
Kakek Iram dan Nenek Mona serta yang lainnya juga terkejut saat mendengar penjelasan Alex tadi, kalau dia sudah berjuang selama itu hanya untuk mendapatkan sebuah restu.
Dari sini mereka sedikit paham, apa yang terlah terjadi di dalam keluarga Ayah Brian. Kakek Iram pun menjadi teringat tentang kisah yang pernah Lukas ceritakan pada waktu itu.
"Sekarang kalian semua duduk, biar lebih tenang! Baru kita bicarakan semuanya baik-baik, aku tidak mau ada tangisan di dalam rumah ini"
"Ingat! Aku hanya mau rumah ini bisa di penuhi oleh kebahagiaan dan juga canda tawa, bukan tangisan kesedihan. Melainkan tangisan kebahagiaan!"
Suara bariton Kakek Iram membuat mereka perlahan langsung menduduki tempat duduknya masing-masing, dimana Bunda Hana selalu merangkul Sasya untuk duduk bersamanya dan Ayah Brian.
Alex duduk di sofa tunggal dekat Daddy Ken dan juga Mommy Nisha. Sedangkan keempat anak remaja hanya menyimak saja, duduk di bawah beralasan karpet bulu halus berwarna putih.
5 menit berlalu, akhirnya Alex dan Sasya sedikit mulai kembali tenang, hanya sesekali terdengar suara sesegukan dari Sasya.
Alex menunduk pasrah jika memang takdir jodohnya bukanlah Sasya, lalu perlahan Alex menarik nafasnya mencoba untuk memulai membuka suaranya untuk pertama kali meski dalam keadaan masih menunduk.
Rasanya berat sekali bagi Alex mengangkat kepalanya agar bisa menatap semua orang, terutama Sasya. Alex sangat takut jika dia kembali dikuasai emosi saat matanya menatap mata orang yang selama ini dia cintai.
Jadi mau tidak mau, Alex cuman bisa berbicara sambil menundukkan kepalanya menggenggam tangannya sendiri meski dalam keadaan sedikit gemetar.
"Ma-maaf ji-jika selama ini saya belum bisa menjadi yang terbaik buat Sasya, anak kalian"
"Cuman jujur di dalam lubuk hati saya, bahwasanya saya sudah bertaubat dan berniat untuk memperbaiki diri saya agar bisa menjadi imam yang terbaik untuk anak kalian"
"Ya, saya tahu. Saya berasal dari seorang penjahat, pembunuh, mafia dan juga orang yang paling kejam atau pun sadis di dunia ini. Tetapi itu adalah masa lalu saya yang terbentuk dari rasa sakit sehingga menguasai saya ketika saya tahu kehidupan yang saya hadapi selalu saja pahit"
"Meskipun jikalau hari ini saya telah gagal dalam mencintai anak kalian, saya minta maaf. Setidaknya saya senang bisa berkenalan sama kalian semua yang berasal dari orang-orang baik"
__ADS_1
"Untuk itu saya ucapkan banyak-banyak terima kasih, karena kalian semua saya telah berhasil menjadi Alex yang baru. Alex yang tidak tergantung pada kekerasan fisik atau pun sebuah emosi sesaat"
"Saya akui, memang berat bagi saya bisa menerima kabar buruk ini, cuman balik lagi jika Allah sudah berkehendak apa yang tidak mungkin akan tetap menjadi mungkin. Dan apa yang mungkin bisa jadi tidak mungkin, yang terpenting saya sudah membuktikan perjuangan saya sampai sejauh ini"
"Terima kasih untuk kamu orang yang sangat saya cintai, Balqisya Zhafira Adijaya. Kamu selalu berhasil membuatku berulang-ulang kali merasakan jatuh cinta, tap-..."
Ucapan Alex langsung terhenti saat mendengar perkataan Ayah Brian yang seperti sedang menamparnya begitu keras.
Sasya tidak kuat mendengar suara Alex kembali menangis di dalam pelukan Bunda Hana, sesekali air mata Bunda Hana ikut menetes.
Seakan-akan Bunda Hana sangat paham apa yang di rasakan oleh anaknya, apa lagi dulu Bunda Hana berjuang seorang diri supaya bisa mendapatkan cinta Ayah Brian yang pada saat itu masih terjebak di masa lalunya.
Dari sini hati Ayah Brian serasa terpanggil, dia bisa merasakan ketulusan hati Alex yang memang benar-benar mencintai anaknya.
