
Di rumah sakit
Sandi sudah menghubungi Tuan Ferry serta memberitahu tentang kejadian itu. Awalnya ia ingin memberi tahu Hana, tapi ia urungkan karena takut jika membuat Hana syok saat mendengar keadaan suaminya yang sedang menjalani operasi.
“Tuan bagaimana keadaan suami saya? Hiks...” Hana berlari sekencang mungkin mendekati Sandi yang berdiri di depan ruangan operasi.
“Sandi, bagaimana keadaan Brian?” tanya Tuan Ferry.
“Hik... Brian, kamu kenapa Nak bisa seperti ini ya Allah tolong selamatkan anak hamba” ucap Nyonya Syifa.
“Tuan, Nyonya. Kalian semua tenang dulu, Tuan Brian sudah ditangani oleh dokter profesional. Jadi lebih baik kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja amin yarabbal’alamin...” ucap Sandi yang mencoba untuk menenangkan semuanya.
Hana terus saja menangis memikirkan keadaan Brian di dalam, lalu Nyonya Syifa pun selalu memeluk Hana mencoba menguatkannya. Padahal Nyonya Syifa sama rapuhnya dengan Hana, tapi ia mencoba menguatkan Hana agar tidak semakin larut dalam kesedihan.
Sedangkan Tuan Ferry terlihat sangat cemas memikirkan nasib anaknya di dalam sana. Lalu, dimana anak-anak? Ya, Hana tidak mengizinkan mereka semua untuk ikut karena keadaannya tidak memungkinkan. Namun jika sang Ayah sudah berada di ruangannya nanti, barulah Hana memperbolehkan anak-anak mereka untuk ke rumah sakit agar bisa melihat kondisi sang Ayah.
Awalnya mereka semua menangis hingga memaksakan diri untuk ikut, tapi mereka tidak mau membantah ucapan sang Bunda. Mereka bisa melihat kekhawatiran serta kesedihan di wajah sang Bunda. Pada akhirnya Qisya yang sudah cukup besar mencoba membuat kedua adiknya mengerti.
Hampir 1 jam operasi terus berjalan. Hingga tak lama lampu pun padam, yang mana menandakan bahwa operasi sudah selesai di lakuka. Lalu Dokter pun keluar bersama salah satu suster dari ruang operasi.
“Dok, bagaimana keadaan suami saya hiks...” tanya Hana dengan wajah sembabnya.
“Tenang sayang, Mamah yakin Brian anak yang kuat jadi dia pasti akan baik-baik saja. Ya kan, Dok?” tanya Nyonya Syifa.
“Ya Nyonya, alhamdulillah operasinya berjalan sangat lancar dan luka di kepala Tuan Brian juga tidak terlalu parah. Jadi dia hanya membutuhkan beberapa jahitan saja, meskipun lukanya cukup dalam tapi itu tidak sampai membuatnya geger otak atau pun mengalami amnesia. Jadi semuanya tenang saya, dan sentar lagi Tuan Brian akan kami pindahkan ke ruangannya” ucap sang dokter dengan penuh senyuman.
“Terima kasih, Dok. Tolong berikan kamar dan perawatan terbaik untuk anak saya” ucap Tuan Ferry.
“Baik, Tuan. Saya akan pastikan semua itu. Ya sudah saya permisi dulu” ucap sang dokter yang kembali masuk ke dalam untuk menyiapkan semuanya agar Brian segera bisa di pindahkan ke ruangan inap.
Tidak membutuhkan waktu lama kini Brian sudah berada di kamar inap VVIP 001. Hana masih terus menangis hingga membuat ia beberapa kali mencium tangan Brian sambil menggenggamnya.
“Hiks... Kenapa kamu bisa seperti ini, kenapa Mas lakukan itu yang pada akhirnya nyawa Mas sendiri jadi taruhannya hiks...” tangis Hana.
Nyonya Syifa hanya duduk di sofa sambil menangis melihat kondisi Brian saat ini yang membuat Tuan Ferry memeluknya agar membuatnya merasa tenang.
