Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Isa Mau Ake Tudung


__ADS_3

Pagi hari di rumah kediaman keluarga Brian


Hana sudah bangun lebih awal, dan sudah menjalankan ibadahnya, kemudian Hana berjalan menuju dapur.


Hana membuka dan melihat isi kulkas khusus untuk menyimpan stock bahan makanan yang hanya tersisa 1 ekor ayam yang sudah dipotong dengan 2 ikat bayam serta wortel.


"Sepertinya mamah lupa ke pasar, karena stock bahan makanan sudah habis"


Hana mulai membersihkan ayam tersebut hingga bersih, tidak lupa untuk memberi bumbu dan di lanjutkan dengan memotong beberapa sayuran untuk menu sarapan pagi ini.


Namun, di sela-sela Hana sedang menggoreng ayam. Tiba-tiba saja Nyonya Syifa datang ke arah dapur dengan sangat terkejut.


"Astagfirullah, Hana kamu kenapa di sini, Nak? Ini masih sangat pagi loh" tanya Nyonya Syifa yang melihat Hana sedang asyik dengan ayamnya.


"Ndak apa-apa mah, Hana sudah terbiasa kok bangun pagi. Loh mamah kenapa tidak istirahat saja. Biar Hana yang memasak, lagian juga hanya ada ayam dan bayam serta wortel yang tersisa di kulkas mah. Soalnya isi kulkas kosong, Hana mau kepasar juga tidak tahu jalannya hehe.."


Hana tertawa kecil sambil membalik ayam yang sudah beledos-beledos hampir mengenai tangan mulus Hana.


"Aduh.. aduh.. sayang, kamu ini baru menikah bukannya enak-enak di kasur malah datang ke sini toh, Memangnya kalian tidak-" ucapan Nyonya Syifa terpotong saat Hana berhasil mengalihkan pembicaraannya.


"Hoya.. mah, apa Qisya semalam bisa tidur dengan nyenyak?" tanya Hana berusaha mengganti topik lainnya.


"Alhmdulilah, Qisya semalam tidur sangat nyenyak kok. Bahkan tidur di dalam mobil dan saat di pindahkan juga tidak nangis, mungkin sebentar lagi dia akan bangun" saut Nyonya Syifa sambil membantu Hana untuk membuat sayur.


"Alhmdulillah kalau begitu mah, Hana lega dengarnya. Soalnya takut jika Qisya rewel apa lagi tidak ada Hana di sampingnya"


Ya, memang akhir-akhir ini Qisya selalu rewel jika berada jauh dari Hana, mungkin baru pertama kali Qisya merasakan kasih sayang seorang bunda yang tidak pernah Qisya dapatkan membuat Qisya sedikit terlalu manja kepada Hana.


"Di lihat dari cara jalan Hana dia seperti biasa saja, tidak sedikit pun merasakan kesakitan. Apa jangan-jangan Brian belum unboxing Hana? Dasar anak itu, lihat saja nanti ya awas kamu Brian" ucap Nyonya Syifa di dalam hatinya sambil menatap Hana yang mondar-mandir menyiapkan semuanya.


"Huaa.. hiks.. bunda, bunda di ana? Apa bunda pelgi, hiks.. bunda.." Qisya yang sudah bangun kini dengan perlahan menuruni anak tangga dan menangis sambil berteriak mencari Hana.


Hana dan Nyonya Syifa yang mendengar tangisan Qisya di buat sangat terkejut.

__ADS_1


"Astaga, Qisya kenapa sekarang cengeng banget sih. Sudah cepatan kamu susul gih, kasian Qisya. Ini biar mamah yang urusin lagian kan sebentar lagi matang sayurnya"


Nyonya Syifa menyuruh Hana untuk segera pergi dari dapur dan menyusul Qisya.


"Maaf ya mah, Hana tinggal dulu. Permisi"


Hana berlari kecil dengan wajah khawatir. Namun, mata Hana terhenti saat melihat Qisya duduk di tengah-tengah tangga sambil menangis.


"Hiks.. bunda ahat inggalin Isa, hiks.. Isa tan anak baik, napa diingalin cih" Qisya menangis sambil mengucek matanya.


Hana langsung menaiki anak tangga, dan duduk di samping Qisya dengan keadaan memeluk Qisya.


"Uluh-uluh.. anak bunda sayang, kenapa menangis hum" ucap Hana sambil memeluk Qisya dari samping.


Qisya yang mendengar suara Hana, membuat matanya langsung menatap Hana.


"Hiks.. bunda di cini? Kok Isa cali ndak etemu? Bunda dali mana?" tanya Qisya dengan air mata yang masih menetes.


"Memangnya Qisya sudah nyari bunda kemana?" Hana mengelap air mata Qisya menggunakan tangannya sambil tersenyum kepada Qisya.


"Memangnya semalem Qisya bobo sama siapa?" Hana mulai membantu Qisya untuk mengingat kejadian semalem.


"Tan kita puyang ke umah, teyus Isa angun-angun udah di kamal eh iyat bunda ndak ada. Eh unggu deh, api tan emang Isa ndak bobo cama bunda ya hehe.." ucap Qisya dengan tertawa yang membuat Hana menjadi gemas.