"Aku merestui hubungan kalian"
Dimana sorotan mata Ayah Brian menatap ke arah Alex begitu lekat, semua yang mendengar itu pun tersenyum bahagia.
Tetapi tidak dengan Lukas, dia masih dilema dengan perasaannya sendiri. Ya memang akhir-akhir ini hubungan Lukas dan Alex terlihat cukup baik.
Namun, Lukas belum bisa sepenuhnya menerima Alex karena bayang-bayang masa lalu itu masih berputar di dalam ingatan Lukas.
Berbeda sama Sasya dan juga Alex, mereka masih tidak percaya sama apa yang sudab terjadi saat ini.
Lagi dan lagi mereka meneteskan air matanya, bukan air mata tentang kesedihan. Melainkan air mata kebahagiaan serta rasa syukur yang buat hati mereka menjadi terharu.
Akhirnya perjuangan mereka selama ini tidaklah sia-sia, bahkan saking terharunya Alex segera bangkit dari kurisnya dan berlutut di hadapan Ayah Brian.
__ADS_1
Tak henti-hentinya Alex selalu mengucapkan terima kasih sambil menangis, ketika saat Alex mau bersujud mencium kaki Ayah Brian. Tubuhnya terhenti saat kedua tangan Ayah Brian menahan kedua pundak Alex.
"Stop bertingkah konyol seperti ini! Cepat bangkit atau aku akan kembali menarik ucapanku barusan!" titah Ayah Brian, secepat mungkin Alex bangkit dan berdiri bersamaan dengan Ayah Brian yang juga ikut berdiri.
"Ja-jangan Tuan, ja-jangan tarik ucapan itu. Ak-aku mohon, a-aku sangat mencinta Sasya Tuan. Please.." ucap Alex, penuh harapan.
"Ayah, Sasya mohon jangan cabut ucapan Ayah. Sasya mohon Ayah hiks.." sahut Sasya, Ayah Brian menoleh lalu menatap Saya.
"Berdirilah!" titah Ayah Brian, Sasya pun berdiri sedikit ketakutan. Posisi mereka saat berada di samping Ayah Brian, lebih tepatnya Ayah Brian berada di tengah-tengah mereka.
"Apakah kamu sangat mencintai Alex? Sudah siapkah kamu menerima Alex menjadi suamimu serta hidup bersamanya, terlepas dari masa lalunya yang berhasil menghancurkan masa kecilmu?" tanya Ayah Brian menatap Sasya.
"InsyaAllah Sasya siap Ayah, Sasya siap. Apa pun yang terjadi Sasya mau selalu berada di samping Alex" tegas Sasya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian Ayah Brian tersenyum mengusap pipi putri kecilnya yang sudah menjadi wanita dewasa, lalu dia menoleh ke arah Alex yang sedang menatapnya. Terlihat jelas tatapan Alex sangat berkaca-kaca yang diselimuti oleh kebahagiaan.
"Apakah kamu sudah siap menjadi suami, sekaligus kepala rumah tangga untuk putriku? Lalu, apakah kamu bersedia membuat putri kecilku ini bisa selalu merasakan kebahagiaan sampai dia lupa bagaimana caranya menangis ketika hatinya tercubit?" tanya Ayah Brian.
"InsyaAllah saya siap, Tuan. Saya siap lahir batin untuk membahagiakan anak Tuan, bahkan saya akan tetap berusaha belajar dan belajar agar bisa menjadi imam sekaligus kepala rumah tangga yang baik"
"Saya tahu, sebuah janji tidak akan mampu buat kalian percaya. Maka dari itu saya tidak akan berjanji, melainkan saya akan membuktikan bahwa anak Tuan akan selalu bahagia berada di tangan saya, Bisma Alexander!"
Alex berkata sangat lantang hingga sesekali air matanya menetes, tanpa di sadari Ayah Brian yang jarang sekali meneteskan air matanya pun malah ikut menetesnya ketika dia bisa merasakan ketulusan mereka dari sudut matanya.
Orang yang selama ini dibenci oleh Ayah Brian, ternyata adalah jodoh dari anak angkatnya sendiri. Ya memang untuk berada di posisi sekarang mereka harus melewati banyak rintangan dan juga cobaan.
Hanya saja kali ini Alex benar-benar telah berhasil membawa cintanya kembali pulang bersamanya, dari sekian lama dia menunggu dan menunggu akhirnya waktu yang bahagia telah tiba. Sampai pada akhirnya Alex bisa menyempurnakan setengah bagian dari hidupnya yang sudah hilang.
__ADS_1