
“Ma-maaf Tuan, saat ini keadaan pasien sangat kritis. Kami harus segera melakukan operasi yang cukup memakan waktu, karena luka di bagian perutnya sangat dalam sehingga pasien mengalami pendarahan hebat” ucap suster yang membuat semuanya terkejut bukan main.
“Ta-tapi Tuan saya akan baik-baik saja kan di dalam, Sus?” tanya Joko dengan wajah paniknya.
“Kita berdoa saja, Tuan. Ya sudah saya pamit untuk segera membantu dokter di dalam, permisi...” ucap sang suster yang langsung masuk ke dalam ruangan serta menutup pintunya rapat-rapat.
Kemudian suster yang sudah selesai mengobati Pinjai pun segera pamit untuk pergi. Kini Joko terlihat sangat khawatir hingga ia menjambak rambutnya sendiri penuh frustrasi sambil berjalan ke sana ke sini dalam keadaan begitu panik.
“Tenang, Kak. Kita doakan saja agar Alex cepat melewati masa kritisnya, kan Kakak sendiri yang bilang jika Alex adalah pria yang kuat jadi dia tidak akan menyerah begitu saja, bukan?” ucap Pinjai yang membuat Joko tersenyum dan mereka pun kembali duduk sambil menunggu kabar selanjutnya.
...*...
“Maaf, Dokter Rini. Saya telat” ucap Sasya dengan kepanikannya.
“Tidak apa-apa. Tapi apa Dokter Sasya sudah siap melakukan operasi untuk pertama kalinya? Karena ini bukanlah suatu percobaan yang kita lakukan kemarin, melainkan ini langsung berhadapan dengan nyawa seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan kita” ucap Dokter Rini.
“Demi untuk menyelamatkan nyawanya, saya sudah siap Dok. Mari kita lakukan sekarang, insya Allah saya tidak akan mengecewakan Dokter Rini sebagai guru saya” ucap Sasya dengan penuh keyakinan.
Entah kenapa, hari ini Sasya begitu yakin untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang belum ia ketahui jika itu adalah Alex atau om Jangkung yang sampai detik ini masih berusaha ia lupakan.
Sasya langsung berganti pakaiannya di temani oleh salah satu suster, dan segera yang lainnya menyiapkan persiapan untuk melakukan pembedahan atau pun operasi yang cukup menegangkan.
Kini 1 kantong plastik berisikan darah sudah terpasang di atas jeruji besi untuk membuat kondisi Alex tetap stabil dan tidak semakin kritis. Kali ini untuk yang pertama kalinya Sasya melakukan operasi langsung bersama Dokter Rini membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Namun sebisa mungkin Sasya berusaha tenang dan tak lupa ia berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan hal yang akan menyangkut nyawa seorang pasien. Setelah semuanya siap, mereka segera melakukan operasi besar untuk menyelamatkan Alex. Apa lagi, pisau yang berada di tubuhnya pun masih tertempel jelas.
Bahkan Sasya yang melihatnya pun sangat mengerikan, yang lebih parahnya lagi Dokter Rini menyuruh Sasya untuk mencabut pisau tersebut degan secara perlahan. Mau tidak mau, Sasya harus menurutinya meskipun berat dan juga terasa sangat linu. Namun ia harus berani karena inilah resiko untuk menjadi dokter spesialis ahli bedah atau operasi.
2 jam telah berlalu...
Kini operasi sudah berjalan sangat lama hingga akhirnya mereka telah selesai menyelamatkan nyawa seorang pria yang sangat dingin itu. Dokter Rini menjulurkan tangannya kepada Sasya yang membuat dirinya pun bingung.
__ADS_1
"Wh-what is this, Dok?” tanya Sasya dengan keterkejutannya.
“Congratulation... Karena kamu sudah berhasil menyelamatkan nyawanya dan juga kamu telah membuktikan jika kamu layak menjadi seorang Dokter” ucap Dokter Rini.
“Th-thank you so much, Doc. I-ini semua berkat dokter Rini yang selalu mensupport Sasya” ucap Sasya sambil menjabat tangan Dokter Rini dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Rini langsung memeluk Sasya di saat air matanya tidak bisa di bendung kembali.
“I'm so proud of you. Di usiamu yang sangat muda ini, kamu sudah bisa melakukan operasi yang sangat menegangkan ini. Mungkin jika aku berada di posisimu ini, pasti aku akan berpikir berkali-kali untuk mengambil tindakan ini"
"Apa lagi kamu belum ada pengalaman dalam hal operasi, baik kecil atau pun sedang. Tetapi di operasi yang besar ini, kamu membuktikan jika dirimu layak menjadi dokter yang hebat” ucap Dokter Rini dengan bangga.
Sasya tak henti-hentinya menangis di dalam pelukan Dokter Rini, hingga membuat para suster lainnya terharu serta ikut meneteskan air matanya.
Dokter Rini melepaskan pelukannya sambil tersenyum, “Cheer up, Beauty girl. Teruskan bakatmu dan tunjukkan pada semuanya jika kamu mampu menjadi seorang dokter yang sangat hebat. Pastinya kamu akan dengan mudahnya membantu menyelamatkan nyawa seseorang yang membutuhkan pertolonganmu tanpa rasa keraguan”
“Thank you, Doc. Sasya akan ingat selalu jasa-jasa Dokter Rini yang sudah membantu Sasya” ucap Sasya sambil tersenyum.
