Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
1 Box Hot Chicken


__ADS_3

Meskipun Sasya kesal, tapi ia tidak mau sampai menyiksa Alex lebih lama lagi. Jadi Sasya memberikan segelas air kepada Alex dan ia segera minum air tersebut dengan begitu cepat, sampai 1 gelas habis hanya dalam hitungan beberapa detik saja.


“Uhukk... uhukk...” Alex terbatuk dengan begitu lega karena tadi ia tersendat seperti orang bisu.


“Slowly..." ucap Sasya tanpa rasa berdosa dan Alex langsung menatap wajah Sasya dengan tatapan tajam.


“Apa kau diam-diam ada niatan untuk membunuhku, hah!?” ucap Alex dengan begitu dingin.


“Kalau saja membunuh itu tidak dosa, maka sudah aku lakukan dari kemarin” jawab Sasya dengan cuek, sambil memotong ayam dengan penuh kelembutan.


“Kaaa-... hempp...” Alex yang awalnya ingin memarahi Sasya, tiba-tiba saja mulutnya kembali di bungkam oleh sesuap bubur yang masuk dengan kasar.


Kemudian Alex mengunyah bubuk di mulutnya secara perlahan. Namun saat mulutnya sudah kembali kosong, lagi dan lagi Alex ingin berkata tetapi ia tidak bisa karena Sasya terus saja menyumpal mulutnya dengan sesendok bubur lainnya.


“Kalau lagi makan, jangan banyak berbicara. Enggak baik tahu, entar ke sedat lagi bahaya loh...” ucap Sasya.


“Bu-but hem... Kamu yang membuatku tersedat” Alex berbicara sambil mengunyah bubur tersebut.


“Ya mungkin tadi kau bisa selamat, tapi jika sekali lagi tersedak apa sudah bisa di pastikan jika kau akan selamat kembali?” ucap Sasya sambil menatap Alex yang masih mengunyah.


“Kau menyumpahiku untuk cepat mati, begitu?” tanya Alex sambil menerima suapan dari Sasya.


“No, sudah jangan banyak bicara lagi dan makan saja buburnya dengan benar biar cepat sembuh Tuan” celoteh Sasya yang membuat Alex terdiam.


“Kalau saya cepat sembuh, berarti hukuman dia selesai dong? Yaaa... tidak, tidak masa ia cuma sebentar doang sih kan enggak seru...” gumam Alex di dalam hatinya sambil menerima suapan dari Sasya sampai akhirnya bubur yang ada di piring pun habis tak tersisa.


“Aku ambilkan air minum dulu ya...” ucap Sasya dengan wajah cueknya lalu ia pergi keluar ruangan, namun Pinjai langsung mencegah Sasya.


“Mau kemana bawa gelas?” ucap Pinjai dengan datar.


“Mau ambil minum buat Tuan” sahut Sasya dengan cuek.


“Ya sudah biar anak buahku yang mengambilkannya, silahkan kembali ke dalam” jawab Pinjai yang langsung merebus gelas di tangan Sasya.


“Ya ya ya... Whatever...” Sasya yang benar-benar sangat lelah hanya bisa mengikuti saja.


Sasya sudah tidak ada tenaga lagi untuk berdebat dengan kedua orang yang sangat menyebalkan baginya. Lalu ia kembali masuk ke ruangan dan Alex yang melihat Sasya masuk dengan wajah datar dan langsung duduk di sofa itu, membuat Alex begitu bingung.


“Ada apa dengan wajahmu, kenapa di tekuk seperti itu? Lalu mana minum untukku?” ucap Alex sambil menatap Sasya.


“Hufftt... Sabar, lagi di ambilkan sama anak buahmu” ucap Sasya dengan wajah lelahnya.

__ADS_1


“Terus kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau lelah merawat pasien sepertiku?” tanya Alex yang membuat Sasya langsung menatapnya.


“No, aku hanya kangen dengan keluargaku saja. Terkadang jika adikku sakit, aku yang selalu merawatnya dan juga menyuapinya. Tapi sekarang aku harus jauh dari mereka” ucap Sasya dengan wajah sedihnya.


“Memangnya keluargamu di mana?” tanya Alex dengan wajah penasaran.


“Di Ne-...” ucap Sasya terhenti saat mendengar suara pintu terbuka, lalu mereka berdua menoleh secara bersamaan.


“Sorry Sir, ini minumnya” ucap Pinjai.


Pinjai lalu memberikan gelas berisi air itu pada Alex dan kembali keluar dari ruangan sambil melirik ke arah Sasya. Alex pun segera meminumnya, kemudian menaruhgelas kosongnya di meja samping bangkarnya.


“Hoooaamm...” Sasya menguap dengan wajah yang terlihat sangat capek.


“Kalau ngantuk ya tidur!” ucap Alex sambil menatap Sasya yang membuatnya langsung berdiri.


“Where are you go?” ucap Alex kembali dengan wajah polosnya.


“I will go home... Tuan sendiri kan yang tadi suruh aku tidur” ucap Sasya dengan sangat lelah, bahkan matanya pun sudah mulai berair memerah yang menandakan bahwa ia benar-benar sangat lelah.


Sebenarnya Alex masih ingin di temani oleh Sasya, entah mengapa ia merasa seperti dekat banget dengannya. Tapi ia tidak tahu perasaan apa yang di rasakan saat ini. Bahkan bayangan Qisya pun yang setiap hari menghantuinya, tiba-tiba menghilang begitu saja.


