Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Jangan Mengungkit Masa Lalu


__ADS_3

Pinjai pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Walaupun Alex tidak menyuruhnya pergi, Pinjai juga akan tetap pergi untuk memberikan ruang agar mereka bisa menikmati masa-masa yang langka seperti ini.


...*...


...*...


Tidak terasa jam semakin berjalan yang mana tepat di sore hari pukul 5, Ayah Brian sudah bersiap untuk kembali ke rumah bersama Bunda Hana. Sasya bergegas membantu Bunda Hana membereskan semuanya.


"Bun, nanti salamin ke mereka semua ya. Mungkin besok pagi Sasya akan pulang ke rumah, dan sorenya kembali lagi untuk menjaga Tuan Alex" Ujar Sasya yang sudah membereskan pakaian Bund Hana.


Ayh Brian yang baru saja kelur dari kamar mandi mendengar perkataan Sasya membuatnya langsung membantah semua itu.


"Tidak bisakah kau pulang bersama kami? Memangnya sepenting apa dia di dalam hidupmu, sehingga kau mengesampingkan keluargamu sendiri!" Ucap Ayah Brian dengan tegas sambil duduk di atas ranjang.


"Bukan begitu Ayah, tapi kan Ayah lihat sendiri bagaimana lukanya kembali terbuka lantaran terkena tonjokan dari Lukas. Jadi Sasya sebagai Kakaknya tidak enaklah, membiarkan dia sendirian. Coba jika Lukas tidak bertindak senekat itu, kemungkinan Sasya sudah menghabiskan waktu dengan kalian" Jawab Sasya dengan sedikit gugup.


"Jangan salahkan Lukas, tapi salahkan DIA! Kenapa dia senekat itu datang ke sini, apa kau lupa jika-..." Ucapan Brian terhenti saat Sasya langsung menyerobot.


"Stop, Ayah stop! Bisa tidak Ayah jangan pernah mengungkit masa lalu lagi, Sasya sudah berusaha susah payah melewati semua masa sulit itu dengan berbagai cara. Tapi apa?"


"Di saat Sasya sudah sembuh Ayah malah kembali membuat Sasya mengingat semua kejadian itu. Apa Ayah pernah berpikir, bahwa seorang penjahat saja bisa masuk ke dalam surganya Allah hanya karena di detik-detik terakhirnya dia telah bertaubat dengan sungguh-sungguh"


"Sedangkan orang yang mengaku beriman saja malah masuk ke dalam nerakanya, hanya karena dia selalu menyombongkan dirinya kalau dia sangat rajin beribadah dan sebagainya. Apa Ayah lupa tentang itu?"

__ADS_1


"Ingat baik-baik Ayah, seseorang yang memiliki masa lalu buruk, belum tentu masa depannya juga akan buruk!"


"Sasya sangat yakin Tuan Alex sudah berubah. Hanya saja dia masih membutuhkan proses yang tidak instan untuk menjadi yang yang jauh lebih baik lagi kedepannya. Jadi, stop menghakimi jika Tuan Alex tidak akan pernah bisa berubah"


Sasya berbicara sambil berdiri tepat di depan Ayah Brian dengan air mata yang terus menetes sambil menatapnya, bahkan terlihat dari raut wajah Sasya kalau Sasya sangat tidak suka jika siapa pun mengecap Alex tidak akan bisa berubah menjadi orang baik.


Ayah Brian terdiam mendengar celotehan putri kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, bahkan Ayah Brian merasakan jika Sasya sudah mulai jatuh hati kepada Alex yang mana membuat Sasya bisa selantang ini berbicara kepada Ayahnya sendiri.


Baru kali ini Ayah Brian mendengar suara Sasya sedikit meninggi saat berbicara dengan orang yang lebih tua, namun Ayah Brian juga sadar jika dirinya memang sudah keterlaluan kepada putrinya itu.


Tanpa basa-basi lagi, Ayah Brian langsung memeluk Sasya dengan begitu erat sambil mengusap kepalanya sehingga membuat tangisan Sasya pecah di dalam pelukan sang Ayah.


Bunda Hana yang melihatnya pun meneteskan air mata sambil mengusap punggung Sasya. Bunda Hana tersenyum lebar melihat putri kecilnya kini sudah sangatlah dewasa. Jadi, Bunda Hana berpikir bahwa Sasya sudah bisa memilih jalannya sendiri tanpa harus di paksakan.