“Aissshhh... Dokter Rini ini bisa saja menggombalnya hehe..” jawab Sasya
“Ya sudah, saya pamit mau mengecek pasien lainnya sekalian ingin menjelaskan semuanya pada keluarga pria ini, jika keadaan dia sudah mulai stabil”
"Saya juga memohon dengan sangat kepada dokter Sasya, untuk terus mengeceknya setiap 15 menit sekali setelah dia sudah memasuki ruangan inapnya. Kita belum tidak tahu kedepannya bagaimana reaksi tubuh dari pria tersebut, jadi kita harus sedia payung sebelum hujan”
Dokter Rini memberikan sebuah arahan kepada Sasya agar ia bisa bertanggung jawab untuk menjalankan tugasnya sebagai dokter. Sasya hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sedikit pun Sasya tidak berani menyuarakan suaranya pada Dokter Rini yang sangat membantunya, padahal Sasya memiliki beberapa pertanyaan. Mengapa harus dirinya yang selalu mengecek keadaan pria ini, kenapa bukan yang lain saja? Cuma Sasya kembali lagi ia mengurungkan niatnya itu.
Apa lagi di sini tujuannya memang untuk belajar, jadi siapa tahu dengan begini Sasya bisa lebih menguasai semua ilmu yang ada. Dokter Rini keluar dengan di temani salah satu suster, kemudian ia menceritakan semua kondisi Alex kepada mereka. Setelah sudah bisa di mengerti, Dokter Rini segera pamit untuk mengurus pasien lainnya.
Sedangkan Alex, ia serahkan kepada Sasya karena Dokter Rini begitu percaya pada Sasya jika dirinya bisa membantu Alex untuk segera pulih dari sakitnya. Hari udah semakin larut, dan Alex pun sudah tertidur nyaman di ruangan khusus VIP 001.
__ADS_1
Pinjai menemani Alex bersama mafioso yang berjaga di dalam dan ada juga yang berjaga di luar ruangan. Namun tidak dengan Joko, ia malah kembali ke markas untuk tetap menjaga situasi di sana serta ingin melihat apakah hewan kesayangan Tuannya itu menyukai daging Jovan ataukah ia akan memuntahkannya.
Setelah Joko sudah memastikan jika hewan kesayangan Tuannya telah melahap habis daging Jovan, kini saatnya ia menjenguk seseorang yang sudah bertahun-tahun lamanya berada di balik jeruji besi hingga tubuhnya tidak terurus.
Satu persatu langkah Joko terdengar sangat nyaring di telinga seseorang. Bahkan suara itu bisa membuat seseorang sedikit merasa ketakutan seperti orang yang mengalami trauma akan suara langkah kaki.
“Ja-jangan dekati aku, Tu-Tuan. A-aku sudah tidak kuat lagi hiks... Le-lebih baik kau bunuh saja aku hiks...” tangis seseorang pun pecah sambil meringkuk di pojokkan dinding dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.
Seorang wanita yang sudah beberapa tahun hidup di dalam kegelapan dengan ruangan yang begitu kecil, bahkan rambutnya pun sudah tidak serapi dulu. Wajahnya pun tidak secantik saat pertama kali iya menginjakkan kaki di tempat ini dan kulitnya pun tidak semulus saat ia melakukan perawatan rutin.
Semuanya terlihat benar-benar menyedihkan. Tubuhnya terdapat beberapa luka sayatan, cambukkan dan juga kakinya terpasung tak berdaya. Hanya Jokolah yang merawatnya dengan tulus, bahkan di saat wanita itu di perlakukan bagaikan seorang binatang oleh Alex dan selalu saja Joko yang menjadi pelindungnya.
Hingga akhirnya beberapa bulan terakhir ini Alex pun tidak lagi menyiksa wanita itu. Alex sudah cukup senang saat melihat wanita itu menderita ketergantungan mental, sampai-sampai wanita itu pun selalu merengek kepada semuanya untuk segera membunuhnya dengan alasan ia sudah tidak kuat lagi menerima semuanya.
Tetapi tidak dengan Joko, ia dengan sangat telaten malah sibuk mengurusi wanita itu tanpa imbalan apa pun. Sampai membuat Alex dan Pinjai pun merasa bingung, kenapa Joko malah repot-repot mengurusi wanita gila seperti itu. Padahal jika Joko tidak mengurusinya, kemungkinan wanita itu sudah mati mengenaskan beberapa tahun yang lalu.
Namun yang mereka herankan adalah, kenapa Joko malah terlihat sangat senang jika di suruh untuk mengurusinya? Apakah Joko menyukai wanita itu? Tapi mana mungkin selera Joko jatuh pada wanita gila itu. Ya walaupun begitu, semua kembali lagi pada diri Joko. Dia yang menjalankan hidupnya, maka dia sendiri pula yang memilihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sini dulu ya cerita untuk hari ini guys... 😁😁😁
Semoga kalian menyukai ceritanya dan enjoy your time... 🤗🤗🤗
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Juga terima kasih bagi kalian yang setia membaca karya Author 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 😆😆😆
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
__ADS_1
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