
Sasya hanya berdiri diam seperti patung dengan kepala tertunduk dan matanya yang mulai berair.
Entah kenapa Sasya merasa sangat kecewa saat mendengar semua ucapannya Ayah Brian yang menyuruh Alex untuk mengorbankan dirinya sendiri untuknya.
Lalu Alex pun berdiri dengan tegak sambil perutnya yang terasa semakin sakit, namun dia menahannya dan mengendalikan ekspres wajahnya.
Alex pun menatap Ayah Brian dengan tatapan tegas dan juga tulis yang membuat Ayah Brian sedikit tersentak.
"Jika memang dengan saya yang berkorban demi Sasya akan membuat kalian memaafkan saya, maka saya siap untuk melakukannya. Saya tidak pernah main-main jika ini berhubungan dengan Sasya, karena saya sangat mencintai Sasya" ucap Alex dengan tegas.
Mendengar ucapannya Alex, Sasya pun langsung mengangkat kepalanya sambil menatap Alex dengan air mata yang menetes di pipinya. Entah mengapa tapi Ayah Brian yang melihat ketulusan Alex serta air mata Sasya membuatnya terdiam.
Di saat semua orang sedang fokus pada ketulusan dan air matanya Sasya, hanya Bunda Hana yang melihat ke arah lain yang mana membuat Bunda Hana terkejut dan langsung saja berteriak sehingga fokus semuanya menjadi buyar.
"Ohh ya ampun... ke-kenapa perutmu be-berdarah seperti itu? A-apakah pu-pukulannya Lukas se-sekuat itu sampai perutmu berdarah?" teriak Bunda Hana saat melihat perutnya Alex yang mana kini terdapat noda darah di bajunya.
Semua orang lalu menatap perutnya Alex yang mana kini kemeja biru dongkernya sedikit lebih gelap akibat darah yang mengalir dari perutnya. Saat ini luka jahitan di perutnya Alex terbuka sehingga darah mengalir deras dari perutnya Alex.
"Da-darah!? Lu-luka perutmu ke-kembali terbuka, tapi kenapa kamu diam saja seperti patung hahh! Apakah kamu ini robot sampai kamu tidak merasakan sakit sedikit pun. Dasar robot tidak punya perasaan!"
"Sekarang karena luka bekas jahitanmu kembali terbuka lagi, maka kamu harus pergi menemuinya dokter. Kalau saja Dokter Rini ada di sini, pasti kamu sudah di marahi habis-habisan olehnya"
"Sekarang kamu duduk dulu di sini dan tunggu aku memanggilkan dokter di sini untukmu. Jangan banyak bergerak dan tutup lukamu dengan sapu tangan supaya tidak banyak darahmu yang mengalir lagi"
Sasya berbicara sambil membuat Alex duduk di sofa panjang yang tidak jauh dari kasurnya Ayah Brian.
__ADS_1
Lalu Sasya berjalan keluar ruangan dan pergi memanggilkan dokter untuk memeriksa lukanya Alex.
Sementara itu semua orang yang ada di ruangan Ayah Brian pun hanya menatap Alex dengan wajah khawatir dan bingung mereka. Bagaimana pun mereka tidak tahu jika perutnya Alex terluka sebelum Lukas memukulnya.
"A-apakah ka-kamu baik-baik saja? A-atau kamu me-merasa sakit dan memerlukan sesuatu? Ta-tapi apakah perutmu terluka sebelum datang ke sini?" tanya Arya yang bingung bagaimana dia harus bereaksi.
Awalnya Alex hanya terdiam sambil memegangi perutnya karena dia bingung bagaimana dia harus menjawab pertanyaan dari Arya. Bagaimana pun luka tersebut bukan karena sesuatu baik bagi Alex.
"Ji-jika kamu tidak bisa mengatakannya maka kamu tidak harus mengatakannya. Aku tidak akan memaksamu jika itu memang karena sesuatu yang tidak bisa dibicarakan" sahut Arya yang melihat Alex begitu kebingungan.
"Se-sebenarnya lu-luka ini a-adalah luka tu-tusuk beberapa ha-hari yang lalu. A-aku juga melakukan operasi di ru-rumah sakit di mana Sasya berada, i-itulah sebabnya aku kembali bertemu dengan Sasya da-dan menyadari perasaanku"
Alex berbicara sambil menunduk dengan tangannya masih memegangi luka di perutnya yang masih mengeluarkan darah segar. Semua keluarga Sasya yang mendengar perkataannya Alex pun terkejut dengan semuanya.
