
Key yang melihat buku itu mengenai salah satu pria cuek, membuatnya enggan untuk kembali mengambilnya. Tapi siapa sangka kini malah Lukas sendirilah yang mengantarkan buku itu. Setelah buku itu sudah di tangan Key, Lukas pun segera pergi dari perpustakaan.
“Astaga, Lukas... Kenapa kamu malah mengantarkan buku itu sih, padahal jika ia memang ingin membacanya pasti langsung mengambilnya sendiri dan bukan malah kamu diperlakukan bagaikan seorang ratu begini...”
“Aku yakin pasti saat ini dia sedang senyum-senyum sendiri karena kege’eran. Mungkin dia berpikir jika aku ini perhatian, padahal nyatanya aku biasa saja. Aku cuma mengembalikan apa yang bukan menjadi hakku itu aja kok ciih...”
Lukas mengoceh di dalam hatinya sambil berjalan menuju kelas Lily untuk mengecek adik kesayangannya. Sedangkan Key, ia malah mengembalikan buku yang ada di tangannya itu ke tempatnya dan mencari buku yang lain.
...*...
...*...
School Medical Room
Jay sudah berhasil membawa Lily ke ruangan tersebut dengan bantuan penjaga di sana, setelah itu Lily segera di periksa hingga di berikan obat untuk meredakan rasa sakit di lambungnya. Untung saja Lily hanya memakannya sedikit, coba jika sampai habis pasti saat ini ia sudah berada di rumah sakit.
Andai saja Jay tidak sigap dengan apa yang Lily makan, kemungkinan Lily tidak bisa sekolah dalam waktu yang lama. Lily tertidur dengan keadaan wajah yang sedikit pucat, bahkan saat ini Jay selalu setia menunggu Lily. Namun ia ingat jika dirinya lupa untuk memberi tahu Lukas jika adiknya berada di sini.
Sesegera mungkin Jay pergi dari ruangan Lily dengan menitipkannya kepada penjaga di sana. Ia berlari sangat kencang mencari setiap ruangan di sekolah, namun Jay tidak menemukan Lukas sama sekali. Akhirnya ia menitipkan pesan kepada teman sekelas Lukas jika mereka melihatnya, segera beritahu kalau adiknya Lily berada di Medical Room.
Lalu Jay kembali berlari untuk menemani Lily yang seorang diri. Terlihat jelas wajah Lukas benar-benar penuh kekhawatiran melihat keadaan Lily. Padahal Jay tahu jika ia berada di dekatnya pasti selalu saja bertengkar, cuma jika berdekatannya dengan keadaan seperti ini membuat Jay sedikit sedih.
Entahlah Jay tidak tahu apa yang ia rasakan, mungkin karena ia semakin hari semakin dekat dengan Lily jadi dia tidak tega jika melihat Lily sakit seperti ini. Apa lagi ia selalu ingat jika sang Kakak yang bernama Key selalu mengingatkannya agar bersikap baik kepada wanita. Walaupun Jay dingin, tapi setidaknya jangan sampai menyakiti hati seorang wanita dengan perkataannya.
“Ly... ayo bangun, kamu harus makan bubur ini. Lihatlah buburnya sudah dingin, pasti cacing di perutmu sudah pada demo. Jadi bangun dong, jangan lama-lama tidurnya” gumam Jay yang duduk di kursi samping Lily sambil menatapnya.
Lily tertidur sudah cukup lama, bahkan bubur yang di berikan oleh penjaga tersebut mulai dingin. Jadi mau tidak mau Jay membangunkan Lily agar dia segera mengisi perutnya yang kosong akibat tadi ia muntah-muntah karena asal lambungnya naik begitu cepat.
“Ly... bangunlah... enggak cape apa tiduran mulu kaya gitu, biasanya juga cerewet tapi kenapa sekarang jadi pendiam. Kenapa kamu malah enak-enakkan tidur humpp...” kesal Jay yang membuat Lily mengerjapkan matanya dengan perlahan.
“Eerrghhh...” Lily sedikit menggerakkan tangannya dan merasakan perutnya masih sedikit sakit.
