Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kabar Gembira Yang Akan Datang


__ADS_3

Ada rasa khawatir dan juga ketakutan di dalam hati Sasya maupun Alex, tapi semua kembali lagi. Cinta yang bisa membuat Alex mampu bertahan serta selalu bersemangat menjadi yang terbaik untuk gadis kecil yang telah berhasil menaklukan hatinya.


...*...


...*...


1 Minggu berlalu, dimana Alex sudah kembali ke Indonesia untuk mengurus semuanya. Bahkan Alex pun sudah mulai bergabung bersama Joko dan juga Pinjai di perusahaan yang baru mereka dirikan 3 tahun yang lalu.


Kali ini Alex harus benar-benar ekstra agar dia bisa mewujudkan semua persyaratan yang telah diberikan, ya walaupun berat Alex harus tetap bisa dan terus berusaha.


Semua ini demi CINTA, demi MASA DEPAN. Jadi mau tidak mau, sanggup tidak sanggup berujuang itu penting. Sampai pada akhirnya takdir menyerah dan akan menyatukan mereka.


Di Mansion kediaman Alex, tepatnya di pagi hari Alex, Pinjai dan Manda sedang berduduk santai menikmati camilan bersama segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuh mereka karena akhir-akhir ini cuaca sedikit tidak bersahabat.


Chika yang merasa sedikit mual serta pusing berhasil bikin Joko menjadi sangat khawatir. Tak alam Chika memutuskan turun dari kamar menuju ruang keluarga.


"Sayang kamu gapapa, kan?" tanya Joko sambil memeluk pinggang Chika.


"Aku gapapa, Sayang. Sudah kamu tenang aja, kalau ada apa-apa pasti aku bilang kok" jawab Chika menoleh menatap Joko, kemudian kembali berjalan.


"Janji ya, kalau ada apa-apa langsung bilang sama aku. Jangan di pendem, ingat! Aku enggak suka main rahasia-rahasiaan" ucap Joko, tegas.


"Iya, Sayangku.." sahut Chika, tersenyum.


Tak lama mereka sampai di ruang keluarga, Manda sedikit bingung dengan ucapan mereka yang seperti orang berbisik.


"Ada apa sama kalian? Kenapa wajah Kak Joko terlihat begitu cemas dan wajahmu juga kenapa sedikit pucat, Kak?" celoteh Manda ketika melihat Chika sama Joko sudah duduk di kursinya.


"Hem.. Eng-..." ucapan Chika terpotong lantaran Joko segera menjawabnya sangat cepat, namun penuh kecemasan.


"Istriku lagi kurang sehat dari semalem susah tidur muntah-muntah mulu, apa lagi tadi pagi jam 4 subuh sudah uwek... Uwek.."

__ADS_1


"Di tambah sampai detik ini pun dia hanya tertidur beberapa jam, bahkan paling lama bertahan cuman 30 menitan saja" sahut Joko.


Semua yang ada di sana menatap keadaan Chika yang memang wajahnya sedikit pucat, belum lagi matanya benar-benar terlihat begitu sayu.


"Kenapa enggak di bawa ke rumah sakit?" tanya Alex, spontan.


"Jangan di tunda-tunda takutnya nanti ada masalah serius kan bisa langsung di tanganin, Kak!" titah Pinjai.


"Ya, aku memang maunya begitu. Tapi Chika selalu menolaknya, dia bilang gapapa. Nanti kalau dia merasa lebih buruk dari ini, dia akan bilang baru kita ke rumah sakit" jawab Joko sedikit panik.


Mata Joko melirik ke arah Chika dan tangannya selalu memeluk pinggangnya. Enggak tahu kenapa Joko begitu khawatir dan tidak bisa lepas dari Chika.


"Udah kalian tenang saja, aku ti-.. Uweekk.." Chika memberhentikan ucapannya ketika rasa mual di dalam tubuhnya kembali melandanya.


Tanpa berlama-lama, Chika bangkit menutup mulutnya dan berlari kecil ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya. Chika hanya merasa mual bukan sepenuhnya murni muntah seperti pada umumnya.


Joko melihat istrinya kabur, segera mengejarnya lalu menuntunnya ke arah kamar mandi. Sehingga Manda, Pinjai dan Alex mereka merasa bingung bercampur cemas.


Alex hanya mengangkat kedua bahunya, dia tidak tahu harus menjawab apa lantaran Joko dan Chika mereka menolak untuk di bawa ke rumah sakit akibat Chika yang selalu merasa baik-baik saja.