"Sudahlah Mas, biarkan Sasya memilih jalannya. Kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan nasihat serta dukungan saja. Namun, jika memang Tuan Alex bisa berubah seperti apa yang Sasya katakan itu bukannya bagus. Berarti dia memang telah menyadari kesalahan di masa lalunya"


"Belum lagi kita kan memang tidak tahu bagaimana kehidupan dia yang sekarang, jadi kita bisa mencari tahu lebih dulu jangan langsung memfitnah atau menuduhnya seperti itu. Kasihan Sasya.."


Bunda Suci berbicara dengan nada lembutnya yang mana membuat Sasya melepaskan pelukannya, hingga kembali memeluk Bunda Hana dengan sangat erat.


"Maaf jika Ayah sudah kembali mengingatkanmu akan masa lalu yang pahit itu, Ayah janji tidak akan lagi mengungkitnya. Tapi, Ayah mohon sama kamu untuk menjauh dari pria itu. Ayah tidak mau kita ada urusan dengannya, pahamkan maksud Ayah!"


Ayah Brian berbicara dengan sangat tegas yang mana malah langsung di berikan kode tangan oleh Bunda Hana untuk tidak lagi melanjutkan ucapannya, lantaran kondisi Sasya yang masih tidak bisa di kontrol.

__ADS_1


Sasya menangis sesegukan di dalam pelukan Bunda Hana yang membuat Bunda Hana berusaha untuk membuat Sasya menyudahi tangisannya sambil mengusap wajahnya.


"Sssttt.. Sayang, sudah dong jangan nangis kasihan matanya loh nanti bengkak. Udah cantik-cantik matanya bengkak, nanti yang ada di sangka habis di cium tawon lagi hihi..." Goda Suci yang membuat Sasya menduselkan kepalanya sambil merengek


"Issshhh.. Bunda mah, orang nangis bukannya di manja malah di jelekin. Lagian mana ada tawon nyium Sasya dikata Sasya pacarnya kali" Celetuk Sasya yang membuat Bunda Hana dan Ayah Brian tersenyum.


"Bukan pacarnya, melainkan tempat para tawon bersarang heheh.. apa lagi putri Ayah ini sangat manis jika lagi tersenyum, bahkan gula pun kalah manisnya loh ya kan, Bun?" Goda Ayah Brian yang mana malah mendapat anggukan dari Bunda Hana.


"Yaaaakk.. stop menggoda anakmu ini Ayah, lebih baik Ayah menggoda Bunda aja biar bisa berikan Sasya adik kembar lagi. Apa lagi kan kalian masih muda, ayolah berikan Sasya adik lagi kalau perlu kembar 3 boleh kok hahaha.."


Sasya melepaskan pelukan Bunda Hana dan langsung meledeki mereka hingga membuat wajah Bunda Hana yang malah ngeblush, sedangkan Ayah Brian menatapnya dengan instens.


"Hemm.. benar juga apa yang dikatakan oleh Sasya. Jadi enggak usah nunggu lama-lama lagi, ayo sayang kita pulang. Lalu kita buatkan Sasya adik yang banyak" Goda Ayah Brian dengan kedipan matanya yang mana malah mendapat pukulan kecil di pahanya.


"Yaaaakkkk.. ke-kenapa malah Bunda yang kena sih, kan kita mau godain Sasya lah ini malah Bunda menjadi sasarannya. Dasar anak sama Ayah, sama-sama menyebalkan!" Pekik Bunda Hana dengan wajah memerah.


Sasya dan Ayah Brian langsung bertos ria saat misinya telah berhasil menggoda Bunda Hana lantaran wajah Bunda Hana lebih lucu ketimbang Sasy ketika sedang merajuk. Sehingga membuat mereka sangat senang menggodanya.


Sampai seketika pintu terbuka bersamaan dengan masuknya seorang supir untuk menjemput kepulangan Ayah Brian dan juga Bunda Suci agar bisa kembali ke rumah dengan selamat.


Tak lupa Sasya pun mengantarkan mereka sampai di parkiran, sehingga mereka saling berpelukan satu sama lain sampai seketika Bunda Hana dan juga Ayah Brian sedikit menasehati Sasya agar menjaga dirinya serta kembali ke rumah besok pagi.


Sasya hanya mengangguk dengan senyuman dan melambaikan tangan saat kedua orang tuanya memasuki mobil.

__ADS_1


Di saat mobil sudah mulai menjauh serta tidak lagi terlihat oleh mata Sasya, kini Sasya langsung berbalik dan berjalan kembali memasuki rumah sakit dalam keadaan tersenyum.


__ADS_2