Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Tidak Mau Menatap Wajahku


__ADS_3

“Berikan ruangan yang sangat privasi untuknya, Dok. Biar asisten saya yang mengurus semua biaya administrasinya” saut Bisma dengan dingin.


“Baiklah, tunggu sebentar ya Tuan. Kami akan mempersiapkannya lebih dulu, jika nanti Nona sudah di pindahkan baru Tuan-Tuan bisa menjenguknya serta bisa menjaganya satu sama lain” ucap sang dokter dengan tersenyum dan kemudian ia permisi untuk kembali masuk ke dalam ruangan supaya bisa segera memindahkan Qisya.


...*...


...*...


Di ruangan VVIP 001


Qisya yang sudah selesai di pindahkan oleh sang dokter, membuat Bisma merasa sangat sedih saat melihat wajah Qisya yang biasanya tersenyum segar kini terlihat sangat pucat serta wajah yang begitu sayu.


Tak terasa Bisma meneteskan air matanya sambil mengusap kepala Qisya serta mencium keningnya, membuat Pinjai tersontak kaget melihat perlakuan Tuannya yang begitu kejam kini terlihat seperti seorang laki-laki yang sangat menyayangi kekasihnya.


Namun, dibalik itu semua Pinjai merasa sangat bahagia. Berkat kehadirannya Qisya, membuat Bisma sedikit demi sedikit berubah menjadi orang yang bisa tersenyum, bahkan terlihat sangat takut jika kehilangan sosok Qisya. Padahal Bisma terkenal dengan laki-laki terkejam yang tidak memiliki belas kasihan terhadap siapa pun. Bahkan ia juga tidak memiliki rasa takut sedikit pun.


Namun, dengan kejadian ini Pinjai bisa melihat sisi lain dari sosok Bisma. Hari mulai berganti malam, membuat Bisma dan Pinjai sedikit kelelahan hingga keduanya ikut tertidur dengan keadaan Bisma yang tertidur dalam keadaan duduk di samping bangkar Qisya dan melipat kedua tangannya. Sedangkan Pinjai tertidur dalam keadaan posisi duduk di sofa sambil bersandar dan melipat kedua tangannya.


...*...


...*...


Di pagi hari yang cerah


Qisya lebih dulu terbangun saat cahaya matahari sedikit menyorot matanya, dan dengan perlahan ia membuka matanya. Namun, hal pertama kali yang ia lihat di pagi hari adalah sosok Bisma yang telah mengecewakannya.


Qisya terdiam dengan keadaan air mata yang kembali runtuh, tanpa perasaan benci. Qisya mengangkat tangan kanannya untuk mengusap kepada Bisma dengan lembut.


“Daddy kenapa bohongin Qisya selama ini, apa maksud dan tujuan Daddy memisahkan Qisya dengan keluarga Qisya sendiri. Lalu, balas dendam apakah yang akan Daddy lakukan untuk Ayah dan Bunda? Dan siapakah Daddy sebenarnya? Qisya bingung, Dad. Qisya tidak tahu haruskan Qisya membenci Daddy ataukah Qisya harus memaafkan Daddy. Please... Dad, jelaskan kepada Qisya arti semua itu hiks...” ucap Qisya di dalam hatinya dengan keadaan terisak.

__ADS_1


Bisma yang merasa mendengar suara orang sedang menangis pun kemudian terbangun sambil mengucek matanya. Lalu, Qisya yang merasa Bisma sudah mulai bangun juga menghapus air matanya dan kembali memejamkan kedua matanya untuk berpura-pura tertidur.


“Sepertinya, tadi akh mendengar suara isak tangis seseorang deh. Siapa yang menangis di pagi hari kaya gini?” ucap Bisma dengan suara khas bangun tidurnya.


Bisma menatap sekeliling kamar dan tak ada yang menangis. Pinjai masih setia dengan tidurnya, lalu saat Bisma melihat ke arah Qisya, ia menatapnya cukup lama dan membuat Bisma paham kalau sumber suara tersebut berasal dari Qisya. Karena Bisma bisa melihat sisa air mata yang berada disudut mata Qisya serta hidung yang memerah akibat menangis dan badan yang sedikit bergetar saat ia menahan tangisannya agar tidak membuat Bisma curiga.


Kemudian tangan Bisma terangkat untuk mengusap kepala Qisya sambil berkata... “Kalau baru bangun jangan langsung mewek, kasihan mataharinya yang sudah berusaha menyinari dunia. Bagaimana jadinya saat ia tahu jika ada seseorang yang lagi mengharapkan mendung, matahari itu pasti akan merasa sedih kalau cahayanya ini tidak dihargai”


Entah dapat dari mana kata-kata Bisma saat ini membuat Qisya langsung membuka matanya.


