
Awalnya niat mereka ingin mencari hewan kecil nan imut itu, tetapi naas hewan itu hari ini tidak menampakkan diri.
Arya yang sudah berusaha mencarinya kini menjadi bosan, sedangkan Hana dan Brian malah fokus membersihkan diri di aliran sungai yang sangat bersih dan jernih.
Hana yang tidak bisa berenang itu tidak mau terlalu jauh melangkahkan kakinya ke aliran sungai, dia hanya duduk di batu besar dengan sesekali menyiramkan airnya ke pada tubuhnya sendiri.
"Mas Brian, mbak Hana,.. Arya cape nih. Bagaimana kalau kita putar haluan menjadi berburu belut?"
"Belut? hewan yang licin-licin gemulai itu?" tanya Brian yang masih setia membersihkan dirinya di sungai.
"Iya mas, Arya punya benang dan umpannya kok di simpan di sela-sela saung Abah hehe.." Arya yang mengingat kemaren abis mencari belut dan masih terdapat sisa umpannya dia menjadi teringat untuk menangkap belut dari pada menunggu yang tidak pasti kan.
"Ya sudah kamu racik dulu gih di saung Abah, mbak mau bersih-bersih dulu ini masih ada sisa tanah di badan mbak. Nanti mbak nyusul" saut Hana.
"Oke.., mas Brian, Arya titip mbak ya tolong jagain jangan sampai jatuh. Soalnya dia tidak bisa berenang" Arya berteriak dengan ke adaan berlari.
Hana dan Brian masih saja setia membersihkan diri, entah kenapa Brian merasa kesal dengan noda merah yang susah ia jangkau bahkan tubuhnya menjadi sangat gatal.
Sehingga, Brian langsung mulai berenang di aliran sungai tanpa berpikir seperti pertama kali dia menginjakkan kakinya di sawah.
Brian berenang dengan meninggalkan Hana yang masih setia duduk di batu besar.
Hampir 5 menit Brian berenang kesana kesini menikmati aliran sungai yang sangat bersih dan segar membuat dia enggan untuk menyelesaikan aktifitasnya.
"Mas sudah belum berenangnya? Hana sudah selesai ini. Ayo kita ke saung Abah untuk menyusul Arya" Hana mulai berdiri dan ingin melangkahkan kakinya untuk menginjak bebatuan kecil kini malah terpeleset dan jatuh ke aliran sungai.
Byurrr..
"A.. mas Brian tolong, Hana tidak bisa berenang" teriak Hana sambil mencoba untuk melambaikan tangannya.
Entah kenapa aliran sungai yang awalnya tenang, kini menjadi sedikit deras. Sehingga Hana tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri dan terbawa oleh aliran tersebut.
Brian yang sedang asyik berenang sedikit mendengar suara, kemudian berhenti dan berdiri di tengah-tengah sungai sambil melihat batuan besar yang sudah tidak ada keberadaan Hana duduk di sana.
"Loh, di mana Hana?" Brian menyipitkan pandangannya untuk menelurusi setiap sudut.
Bluk..
Bluk..
Bluk..
"Ma-s.. to-tolong" Hana mencoba untuk berteriak tetapi naas dia sudah banyak meminum air sungai sehingga membuat nafasnya tidak beratuan.
__ADS_1
"Astaga,.. Hana.." teriak Brian yang baru saja mengetahui keberadaan Hana yang hampir saja tidak terlihat.
Dengan kecepatan melebihi kapasitas, Brian berenang mendekati Hana dan langsung memeluknya.
Hana langsung mengalungkan tangannya di leher Brian, dengan keadaan yang sudah lemas, mata memerah dan seketika Hana pingsan di pelukan Brian.
Brian yang terkejut melihat Hana tidak sadarkan diri, berusaha menepuk pipinya sambil berkata "Hai.. Hana bangunlah, maaf aku lalai menjagamu dan melupakan untuk selalu memperhatikanmu tadi"
Brian sudah mencoba untuk membangunkan Hana berulang kali, tetapi naas tidak ada jawaban sama sekali dari Hana.
Sampai akhirnya dengan sigap Brian langsung menggendong Hana dan membawanya ke pinggir sungai, kemudian menaruh Hana dengan keadaan terlentang.
"Tidak ada cara lain selain aku memberikan dia nafas buatan, dari pada aku dituduh sebagai pembunuh. Lagian juga kapan lagi kan dikasih nafas buatan sama duren kaya aku ini" ucap Brian di dalam hati dengan nada yang sombong sambil memperhatikan Hana.
