Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Balqisya Zhafira


__ADS_3

Sampai akhirnya, Brian telah resmi menjadi seorang ayah sambung untuk sang Baby yang sah menurut hukum.


Setiap hari Brian mengurus Qisya sampai ia sendiri selalu telat berangkat kerja.


Bahkan Brian kadang lupa jika ada rapat penting dengan para pebisnis lainnya.


Kadang Brian pun sampai lupa untuk sarapan serta memakai sepatu saat kerja, malahan sendal jepit yang biasa pakai di dalam rumah ia pakai ke kantor.


Saking terburu-burunya sampai Brian tidak mengetahu keteledorannya sendiri.


Bagaimana reaksi dengan para karyawan yang melihat CEO nya berangkat ke kantor menggunakan sendal?


Mereka semua menahan tawanya, karena akhir-akhir ini bosnya berperilaku sangat menggemaskan.


Sedangkan Brian sendiri dibuat malu oleh tingkah konyolnya yang sampai lupa dengan hal penting dalam dirinya.


Bahkan saat hari libur pun Brian lupa, karena terlalu fokus mengurus Qisya sampai akhirnya Brian datang ke kantor dengan tujuan untuk bekerja.


Namun siapa sangka kantornya kosong melompong, sampai para satpam pun dibuat heran dengan bosnya ini.


“Maaf pak, apa bapak hari ini ada rapat penting dikantor?” tanya satpam dengan sangat sopan.


“Tidak, kenapa memangnya? Apa saya harus masuk kerja ketika ada rapat penting saja?” celetuk Brian dengan nada dingin.


“Ma-maaf Tuan, soalnya ini kan hari Minggu semua karyawan pun libur. Lalu jika Tuan tidak ada rapat, maka ada keperluan apa ke kantor?” ucap satpam dengan sangat hati-hati.


“Astaga,.. kenapa aku sampai melupakan hari libur sih. Padahal hari ini aku sudah sangat bersemangat untuk bekerja, karena Qisya saat ditinggal tidak terlalu rewel” keluhan Brian di dalam hatinya.


“Beginilah nasib menjadi orang tua tunggal yang mengurus anaknya sendiri, sampai-sampai melupakan segalanya” sambung Brian di dalam hati.


Para satpam pun ikut terdiam melihat Brian yang melamun, karena mereka takut jika banyak berbicara maka gajinya yang akan jadi jaminannya.


Kemudian Brian kembali pulang ke rumah dengan wajah datarnya yang berusaha menahan rasa malu di depan para satpam.


Baru kali ini semenjak kehadiran Qisya, Brian bisa melupakan banyak hal.


Karena yang paling terpenting dalam hidup Brian saat ini bukanlah pekerjaan, melainkan mainan barunya yang sangat menggemaskan ini.


Sesampainya di rumah Brian langsung di suguhkan dengan isak tangis Qisya yang bergema dalam pelukan Nyonya Syifa.


Sang Baby akan terus menangis jika bukan Brianlah yang mengasih botol susu pada Qisya.


“Oek.. Oek.. Oek..” suara tangisan Qisya.


“Uluh..uluh sayangnya ayah kenapa menangis” ucap Brian sambil mengambil alih untuk menggendong Qisya dengan hati-hati dari pelukan Nyonya Syifa.

__ADS_1


Kemudian Brian mencoba menenangkan sang Baby dan memberikannya sebotol susu formula.


Dengan sangat telaten Brian mengurus Qisya, sampai membuat Nyonya Syifa merasa kagum padanya.


Brian merupakan pria yang sangat dingin di mata semua orang, tetapi memiliki sifat penyayang yang sangat luar biasa.


“Mamah tidak menyangka nak, kamu bisa mengurus Qisya bahkan lebih baik dari mamah. Semoga saja suatu saat nanti, kamu bisa menemukan seorang wanita yang akan membantumu mengurus dan membesarkan Qisya dengan sangat baik” ucap Nyonya Syifa sambil menatap Brian dan Qisya.


Berhari-hari Brian mengurus Qisya seorang diri, bahkan saat sang mamah ingin membantunya bukan Brian yang menolak melainkan Qisya sendiri.


Sampai akhirnya Brian berusaha untuk membagi semua waktunya dengan sangat baik.


