
Sedangkan Alex turun dari mobilnya dan meminta anak buahnya yang ada di bandara tersebut untuk memakirkan mobilnya dengan baik, yang mana Alex pun berjalan mengikuti Sasya tanpa di ketahui olehnya.
"Permisi, apakah masih ada tiket untuk menuju New York?" tanya Sasya kepada penjual tiket.
"Ma-maaf sekali Kak, semua tiket sudah habis terjual melalui internet. Yang mana jika Kakak ingin membelinya bisa cek di web kami dan memesannya dari sana. Namun, semua itu membutuhkan proses waktu 1 sampai 3 hari yang akan datang"
Penjual tiket menjelaskan semuanya dengan rasa ketakutannya akibat saat salah satu bodyguard
Alex berada di dalam sana untuk mengancamnya menggunakan sebuah senjata yang mana sangat mematikan.
Siapa sih yang tidak mengenal sosok Alex, apa lagi dia terkenal dengan seorang Mafia kejam yang bisa melakukan apa pun sesuka hatinya tanpa rasa belas kasihan.
Ya, meskipun tidak semua orang bisa mengenali wajah Alex tetapi saat mendengar nama Mafia Golden Fangs pasti langsung membuat tubuh mereka menegang serta kaku.
Bahkan sampai ada beberapa orang yang tubuhnya bergetar hebat penuh keringat dingin lantaran King mafia tersebut terkenal bagaikan seorang Iblis.
"Apa tidak ada satu tiket saja yang terselip, Kak? Aku sangat membutuhkan tiket itu untuk segera menemui keluargaku. Aku mohon Kak, tolong di cek kembali siapa tahu ada tiket yang terselip atau ada yang membatalkannya please.. Kak.. please.."
Sasya berbicara dengan nada yang sangat memohon, hingga membuat penjual tersebut merasa sangat kasihan. Namun, apa daya. Jika dia memberikannya tiket tersebut maka teruhannya adalah nyawanya sendiri.
Sedangkan Alex saat ini sudah bersama Pinjai di tempat persembunyiannya untuk memantau setiap pergerakan Sasya.
"Apakah semuanya sudah kau persiapkan dengan baik?" tanya Alex sambil matanya menatap lurus ke arah Sasya.
"Semua sudah beres Tuan, kau tinggal menyusun rencana yang mana kau harus melakukan adegan drama kecil saja bersamanya agar dia tidak merasa curiga" jawab Pinjai yang juga menatap ke arah Sasya dengan tersenyum penuh bangga.
__ADS_1
Ya mau bagaimana lagi, jika tidak seperti ini pasti Sasya akan menolak Alex agar pergi bersamanya.
Apa lagi Alex sangat ingin bertemu serta meminta maaf kepada keluarga Sasya sekalian untuk mengetahui dimana mereka selama ini tinggal.
Sehingga Alex, Pinjai dan Joko serta yang lainnya tidak bisa melacak keberadaan mereka selama ini.
"Maaf Kak, saya sudah mengecek semuanya dan di sini semuanya kosong. Jadi, sekali lagi maaf saya tidak bisa membantu Kakak. Jika mau Kaka bisa memesannya melalui internet agar bisa segera di proses dan Kakak bisa segera pulang menemui keluarga" ucap penjual tiket yang membuat Sasya yang tadinya bahagia seketika kembali berlinang air mata.
"Maafkan aku sayang, aku harus melakukan semua ini gara aku bisa selalu dekat denganmu dan aku bisa menemui keluargamu. Aku tidak takut jika nyawaku akan menjadi taruhannya, cuman yang aku takuti hanya kehilanganmu" gumam Alex di dalam hatinya.
"Maafkan saya Nona, saya lakukan semua ini bukan semata-mata saya tidak kasihan padamu. Tapi, aku sedang berusaha membuat kalian bersatu kembali. Ya, walaupun saya tahu cara ini adalah cara yang salah cuman saya berharap kalian bisa segera bersatu" ujar Pinjai di dalam hati kecilnya.
"Ba-baiklah, terima kasih Kak. Saya permisi.." ucap Sasya sambil menyeka air matanya yang sudah turun di pipi serta tersenyum menatap penjual tiket tersebut.
"Maaf Kak, aku melakukan semua ini bukan karena aku tidak kasihan padamu. Tapi, aku masih sangat sayang dengan nyawaku ini lantaran aku adalah tulang punggung untuk keluargaku. Jika aku tiada, maka aku tidak tahu bagaimana nasib kedua orang tuaku dan juga adik-adikku ke depannya. Sekali lagi maaf, Kak.." ucap penjual tiket di dalam hatinya sambil menatap ke pergi Sasya.