Jay yang melihat itu pun langsung tersenyum sebentar dan kembali datar saat Lily sudah membuka kedua matanya.
“Ja-Jayy... ko-kok kamu ada di sini? La-lalu Bang Lukas mana?” ucap Lily dengan suara kecilnya.
“I don't know..." sahut Jay dengan cuek.
“Memang kamu tidak memberitahu Bang Lukas kalau aku ada di sini? Bagaimana kalau dia mencariku, terus dia tidak menemukan aku di mana-mana coba... pasti dia akan memarahiku” celoteh Lily yang membuat Jay menatapnya.
__ADS_1
“Saat ini kondisi tubuhmu sangat lemah, lebih baik duduk dulu terus makan bubur itu. Masalah itu aku sudah memberikan pesan pada teman sekelas Abangmu itu, jadi tidak perlu khawatir. Fokus saja sama kesehatanmu sekarang, paham!” tegas Jay yang begitu perhatian membuat Lily tersenyum menatapnya.
Jay yang melihat senyuman Lily itu pun jadi bergidik ngeri, akibat ucapannya yang tidak sengaja mengalami rem blong.
“Ke-kenapa liatin aku kaya gitu? Ja-jangan kege’eran ya, a-aku begini bukan berarti aku perhatian. Ta-tapi karena aku ketua kelas jadi harus memastikan teman-temanku aman terkendali” elak Jay dengan wajah penuh kebohongan dan Lily terbangun perlahan dan duduk bersandar di bantal sambil terkekeh.
“Aku aja belum bilang apa-apa loh, kenapa kamu malah berpikir sejauh itu. Atau jangan-jangan kau diam-diam kamu menyukaiku, iya? Wahh... haha... dasar cowok gengsi...” ucap Lily yang berhasil membuat wajah Jay bagaikan tomat busuk.
“Hyaaaakk... apaan sih, siapa juga yang suka sama cewek cempreng sepertimu itu. Udah menyebalkan, kege’eran pula” pekik Jay yang membuat salah satu pengawas mendekati mereka.
“Excuse me... adik-adik maaf ya di sini di larang berisik, jadi pelankan suara kalian ya agar tidak mengganggu murid lainnya yang lagi sakit”
“Loh... ternyata Lily sudah bangun ya, baiklah itu buburnya di makan dulu terus obatnya di minum biar cepat sembuh. Nanti kalau sudah enakkan dan impusannya sudah habis, baru Lily boleh kembali ke kelas atau bisa langsung pulang ke rumah”
Sang penjaga mencoba menasihati mereka dengan suara lembutnya sambil tersenyum.
“Oke Miss, thank you...” ucap Lily sambil tersenyum, dan penjaga itu pun menganggukkan kepalanya serta kembali ke tempatnya.
“Dah tuh makan, aku mau balik ke kelas!” sahut Jay dengan sangat ketus yang membuat Lily tadinya tersenyum kini menjadi sedih.
“Jay memang tega mau ninggalin Lily sendirian di sini, kalau ada Bang Lukas gapapa tapi ini kan Lily cuma sendirian loh...” jawab Lily dengan suara lirihnya dan matanya pun mulai berkaca-kaca.
“Oke... aku di sini sampai Abangmu datang, tapi dengan satu syarat” ucapnya yang membuat Lily kembali tersenyum.
“Apa syaratnya?” sahut Lily dengan penuh penasaran.
“Jangan pernah berpikir atau berkata jika aku menyukaimu, karena itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah terjadi paham!” tegas Jay yang membuat senyuman di wajah Lily sedikit memudar.
Entah mengapa saat mendengar perkataan Jay itu, membuat hati Lily sedikit sesak cuma ia tidak tahu kenapa bisa sesak hanya dengan mendengar ucapan itu.
“Hehe... Lily kan bercanda Jay, jadi jangan di masuki hati dong...” ucap Lily dengan canggung.
“What ever... Sudah jangan banyak berbicara dan itu buburnya di makan, mau jadi apaan coba dari tadi enggak di sentuh-sentuh” jawab Jay dengan datar.
