
Kemudian Alex (Bisma) berlari menuju dapur untuk kembali membujuk sang Ibu untuk ke sekian kalinya.
“Bu, ayo kita ikuti Ayah. Perasaan Alex tidak tenang karena tadi saat Alex mau masuk ke kamar, Alex lihat pintu kamar Ibu sama Ayah terbuka berarti Ayah udah bangun kan. Lalu Alex coba mengintip apakah benar Aya sudah bangun, tapi yang bikin Alex bingung itu kenapa Ayah berbicara di ponselnya kaya orang bisik-bisik gitu. Terus ayah bilang kalau Ayah di sini lagi banyak pekerjaan, dan yang lebih bikin Alex kaget. Ayah bilang kalau Ayah mau pulang” ucap Alex sambil menarik-narik baju sang Ibu.
Lalu sang Ibu terdiam seribu bahasa. Dari tadi sang Ibu mencoba untuk selalu menangkis semua pikiran jelek tentang sang Ayah, namun kenapa malah Alex selalu memberikan bukti-bukti yang membuat sang Ibu kembali pada pikiran jeleknya.
“Bu... Kenapa diam mulu sih, kalau Ibu enggak mau ikuti Ayah ya sudah Ibu di rumah saja. Alex sendiri yang akan mengikuti Ayah, Ibu jaga diri baik-baik di rumah. Kalau Alex sudah menemukan jawaban dari semua kecurigaan Alex terhadap Ayah, maka Alex akan langsung pulang ke rumah untuk memberikan jawaban itu kepada Ibu” tegas Alex yang langsung membuat sang Ibu pun berjongkok di hadapannya.
“Oke... Ibu mau menemani Alex untuk mengikuti Ayah. Tapi jika dugaan Alex terhadap Ayah salah, maka Alex harus mau mengakui itu di depan Ayah dan meminta maaf padanya, bagaimana?” ucap sang Ibu.
“Oke... Siapa takut, kita buktikan saja dulu Bu” ucap Alex dengan percaya diri.
“Ya sudah Alex ganti baju dulu gih, nanti Ibu juga akan ganti baju setelah ibu menyiapkan bekal untuk kita di jalan nanti” saut sang Ibu yang kembali memasak.
Alex yang dari tadi bingung pun akhirnya bertanya kembali, "Tadi Ibu bilang bekal untuk Ayah, kok sekarang malah buat kita? Alex bingung dari tadi karena selama Ayah pulang Ibu tidak pernah membawakan Ayah bekal”
“Bekal ini untuk kita sayang, tadi Ibu bilang begitu karena Ibu kurang yakin sama omongan Alex. Apa lagi Ibu bingung harus bagaimana, apakah kita harus mengikuti Ayah diam-diam ataukah kita harus tetap berpikir yang baik-baik sama Ayah. Namun saat Alex kembali memberitahu Ibu tentang tadi, itu malah membuat Ibu semakin yakin untuk mengikuti keinginan Alex” ucap sang Ibu dengan wajah yang sudah tidak bisa di jelaskan.
“Ya sudah, Ibu jangan sedih kan masih ada Alex di sini. Ibu juga pernah bilang, jika Alex ini adalah kekuatan untuk Ibu. Jadi Alex mohon sama Ibu, Ibu tidak usah sedih ya semoga saja dugaan Alex ini salah karena Alex enggak mau Ibu sampai di perlakukan seperti tetangga lainnya yang suaminya memiliki istri lain” ucap Alex.
Sang Ibu yang mendengar ucapan dari anak yang masih di bawah umur itu pun, membuatnya sangat terharu dan tidak bisa membendung air matanya kembali. Pada akhirnya mereka saling memeluk satu sama lain untuk membuat mereka menjadi kuat agar bisa menghadapi semuanya bersama-sama.
Terbukti atau tidaknya semua itu, tidak akan membuat hubungan Alex dengan sang Ayah menjadi retak karena apa pun alasannya, sang Ayah tetaplah Ayah kandung bagi Alex dan semua itu tidak bisa dipungkiri lagi.
