
"Lalu, bagaimana rencana kita terhadap mereka semua? Aku tidak mau sampai rencana yang sudah aku tunggu-tunggu bertahun-tahun gagal begitu saja. Kau tahu, bukan Pinjai. Aku memiliki dendam yang sangat dalam kepada keluarga mereka. Jadi, lakukan semuanya sebaik mungkin. Paham!!” jelas Tuan Bisma dengan wajah datarnya.
“Tapi, Tuan. Sebelumnya saya ingin menjelaskan sesuatu pada anda lebih dulu” jawab Pinjai dengan nada seriusnya yang membuat Tuan Bisma menoleh ke arahnya sambil membuka kaca mata hitamnya.
“Ada apa?” tanya Tuan Bisma dengan mata elangnya.
“Maaf, Tuan. Jika kita ingin mengambil anaknya yang masih di bawah umur itu untuk kita jadikan alat yang akan menghancurkan keluarganya sendiri maka itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kita membesarkannya, dan pasti akan ada proses yang sangat panjang” ucap Pinjai dengan keseriusan.
“Lalu? Apa maksudmu menasihatiku seperti ini? Siapa kamu? Dan apa tugasmu di sini? Kenapa kamu berani sekali berbicara seperti itu pada Bosmu sendiri!!” ucap Tuan Bisma dengan suara baritonnya yang sangat menakutkan.
“Ma-maafkan saya Tuan. Sa-saya hanya ingin mengungkapkan pendapat yang saya miliki dalam pikiran saya" jawab Pinjai dengan suara gugupnya sambil menundukkan kepalanya.
“Pendapat apa yang ingin kamu ucapkan padaku, cepat!! Aku tidak banyak waktu lagi” ucap Tuan Bisma sambil kembali memakai kaca matanya dan menatap jendela disampingnya.
“Be-begni, Tu-tuan Bi-bisma...” ucap Pinjai terhenti saat Tuan Bisma kembali mengeluarkan suara baritonnya.
“Kau laki-laki, bukan? Jika iya, maka kau harus bicara secara lantang! Aku tidak suka laki-laki yang bicara gagu seperti seorang wanita, paham kamu!!” bentak Tuan Bisma yang menatap lurus ke arah depan.
“Ayo, Pinjai kamu bisa. Tarik nafas, buang huft... Tarik nafas, buang huftt...” Pinjai berbicara di dalam hatinya sambil menetralkan nafasnya.
“Jadi begini, Tuan Bisma. Saya rasa gadis yang cantik dengan usia yang jauh lebih dewasa dari adik-adiknya itu bisa kita jadikan tawanan. Bahkan, Tuan bisa memperalat dia untuk menuruti semua yang Tuan inginkan. Dan yang paling penting Tuan bisa memanas-manasinya soal Ibu kandungnya yang meninggal saat melahirkan dia, namun semua karena sang Ayah angkat yang telat membawa Ibunya ke rumah sakit. Maka, dari situlah Tuan tidak perlu menculiknya. Kita hanya bisa bermain cantik dengannya, aku rasa anak itu terlalu polos untuk di manfaatkan Tuan”
Pinjai menjelaskan semua rencananya yang keluar dari jalur rencana Tuannya sendiri, entah mengapa Tuan Bisma terdiam sejenak untuk memikirkan kembali semuanya yang awalnya ingin menculik salah satu dari mereka.
“Lalu, rencana cantik apa yang telah kamu rancang untuk aku mendekati gadis kecil itu? Apa dia mau berdekatan denganku yang sudah seperti Ayahnya sendiri. Umur kita berbeda sangat jauh Pinjai. Aku dengan usia 21 tahun dan gadis itu masih berusia 11 tahun, bagaimana mungkin kita bisa memanfaatkan anak yang sudah mengerti semuanya?” tanya Tuan Bisma dengan wajah bingungnya.
“Tuan tenang saja, aku sudah merencanakan semuanya dengan baik. Dan saya pastikan ini tidak akan bisa dicurigai oleh keluarganya nanti, dengan begitu kita bisa masuk dalam keluarganya dengan mudah. Jika kita menculiknya belum tentu rencana utama kita untuk menghancurkan mereka akan berhasil Tuan. Tapi, jika kita berlaku sebagai orang baik yang mendekati keluarga mereka maka kita akan sangat mudah mencari informasi tentang keluarga itu” ucap Pinjai dengan panjang lebar.
“Kau benar, Pinjai. Baiklah, aku akan coba ikuti semua rencanamu. Aku percayakan semuanya padamu. Dan ingat! Pastikan semua ini akan berakhir kehancuran bagi keluarga mereka, paham!!” saut Tuan Bisma.