...*...
...*...
Pukul 7 malam...
Tuan Ferry dan Nyonya Syifa berpamitan kepada Hana untuk pulang ke rumah agar bisa menemani cucu-cucunya di rumah.
“Sayang, Mamah dan Papah pulang dulu ya. Besok kami ke sini lagi bersama anak-anak sekalian membawakan kamu baju ganti dan makanan ya. Kamu baik-baik di sini jangan nangis mulu, kasihan wajahmu yang cantik ini” ucap Nyonya Syifa.
“Ya benar apa kata Mamahmu, sudah lebih baik kamu istirahat biar besok lebih segar. Lagian dokter juga bilang kalau saat ini Brian masih dalam pengaruh obat bius, jadi ia kemungkinan sadar adalah besok pagi. Jadi kamu manfaatin waktu untuk beristirahat karena Papah yakin besok pagi kamu pasti akan sangat repot mengurus bayi besar ini hehe...” ucap Tuan Ferry yang membuat Hana dan Nyonya Syifa pun ikut tertawa.
__ADS_1
“Hehe... Ya sudah Papah dan Mamah hati-hati di jalan ya, dan Hana titip anak-anak. Tolong jelaskan kepada mereka jika Ayahnya baik-baik saja” ucap Hana.
Tuan Ferry dan Nyonya Syifa hanya tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian Hana langsung bersalaman mencium tangan mereka secara bergantian. Lalu, mereka pun langsung keluar dari ruangan Brian.
Hana yang merasa sangat lelah tak terasa kini tertidur dalam posisi duduk di samping bangkar Brian dengan menggenggam tangannya. Rembulan kini telah berganti menjadi matahari yang sangat terang menyinari dunia.
...*...
...*...
Tepat pukul 7 pagi...
Hana masih tertidur pulas karena ia hampir seharian menangisi Brian hingga membuatnya merasa lelah. Sisa obat bius Brian kini semakin memudar, membuat dirinya secara perlahan membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang menerobos ingin masuk meskipun jendelanya belum dibuka.
Setelah Brian berhasil membuka matanya ia merasa tangannya seperti di timpa oleh benda yang sangat berat. Lalu Brian menoleh ke arah tangan kirinya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Hana yang sangat sembab seperti orang yang menangis seharian.
“Maafkan aku sayang, jika aku telah membuatmu kembali menangis sampai seperti ini. Mungkin dengan keadaanku ini bisa membuat kamu menjadi sangat khawatir padaku, tapi aku menyukainya. Dengan cara seperti ini aku tahu kalau kamu memang benar-benar mencintaiku setulus hatimu, terima kasih sayang karena telah bertahan bersamaku sejauh ini. Aku bahagia karena sudah memiliki istri sesabar dan sebaik dirimu. Aku akan ucapkan banyak-banyak terima kasih pada Qisya, karena dia yang membuat kita bisa bersatu” ucap Brian dengan lirih sambil tangan kanannya mengelus lembut kepala Hana.
Hana yang merasakan sentuhan itu membuatnya seketika terkejut dan langsung duduk tegak menatap Brian yang saat ini tersenyum manis ke arahnya.
“Ma-Mas Brian? Benarkan kau sudah bangun? Atau aku lagi bermimpi?” tanya Hana dengan wajah bantalnya yang membuat Brian gemas dan langsung mencubitnya.
“Auchhh... Sakit tahu, Mas” ucap Hana meringis kesakitan sambil memegang pipinya.
“Bagaimana sekarang? Bukan mimpi kan, hem...” goda Brian.
“Jika aku mencubitnya dengan lembut, maka kamu tidak akan merasakan sakit. Lalu jika tidak sakit maka kamu akan menganggapnya ini adalah mimpi. Bukan begitu istriku yang cantik hehe...” goda Brian sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hana yang melihat Brian membuat dirinya membolakan matanya hingga wajahnya merah merona karena menahan rasa malunya.
“Wah... Lihatlah wajahmu itu sayang, sudah seperti kepiting rebus saja haha...” ledek Brian yang membuat Hana langsung menutup mukanya.
