Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kamar Daddy


__ADS_3

Pinjai yang merasa cemas pun langsung berdiri sambil berkata “Tuan, apa saya harus panggilkan dokter sekarang?”


“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Cuma pusing sedikit saja” saut Bisma.


“Daddy kok gitu sih, biarkan Om Pinjai panggilkan dokter. Dari pada Daddy nanti kenapa-kenapa bagaimana? Kalau amat-amit Daddy amnesia terus lupa sama aku bagaimana? Aku enggak mau sampai...” ucap Qisya terhenti saat Bisma mengeluarkan jurusnya.


“Stop!! Aku di sini lagi sakit, jadi jangan bikin aku tambah pusing mendengar setiap ocehanmu yang semakin membuatku merasakan sakit. Dan kalau pun aku amnesia itu semua karena kecerewetanmu. Jadi, stop menganggap aku ini seperti anak kecil yang harus di manja. Paham!”


“Di sini aku ingin mengasih tahu kamu, kalau aku sedang berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisiku akibat kelelahan saat bekerja. Jadi, aku harus opname sampai benar-benar sembuh dan kamu tidak perlu ke sini, cukup doakan dan tunggu aku pulang nanti. Mengerti!”


Bisma berbicara dengan sangat tegas dan datar yang membuat Qisya dari tadi terdiam. Namun, namanya juga Qisya saat ia mendengar kata kelelahan ia kembali bersuara.


“Kan, sudah aku kasih tahu kalau Daddy berangkat bekerja jangan selalu larut malam terus. Jadi gini kan akibatnya, coba saja Daddy nurut sama aku pasti Daddy tidak harus ada di rumah sakit seperti itu” celetuk Qisya yang kembali memarahi Bisma.


“Astaga, ini sebenarnya yang bocah itu siapa sih? Aku atau dia? Kenapa seolah-olah aku ini kaya anak kecil yang bandel saat di kasih tahu, dan kenapa baru kali ini ada orang yang berani memarahiku seperti ini. Bahkan Pinjai yang sudah lama bersama denganku pun tidak pernah berani memarahiku seperti bocah ini. Tapi gadis kecil ini dengan lantang serta percaya dirinya dia memarahiku, dan yang lebih parahnya lagi di saat dia marah aku malah seperti patung hidup yang tidak bisa ngomong ” ucap Bisma di dalam hatinya dengan menilai keanehan yang ada di dalam dirinya sendiri.


Mereka kembali berbicara, sambil Qisya yang selalu memarahi Bisma dengan kecerewetannya yang membuat Pinjai sedikit tersenyum mendengarkan perdebatan mereka berdua dari jauh. Karena saat ini Pinjai telah duduk di sofa yang tidak jauh dari bangkar Bisma sambil memainkan ponselnya.


Beberapa argumen saling saut menyaut, sehingga tak lama keduanya kembali berdamai. Tidak lupa juga Qisya memberikan semangat kepada Bisma untuk segera sembuh agar bisa pulang secepatnya. Bahkan saat ini Bisma bisa melihat wajah Qisya yang sedikit bersedih atas keadaan Bisma saat ini.


Namun Qisya terlalu pandai untuk menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Bisma dengan semua celetukannya yang membuat Bisma sedikit tersenyum. Tak lama Bisma pun mematikan ponselnya, karena ia merasakan sangat pusing yang menandakan ia harus segera beristirahat sejenak untuk mengurangi rasa pusingnya.


Qisya yang masih merasa kangen kepada Bisma membuat ia sedikit kecewa jika harus menutup panggilan tersebut. Tapi, Qisya berusaha untuk mengerti jika Bisma saat ini benar-benar membutuhkan waktu yang banyak untuk beristirahat supaya segera pulih dari sakitnya. Yang terpenting Qisya sudah lega, saat mendapat kabar dari Bisma.


Meskipun kabarnya tidak baik, tapi tetap saja Qisya merasa senang jika apa yang dia pikirkan beberapa hari ini adalah salah. Pada dasarnya Bisma memang sungguh menganggap Qisya ada dan bukan sebagai orang asing, hanya saja Bisma tidak mau membuat Qisya cemas. Di situlah Qisya mengerti bahwa Bisma sangat peduli padanya. Qisya yang sudah mulai tenang, kini kembali meneruskan tidur siangnya yang sedikit tertunda.


Bersamaan dengan Bisma yang juga tertidur di bangkar rumah sakit. Sedangkan Pinjai yang juga merasa sangat kelelahan karena berjaga pun ikut tertidur, dengan beberapa body guard yang selalu siap berjaga-jaga di depan ruangan Bisma serta di beberapa sudut rumah sakit.


...*...


...*...


2 hari berlalu...


Qisya yang merasa sangat bosan dengan kesendiriannya pun, saat ia sedang menonton televisi. Namun, matanya selalu terfokus pada kamar Bisma yang membuat ia penasaran karena Bisma selalu mewanti-wanti untuk tidak ada yang masuk ke kamarnya selain dirinya.


“Sepertinya kalau aku main-main di kamar Daddy itu tidak masalah, bukan? Daddy juga tidak ada di sini hehe... Lagian kan aku cuman ingin lihat saja dan tidak sampai mengambil apa pun milik Daddy, kan aku bukan maling. Ya kali, ada maling secantik aku ini haha...” gumam Qisya dengan tertawa sambil berjalan menuju kamar Bisma.


Langkah demi langkah Qisya lewati perlahan dengan perasaan takut, cemas dan gugup. Namun, ia mencoba melawan itu semua karena penasarannya yang begitu menggebu. Dengan beberapa larangan serta nasihat Bisma untuk tidak mendekati kamarnya itu selalu membuat Qisya semakin penasaran.

