Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Alat Balas Dendamku


__ADS_3

Celotehan Pinjai membuat Qisya seketika terdiam, cerita Pinjai kembali mengingatkan Qisya kepada sang Bunda dan Omanya yang selalu mau membantu serta mengajari Qisya untuk bisa belajar mandiri.


Apa lagi umur Qisya yang sudah mau menginjak usia 12 tahun dan mulai beranjak remaja. Ia harus bisa melakukan semuanya sendiri seperti apa yang diajarkan oleh sang Bunda. Meskipun Qisya belum pandai memasak, tapi ia masih bisa sedikit demi sedikit mempelajari apa yang diajarkan oleh Hana.


Pinjai yang merasa aneh membuat ia menatap Qisya yang sedang melamun, dengan wajah bingungnya Pinjai bertanya kepada hatinya sendiri. “Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi? Sepertinya, Nona Rose terlihat sedikit bersedih atau jangan-jangan ceritaku itu membuat ia teringat dengan keluarganya? Astaga, aduh... Bagaimana ini? Semoga saja Nona Rose tidak sampai berlarut-larut, karena dia pasti saat ini sedang merasakan kerinduan yang sangat berat karena terpisah dari keluarganya. Lain kali aku harus lebih hati-hati lagi saat berbicara dengan Nona Rose ”


Selang beberapa detik kemudian, Bisma pun datang dengan penampilan santainya yang menggunakan celana pendek selutut berwarna coklat muda serta kaos putih polos yang rada ketat, sehingga membuat bentuk dada bidangnya sedikit terekspor.


“Malam” ucap Bisma dengan cuek sambil duduk di kursinya.


“Malam, Tuan” jawab Pinjai sambil sedikit membungkukkan badannya sambil berdiri.


“Duduk” ucap Bisma yang langsung membuat Pinjai duduk di kursinya dengan rasa penuh kekhawatiran, karena jika sampai Bisma tahu bahwa Pinjai telah membuat Qisya bersedih dengan mengingatkan Qisya kepada keluarganya, maka habislah riwayatnya.


“Bagaimana kabar mereka semua di sana ya? Apa mereka baik-baik saja tanpa aku? Atau malah sebaliknya? Kenapa perasaan kangen ini selalu saja muncul di saat aku sedang menjalani kehidupan yang baru. Bunda, Ayah, Lily, Lukas, Oma, Opa, Mbah kung, Mbah Uti, dan Om Arya... Apa kalian tidak kangen dengan Qisya? Apa kalian semua benar-benar sudah melupakan Qisya ?” tanya Qisya di dalam hatinya sambil menahan rasa sakit di dadanya yang begitu menyayat.


Bisma menatap wajah Qisya yang masih menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Bisma mengira pasti ini karena ulahnya yang menurut Qisya tidak bisa mengerti Qisya ataupun bisa memahaminya. Bisma tahu pasti Qisya saat ini sedang ke pikiran dengan ucapannya yang mengatakan bahwa Qisya memiliki mata Panda.


“Masa ia efeknya bisa sampai seperti ini? Padahal kan, aku hanya bilang kalau dia memiliki mata Panda. Apa ucapanku tadi bisa membuatnya sesedih ini? Jika ia, maka aku harus segera meminta maaf karena kalau tidak, bisa-bisa aku gagal mendekatinya untuk mengambil perhatiannya supaya aku bisa menggunakannya sebagai alat balas dendamku ” ucap Bisma di dalam hatinya.


Suasana meja makan kini semakin sepi tanpa adanya suara sedikit pun. Pinjai dengan keadaannya yang hanya terdiam penuh rasa gugup. Qisya dengan keadaan yang masih melamun sambil memikirkan keluarganya. Sedangkan Bisma, ia hanya bisa melihat serta menangkap kesedihan yang terukir jelas di wajah polosnya Qisya.


Bisma melihat serta menatap wajah Pinjai sambil berkata. “Apa kau tahu, Pinjai. Ada apa dengan dia? Kenapa dia terlihat sangat murung seperti itu? Bahkan suaraku saja tidak membuatnya bergerak sedikit pun”


“Hem... I-itu, Tuan. Ma-maaf...” jawab Pinjai dengan suara terbata-bata serta kegugupannya yang membuat Bisma semakin penasaran.

