
Tak lama dari situ Sasya meminta izin pada semuanya untuk pergi keluar sebentar bersama Alex mencari udara segar di dekat taman, sekalian mengawasi gerak-gerik Lukas dan juga Key.
...*...
...*...
Di taman belakang rumah, Key sudah duduk di sebelah Lukas. Tatapan Lukas lurus ke depan di penuhi dengan kekecewaan yang berhasil sedikit melukai hatinya.
"Apa kamu membenci Kakek?" tanya Key sambil menoleh ke arahnya.
"Enggak!" jawab Lukas penuh kecuekan.
"Kalau kamu tidak membenci Kakek, kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Key kembali.
"Aku memang tidak membenci Kakek, tetapi aku kecewa dengannya!"
"Kamu juga tahu kan, selama ini aku yang ada dibalik hilangnya mereka agar Tuan Alex tidak sampai menemukannya. Apa lagi nyawa mereka menjadi taruhannya. Tapi nyatanya? Kakek malah mengkhianati kepercayaanku!"
"Jika kamu ada diposisiku, pasti kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini! Jadi sudahlah, kamu masuk ke dalam aku pengen sendiri!"
Lukas melirik sekilas ke arah Key, lalu kembali menatap ke arah depan. Tanpa Lukas sadari, Key pun bisa merasakan apa yang Lukas rasakan justru itu dia mau membuat Lukas agar bisa membagi rasa sakitnya kepadanya.
Setidaknya tidak akan ada hubungan baik menjadi tidak baik di antara Lukas dan Kakek Iram. Key terdiam sejenak menarik nafasnya dan kembali melontarkan jawaban yang buat Lukas menoleh ke arahnya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, maka dari itu kedatanganku ke sini untuk menemanimu. Jika kamu kecewa dengan Kakek, bagaimana dengan diriku?" ucap Key.
"Kamu kan cucunya, jadi buat apa juga kecewa? Toh itu masa lalunya" tanya Lukas.
"Ya memang itu masa lalu Kakek, tetapi Kakek sudah memanfaatkan seseorang yang tidak tahu apa-apa untuk melindunginya seolah-olah di sini Tuan Alex yang bersalah"
__ADS_1
"Yang lebih parahnya karena ulah Kakek, kamu malah semakin memiliki kebencian terhadap Tuan Alex selepas kejadian masa lalu di dalam keluargamu"
"Cuman jika kita posisikan diri kita di dalam kejadian itu pasti kita akan melakukan hal yang sama cuman demi menyelamatkan nyawa orang yang dia cintainya"
"Nenek Iram merupakan istri dan keluarga satu-satunya yang Kakek miliki ketika anak dan juga cucunya semua meninggal dunia akibat kecelakaan"
"Walaupun cara Kakek salah tetapi dia sudah mulai berubah menjadi lebih baik. Ya, mungkin saja Kakek begini karena dia sangat menyayangimu sampai-sampai dia tidak sanggup untuk jujur padamu"
"Dari sini kita bisa merasakan bahwa Kakek Iram sangat takut kehilanganmu orang yang berhasil menyelamatkan nyawanya yang telah dianggap sebagai cucunya sendiri"
"Kecewa boleh, marah boleh, tapi sebaiknya jangan sampai berlarut. Kasihan Kakek dia pasti sangat sedih dan khawatir denganmu, jadi cobalah untuk berpikir positif tentang Kakek agar tidak membuatmu kembali mengingat kejadian yang menyakitkan hatimu atas ketidak jujuran Kakek"
Key menjelaskan panjang kali lebar membuat Lukas terus menatap manik matanya, tanpa mereka sadari Sasya dan Alex sudah berdiri di belakang mereka mendengar semua penuturan kata yang Key ucapkan mampu bikin mereka terkagum-kagum.
Bahkan Alex sampai berpikir bahwa dia harus lebih giat lagi dalam belajar agar pemikirannya bisa seperti Key, di usianya yang baru beranjak dewasa namun pikiran benar-benar sangat matang.
