
“Ya, benar Om. Daddy itu terlihat dari luar saja cuek, dingin, dan tidak peduli gitu. Tapi, sebenarnya di dalam hatinya dia benar-benar kesepian. Hooam... Aduh aku ngantuk Om, aku ke kamar dulu ya Om, bye...” saut Qisya yang langsung pergi ke kamarnya.
Pinjai pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, kemudian ia membereskan ruang tamu yang sedikit berantakan. Lalu, ia mencuci perabotan yang ada. Dan saat semuanya selesai ia langsung kembali ke kamarnya.
Bisma tertidur dengan keadaan kesal. Lalu, Qisya tertidur dengan keadaan tersenyum, dan Pinjai tertidur dengan keadaan yang sedikit terhibur berkat candaan serta celotehan Qisya.
...*...
...*...
5 bulan telah berlalu..
Saat ini Qisya sedang tinggal seorang diri bersama dengan beberapa penjaga yang selalu mengawasi Qisya kapan pun di luar penginapan. Bisma dan Pinjai yang setiap hari jarang sekali pulang, membuat Qisya merasa benar-benar seperti hidup seorang diri di negeri orang.
Pekerjaan Bisma yang memang sangat berbahaya ini membuat ia jarang pulang ke penginapan, karena takut jika sampai membuat Qisya cemas atas luka-luka yang ada pada tubuhnya akibat beberapa serangan dari musuhnya.
Bahkan, saat ini Bisma sedang menjalankan pengobatan di suatu rumah sakit tanpa sepengetahuan Qisya. Bisma yang pada saat itu sedang membereskan beberapa kasus penting membuat ia sedikit gagal fokus karena kepikiran dengan keadaan Qisya yang selalu ia tinggalkan seorang diri.
Sehingga membuatnya terkena tembakan di perut sebelah kiri yang sedikit parah. Jadi, atas saran dari dokter Bisma harus menjalani perawatan untuk menyembuhkan lukanya supaya cepat mengering dan bisa kembali beraktivitas.
Sedangkan Pinjai, tak henti-hentinya selalu menemani setiap langkah Bisma kemana pun ia pergi. Bahkan saat ini Pinjai selalu menjaga Bisma dari beberapa serangan yang kemungkinan akan kembali menyerang mereka secara tiba-tiba.
Atau pun bisa di bilang Pinjai harus memasang telinga serta mata yang tajam untuk berjaga-jaga supaya tidak ada penyusup yang berhasil masuk sehingga kembali melukai Bisma yang masih dengan keadaan lemas terbaring di bangkar rumah sakit.
“Tuan, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu kepada Nona Rose di rumah? Agar ia tidak terus berpikir negatif tentang Tuan yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada dirinya” tanya Pinjai yang sedang duduk di kursi samping bangkar Bisma.
“Tidak, perlu. Biarkan saja seperti ini, jika dia tahu tentang semua ini malah tambah bahaya. Bisa-bisa nanti dia lebih berpikir negatif tentangku, dan aku belum siap untuk menjelaskan apa pun tentang pekerjaan ini” jawab Bisma dengan suara lemasnya serta wajah yang masih sedikit pucat.
“Tapi, Tuan. 3 hari ini kita belum kasih kabar apa pun kepada Nona. Pasti, dia sangat cemas dengan keadaan kita. Bahkan, ponsel saya selalu berdering dengan notif nama Nona Rose. Saya ingin sekali mengangkat atau pun membalas isi pesan darinya. Namun, saya selalu ingat pesan Tuan untuk tidak memberitahu kepada Nona tentang kondisi Tuan saat ini” jelas Pinjai yang membuat Bisma terdiam.
“Ya, kau memang benar. Bahkan ponselku pun selalu berdering. Tapi, aku bingung harus bagaimana menjelaskan kepadanya supaya tidak membuatnya panik” saut Bisma sambil menengok dan menatap Pinjai.
“Hem... Bagaimana jika Tuan video call Nona Rose saja. Jika ia bertanya cukup Tuan jawab kalau Tuan hanya sedang kelelahan saat bekerja. Jadi, harus opname beberapa hari di rumah sakit untuk menstabilkan daya tahan tubuh. Pasti ia tidak akan curiga dari pada kita seperti ini, kasihan Nona di sana pasti merasa sedih atau merasa kita sudah tidak peduli dengan dia” usul Pinjai yang membuat Bisma berpikir.
