
"Hiks.. mas, ma-maafin Hana maaf sudah membuat mas kembali terluka" Hana langsung memeluk Brian dengan sangat erat yang langsung dibalas oleh Brian sambil kembali menumpahkan semua rasa sakitnya.
"Hiks.. aku sakit Han, sakit. Selama ini aku menahan semua rasa ini sendiri, aku benci arti kehilangan aku benc!!!" teriak Brian di dalam pelukan Hana.
Hana yang merasakan perasaan Brian begitu sakit, kini membuat hatinya ikut tergores.
Sampai akhirnya Hana berhasil menenangkan Brian, lalu tidak sengaja Hana melihat tangan Brian yang sudah memar akibat Brian memukul dinding kamar mandi begitu keras.
"Astagfirullah mas, ini tanganmu kenapa bisa sampai seperti ini" tanya Hana dengan nada khawatir sambil mengangkat tangan Brian.
"Stt.. tidak apa-apa ini hanya luka kecil" ucap Brian yang sedikit meringis ke sakitan.
Hana langsung berlari mencari kotak P3K untuk segera mengobati luka yang ada di tangan Brian.
Dengan perlahan Hana berjongkok di hadapan Brian, lalu membuka kotak tersebut dan membersihkan lukanya dengan sangat hati-hati sambil sesekali meniupnya.
Brian hanya bisa meringis menahan perih lukanya dengan memperhatikan wajah Hana yang sangat serius, kemudian senyuman kecil terukir dari sudut bibir Brian.
"Hana kamu adalah wanita yang sangat baik, dan sudah seharusnya saat ini aku bersyukur telah memiliki istri seperti dirimu, bahkan aku tidak harus menyakitimu. Wanita istimewa sudah sepantasnya di perlakukan istimewa" ucap Brian di dalam hatinya.
Hana yang terlalu fokus untuk membersihkan luka Brian membuat dirinya tidak mengetahu bahwa Brian tersenyum kepadanya.
Sampai akhirnya Hana sudah selesai mengobati luka Brian dan langsung menutupnya menggunakan perban yang telah dililitkan di tangan Brian dengan sangat rapi.
Tangan Brian yang satunya berusaha mengusap kepala Hana dengan sangat lembut, yang malah membuat Hana sedikit terkejut dan memundurkan dirinya lalu seketika menabrak meja kecil di belakangnya yang sedang terdiam tanpa punya salah apa-apa.
Bugh! ..
"Arghh..." teriak Hana.
"Astaga, Hana" Brian langsung menolong Hana dan membawanya untuk duduk di kasur.
"Mana yang sakit, sini aku obatin" ucap Brian dengan keadaan cemas.
"Aku tidak apa-apa mas, cuman terbentur sedikit saja kok hehe.." ucap Hana sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Kamu ini habis terbentur bukannya meringis kesakitan, malah cengar-cengir gitu" jawab Brian dengan wajah kesalnya.
"Mas, khawatir ya sama Hana. Hayo.. ngaku hehe.." Hana mengedipkan matanya.
"Yak.. a-apa apaan sih, enggak ya. Aku cuman takut saja jika tulangmu patah nanti di sangka aku KDRT lagi" saut Brian dengan wajah yang sudah sedikit merona.
"Ah masa sih.., kalau bohong dosa loh mas, lebih baik jujur saja sama aku. Aku tidak akan marah kok, bahkan aku senang bisa melihat suamiku yang tampan ini sudah mulai jatuh hati pada istri cantiknya ini" goda Hana yang malah semakin membuat wajah Brian memerah.
"Bhaha.. mas Brian malu ya, kok mukanya kaya habis di pukulin gitu merah-merah" tawa Hana sambil menunjuk-nunjuk pipi Brian.
"Yak.. berani sekali kau menggoda suamimu ini ya, awas saja kamu sini" Brian langsung mengelitiki tubuh Hana sambil menindihinya.
"Haha.. ampun mas, ampun haha.. geli loh aduh haha" Hana tertawa sangat puas dengan wajah yang berseri.
"Haha.. biarin saja, biar ngompol kamu aku kelitikin hayo... masih berani sama suamimu ini hem?" tanya Brian.
"Haha.. habisnya muka mas Brian lucu sih, haha.. aduh mas haha.. geli tahuu, Hana gak bisa berhenti ketawa ini haha.." ucap Hana sambil meliuk-liukkan badannya.