"Ya Allah... pa-pasti ra-rasanya sangat sa-sakit karena lu-luka tusuk itu tidak ce-cepat pemulihannya. Kamu cukup kuat menahan rasa sakit itu selama ini, Nak" ucap Abah Toni sambil Umi Dewi yang memegangi tangan Abah Toni.
"I-ini adalah lu-luka tusuk ya-yang aku dapatkan sa-saat aku sedang me-mencoba untuk..." ucap Alex terhenti saat dia mendengar suara teriakannya Sasya yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Di sini dokter. Dialah pasien yang saya katakan itu, dia benar-benar seperti robot manusia yang tidak punya perasaan. Bahkan setelah lukanya terbuka, dia masih saja bisa bersantai"
"Padahal beberapa hari yang lalu dia baru saja melakukan pemeriksaan, tapi karena pukulan di perutnya sehingga lukanya terbuka lagi. Tolong periksa lukanya sekarang juga dokter, saya mohon..."
Sasya berbicara sambil masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang dokter laki-laki yang ada di dekat ruang rawat Ayah Brian. Lalu dokter tersebut masuk dan duduk di sofa panjang tepat di samping kanannya Alex.
"Apakah rasanya sangat sakit jika saya menekan luka Anda seperti ini? Apakah Anda sudah mengkonsumsi obat-obatan yang di berikan oleh dokter Anda sebelumnya?" tanya dokter tersebut sambil memeriksa lukanya Alex.
__ADS_1
"Rasanya tidak terlalu sakit, dan aku lupa untuk mengkonsumsi obat yang harusnya aku minum dari dokter hari ini. Mungkin itu sebabnya lukanya jadi lama keringnya dan sekarang kembali terbuka" sahut Alex dengan wajah datar dan nada cueknya yang membuat Sasya sangat geram.
"Lihatkan apa yang saya katakan dokter? Dia ini adalah robot manusia, bagaimana mana mungkin dia tidak merasakan sakit saat lukanya terbuka seperti itu, bukan?" tanya Sasya yang membuat dokter tersebut menjadi bingung.
"Aku ini manusia yang juga bisa merasakan sakit, hanya saja aku menahan itu semua demi terlihat baik-baik saja. Karena aku akan membuktikan pada semuanya jika aku bukanlah laki-laki yang lemah" sahut Alex yang tidak terima.
"Yayaya, terserah kau saja" jawab Sasya yang sudah malas untuk meladeni Alex.
Semua orang yang melihat perdebatan Alex dengan Sasya membuat mereka merasa bahwa adanya kedekatan yang sangat dekat.
Padahal sudah berapa tahun Ayah Brian menjauhkan Sasya agar tidak kembali membuatnya teringat akan masa lalunya dengan Alex, namun entah kenapa saat ini mereka malah terlihat seperti tidak ada masalah apa pun yang pernah terjadi dulu.
"Sudah berapa tahun Ayah menciba untuk menjauhkan serta mengubur dalam-dalam tentang dia, tapi kenapa sekarang kalian terlihat begitu dekat? Takdir apa yang Ayah lihat hari ini Sya.." gumam Ayah Brian di dalam hatinya sambil melihat perdebatan Sasya dengan Alex.
"Apa inikah yang dinamakan takdir ilahi? Jadi, sejauh apa pun kita menghindar jika Allah sudah berkata maka apa pun akan bisa terjadi. Bahkan sudah bertahun-tahun kita mencoba untuk melupakan pria itu, cuman pada akhirnya Alam semesta malah kembali menyatukan kalian. Apakah aku dan Mas Brian harus mengikhlaskan Sasya kembali dekat dengannya?"
Bunda Hana berbicara di dalam hatinya dengan nada yang sangat bingung, khawatir dan juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini.
Begitu pun dengan Abah, Umi, Arya, Papah Ferry, dan juga Mamah Syifa yang begitu terkejut dengan semua ini hanya bisa terdiam karena tidak tahu harus berkata apa lagi.
Sedangkan Cantika yang memang tidak tahu siapa Alex, hanya bisa menatapnya serta menggendong Baby Iva.
Namun, Mommy Nisha yang melihat kejadian cukup aneh tidak berani bertanya atau pun mengeluarkan sepatah dua patah kepada Bunda Hana selaku sahabatnya.
Apa lagi ini masalah keluarga, jadi Mommy Nisha tidak mau melewati batasan yang ada. Kecuali Bunda Hana sendiri yang menjelaskan apa yang terjadi dengan semua ini barulah Mommy Nisha bisa bisa bersuara.
__ADS_1