Tapi, siapa sangka kini saatnya Alex melakukan rencananya sendiri dengan sedikit memperlihatkan aksi dramanya layaknya sebuah film layar lebar.
Alex dan Pijai berjalan bersebelahan dengan gagahnya sambil menggunakan kaca mata hitamnya, yang mana di belakangnya diikuti oleh beberapa bodyguardnya.
Sasya berjalan lurus dengan keadaan menunduk tanpa melihat kearah depan yang mana Alex berjalan dari arah sambil kanan Sasya sehingga Sasya menabrak tubuhnya yang hampir terhuyung ke arah kiri.
Alex yang merasa jika Sasya akan terjatuh, langsung saja Alex memeluk Sasya yang membut Sasya reflek langsung mendongak serta menatap wajah Alex.
"Ka-kau? Ke-kenapa kau ada di sini? Astaga.. Lepaskan tubuhku!" ucap Sasya dengan sedikit memberontak yang membut Alex perlahan melepaskan pelukannya yang mana rasanya Alex sama sekali tidak mau melepaskan semua itu.
__ADS_1
"Ma-maaf.. aku tidak se-sengaja menabrakmu. Jadi maafkan saya, karena saya lagi buru-buru mau ke New York lantaran ada bisnis mendadak di sana. Sekali lagi maafkan saya, dokter Sasya" ucapan Alex berhasil merubah wajah Sasya yang tadinya kesal, kini menjadi berbinar.
"Ayo Tuan, kita harus segera sampai di sana karena waktu penerbangan sudah mulai mepet" timpa Pinjai yang juga ikut membuat Sasya agar bisa masuk ke dalam perangkap mereka berdua.
"Baiklah, ayo kita segera pergi dari sini. Sebelumnya maaf dokter Sasya, karena aku sudah hampir mencelakakanmu. Permisi.." ucap Alex sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dan menunjukkan senyum kecilnya.
Kemudian, Alex dan Pinjai serta yang lainnya berjalan meninggalkan Sasya yang kini terdiam dengan tubuh kakunya saat mendengar jika Alex ingin pergi ke daerah rumahnya.
Yang mana, ini adalah pertolongan dari Sang Pencipta agar Sasya bisa segera kembali ke rumah melalui Alex.
"Apakah dia mengikuti kita?" ucap pelan Alex sambil berjalan dengan pandangan lurus ke depan.
"Belum ada Tuan, mungkin dia masih berkutak dengan pikiran dan egonya sendiri. Jadi lebih baik kau hitung saja 1 sampai 10 maka aku sangat yakin dia akan memanggilmu karena dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini" ucap Pinjai dengan pelan yang diangguki oleh Alex.
Dan benar saja, Alex yang baru menghitung sampai 8 di dalam hatinya dia sudah di kejutkan dengan teriakan serta suara langkah kaki dan juga seretan koper yang kini mendekati mereka.
"Tuan Alex, tu-tunggu aku!!" pekik Sasya dengan tergesa-gesa hingga tanpa sadar kaki Sasya menginjak sampah plastik hingga membuatnya meluncur dengan keadaan berteriak.
Aaarrghhhhh....
Alex yang mendengar itu segera berbalik yang mana kini malah menabrak tubuh bidang Alex hingga membuat mereka terjatuh dalam ke adaan Sasya yang berada di atas tubuh Alex.
Bahkan wajah keduanya kini terlihat sangan dekat, hanya terbatas oleh kedua tanga Sasya yang kini menjadi menompang tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan wajah Alex.
"Ini nih yang di namakan rezeki nomplok, kalau memang berjodoh pasti akan ada saja masa-masa yang nama mereka saling berjauhan tetapi takdir malah seakan-akan terus mendekatkan mereka dengan caranya tersendiri" gumam Pinjai di dalam hatinya sambil menatap keadaan Alex dan juga Sasya yang begitu intim.
__ADS_1
Bahkan banyak pengunjung di sana yang langsung mengabadikan momen romantis tersebut, hingga tak lupa mereka memasangnya di sosial media serta ada juga wartawan yang entah dari mana langsung mengambil posisi mereka.
Sehingga Pinjai yang sudah menyadarinya begitu terkejut saat semua orang sudah mengerubunginya bagaikan lalat yang ada di suatu makanan.