“Ya tetap jadi bubur lah... masa ia jadi sop buntut hahaha... awshh...” Lily meringis kesakitan saat dirinya baru saja akan tertawa, dan malah membuat perutnya menjadi sakit kembali.
“Nahkan... makanya jangan banyak gaya, udah cepet makan nih... bikin susah orang saja” Jay yang melihat Lily kembali merasakan sakit, kini hatinya tersentuh untuk bangun dari kursinya dan menyodorkan bubur dari sendok ke mulut Lily.
Awalnya Lily terkejut dengan perlakuan Jay, tapi mau bagaimana lagi perutnya masih sangat keram jika ia duduk terlalu lama atau pun tertawa lepas. Jadi mau tidak mau Lily menerima suapan dari Jay dalam keadaan tubuh sedikit bersandar di bantal. Kali ini Jay terlihat sangat sabar menyuapi Lily yang makan dengan perlahan.
__ADS_1
Bahkan Jay sesekali memberikannya minum, sampai seketika bubur hanya tinggal 3 suapan. Jay langsung membuka obat yang telah di berikan oleh suster penjaga untuk menyiapkannya agar setelah selesai makan, Lily bisa meminum obatnya. Namun tiba-tiba Jay terkejut dengan suara yang membuat dirinya sedikit kesal.
“Aku tidak mau minum obat, pahit!” ucap Lily dengan ketus dan Jay kembali menatapnya dengan tatapan intens.
“Sejak kapan ada obat yang manis?” sahut Jay.
“Ada kok, buktinya obat untuk anak kecil selalu manis. Tapi kenapa obat untuk orang dewasa rasanya begitu pahit?” jawab Lily.
“Ckk! Kau itu polos apa du*ngu sih! Dimana-mana obat itu pahit, mau yang sakit bayi sekali pun pasti rasanya tetap sama dan yang manis itu hanyalah sirop bukan obat!” ucap Jay dengan kesal.
“Kata siapa? Buktinya obat batuk manis” ucap Lily mampu membuat Jay terdiam tak berkutik dengan wajah penuh frustrasi.
“Oh my... Lily! Mana mungkin Miss memberikanmu obat itu, sedangkan kamu itu sakit lambung bukan sakit batuk paham” geram Jay yang membuat Lily biasa saja.
“Tapi kan obat batuk sama obat lambung itu sama Jay, mereka sama-sama obat. Jadi fungsinya juga sama untuk menyembuhkan, jadi tidak masalah dong jika aku meminumnya. Pasti penyakitku juga hilang kok” sahut Lily yang tidak mau kalah.
“Ya mereka memang tidak salah karena mereka obat, tapi di sini otakmu lah yang bermasalah dan juga bukan penyakitmu yang akan hilang namun nyawamu yang akan melayang” ucap Jay dengan begitu kesal.
“Loh kok nyawaku yang melayang, memangnya obat batuk itu mematikan?” tanya Lily, yang lagi-lagi hanya bisa membuat Jay menepuk dahinya sendiri.
“Dahlah... bagaimana kamu saja mau minum obat batuk kek, obat nyamuk kek TERSERAH!!!” ucap Jay dengan emosi, sambil menyuapi Lily.
Namun saat Lily tetap masih mengoceh tidak mau minum obat, di suapan terakhir Jay memasukkan obat tersebut ke dalam bubur tanpa sepengetahuan Lily.
“Terakhir...” ucap Jay sambil menyodorkan sendoknya.
Lily pun memakannya serta mengunyahnya, tapi entah mengapa terdengar suara keletukan obat yang di gigit Lily membuat Jay mencoba untuk menahan tawanya saat melihat wajah Lily berubah drastis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo... Haloha... Apa kabar semua para pembaca setiaku 😃😃😃
Aku harap kalian selalu sehat dan terus semangat semuanya 🤗🤗🤗
Jangan lupa tersenyum dan bersyukur dengan semua yang kita miliki 😇😇😇
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 😁😁😁
Sayang kalian banyak banyak... 💜❤️🤍
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