Tetapi apa boleh buat, waktu yang sudah Brian bagi pun tidaklah semuanya berhasil.


Brian sadar ternyata untuk mengurus satu bayi saja Brian sangat kewalahan, sampai membuat porsi makan berkurang, jam tidur berkurang, bahkan baru saja ingin merebahkan tubuhnya sang Baby kembali menangis.


Sehingga Brian rasanya ingin menyerah saja, dan kembali hidup seperti biasanya tanpa gangguan isak tangis bayi ataupun mengurus bayi.


Namun, Brian selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya bahwa Qisya adalah amanah yang harus Brian jalankan tanpa harus mengeluh.


Sampai akhirnya Qisya pun mulai tertidur kembali dengan susu yang sudah habis tak tersisa.


Kemudian Brian kembali ke kamarnya dengan satu tangan menggendong Qisya dan satunya lagi menenteng tas kerjanya.


Sesampainya di kamar Brian


Brian langsung menaruh Qisya di Box bayi secara perlahan agar tidak sampai membangunkannya kembali, karena hari ini Brian benar-benar lelah serta banyak pekerjaan yang tertunda.


Meskipun ini adalah hari Minggu, hari di mana waktunya beristirahat malah Brian pakai untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah tertinggal sangat jauh.


Seminggu kemudian, Brian memutuskan mengerjakan pekerjaannya di rumah saja, karena akhir-akhir ini Qisya sangat rewel ketika Brian tinggal kerja.


Sedangkan Nyonya Syifa yang berusaha menjaga Qisya saat Brian kerja pun merasa sangat kewalahan.


Qisya hanya bisa terdiam jika berada di dekat Brian, bahkan ketika menyusu pun Qisya hanya mau menggunakan tangan Brian untuk memegang botol susunya.


Sampai akhirnya Brian mengalah untuk beberapa bulan ini untuk mengerjakan pekerjaannya di rumah saja sambil menjaga Qisya.


4 tahun berlalu


Di kediaman keluarga Brian


 “Oma, ayah mana kok enggak pulang-pulang sih. Kan Isa kangen” tanya Qisya dengan suasa cadelnya.


“Sabar ya sayang, ayah kan lagi kerja biar bisa beliin Qisya mainan yang banyak loh” jawab Nyonya Syifa sambil memangku Qisya.

__ADS_1


“Isa enggak mau mainan banyak-banyak Oma, Isa maunya ayah enggak sibuk teyus” saut Qisya dengan wajah sedihnya.


“Brian cepatlah pulang nak, kasihan Qisya dia merindukan kamu yang dulu” suara hati kecil Nyonya Syifa.


“Qisya mau temani Oma belanja enggak? Nanti boleh ambil apa pun sesuka Qisya, bagaimana hm” ajak Nyonya Syifa sambil mengalihkan kesedihan Qisya.


“Wah.. benelan Oma? Isa boleh ambil banyak-banyak ciki, emen, cucu, okat cemuanya” celoteh Qisya sambil menghitung menggunakan jarinya asal-asalan.


“Bener dong sayang, ayo kita siap-siap pergi belanja” menurunkan Qisya dari pangkuannya.


“Yey.., hole.. kita belanja banyak-banyak” ucap Qisya sambil melompat penuh semangat.


“Maafkan Oma sayang, hanya ini yang bisa Oma lakukan untuk menutupi kesedihanmu kepada ayahmu yang semakin kesini semakin sibuk dengan bisnisnya” suara Nyonya Syifa di dalam hatinya.


Nyonya Syifa dan Qisya pergi ke atas untuk mengganti pakaiannya kemudian pergi berbelanja untuk membuat suasana hati Qisya menjadi senang kembali.


Balqisya Zhafira adalah anak angkat Brian yang waktu itu di amanahkan oleh almarhumah untuk menjaganya.


Kini Qisya sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik dengan rambut panjangnya yang hitam pekat, serta bola mata yang indah dan bibir yang sangat tebal berwarna pink merona.


Qisya mempunyai bentuk tubuh yang sangat mungil dengan sedikit berisi yang membuat pipinya seperti bapau yang baru saja mengembang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


Papay 🤗🤗


__ADS_2