“Ishh... Mas Brian stop bercandanya ya. Ini masih pagi tahu, lagian Hana belum mandi jadi masih jelek. Mas Brian juga, bangun-bangun malah menyebalkan” saut Hana dengan menutup wajahnya.
“Sudahlah sayang, biar pun ilermu itu masih terukir di wajahmu tapi kamu tetap cantik kok. Ya meskipun terkadang polos dan sangat cengeng hehe...” goda Brian yang membuat Hana langsung menatapnya tajam.
“Apa Mas bilang, hem? Hana polos dan cengeng? Dari mana hana polos hem? Jika hana polos Hana tidak bisa membuatkan anak untuk Mas Brian bahkan 2 sekaligus, bagaimana? Lalu jika Hana cengeng itu karena Hana tidak mau kehilangan Mas Brian, bukan berarti Hana cengeng atau pun lemah. Paham sampai sini” tegas Hana sambil berdiri dan menatap wajah Brian dengan sangat dekat.
Cup !...
Brian mengecup bibir Hana sekilas yang membuat wajah Hana kembali merona.
“Itu akibatnya jika bibirmu sangat nakal padaku, hem... Bagaimana, manis bukan? Ya meskipun aku sedang sakit tapi bibirku ini tetap terasa manis loh, mau coba?” goda Brian.
“Huaaa... Dasar suami me*sum” teriak Hana sambil memukul kecil dada bidang Brian.
“Hahah... Ampun sayang, dari pada di pukul mending cium aku aja itu jauh lebih baik haha...” ucap Brian yang tertawa dengan puas.
__ADS_1
Ceklek !...
Pintu kamar Brian pun terbuka dan muncullah ketiga kurcaci yang melihat sang Bunda sedang memukul sang Ayah.
“Bundaa...” teriak Qisya sambil menolong sang Ayah.
“Bunda kenapa pukul Ayah, Ayah kan lagi sakit kasihan...” ucap Qisya.
“Bunbun napa jahat cama Yayah, emangna Yayah nakal?” tanya Lily.
“Bunda pasti tidak akan memukul Ayah jika dia tidak memulainya lebih dulu untuk membuat Bunda kesal” ucap Lukas dengan cuek.
“Hiks... Kakak, Lily... Tolongin Ayah, Bunda jahat sama Ayah. Masa iya orang sakit bukannya di cium malah di pukul hiks...” ucap Brian dengan dramanya.
Lukas dan Hana seketika melototkan matanya menatap aksi Brian yang sangat membuat mereka syok.
“Mas Brian...” geram Hana sambil menatapnya tajam.
“Ayah stop deh dramanya, enggak pantas tahu. Sudah tua bukannya banyakin ibadah, ini malah banyakin dosa” ucap Lukas dengan aura dinginnya.
“Huaa... Lily tolong Ayah, masa Ayah di marahi sama Abang Lukas “ ucap Brian sambil merengek dan sedikit menyipitkan matanya.
“Babang bekas cetop ya malah-malahin Yayah. Kacian Yayah tuh nangis, cepat Babang tium Yayah cana kan Yayah biyang kalo lagi cakit mauna di tium” ucap Lily dengan polos.
“Aku cium Ayah? Ogah banget. Ya kali timun makan timun uhh...” ucap Lukas yang membuat Hana serta Brian melototkan matanya.
“Lukas! Ngomong apa tadi kamu?” tanya Hana dengan mata menyelidik.
“Tahu dari mana kamu istilah seperti itu, hah!” tanya Brian sambil menatapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini bab untuk hari ini ya pembaca setiaku... 😄😄😄
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Karena sibuk di RL, Author jadi belum bisa up banyak bab 🥺🥺🥺
Tapi terima kasih atas dukungan dan semangat kalian semua 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Author akan berusaha lebih keras untuk memberikan yang terbaik 💪🏻💪🏻💪🏻
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 🤗🤗🤗
Terima kasih dan sayang kalian banyak-banyak pokoknya deh ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1