Sedetik, dua detik hingga pada akhirnya Bisma menyuruh Pinjai untuk mengambilkan ponselnya. Lalu, tanpa basa-basi lagi Bisma langsung menghubungi Qisya.
Tut... Tut... Tut... Tut...
Kegugupan terlihat jelas di wajah Bisma, ia merasa sedikit tidak percaya diri atas usul dari Pinjai. Bahkan, rasa ketakutan pun terus menyelimuti perasaan Bisma. Ia belum siap jika Qisya sampai tahu soal pekerjaannya yang sangat berbahaya ini. Apa lagi, Bisma merasa sedikit nyaman dengan kehadiran Qisya.
Ya, meskipun ia harus membalaskan dendam kepada Ayahnya Qisya. Namun di dalam hati kecil Bisma, ia selalu berpikir jika Qisya sebenarnya tidak memiliki kesalahan apa-apa. Ia hanya sedikit berharap untuk memperalat Qisya agar bisa membalaskan semua dendam atas meninggalnya Kakak tirinya Bisma.
Hampir 2 kali Bisma mencoba menghubungi Qisya yang sama sekali tidak ada jawaban sama sekali. Sampai-sampai Bisma memiliki pikiran jika Qisya sedang marah kepadanya karena beberapa hari ini tidak memberinya kabar. Dan panggilan yang ke 3, tak lama terdengar suara serak Qisya seperti orang yang habis bangun tidur.
__ADS_1
“Halo, ini siapa sih. Siang-siang bolong kaya gini pakai telepon-telepon segala. Memangnya enggak bisa nanti saja gitu?” celetuk Qisya yang berbicara sambil masih memejamkan matanya.
Rasa ngantuk masih menyelimuti mata Qisya, sehingga ia mengangkat ponselnya tanpa melihatnya lebih dulu.
“Ha-halo... Ba-baby...” ucap Bisma dengan gugup.
Qisya yang mendengar suara tersebut langsung melototkan matanya, sampai-sampai membuatnya terlonjak kaget dan langsung duduk.
“Da-Daddy Bisma...” ucap Qisya di dalam hatinya sambil menatap layar ponselnya yang tertulis jelas dengan nama ‘Daddy Kulkas’.
Kemudian, Qisya kembali menempelkan ponselnya di telinganya sambil kembali berkata. “Yak... Daddy kemana saja, kenapa baru sekarang menghubungiku? Apa Daddy lupa kalau di rumah ada aku? Atau Daddy sudah tidak peduli dengan kehadiranku?” tanya Qisya dengan perasaan kesal sambil sedikit mengencangkan volume suaranya seakan-akan sedang meluapkan emosinya yang dari kemarin sudah menumpuk.
Bisma yang merasa sangat pengang di telinganya langsung sedikit menjauhkan ponselnya sebentar, lalu kembali menempelkan di telinganya.
“Ma-maaf...” ucap Bisma yang terpotong saat Qisya kembali mengocehinya.
“Maaf, maaf, maaf. Enak saja, memangnya dengan kata maaf langsung semua masalah selesai. Tidak, Dad! Daddy tahu tidak bagaimana cemasnya aku di sini saat ke pikiran dengan kalian yang sama sekali susah di hubungi, beberapa kali di teleponin di kirimkan pesan tetap tidak ada balasan sama sekali. Lalu, Daddy ini sebenarnya masih menganggap aku ada atau tidak sih..” celoteh Qisya dengan penuh kemarahan.
“Bu...” ucap Bisma yang lagi-lagi di potong oleh celotehannya Qisya.
“Dahlah, terserah Daddy saja. Aku tidak mau lagi menghubungi kalian, lagian juga aku ini bukan siapa-siapa kan. Jadi, kalian seenaknya meninggalkan aku seorang diri. Bagaimana kalau ada orang yang menculikku? Apa kalian tahu? Apa kalian akan menolongiku? Ya memang ada para body guard, tapi kalau mereka kalah bagaimana? Sedangkan kalian saja entahlah aku tidak tahu keberadaan kalian dimana. Mungkin lagi bersenang-senang tanpa aku” celetuk Qisya yang lagi-lagi mengeluarkan unek-uneknya yang beberapa hari ini ia pendam.
Bisma dan Pinjai hanya bisa terdiam saling tatap satu sama lain. Bahkan setiap Bisma ingin mencoba menjelaskannya pada Qisya, tapi beberapa kali pula ia memotongnya dan kembali meluapkan emosinya yang sangat mengganjal di dalam hatinya. Di saat Qisya sudah selesai meluapkan apa yang harus ia luapkan, kemudian Bisma kembali memulai obrolannya.