“Paham, Tuan” Jawab Pinjai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan mereka pun akhirnya pergi ke sebuah penginapan yang sama dengan keluarga tersebut.
__ADS_1
Bisma Alexander adalah seorang pria tampan nan gagah serta sangat berwibawa dengan usia 21 tahun.
Bisma merupakan ketua dari mafia yang sangat tertutup. Ia juga merupakan pembisnis hebat yang telah bergabung dalam perusahaan Brian.
Bisma hidup sebatang kara di Jakarta karena awalnya ia ingin mencari tahu tentang keluarga pamannya yang tak kunjung kembali.
Entah kenapa, berhari-hari Bisma mencari tahu tentang kabar keluarga Pamannya itu dan pada akhirnya ia menemukan titik terang. Namun, sayangnya ia malah mendapatkan kabar buruk tentang keluarga sang Paman.
Dari situlah Bisma menetap untuk tinggal dan mencari tahu semua sebab akibat yang terjadi pada keluarga Pamannya tersebut.
Pinjai adalah seorang pria tampan dan gagah yang saat ini menjadi asisten pribadi Bisma dengan usia 23 tahun. Pinjai Sanjaya sudah bekerja lama dengan Bisma dan telah mengetahu semuanya mengenai kehidupan Bisma.
Sampai akhirnya Pinjai menjadi salah satu orang kepercayaan Bisma dalam hal apa pun. Pinjai dan Bisma memiliki sifat yang hampir sama yaitu sadis, kejam, bahkan tidak pernah ada kata ampun sekalipun.
Namun, Pinjai juga masih memiliki hati yang baik dan juga masih memiliki rasa iba atau kasihan sedikit terhadap seseorang yang menjadi santapan Tuannya saat marah.
...*...
...*...
Saat Bisma dan Pinjai sudah sampai dan ingin memasuki penginapan tersebut. Tiba-tiba saja ia menabrak sesuatu.
Kedebuk !...
Arghhhh !...
Seseorang terjatuh karena terbentur oleh badan Bisma yang sangat kekar.
“Aduuuh...” keluh anak perempuan tersebut saat bokongnya terjatuh dengan keadaan posisi duduk.
Lalu anak perempuan tersebut mengelus bokongnya dengan pelan sambil mengeluh kesakitan.
“Maaf, Nona. Apa anda baik-baik saja” ucap Pinjai saat berjongkok di hadapan Qisya.
__ADS_1
“Ti-tidak apa-apa, Om. Qisya baik-baik saja kok, hanya saja sedikit sakit” ucap Qisya sambil membereskan bungkusan belanjaannya yang sedikit berantakan dilantai.
“Dia bukannya anak si pengecut itu ?!” Bisma berbicara di dalam hatinya sambil melihat Qisya menggunakan kaca mata hitamnya.
“Mari saja bantu, Nona” ucap Pinjai saat ingin membantu Qisya untuk berdiri.
“Maaf, Om. Kita bukan muhrim, jadi Qisya bisa bangun sendiri kok. Sebelumnya Qisya ucapkan terima kasih sudah di bantuin. Dan untuk Om jangkung... Jika sedang berjalan tolong perhatikan langkahnya jangan malah memainkan telepon genggamnya” ucap Qisya sambil merapikan pakaian gamisnya.
Bisma pun memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana sebelah kanannya dan lalu membuka kaca matanya.
“Apa ada masalah, Nona kecil?” ucap Bisma dengan nada songongnya.
“Tidak!” ucap Qisya dengan nada cueknya.
“Sekali lagi terima kasih Om baik, Qisya pamit dulu. Assalamualaikum...” saut Qisya kepada Pinjai dan langsung pergi meninggalkan mereka.
“Cih!... Berani sekali anak kecil itu mengajariku tentang berjalan!” ucap Bisma saat menatap kepergian Qisya dengan kekesalannya.
“Sabar, Tuan. Kita harus bisa menarik perhatian anak itu. Jika Tuan bersedia maka mulai saat ini cobalah untuk Tuan bersikap baik kepada dia. Mungkin, dengan cara begitu dia bisa luluh dan masuk ke dalam perangkap kita” ucap Pinjai.
“Apa??? Bersikap baik padanya? Mana mungkin aku bisa bersikap baik kepada keluarga peng*ecut seperti mereka. Kamu tahu Pinjai, Ayahnya itu telah...” ucap Bisma terhenti saat mendengar suara yang memanggilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