
Apa lagi Sasya dan Alex pernah meributkan masalah gender, setelah dinasihati oleh Umi Dewi dan juga Abah Toni. Disitulah mereka mencoba mengikhlaskan semuanya, tanpa kembali meributkan masalah anak.
Joko serta Pinjai dengan inisiatifnya sendiri segera menghubungi semua keluarga Sasya, mereka memberitahukan masalah sepenting ini supaya semua keluarga bisa bertemu dengan anak pertama Alex dan juga Sasya.
...*...
...*...
Di dalam ruangan, Sasya sedang tiduran sambil memegangi perutnyanya sendiri. Dia harus mencoba untuk mengatur napasnya agar ketika pembukaan ke-10 tiba, tidak sampai membuatnya kehabisan napas atau pun tenaga.
"Sabar, Sayang. Aku yakin kau kuat, dan anak kita juga akan kuat seperti Mommynya. Lebih baik sekarang kamu istigfar Sayang, biar tidak terlalu merasakannya."
Alex berdiri disamping bangkar istrinya sambil mengusap air mata Sasya serta mengelus kepalanya perlahan. Lalu, Ace menyatukan keningnya dengan Sasya sambil menangis bersama.
Ini bukan merupakan tangisan kesedihan, melainkan tangisan penyambutan untuk kelahiran anak pertama mereka yang saat ini masih dalam proses.
"Sa-sakit, Mas sa-sakit, hiks arghh ...." ucap Sasya, menangis sesegukan sambil mencoba menarik napasnya.
"Baby Sayang, udah ya marahnya. Kasihan Mommynya, Baby kan anak baik. Jadi kalau Baby mau bertemu sama Mommy dan Daddy, Baby enggak boleh marah-marah ya."
"Baby harus tenang, supaya Baby bisa mencari jalan keluar. Kalau Baby marah seperti ini yang ada Baby nyakitin Mommy, jadi Daddy mohon ya Sayang. Baby enggak boleh ngamuk-ngamuk di dalam,"
"Baby harus sabar ya Sayang, Daddy dan Mommy selalu mendoakan Baby agar Baby bisa menemukan jalan untuk bertemu kami. Semangat Baby hiks ...."
Alex mengelus perut Sasya sambil mencium perut istrinya beberapa kali, dia mencoba menasihati anaknya agar tidak membuat Mommynya merasakan kesakitan yang berlarut-larut.
Namun, selang 5 menit Alex terkejut saat Sasya mencekram kerah bajunya hingga tercekik sampai terbatuk.
"Uhuk-uhuk ... Sa-sayang, le-lepaskan. A-aku uhuk, ti-tidak bisa bernafas!" ucap Alex wajahnya mulai membiru saat merasakan lehernya benar-benar tercekik.
Sasya baru menyadari tindakannya, segera melepaskan dan menarik nafasnya secara cepat. "Huhh, huhh, huhh, Mas! Sa-sakit, argghh ...."
"Tenang, Sayang. Tenang! Ingat kata dokter kamu harus bisa bersabar jangan habiskan energimu sia-sia seperti ini!" ucap Alex.
"Apa yang kamu bilang, Mas? Tenang? Kamu pikir apaan, ini itu anak kamu yang mau keluar. Jelas saja rasanya sangat sakit, makannya jadi suami jangan maunya enak doang, hah!"
"Lihat nih lihat, ulah benihmu membuatku harus merasakan rasa sakit yang luar bisa. Hah, hah, hah, Ka-kamu sih enak ngomong tenang-tenang segala macem."
"Coba sekarang, huh hah huh kita tukar posisi kamu yang melahirkan aku yang menanam benihnya, biar kamu tahu gimana rasa sakitnya!"
__ADS_1
Sasya berteriak tepat di wajah suaminya sambil terus menarik napasnya secara cepat dan mengeluarkannya melalui mulut. Kini, kondisi Sasya terlihat berkeringat, mata sembab dan juga sedikit berantakan.
Alex yang tidak tahu harus gimana lagi hanya bisa pasrah saat tangan istrinya gencar menyentuh seluruh tubuhnya.
Hanya saja ini bukan sentuhan tangan Sasya pada umumnya. Melainkan sentuhan tangan singa yang sedang mengamuk hebat.
Seorang dokter yang akan memeriksa Sasya dalam waktu 15 menit sekali cuman untuk mengecek pembukaan Sasya.
Namun, dimenit 15 pertama sang dokter telah dikejutkan dengan Baby. Dimana kepala sang Baby sudah hampir keluar dari tempatnya.
Secepat kilat sang dokter bersama semua aistennya mencoba untuk menangani keajaiban ini, sampai sang dokter tidak percaya sama semua yang dia lihat saat ini.
Dimana biasanya setiap pembukaan memiliki proses sendiri. Tetapi berbeda dengan apa yang Sasya rasakan saat ini. Padahal baru 15 menit yang lalu sang dokter meninggalkannya ketika pembukaan masih yang ke-2.