__ADS_1


“Katakan dengan jelas, Pinjai! Kau tahu, bukan aku tidak suka dengan basa-basi. Jadi, ceritakan semuanya dengan jelas dan lantang. Mengerti!!” saut Bisma dengan nada dinginnya.


“Baik, Tuan. Saya akan menceritakan semuanya, tapi sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada Tuan tanpa mengurangi rasa hormat saya” jawab Pinjai sambil menundukkan kepalanya dan mulai menceritakan penyebab kenapa Qisya bisa terlihat sangat sedih.


Bisma yang mendengar semua cerita Pinjai dengan detail membuat ia seketika langsung paham bahwa kesedihan Qisya saat ini, bukanlah ia penyebabnya yang sudah mengatai mata Qisya bagaikan mata Panda. Tapi, Qisya bersedih karena ia merasa sangat merindukan kasih sayang keluarganya.


Sangat terlihat dengan jelas kesedihan di wajah Qisya, namun bagaimana pun Bisma harus bisa mengambil perhatian Qisya agar tidak membuatnya kembali mengingat keluarganya.


“Lain kali, jaga bicaramu di depan dia. Apa lagi kamu tahu bagaimana keadaannya saat ini. Jadi, gunakan kata-katamu dengan baik. Paham?!” tegas Bisma sambil menatap Pinjai dengan tajam.


“Paham, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf” ucap Pinjai dengan sangat hormat.


“Hem...” jawab Bisma yang hanya mendehem sambil menatap Qisya yang masih sama posisinya dengan semula.


“Ekhem... Rose” panggil Bisma dengan sangat lembut sambil sedikit menepuk lengan Qisya.


Qisya pun terlonjak kaget karena ia baru menyadari bahwa dari tadi ia sedang melamun memikirnya keluarganya yang belum tentu memikirkannya.


“Eh, i-iya Om. Ada apa? Maaf tadi Qisya eh ma-maksudnya Rose lagi kurang fokus karena tadi lagi mikirin bagaimana bisa menghilangkan mata Panda dalam sehari hehe... Habisnya tadi Om bilang mata Rose kaya Panda, jadi Rose bingung harus gimana lagi” jawab Qisya yang mencoba mencari alasan untuk menutupi apa yang saat ini ia rasakan.


Bisma hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tahu saat ini Qisya sedang membohonginya. Karena ia tahu pasti, kalau Qisya sedang menyembunyikan rasa kangen atau pun kerinduan terhadap semua keluarganya.


“Tidak usah khawatir nanti kita ke dokter, tapi malam ini apa kamu mau menemaniku untuk berjalan-jalan ke tempat kuliner? Sepertinya aku tidak berselera untuk memakan makanan seperti ini dan kayanya aku sudah mulai bosan. Jadi, aku butuh untuk mencari suasana baru tentang makanan. Bisakah kamu menemaniku?” tanya Bisma dengan lembut yang membuat Qisya melototkan mata tidak percaya dengan semua ini.


Seorang Bisma yang setiap harinya selalu menjaga kesehatan tubuhnya, kini dengan mudahnya berbicara kalau ia bosan dengan makanan ini, dan juga ingin mencari suasana baru yang belum tentu menyehatkannya.

__ADS_1


“Om Bisma tidak lagi sakit kan? Atau Om Bisma lagi mengigau?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya.


“Pertanyaanku itu simpel, hanya cukup menjawab mau atau tidak. Kalau tidak, ya sudah aku pergi sendiri saja, gampang kan” ucap Bisma dengan sangat cuek dan langsung pergi meninggalkan meja makan.


“Huaaa... Om, Qisya ikut. Tunggu...” teriak Qisya sambil berlari mengejar langkah panjang kaki Bisma.


Kemudian mereka berdua pun pergi keluar penginapan. Bisma berjalan sambil memegang kedua saku celana pendeknya. Sedangkan Qisya berjalan sambil selalu tersenyum serta mengayunkan tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan jaga diri kalian 🤗🤗🤗


Terima kasih atas dukungan kalian semua pembaca setiaku 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Teruslah dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺


Dan teruslah beri masukan dan ide-ide brilian kalian yaaa... 😁😁😁


Jangan lupa mampir di rekomendasi novel dari Author yaaa 😉😉😉


Silahkan jelajahi dan tinggalkan jejak unik kalian yaaa.... 😆😆😆


...*...


__ADS_1


__ADS_2