"Mamah.." pekik seorang anak kecil bernama Alle, anak dari Pinjai dan juga Manda yang saat ini memasuki usia 4 tahunan.


"Wahh.. Anak Mamah sudah kembali, sini Sayang" Manda merentangkan kedua tangannya, lalu Alle berhambur memeluknya.


"Huaa.. Mamah, Mamah, Mamah.. adi atu asih akan ikan loh, di emenin ama Bibi. Celu tahu hihihi.." sahut Alle yang sudah berada di dalam pelukan Manda.


"Hebatnya jagoan Papah, sini dong peluk Papah. Kan, Papah juga mau dipeluk Alle" ucap Pinjai menunjukkan wajah memelas dan juga merentangkan kedua tangannya.


Alle menoleh, lalu menatap Pinjai begitu intens serta jari mungilnya mengetuk-ngetuk di dagunya. "Peyuk endak ya? Hem.. Peyuk deh, api anti beyiin Alle es kim ya. Gimana? Boyeh.."


Beginilah Alle, dia selalu saja membuat Pinjai menggelengkan kepalanya. Alle memang lebih dekat dengan Manda, sehingga Pinjai selalu merasa iri. Tapi di balik itu semua Alle begitu menyayangi kedua orang tuanya.

__ADS_1


Cuman, karena Alle memang sifatnya mewarisi Pinjai jadi mau tidak mau Pinjai harus bisa lebih sabar ngadepin sikap Alle yang sangat menyebalkan sama persis seperti dirinya ketika kecil.


"Baiklah, tapi hanya 1 dan tidak lebih. Bagaimana Boy?" tawar Pinjai, Alle terdiam sejenak berpura-pura berpikir. Kemudian dia berhambur memeluk Pinjai.


Alle tertawa bersama Pinjai sesekali Pinjai mencubit hidung Alle membuat dia memekik kesal.


Alex yang melihat ke harmonisan didalam rumah tangga mereka, kembali buat dia ingin segera menyelesaikan tugasnya serta bisa membina rumah tangga bersama Sasya.


Namun, sayang tawa mereka seketika menghilang karena Joko datang tergesa-gesa lalu mengatakan. "Man, aku minta tolong dong buatkan bubur sama teh ya. Aku mohon, siapa tahu Chika mau makan, soalnya tubuhnya lemes banget aku enggak tega lihatnya"


"Kenapa enggak di bawa ke rumah sakit aja sih, Kak!" sahut Pinjai, kesal.


"Dia enggak mau, Jai! Dia kekeh mau di rumah aja, dia enggak mau ke rumah sakit karena setiap mendengar kata rumah sakit pasti dia kembali muntah" jawab Joko sangat gelisah.


"Bagaimana kalau Kakak panggilkan dokter aja untuk datang ke sini, biar bisa mengecek kondisi Chika. Setidaknya kita bisa memanggil dokter pribadi bukan?" ucap Alex.


"Astaga! Kenapa aku enggak kepikiran ya, ya sudah aku akan hubungi dokter dulu ya.." Joko berbalik dan ketika ingin melangkahkan kakinya seseorang menghentikannya.


"Tunggu! Jangan panggil dokter terlebih dahulu, Kak. Sekarang Kakak temenin Kak Chika di kamar, aku buatkan bubur sama teh hangat dulu. Nanti akan aku berikan satu alat yang akan bisa menjawab Kak Chika itu sakit karena apa" ujar Manda membuat Joko berbalik menatapnya.


"Alat apa?" ucap ke-3 pria secara berbarengan.


Manda hanya bisa tersenyum lalu pergi begitu saja, Joko yang heran serta penasaran segera berbalik menatap Pijai dan Alex secara bergantian.


Namun mereka tidak tahu apa yang dimaksud oleh Manda, sehingga Joko hanya bisa mengikutinya kembali ke kamarnya.


Hampir 45 menit lamanya, Manda sudah selesai sama tugas yang di suruh oleh Joko. Kemudian dia berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil 1 alat yang akan dia bawa ke kamar Joko.


Pinjai yang melihat istrinya mengambil sesuatu pun akhirnya paham dan tersenyum menatapnya. Dengan perlahan mereka meninggalkan kamar karena saat ini Alle sedang tertidur pulas.


Alex baru saja keluar dari kamarnya berpapasan dengan Manda dan juga Pinjai, membuat mereka segera menuju kamar Joko. Dimana disela-sela mereka berjalan Pinjai malah berbisik bahwasanya akan ada kabar gembira yang sebentar lagi tiba.

__ADS_1


__ADS_2