Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Mual dan Pusing


__ADS_3

Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Hana keluar kamar mandi dan mengambil baju ganti untuk Brian, kemudian kembali ke kamar mandi dan langsung membantu Brian untuk mengganti semua pakaiannya.


Tidak ada kata malu saat keadaan mendesak seperti ini, Hana hanya fokus untuk segera membawa Brian agar secepatnya bisa istirahat di atas kasur.


Sedangkan Qisya fokus menonton televisi di atas kasur dengan sangat serius. Perlahan demi perlahan Hana membopong Brian yang keadaannya sangat lemas ke arah kasur.


“Ayah enapa Bunda?” tanya Qisya dengan wajah cemasnya.


“Ayah lagi sakit sayang, Qisya jagain Ayah dulu ya. Bunda mau buatkan teh manis dulu buat Ayah” ucap Hana sambil membaringkan Brian dengan perlahan.


“Oteh Bunda, Isa again Ayah” jawab Qisya.


Kemudian Hana berjalan lebih cepat keluar kamar dengan keadaan cemas.


“Ayah cakit apa?” tanya Qisya sambil menatap wajah Brian yang sangat pucat.


“A-ayah gapapa sayang” ucap Brian dengan suara lemasnya.


“Ayah angan cakit-cakit ya, Isa cedih tahu” jawab Qisya dengan wajah sedihnya.


“Hehe.., sudah jangan sedih kasihan wajah cantik anak Ayah nanti jadi jelek loh” ucap Brian sambil tersenyum dengan wajah lesunya.


“Yakk... Ayah, ish... dacal menebalkan” ucap Qisya sambil cemberut dan melipat kedua tangannya di dada.


“Menyebalkan sayang, bukan menebalkan. Memangnya Isa mau menebalkan apa? Gambar? Atau menebalkan cemberutnya biar tambah jelek, hum...” goda Brian sambil mencoba untuk duduk dan bersandar di sandaran kasur.


Tak lama Hana datang dengan membawakan teh hangat untuk Brian serta susu untuk Qisya.


“Bunda, Ayah tuh lece banget” rengek Qisya sambil memasang muka sedihnya.


“Sudahlah Mas, kamu lagi sakit saja masih bisa menggoda Qisya. Ini minum dulu tehnya” ucap Hana sambil mengasih teh kepada Brian.


“Ini Bunda bawakan susu banana kesukaan Qisya” saut Hana sambil memberikan susu kepada Qisya.


“Wah.., acikk cucu banana yey” sorak Qisya sambil mengangkat susu banana nya dengan bahagian.


Brian yang melihat tangan kecil Qisya sedang memegang susu, kemudian ia langsung menaruh tehnya di atas meja kecil dan merebut susu di tangan Qisya. Lalu, dengan cepat langsung meminumnya sampai tidak tersisa setetes pun.


“Yakk.. Ayah, huaa... hiks... Bunda, Ayah nakal” rengek Qisya dengan tangisannya.


“Ya ampun, Mas Brian. Itu kan susu Qisya, kenapa kamu rebut sih” ucap Hana dengan sangat kesal sambil memeluk dan mencoba membuat Qisya tenang.


“Orang aku pengen gimana? Memangnya tidak boleh? Ini tukar sama teh saja” ucap Brian sambil memberikan tehnya.


“Huaa.. ndak mau Bunda, Isa mau cucu mau cucu mau cucu hiks..” Qisya menangis begitu parah dan membuat Hana merasa sedikit pusing.


Saat ini keadaan Brian sudah mulai stabil, bahkan rasa mualnya pun sudah hilang entah kemana. Dan rasa lemas Brian pun sudah kembali pulih, tetapi mukanya masih sedikit pucat.


“Stt... sayang tenang ya, Bunda ambilin lagi mau?” tanya Hana sambil mengelap air mata Qisya.


“Mau” jawab Qisya sambil menyudahi tangisnya.


“Huaa.. hiks.., aku juga mau cucu” rengek Brian.

__ADS_1


Hana dan Qisya yang melihat Brian seketika saling pandang memandang dengan wajah bingungnya.


“Ayah cengeng” ucap Qisya.


“Hiks.., sayang aku dibilang cengeng huaa..” ucap Brian sambil memeluk Hana.


Hana yang merasa terkejut seketika diam mematung “Sa-sayang?” gumam Hana namun masih bisa didengar oleh Brian.


“Huaa.. Mamah, Hana enggak mau di panggil sayang hiks..” Brian menangis dengan sangat kencang dan membuat Hana dan Qisya menutup kupingnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


“Stop!! Kalau kamu masih nangis lagi, tidur sana di luar” ucap Hana dengan sangat tegas.


Brian yang mendengar Hana seketika terdiam lalu, menundukkan kepalanya sambil terisak.


“Mau nangis lagi atau diam?” ucap Hana.


“Di-diam” jawab Brian dengan menunduk.


“Bunda, Isa antuk mau bobo di kamal aja deh. Di cini belisik ada dedek bayi” ucap Qisya sambil menatap ayahnya.


“Apa lihat-lihat? Mau di colok matanya?” tanya Brian kepada Qisya.


“Berani kamu colok mata anakku, maka aku akan colok matamu lebih dulu!” ucap Hana dengan tegas.