Setelah selesai bersiap-siap, sang Ayah pun pergi ke meja makan yang mana di sana sudah ada Alex dan juga sang Ibu yang sedang menunggu kedatangannya. Sang Ayah tersenyum sambil duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
“Rupanya kalian berdua ada di sini, Ayah kira tadi ada di ruang tamu lagi menonton televisi” ujar sang Ayah.
“Hoya... Apa Ayah hari ini harus berangkat kerja lagi? Memang tidak bisakah Ayah menginap satu sampai dua hari lagi? Masa ia setiap baru pulang kerja, pasti besoknya Ayah harus kembali berangkat” keluh sang Istri sambil menaruh makanan di piring sang Suami.
“Apa yang dibilang Ibu itu benar, Ayah. Bahkan Ayah akhir-akhir ini jarang sekali main sama Alex, padahal kan Alex sangat ingin pergi jalan-jalan seperti biasanya. Bukannya Ayah pernah janji, setiap Ayah pulang dari kerjaan Ayah akan selalu mengajak Alex dan Ibu pergi kemana pun asalkan kita bisa bersenang-senang. Tapi sekarang, dimana janji Ayah itu?” ucap Alex dengan wajah sedihnya menatap sang Ayah.
Namun sang Ayah hanya bisa terdiam sejenak karena tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Alex. Ya meskipun Alex masih sangat kecil, tetapi ia begitu pandai berbicara layaknya orang dewasa.
“Aduh... Bagaimana ini, aku sih pengen lama-lama di sini karena hanya mereka yang bisa membuat aku nyaman tinggal di rumah yang sederhana ini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan mereka di sana terlalu lama. Apa lagi mereka semuanya wanita, jika ada apa-apa bagaimana? Astaga kenapa aku jadi berada di tengah-tengah seperti ini sih...”
“Aku memang mencintai keduanya, hanya saja ada perbedaan diantara mereka yang membuat aku susah untuk menentukan pilihan. Di sini ada Shine yang bisa memberikanku anak laki-laki dan mengurusku tanpa lelah, namun di sana juga ada Denis yang begitu mencintaiku tetapi dia hanya bisa memberikanku anak perempuan ”
Sang Ayah mengoceh tanpa henti di dalam hatinya, sambil menatap makanan yang sudah berada di piringnya. Ia hanya bisa mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa memakannya yang membuat mereka berdua ikut penasaran.
“Eh...ma-maaf, hoya... Alex tadi nanya apa? Maaf Ayah tidak mendengarnya karena kepala Ayah sedikit pusing” ucap Ayah Jack dengan berpura-pura untuk mencari berbagai alasan agar tidak membuat mereka mencurigainya.
“Tidak, sudah lupakan saja. Lebih baik Ayah cepat habiskan makanannya dari pada nanti telat berangkat kerja. Lagian dari sini ke tempat kerja Ayah juga sangat jauh, kan? Jadi ya sudah lebih baik Ayah berangkat saja, Alex bisa kok jalan-jalan berdua cuma sama Ibu, benar kan Bu?” tegas Alex dengan menatap sang Ibu untuk memberi kode kepadanya.
“Beneran, kalian tidak apa-apa jika jalan-jalannya hanya berdua saja? Habisnya Ayah juga bingung harus bagaimana, jika Ayah tidak kerja maka Ayah tidak bisa mencukupi kebutuhan kalian di sini. Kalian kan tahu, kalau Ayah ini bukan dari orang yang berada, jadi Ayah harus ekstra kerja keras demi kalian” saut Ayah Jack dengan senyum mengembang.
Alex yang sudah terlalu menaruh curiga kepada sang Ayah hanya bisa terdiam acuh, sambil memakan makanan yang sudah di ambilkan sang Ibu.
“Sudah, Mas. Jangan banyak berbicara, lebih baik ini makan makanannya jangan di acak-acak lagi, tapi di makan dengan benar. Jangan sampai kamu mencontohkan hal buruk kepada Alex” ucap Ibu Shine sambil mengambil piring yang makanannya sudah berantakan kemana-mana dan menggantinya dengan yang baru.
Lalu Ibu Shine pun langsung memakan makanannya yang kemudian diikuti oleh Ayah Jack. Hampir 15 menit mereka telah menyelesaikan makan sorenya, sang Ayah kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap mengambil tas hingga barang-barang yang biasa ia bawa setiap ingin berangkat kerja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗
__ADS_1