Perlahan demi perlahan Brian memencet hidung dan membuka lebar mulut Hana, lalu dia mendekati bibir tebal yang sangat menggoda.
Dengan hitungan detik Brian telah berhasil memberikan napas buatan untuk Hana, dan sesekali mencicipi bibir ranum yang sangat tebal dengan kelembutan yang luar biasa.
Di sela-sela Brian memberikan napas buatan itu, Brian juga memompa dada Hana dengan menekankan kedua tangannya di dada, dan tidak lama, Hana terbangun dengan menyemburkan air di dalam mulutnya.
Huekk.. Burrr..
"Uhuk,.. uhuk.." Hana yang baru saja mengeluarkan air dalam mulutnya seketika terbatuk dan langsung mendudukan dirinya.
"A-apa Hana sudah berada di surga?" Hana celingak-celingkuk menatap seluruh sunga.
"Loh, mas Brian kenapa ikut menyusul Hana ke surga?" celetuk Hana dengan kepolosannya.
Pletak..
Brian menyentil kening Hana dengan rasa kesalnya, lalu berkata "Sudah selesai menghayalnya? sudah tahu masih berada di dunia malah minta ke surga. Sudah bosankah kamu hidup?"
Hana hanya bisa cengengesan menatap wajah Brian yang penuh dengan keseriusan. "Hehe.. maaf mas Brian, kirain Hana sudah meninggal. Loh, berarti tadi mas Brian yang nolongin Hana?"
"Bukan, tukang somai!!" saut Brian dengan nada kesal, sudah tahu di situ hanya ada mereka berdua. Masih saja Hana bertanya yang membuat Brian rasanya ingin melu*mat kembali bibir gemoi milik Hana.
Hana yang mengerti seketika menganggukan kepalanya, "Oh,.. begitu toh, ya sudah nanti Hana ingin berterima kasih pada tukang somai yang sudah nyelamati Hana"
Brian yang sudah benar-benar kesal langsung meninggalkan Hana kemudian berjalan lebih dulu.
"Sumpah, ini perempuan rasanya ingin aku buang ke planet pluto sekalian. Sudah tahu di situ hanya ada aku dan dia. Malah masih sempat-sempatnya percaya dengan tukang somai" Brian bergerutu di dalam hatinya dengan tampang yang sangat dingin.
"Iss.. kenapa sih sama mas Brian, aneh banget. Emang Hana salah lagi apa? Tahu argh.." Hana langsung menghentakkan kakinya kemudian mengikuti Brian.
__ADS_1
Selama perjalanan dari sungai ke saung Abah, Brian dan Hana hanya berdiam diri tanpa sepatah katapun.
"Bagaimana sudah selesai meraciknya?" tanya Brian kepada Arya dengan nada dinginnya yang malah membuat Arya terhentak kaget.
"Astagfirullah, mas Brian bikin Arya kaget saja toh" Arya berusaha mengusap dadanya dengan detak jantung yang tidak beraturan.
"Bangun, bangun, makan nasi pakai ayam sambal dan sayur. Enak loh.." ucap Arya dengan menepuk-nepuk dadanya sambil menetralkan detak jantungnya.
Brian yang melihat Arya malah di buat sangat terkejut, dan bertanya "Ma-maksudnya?"
"Hehe.., bukan apa-apa mas, cuman berusaha menyadarkan jantung saja. kan kalau begitu cepet netralnya" Arya menjawab dengan nada cengengesan.
Arya yang melihat baju keduanya basah kuyup seketika menautkan kedua alisnya, "Apa kalian habis berenang?" tanya Arya sambil menatap keduanya.
"Tadi, mbakmu-.." saut Brian yang langsung di potong oleh Hana.
"Iya tadi badan mbak gatal sekali jadi mencelupkan badan saja di sungai umpung airnya bersih hehe.." Hana mencoba merahasiakan semuanya agar kelurganya tidak merasa cemas.
"Kenapa dia berbohong? Wah.. jangan-jangan dia malu di cium sama duren kaya aku ini. Eh.. ta-tapi tadi kenapa aku bisa sampai menikmatinya. Wah tidak bisa di biyarkan bahaya ini, jangan sampai Hana merebut perjakaku" celoteh Brian di dalam hati sambil menatap Hana.
Arya yang mengerti seketika membereskan alat-alatnya, kemudian membawanya untuk mencari keberadaan belut dan tidak lupa mengajak Brian dan Hana untuk selalu mengikutinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