“Ma-maaf” ucap Brian menundukkan kepalanya kembali.


“Bhaha.. kacian deh Ayah atut cama Bunda wlee” ledek Qisya sambil menjulurkan lidahnya dan kabur keluar kamar menuju kamarnya sendiri.


“Yak.. siapa bilang aku takut sama dia? Aku tidak akan takut sama siapa pun ya!” jawab Brian dengan kesal.


Degh ! ...


Degh ! ...


“Ke-kenapa Hana sangat menyeramkan? Lalu, ada apa dengan diriku yang sangat takut padanya. Astaga!! Sepertinya ada yang salah dari diriku ” ucap Brian di dalam hatinya.


“Jadi aku ini menyeramkan? Oke baiklah. Mulai malam ini aku tidur di kamar Qisya bye...” ucap Hana sambil pergi meninggalkan Brian.


“Yakk.. tidak mau, kamu harus tidur sama aku” Brian berlari sambil memeluk Hana dari belakang.


Entah kenapa kali ini sikap mereka malah menjadi terbalik. Hana yang tadinya lembut kini menjadi sangat keras, dan begitu pula dengan Brian yang tadinya keras malah menjadi sangat lembut.


“Sttt...” Brian merintis kesakitan sambil memegang kepalanya.


Hana yang mendengar rintihan Brian langsung membalikkan badannya sambil berkata “Mas tidak apa-apa? Ayo kita kembali ke kasur. Mas masih belum sehat”


Hana membantu Brian berjalan ke arah kasur. Kemudian Brian berbaring sambil memegangi kepalanya.


Hana yang begitu cemas langsung memeriksa kening Brian berulang-ulang kali hingga ke lehernya.


“Tidak panas kok, tapi kenapa Mas Brian mual dan pusing?” tanya Hana pada dirinya sendiri.


“Sudah sini tiduran, aku ingin sekali mengelus perutmu” ucap Brian.

__ADS_1


“Hah? Ta-tapi Mas...” ucap Hana dengan terbata-bata.


“Jadi tidak mau nih?” ucap Brian dengan mata berkaca-kaca.


Dengan sigap Hana langsung naik ke atas kasur karena ia tidak mau sampai kembali pusing jika harus mendengar tangisan Brian yang seperti anak kecil bahkan mengalahi tangisannya Qisya.


“Yayaya, ini sudah nih” ucap Hana dengan pasrah.


“Hehe.. makasih sayang” ucap Brian sambil mencium bibir Hana sekilas lalu mengusap perut Hana begitu lembut.


Hana yang merasakan usapan tangan Brian seperti sedang menumpahkan semua kasih sayangnya membuat ia merasa sangat nyaman.


“Ya Allah... kenapa rasanya nyaman sekali. Meski pun hanya dengan usapan tangan Mas Brian, tapi kenapa rasanya benar-benar bahagia ya ” ucap Hana di dalam hatinya.


Dan tak lama mereka berdua pun tertidur dengan sangat pulas.


Keesokan harinya sekitar jam 04.00 pagi Brian bangun lebih dulu dan berlari ke arah kamar mandi.


Hana yang mendengar suara Brian muntah-muntah membuat ia langsung terbangun dan berjalan ke arah kamar mandi.


“Huek... huek...” Brian memuntahkan cairan hijau yang membuat dirinya semakin lemas.


“Astaghfirullah, Mas Brian. Sudah ya jangan di muntahkan terus kasihan badan Mas sudah pucat banget loh” ucap Hana sambil membantu membersihkan mulut Brian.


“Peluk...” ucap Brian dengan suara lirihnya kemudian langsung memeluk Hana.


Hana membalas pelukan Brian sambil menumpahkan semua kekuatannya agar menyemangati Brian.


Kemudian Hana membantu Brian berjalan ke arah kasurnya dengan perlahan membaringkan tubuh Brian yang sangat lemas.


“Hana bikinin bubur sama teh hangat ya buat Mas” ucap Hana.


“Enggak mau, aku mau makan sayur asem, sambal, ikan asin sama tempe mendoan” jawab Brian dengan suara lemasnya.


“Hah? Mas tidak salah? Mas lagi sakit loh, tidak boleh makan itu dulu. Hana bikinkan bubur saja ya... Itu lebih enak loh nanti Hana suirin ayam yang banyak deh” rayu Hana.


“Hiks.. tidak mau, pokonya mau makan itu huaaa...” rengek Brian sambil menangis.


“Aduh Mas Brian, sudah dong jangan nangis. Hana pusing dengernya bentar-bentar nangis mulu. Yayaya, Hana bikinin. Tapi Mas harus diam dulu jangan nangis lagi” ucap Hana.


“Hehe.. oteh ciap ibu negala” ucap Brian seperti Qisya.


Hana yang melihat Brian bertingkah seperti anak kecil malah membuat ia menggelengkan kepalanya. Hana merasa seperti mempunyai 2 orang anak kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Jaga diri kalian dan tetap semangat untuk kalian semua... 💪🏻💪🏻💪🏻


Tersenyumlah karena senyum adalah ibadah hehehe... 😊😊😊


Sampai jumpa lagi dan jangan lupa kangenin Author yaa... 😆😆😆

__ADS_1


Papay~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2