“Hemm... ya ya ya... Terserah dah pokoknya aku pamit pulang dulu ya Om jangkung, permisi...” ucap Sasya tanpa di sadari dan pergi begitu saja.


Sedangkan Alex? Ia benar-benar sangat terkejut dengan panggilan itu, karena Alex sangat tahu jika hanya ada satu orang saja yang memanggilnya dengan sebutan Om Jangkung dan itu adalah Qisya, namun kali ini Sasya pun juga memanggilnya dengan sebutan yang sama.


“A-apa yang dia bilang? O-Om Jangkung? Bu-bukannya itu panggilan khusus dari Qisya waktu di Indonesia untukku. Ta-tapi kenapa dia bisa tahu panggilanku dalam bahasa Indonesia, padahal kan ini di Amerika?” gumam Alex dengan wajah yang sangat syok.


Namun seperkian detik, Alex langsung mencoba menangkis semua itu karena ia sangat percaya jika memang Sasya itu adalah Qisya pasti dia sudah akan ketakutan melihatnya. Tapi Sasya malah biasa saja, bahkan dia malah terlihat sangat jahil dan juga menyebalkan.


“Oh my gosh... Kenapa aku jadi ke pikiran Qisya sih. Padahal ini sudah bertahun-tahun aku tidak menemuinya, tapi kenapa bayangannya tidak bisa hilang dari pikiranku. Kenapa juga saat saya melihat Sasya, seperti aku melihat Qisya ya?”


“Eh... Wa-wait a minute! Qisya? Sasya? Kenapa nama mereka sangat mirip? A-apa ja-jangan jangan mereka adalah orang yang sama? Akhh... Sudahlah, lebih baik saya tidur dari pada mikirin 2 nama yang belum tentu itu dari 1 orang yang sama”


Alex berbicara dengan perasaan yang sangat aneh serta membuat dirinya kembali teringat dengan penyesalan yang tidak akan pernah ia lupakan. Harapannya saat ini, semoga saja ia segera bertemu dengan Qisya dan bisa mendapatkan kata maaf secara langsung sehingga ia kembali menjalani hidup tanpa bayangannya.


Alex pun merebahkan dirinya secara perlahan, lalu ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Pada akhirnya, ia berhasil tertidur sangat pulas. Ini adalah kali pertamanya Alex bisa tidur dengan begitu nyenyak karena biasanya ia selalu di hantui dengan bayangan masa lalunya bersama Qisya.


...*...


...*...

__ADS_1


3 hari telah berlalu...


Di Amric High School


Hari ini semua kelas tidak ada jam pelajaran, jadi banyak siswa yang pergi ke kantin atau pun kelapangan untuk menonton pertandingan sepak bola tetapi tidak dengan Lukas. Lukas berpamitan serta mengajak Lily untuk ke perpustakaan, namun karena Lily bukanlah kutu buku seperti Lukas jadi ia memilih untuk tidur di kelas saja dan Lukas pun tidak memaksanya.


Lukas malah berkata jika Lily ada apa-apa segera temui dia di ruang perpustakaan. Setelah kepergian Lukas, Lily merasa jika perutnya sangat lapar lalu ia pergi seorang diri ke kantin untuk membeli makanan. Tapi saat baru saja sampai di kantin, Lily melihat ada satu makanan yang begitu menggugah seleranya.


“Wahhh... Ada yang jualan Hot Chicken? Se-seriously? Akh... beli Akhh... Sepertinya enak tuh, mumpung Bang Lukas lagi di perpustakaan aku bisa makan pedas deh. Lagian udah lama juga aku tidak makan pedas kan jadi gapapa kali ya, kan cuma hari ini doang hihi...” gumam Lily sambil berjalan penuh keceriaan.


Lily membeli 1 box Hot Chicken serta minuman yang sangat menyegarkan, kemudian ia berjalan menuju kelasnya sambil mencium aroma ayam yang begitu menggiurkan.


“Heeemm... Baunya saja sangat enak, apa lagi rasanya coba ya” ucap Lily sambil duduk di mejanya dan membuka box makanan tersebut.


Namun tanpa Lily sadari, dari arah pojok belakang ada seorang bocah lelaki cuek yang menyebalkan memantau setiap pergerakannya.


“Itu dia beli apaan sih? Kok wajahnya sangat ceria saat membuka box tersebut hem... mencurigakan” gumam bocah lelaki tersebut yang mana itu adalah Jay.


“Hem yummy... enyakk... enyakk...” ucap Lily sambil mengunyah makanannya.


Lily merasakan sensasi yang begitu berbeda dari biasanya, karena biasanya sang Bunda masak masakan yang tidak terlalu pedas. Mata Jay melirik ke arah label box dan membuatnya langsung melototkan kedua matanya sambil berdiri.


“Ho-hot Chicken? Oh my... Kenapa dia bandel banget sih, itu kan makanan yang sangat pedas. Kenapa juga ia memakannya, kaya tidak ada makanan lain saja sih...” pekik Jay di dalam hatinya.


Entah mengapa sejak kejadian waktu itu, membuat Jay dan Lily semakin dekat. Bahkan mereka sering mendapatkan tugas di satu kelompok yang sama. Ya meskipun Jay terlihat sangat cuek pada Lily, tapi di dalam hatinya ia merasa ada yang aneh setiap ia melihat Lily yang ceroboh, bandel atau sebagainya dan itu membuat hati Jay terarah untuk segera menghentikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya cerita hari ini semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2