"Nahkan.. sekarang Qisya sudah ingat, jadi biasakan untuk mengingat lebih dulu dan mencarinya dengan benar. Jika Qisya belum bisa menemukannya di dalam rumah baru Qisya menangis" Hana mencoba menasehati Qisya dengan sangat lembut.


"Hehe.. maap bunda, Isa salah deh ndak cali bunda duyu cebelum nangis" Qisya menyengir kuda dan memperlihatkan gigi susunya yang tersusun rapi.


"Ya sudah, sekarang Qisya mandi ya terus nanti kita sarapan oke.." Hana mencoba untuk menggendong tubuh mungil Qisya dan berjalan menaiki tangan menuju kamar Qisya.


Qisya yang begitu senang hanya bisa bersorak dengan sangat bahagia karena telah memiliki bunda sebaik Hana.


Hana memandikan Qisya dengan sangat telaten sambil sesekali Qisya bermain air dengan busa yang sangat banyak.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Hana langsung memakaikan pakaian kepada Qisya kemudian mengoleskan bedak dengan perlahan sampai rata tanpa membuat muka Qisya menjadi badut seperti anak kecil lainnya yang ketika habis mandi mukanya malah berubah menjadi badut kecil yang sangat lucu.


Tak lupa Qisya meminta kepada Hana untuk di kuncirkan rambut buntut kuda dengan poni kesukaan Qisya.


"Hum.. anak bunda cantik sekali ya, tapi lebih cantik lagi jika Qisya memakai kerudung seperti bunda sama Oma" Hana mencoba membujuk Qisya agar mau menutup auratnya mulai dari usia dini.


"Benelan bunda, kalo gitu Isa mau ake tudung dong. Bial antik kaya Oma cama bunda hehe.." Qisya dengan semangat ingin mencoba memakai kerudung seperti bunda dan Omanya yang terlihat lebih angun dan cantik.


"Qisya mau pakai kerudung? Nanti kita coba ya, jika Qisya kuat seharian memakai kerudung tanpa merasa gerah berarti Qisya anak yang hebat" ucap Hana yang memberi semangat ke pada Qisya.


"Halus dong, bunda aja uat ake tudung cehalian. Akan bunda idul ake tudung kan? Dadi Isa mau ake uga bial cama-cama" tanya Qisya yang di anggukin oleh Hana.


"Ya sudah ayo kita turun, nanti kita ajak Oma buat belanja untuk membelikan Qisya kerudung dan baju muslim oke" Hana menggandeng Qisya sambil berjalan keluar kamar.


"Otehh bunda, let's goo.. yey.. Isa ceneng deh unya bunda baik kaya bunda gini. Isa mau unjukin ahh ke emen-emen di omplek ini, alo Isa udah unya bunda yang antik banget aya bidadali yang tulun dali sulga hehe.." celoteh Qisya yang membuat Hana tidak henti-hentinya tersenyum.


"Terima kasih sayang, sudah membuat bunda tersenyum seperti ini. Qisya adalah alasan terbesar bunda dan ayah bisa bersatu, meskipun sikap ayah selalu berubah-ubah tapi bunda yakin suatu saat ayah pasti akan berubah. Semoga bunda kuat ya sayang, teruslah tersenyum seperti ini. Karena Qisya adalah sumber kekuatan untuk bunda" ucap Hana di dalam hati kecilnya sambil tersenyum melihat Qisya yang berlompat-lompat dengan keadaan bahagia.


Hana dan Qisya berjalan menuju ruang makan, karena saat ini Nyonya Syifa sudah menyusun makanan di atas meja dengan menu ayam goreng crispy dan sayur bayam.


Tuan Ferry dan Brian yang sudah rapih dengan pakaian santainya kini berjalan bersamaan menuju ruang makan.


Nyonya Syifa menyiapkan makanan untuk suaminya, lalu di lanjut dengan Hana yang menyiapkan makanan untuk Brian dan Qisya.


Kemudian mereka makan dengan sangat santai, sedangkan Qisya selalu merengek untuk minta di suapi oleh Hana.


Hana dengan sabar menyuapi Qisya sambil menjawab setiap ocehan Qisya, dan sesekali menasehati Qisya supaya makan jangan sambil berbicara agar tidak tersendak nantinya.


Brian sesekali sekilas melirik Hana dan Qisya dengan senyuman kecil di sela-sela makannya.


Sedangkan kedua orang tua Brian yang melihat pemandangan begitu indah di depannya ini, membuat mereka makan sambil tersenyum.


"Semoga pernikahan kalian berdua bisa langgeng sampai kakek dan nenek yang hanya terpisahkan oleh maut" ucap Tuan Ferry di dalam hatinya sambil makan.

__ADS_1


"Mamah senang melihat Qisya sebahagia ini Brian, mamah akan selalu berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga baru kalian ini agar di jauhkan dari segala hal yang akan membuat kalian terpisah" ucap Nyonya Syifa di dalam hati kecilnya sambil memakan makanannya.


__ADS_2