Disaat sang dokter sudah kembali, ternyata Sasya sudah melewati poses pembukaan ke-10. Apa mungkin ini yang dinamakan ikatan batin seorang anak dengan kedua orang tuanya?.
Ya, mungkin bisa saja. Akibat ucapan alex kepada anaknya membuatnya mengerti dan tidak tega jika harus mendengar jeritan hati seorang Mommy, yang sedang berjuang untuk anaknya.
"Masyaallah Tuan, Nyonya. Saya tidak menyangka jika anak kalian sangat pintar untuk mencari jalan keluar supaya bisa menemui kedua orang tuanya."
"Lihatlah ini Tuan, kepala bayi anak kalian sudah mulai terlihat. Jadi sekarang waktunya Nyonya Sasya mengikuti arahan dari saya ya."
Setelah selesai, sang dokter kembali menatap Sasya. Lalu memberikan arahan padanya untuk menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya bersamaan dengan dorongan dari dalam tubuhnya.
"Dalam hitungan yang ke-3 Nyonya coba dorong yang keras Babynya tanpa harus mengangkat pinggul. Siap?" ucap sang dokter sambil melihat ke dalam selimut dan sesekali melirik ke arah Sasya.
Sasya dan Alex hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan, lalu Alex menatap wajah istrinya sambil memberikan semangat untuknya.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
"Ayo, Nyonya. Sekarang waktunya dorong!"
Sekuat tenaga Sasya mencoba beberapa kali mendorongnya, sampai yang ke-3 kalinya dia berusaha keras untuk mendorong bayinya agar bisa segera terlahir kedunia.
Arrghhh ...
__ADS_1
Sasya berteriak keras sambil menggenggam tangan suaminya begitu kencang, dimana Alex bisa merasakan kesakitan yang ditransfer Sasya kepada tubuhnya.
Namun, Alex tetap terdiam menahannya. Karena rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan apa yang saat ini Sasya rasakan demi melahirkan buah hti mereka.
Oeekk ... Oeekk ... Oeekk ...
Suara isak tangis bayi terdengar sangat nyaring, yang menandakan bahwa anak pertama mereka telah terlahir kedunia dengan selamat dan sehat.
"Alhamdulillah Tuan, Nyonya. Baby kalian selamat tanpa kekurangan satu apa pun. Dan, selamat juga anak pertama kalian adalah anak laki-laki yang sangat tampan." ucap sang dokter sambil menunjukkan Baby Boy, kearah mereka.
Tanpa basa-basi, sang dokter berjalan perlahan kemudian memberikan bayi tersebut kearah dada Sasya. Melihat malaikan kecil di dalam dekapannya membuat mereka yang baru saja menjadi kedua orang tua menangis penuh kebahagiaan.
Baby pun merasa tenang ketika mendengar suara detak jantung Mommynya, sambil mulutnya mencari sesuatu. Setelah menemukannya, Baby pun berusaha untuk belajar menge*mutnya perlahan.
Sang dokter, Sasya dan Alex semuanya menatap malaikat kecil itu yang terlihat asyik menyusu dengan Mommynya. Alex memeluk Sasya sambil mengecup dahinya, sesekali mengelus pipi anaknya secara berhati-hati.
Berkali-kali Alex ucapkan terima kasih kepada istri dan anaknya, kerena mereka sudah mau menjadi pelengkap didalam kehidupannya. Begitu juga Sasya, dia merasa sangat bersyukur telah memiliki anak yang sangat tampan.
Kulit memerah, hidung mancung, dan juga mata sipit membuat Baby Boy benar-benar mirip seperti Daddynya yang keturunan orang luar negeri.
"Hay, Baby Syakil Rafky Alexander. Selamat datang Baby Boy, semoga kelak kamu bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, dan bisa bermanfaat bagi semua orang. Serta kamu juga harus menjadi laki-laki yang hebat agar bisa menjaga semua keluargamu penuh kasih sayang. Aamiin ...."
Alex berbicara sambil menangis menatap anaknya. Begitu juga Sasya, dia menatap anaknya sambil menciumnya. Mereka terlihat begitu bahagia atas kelahiran putra pertamanya.
Kini, saatnya Baby Syakil harus dibersihkan serta di cek keseluruhannya agar bisa segera bisa diadzankan oleh Daddynya.
Alex tak henti-hentinya menciumi istrinya sampai mereka pun berhasil membuat sebagian suster disana ikut meneteskan air mata. Mereka terharu ketika melihat cinta sepasang orang tua baru, begitu besar kepada anaknya.
Sampai akhirnya setelah selesai, Alex segera menggendong Baby Syakil. Lalu dia mengadzankannya sambil meneteskan air matanya.
Disela Alex mengadzankan anaknya, sekarang giliran Sasya yang hrus di bersihkan agar bisa kembali diberikan ruangan khusus supaya mereka bisa lebih nyaman jika keluarga besar akan datang menjenguknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Visual Baby Syakil Rafky Alexander...
__ADS_1