“Bagaimana? Apa sudah lega perasaannya? Atau masih ada yang mau di keluarkan lagi? Silakan... Aku tungguin sampai kamu benar-benar selesai memarahiku, baru nanti aku akan kembali menjelaskan semuanya.”
Bisma pun langsung mengalihkan sambungan teleponnya untuk berpindah menjadi sambungan video call.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan di alihkan menjadi video call, yang langsung membuat Qisya terkejut karena ia merasa sangat malu dengan keadaan wajah serta rambut yang sedikit berantakan akibat tidur siangnya.
“Astaga, ini kenapa Daddy malah video call sih. Aduh... Ini bagaimana ya? Apa aku harus dandan dulu agar terlihat sedikit rapi saat di lihat oleh Daddy? Eh, ta-tapi nanti Daddy kelamaan nunggunya bagaimana? Arghh... Kenapa aku jadi seperti ini sih, berapa kek teleponan sama kekasih saja. Dahlah bodo amat ” ucap Qisya di dalam hatinya sambil menatap layar ponselnya yang terdapat gambar kamera.
“Angkat, atau saya tidak akan menghubungimu selama 1 minggu ke depan!” ancam Bisma yang langsung membuat Qisya sedikit berteriak sambil mengangkat video call Bisma. “Yakk... Jangan...”
Dan saat sambungan suara sudah beralih ke sambungan video call, betapa terkejutnya Qisya saat melihat Bisma yang berbaring lemah di bangkar rumah sakit. Terlihat sangat jelas di mata Qisya tentang dekorasi kamar rumah sakit. Meskipun, kamar privat tapi masih tetap saja bernuansa rumah sakit.
“Daddy sakit? Daddy sakit apa? Kenapa Daddy enggak mengabari aku kalau Daddy sedang sakit? Jadi, ini jawaban kenapa Daddy tidak menghubungiku selama beberapa hari ini? Ya ampun, Dad. Maaf ya, kalau aku tadi sudah marah-marah sama Daddy. Tapi, Daddy enggak apa-apa kan? Atau ada yang parah sakitnya? Kalau kaya gini aku tidak bisa diam saja, aku harus menyusul Daddy ke rumah sakit. Kasihan Daddy sendirian di sana tidak ada yang jaga, paling juga Om Pinjai yang jaga tapi dia kan tidak bisa menghibur Daddy. Apa lagi, kalian berdua itu bagaikan kulkas dan es yang sama-sama dingin dan cuek. Pasti kalian pada diam-diaman kan, jadi tidak ada yang menghibur Daddy. Jadi, aku ke sana sekarang ya Dad?!”
Celoteh Qisya tanpa rem, yang membuat Bisma sedikit merasakan pusing akibat kecerewetan Qisya yang melebihi perkiraan Bisma.
“Daddy kok diam, Daddy pusing?” tanya Qisya saat melihat Bisma memegangi kepalanya yang sedikit cenat-cenut.
__ADS_1
“Om Pinjai, tolong panggilin dokter. Kasihan Daddy kayanya kesakitan. Om dengar kan aku ngomong?” teriak Qisya penuh kekhawatiran saat melihat Bisma sedikit meringis kesakitan.
Pinjai yang merasa cemas pun langsung berdiri sambil berkata “Tuan, apa saya harus panggilkan dokter sekarang?”
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Cuma pusing sedikit saja” saut Bisma.
“Daddy kok gitu sih, biarkan Om Pinjai panggilkan dokter. Dari pada Daddy nanti kenapa-kenapa bagaimana? Kalau amat-amit Daddy amnesia terus lupa sama aku bagaimana? Aku enggak mau sampai...” ucap Qisya terhenti saat Bisma mengeluarkan jurusnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Jangan bosan-bosan ya buat dukung Author Cubby ini... 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu tersenyum dan bahagia ya semuanya... 😁😁😁
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
Ehh... Tunggu sebentar semuanya ada yang mau lewat nihh... 😲😲😲
Kali ini Author mau rekomendasikan Novel Author yang baru... 😉😉😉
Jangan lupa jelajahi dan pastikan untuk meninggalkan jejak kalian 🥰🥰🥰
...*...
BLURB :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut ?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya ?
__ADS_1
Mari kita simak cerita selanjutnya disini !