan Hana” ucap Tuan Ferry yang kemudian Brian menambahkan laju mobilnya.
Tak butuh lama, kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit.
Tuan Ferry memanggil para medis untuk mengambil bangkar, sedangkan Brian menggendong Hana dengan darah di mana-mana yang membuat ia semakin khawatir dan menangis.
Brian meletakkan Hana di bangkar rumah sakit dan langsung mendorongnya ke ruangan persalinan. Hana pun di bawa masuk dengan para suster dan dokter serta membuat semuanya untuk menunggu di luar ruangan.
Brian yang sangat khawatir dengan keadaan Hana berusaha untuk masuk namun, salah satu suster malah melarangnya dan langsung menutup pintu dengan kasar yang membuat Brian semakin menangis tersendu-sendu.
“Hiks... Mah, Hana Mah Hana...” ucap Brian dengan memeluk Nyonya Syifa dengan menumpahkan air matanya.
Tuan Ferry pun langsung memangku Qisya dan memeluknya untuk menenangkan Qisya yang selalu saja menangis melihat Bundanya yang kakinya sudah di penuhi darah.
“Huaa... hiks... Opa Bunda kenapa hiks.. Bunda sama dedek kembal gapapa kan” tanya Qisya dengan isak tangisnya.
“Kita doakan Bunda dan dedek kembar supaya semuanya selamat dan sehat ya sayang, kan Qisya adalah seorang Kakak jadi harus kuat oke” ucap Tuan Ferry sambil tersenyum.
“Hiks... Sabar sayang, semoga Hana dan anak kalian semuanya baik-baik saja di dalam” ucap Nyonya Syifa sambil membalas pelukan Brian dan menangis dengan perasaan cemas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