Brian hanya bisa memandangi wajah Hana yang saat ini terlihat begitu bahagia sambil berkata "Baru kali ini aku bisa melihatmu tertawa puas, Han. Semoga saja kedepannya aku bisa selalu membuatmu tersenyum"
Hana terus saja tertawa dengan ulah Brian yang selalu menggelitiki tubuhnya.
Brian dan Hana saling menatap satu sama lain dengan detak jantung yang bekerja sangat cepat.
Bahkan Brian dan Hana bisa merasakan deru nafas mereka masing-masing.
Sampai akhirnya bibir yang awalnya hanya menempel, kini malah membuat Brian sedikit beranikan diri untuk menggerakkan bibirnya lalu melu*mat bibir Hana dengan sangat perlahan.
Hana yang merasakan bibirnya sudah mulai basah, hanya bisa memejamkan matanya dengan perlahan Hana mulai membuka sedikit mulutnya.
Brian yang melihat Hana tidak melakukan perlawanan dan malah memberinya lampu hijau membuat dirinya semakin memperdalam ciu*mannya.
Kedua tangan Brian mencoba untuk menahan tubuhnya di samping kanan kiri tepat di kepala Hana agar tidak membuat Hana sesak akibat ketindihan tubuhnya yang sangat berat.
Dengan sesekali Brian mengusap pelan wajah serta kepala Hana yang masih terbaut dengan kerudung merahnya.
__ADS_1
Hana memberanikan diri untuk membuka matanya dan langsung berhadapan dengan manik mata Brian sambil sedikit membalas permainan bibir yang sedang Brian lakukan.
Lidah Brian menerobos masuk ke dalam mulut Hana dengan mengapsen semua isinya sambil melilitkan lidahnya dengan lidah Hana, lalu menari-nari di dalam sana yang membuat Hana tidak tahu harus ngapain lagi.
Hana hanya bisa mengikuti semua permainan Brian sesekali terdengar suara decapan-decapan air liur yang saling menyatu.
Cpk! ..
Cpk! ..
Cpk! ..
Sampai akhirnya Brian yang sudah mulai terbawa suasana, kini membangunkan Hana dengan keadaan duduk sambil masih menyatukan bibir mereka.
Dengan perlahan Brian mencoba untuk membuka peniti sebagai pengait hijab di leher Hana.
Sedangkan Hana, hanya bisa menyeimbangi luma*tan yang tak henti-hentinya Brian berikan.
Saat ini, Brian telah berhasil membuka hijan serta dalaman yang berada di kepala Hana. Kemudian Brian kembali menarik sebuah kunciran yang telah mengikat rambut Hana.
Setelah Brian berhasil membuka kunciran Hana kini membuat rambut Hana yang panjang, lurus, indah serta lembut itu membuat Brian senang untuk selalu mengelus kepala Hana.
Lalu, Brian kembali menidurkan Hana di atas kasur dengan perlahan.
Hana yang sudah mulai ke habisan nafas mencoba memberi kode kepada Brian dengan memukul dada Brian dengan sangat lembut.
Brian yang sudah mulai mengerti langsung melepaskan luma*tannya lalu menatap manik mata Hana dengan sangat tajam.
"Bolehkah aku mengambil hakku, atas dirimu?" tanya Brian dengan suara paraunya sesekali membelai wajah Hana yang begitu cantik bahkan terlihat sangat cantik ketika hijabnya terlepas dengan sangat sempurna.
"Aku tidak akan melarangnya mas, jika mas mau mengambilnya sekarang silakkan saja. Insyaallah Hana sudah siap dengan semuanya" ucap Hana sambil mengelus rahang serta pipi Brian dengan sangat lembut.
"Apa kamu tidak menyesal jika nanti kita sudah melakukannya, aku kembali pada sifatku yang akan membuatmu kembali menangis?" tanya Brian dengan sangat lembut.
"Ini sudah kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Jadi silakkan ambil hakmu atas diriku ini mas" jawab Hana dengan tegas.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui. Aku janji akan mulai mencintaimu sepenuh hatiku, dan aku izin untuk mengambil hakku hari ini" saut Brian sambil mencium kening Hana.
Hana hanya bisa tersenyum bahagia sambil menganggukkan kepalanya.