"Ya memang, terlepas dari masalah itu apa yang dilakukan Tuan Iram tetap salah, tetapi itulah manusia. Setidaknya jadilah manusia yang bisa memaafkan meskipun kita harus melukai hati kita sendiri"
"Biarlah urusan masalah baik dan buruk hanya Allah yang menentukan. Kita sebagai Umatnya cuman bisa melakukan perintahnya dan menjauhi larangannya"
Kalimat Alex mampu buat Sasya menoleh dengan wajah berbinar, baru kali ini dia mendengar suara Alex begitu merdu di telinganya dan berhasil bikin Sasya kembali merasakan jatih cinta berulang-ulang kali.
Sedangkan Lukas dan Key dia tersadar segera berdiri berbalik menatap ke arah Alex sama Sasya secara bergantian. Dimana Alex tersenyum kecil menatap mereka.
"Ka-kau? Nga-ngapain a-ada di-di sini?" ucap Lukas yang bibirnya mulai bergetar.
"Lukas!" ucap Sasya sambil menatap Lukas.
"Kak Sasya, Tu-.." Key menghentikan perkataannya ketika Alex langsung memotongnya.
__ADS_1
"Panggil saya Abang saja jangan pakai Tuan, atau panggil nama juga boleh" sahut Alex.
"Ka-kalian ngapain ada di sini? Jangan bilang kalian sedang memata-mataiku?" tanya Lukas dengan sedikit cuek.
"Apaan sih kamu, Dek! Kami karena khawatir dengan kalian berdua, kami tahu kalian kecewa sama Kakek tapi jangan membuat silaturahmi terputus. Ingat Dek, Kakek udah anggap kamu sebagai cucunya loh.." ucap Sasya.
"Ta-tapi Kak, Kakek mengkhianatiku! Aku sudah berjuang buat mereka tapi apa yang aku dapatkan?Mereka malah menusukku, sakit hati Lukas Kak sakit!" pekik Lukas sedikit meninggi.
Saat Sasya ingin kembali melontarkan suaranya, tiba-tiba Alex mengode Sasya agar tidak kembali menjawabnya yang mana akan membuat Lukas semakin merasa kesal.
Di sini adalah kesempatan bagi Alex untuk bisa mengambil hati Lukas, walaupun Alex tidak percaya sepenuhnya apakah dia mampu meluluhkan hati Lukas atau tidak. Tapi yang jelas, jika belum di coba mungkin Alex tidak akan pernah tahu hasilnya berhasil atau gagal.
Perlahan Alex berjalan memutari kursi taman dan berdiri di depan Lukas dengan kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
Alex memegang kedua bahu Lukas sambil sedikit demi sedikit menasehatinya ala laki-laki, sedangkan Sasya dan Key hanya bisa menatap ke arah mereka sesekali melirik satu sama lain.
Mereka hanya bisa berharap agar hubungan Lukas, Alex dan juga Kakek Iram segera membaik. Dengan begitu peluang buat Alex dan Sasya bersatu akan lebih banyak lagi.
Kali ini Lukas terdiam mencerna semua apa yang Alex katakan padanya, Lukas pun mulai menyadari jika Alex memang benar-benar sudah berubah bukan lagi Alex yang dia ketahui.
Alex tersenyum menepuk kecil pipi Lukas yang masih berdiri mematung menatapnya, namun ketika Alex memeluknya Lukas merespon baik meski masih dalam mode diam tanpa memberontak. Cuman bagi Alex itu sudah bikin dia merasa sangat bahagia.
Lukas bisa melihat mata Alex berkaca-kaca setelah memeluknya seperti melambangkan keterharuannya lantaran selama ini Alex dan Lukas bagaikan musuh, hanya saja lebih tepatnya Lukaslah yang menganggap Alex seperti musuhnya.
Sasya melihat itu menjadi terharu karena Lukas sedikit demi sedikit mulai membuka hatinya untuk Alex setelah terungkapnya kisah masa lalunya dengan Kakek Iram.
Alex langsung mencoba untuk membujuk Lukas agar mau masuk ke dalam kembali bergabung dengan yang lain, ya walaupun masih dalam keadaan kesal tetapi setidaknya Lukas tidak memiliki dendam atau rasa sakit hati pada Kakek Iram.
Setelah berhasil membujuk Lukas, mereka bergegas berjalan memasuki rumah. Dimana Lukas dan Key jalan lebih dulu, kemudian Alex serta Sasya mengikutinya dari arah di belakangnya dalam keadaan sama-sama tersenyum.
__ADS_1