“Om dapat dari mana kata-kata kaya gitu? Om nyontek ya dari Mbah Google atau dari Eyang Browser?” celetuk Qisya yang membuat Bisma tersenyum.


“Tidak, kata-kata itu murni 100% dari pikiranku kok. Lagian, kamu kenapa kemarin sangat takut melihatku hem...” tanya Bisma dengan sangat lembut yang membuat Qisya terdiam.


“Ya sudah, kita bahasnya saat kamu sudah sembuh saja ya. Nanti apa pun yang kamu tanyakan akan aku jawab semuanya sebisaku. Jadi, sekarang fokus sama kesehatan kamu dulu ya” saut Bisma sambil mengusap pipi Qisya yang langsung di tangkisnya.


“Maaf Om, kita bukan muhrim. Jadi, tolong jangan sentuh Qisya lagi” ucap Qisya dengan nada yang sangat dingin sambil berbalik miring membelakangi Bisma.


“Ya sudah, aku pergi keluar sebentar ya. Nanti aku balik lagi, lagi pula kan kamu tidak mau menatap wajahku. Jadi, lebih baik aku mencari sedikit udara segar di luar” ucap Bisma yang langsung berjalan keluar ruangan Qisya dengan meninggalkan Qisya dan Pinjai.


Qisya yang merasa Bisma sudah pergi pun langsung membalikkan posisinya seperti semula yaitu terlentang. Di situ Qisya kembali meneteskan air matanya karena ia benar-benar tidak tahu harus seperti apa menyikapi semua ini. Di usianya yang terbilang sangat muda ini, membuatnya begitu labil dalam menyikapi semua permasalahan yang ada.


Di satu sisi Qisya merasa nyaman dengan Bisma dan Pinjai. Namun di sisi lainnya, ia sangat kecewa dengan mereka yang sedang merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Qisya sendiri. Qisya kembali berbalik menghadap ke sebuah jendela sambil menangis, dan tak lama ia kembali tertidur dengan keadaan matanya sembab.


Lalu, Pinjai? Tak lama dari Qisya tertidur, ia pun bangun dan terkejut saat tidak melihat sosok Bisma di samping Qisya. Pinjai kira Bisma sedang membeli makanan atau sedang mencari kopi untuk dirinya, jadi Pinjai pun segera keluar dari ruangan untuk mencari keberadaan Bisma.


...*...


...*...

__ADS_1


3 hari telah berlalu...


Kini, kondisi Qisya sudah semakin membaik dan di perbolehkan untuk pulang. Selama 3 hari ini pula Qisya terus mendiami Bisma tanpa berbicara sedikit pun. Bisma tahu jika Qisya memang terlihat sangat kecewa padanya, namun entah kenapa Bisma merasa seperti takut akan kehilangan Qisya.


Namun Bisma kembali teringat dengan balas dendamnya, jadi Bisma berusaha sebisa mungkin untuk membuang perasaan itu semua. Kemudian Bisma mencoba untuk fokus memikirkan apa yang harus ia jelaskan kepada Qisya jika ia kembali bertanya apa maksud dan tujuan Bisma balas dendam kepada keluarganya.


Sesampainya di penginapan Bisma, Qisya pun tetap terdiam tanpa mengucapkan satu kata pun, ia terlihat sangat datar menyikapi semua sikap Bisma yang masih berusaha baik kepadanya. Namun di saat ia sudah duduk di sofa, Bisma yang sudah jenuh dengan sikap diamnya Qisya membuat ia sedikit emosi.


“Apa kau tidak lelah gadis kecil? 3 hari lebih kau terus menerus mendiamiku seperti ini, bahkan kau terlihat seperti patung yang hidup. Kau tahu, tidak! Aku sydah berusaha sabar untuk menghadapi sikapmu yang seperti anak kecil ini. Tapi, cukup sudah! Kesabaranku sudah habis”


“Lalu, sekarang apa yang kau inginkan? Jawab! Punya mulutkan? Gunakan sebaik mungkin, atau aku akan membuatmu bisu untuk selamanya. Paham!”


Braaakk !...


Bisma memukul meja dengan sangat keras, hingga terlihat urat-uratnya yang mulai bermunculan. Bahkan rahangnya pun sudah mengeras serta matanya memerah menahan emosi sambil menatap tajam ke arah Qisya.


“Lelah? Memangnya apa yang sudah di perbuat oleh anak kecil sepertiku ini? Hah...! Aku tidak melakukan apa pun kepada dirimu, TUAN BISMA. Aku hanya diam dan itu membuat Tuan lelah? Bhahaha... Sungguh kasihan” ucap Qisya yang matanya sudah mulai memerah menahan emosinya sambil tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊


Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇


Maaf tapi untuk beberapa hari ini jadwal Author sedang sibuk 😔😔😔


Jadi Author hanya bisa up 1 bab saja untuk hari ini guys... 😓😓😓


Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2