__ADS_1


“Sebenarnya di kamar Daddy ini ada apa, sih? Kok sampai segitunya melarang orang lain untuk mendekati kamar dia saja tidak boleh. Atau jangan-jangan ada berlian atau ada foto kekasihnya Daddy? Wah... Jika benar, boleh kali ya ngintip dikit saja hihi... Seberapa cantiknya sih kekasih Daddy itu?”


“Apa jangan-jangan lebih cantik dari diriku ini, akhh... Aku tahu kalau aku ini memang sangat cantik hehe... Ya ampun, aku ini terlalu percaya diri sebegini kuatnya ya. Tapi bagus deh, siapa lagi yang akan bilang aku cantik kalau bukan aku sendiri, ya kan? Ya dong... hihi...”


Qisya mengoceh sambil menjawabnya sendiri sepanjang ia melangkahkan kakinya layaknya seseorang yang sedang mengobrol. Ya, begitulah cara Qisya untuk membuat dirinya tenang karena kegugupannya yang ingin mencari tahu isi dari kamar Bisma.


Cekrek !...


Pintu terbuka dengan sangat cepat tanpa di kunci oleh Bisma.


“Kayanya Daddy lupa mengunci pintunya deh, ya ampun kenapa mudah sekali untukku mencari tahu tentang kamar Daddy hihi... Aku kira akan gagal, tapi nyatanya berhasil. Kau memang hebat Qisya, haha...”


“Ya ampun, Qisya jangan berisik nanti kedengaran sama pemiliknya. Astaga, kan dia tidak ada di sini kenapa aku seperti maling yang mengendap-endap seperti ini sih... Dasar Qisya, Qisya kamu ini kenapa polos banget ya hihi...” celoteh Qisya sambil memasuki kamar Bisma dengan perlahan.


“Dad, Qisya izin ingin melihat kamar Daddy ya? Boleh, kan? Kalau enggak boleh Qisya keluar nih” tanya Qisya kepada dirinya sendiri.


“Oh, boleh-boleh silakan periksa saja sesuka hati kamu Baby. Daddy tidak akan melarangnya kok dan Daddy pun tidak akan marah” jawab Qisya dengan menirukan nada bicara Bisma yang sedikit di buat suaranya membesar.


“Oke, terima kasih Dad. Hehe...” saut Qisya dan langsung tertawa karena melihat kelakuannya sendiri yang begitu aneh.


Qisya perlahan menutup kembali kamar Bisma saat sudah berada di dalam. Ia mulai menelusuri setiap sudut kamar Bisma tanpa melewatkan sedikit pun.


“Waw... Kamar Daddy semuanya identik dengan kegelapan dan warna hitam ya. Merinding sih, tapi tenang Qisya. Ini hanya kamar bukan pemakanan, are you oke? Yes, I am. Hihi...” celetuk Qisya saat merasa seram dengan desain kamar Bisma.


Qisya mengecek setiap meja kerja Bisma yang memang tidak ada apa-apa. Bahkan ia sampai mengecek setiap laci-laci kecil hingga beberapa bupet yang membuat ia sedikit penasaran. Namun, nihil. Qisya tidak menemukan apa pun di sini yang malah membuatnya semakin penasaran.


Jika tidak ada apa-apa, kenapa Bisma sampai mewanti-wanti mereka semua termasuk Qisya untuk tidak boleh mendekati kamarnya. Pasti ada sesuatu yang Bisma sembunyikan. Itulah yang saat ini ada di pikiran Qisya. Hingga tanpa sengaja Qisya tersandung oleh kakinya sendiri dan menabrak dinding tembok.


“Aaaakkkhhh...” teriak Qisya dengan keadaan menyusup ke depan serta kedua tangan yang mendorong dinding tembok.


Kreeek !...


Dinding tembok pun terbuka sedikit yang membuat Qisya benar-benar terkejut dan sedikit merinding ketakutan.


“Wow... Seriusly? Dinding kamar bisa terbuka seperti ini? Atau jangan-jangan ini pintu yang di bikin dinding? Astaga Daddy, kau benar-benar pintar mendesain ruangan ini yang memang ini adalah rumahmu” saut Qisya yang langsung berdiri dari tempat jatuhnya tadi sambil berjalan perlahan mendekati dinding tersebut.


Tok... Tok... Tok...


Qisya mengetuk dinding tersebut untuk membuktikan jika itu bukanlah dinding. Namun, ia salah. Ternyata memang itu adalah dinding yang di desain sedemikian rupa untuk membuat ruangan rahasia di kamar Bisma supaya tidak ada orang yang mengetahuinya. Qisya yang benar-benar sudah tidak tahan dengan perasaan penasarannya ia langsung memasuki ruang tersebut.

__ADS_1


Dan...


Jeng... Jeng ...


Qisya melihat banyaknya foto yang tertempel di dinding tersebut dengan beberapa coretan di wajah foto tersebut. Qisya melihat setiap foto tersebut secara perlahan dan begitu fokus, ia juga tidak mengenali mereka semua.


“Kenapa wajah mereka di coret-coret dengan spidol merah oleh Daddy? Ini sebenarnya ada apa sih, kok aku jadi bingung ya” saut Qisya sambil menggaruk tengkuluknya yang tidak gatal.


Namun, saat Qisya kembali melihat satu demi satu foto tersebut. Tiba-tiba saja matanya terhenti saat melihat foto keluarganya yang hanya wajah Brianlah yang di coret oleh Bisma. Meskipun hampir tidak terlihat, tapi Qisya masih hafal dengan wajah Ayahnya itu dan di tambah ada foto keluarganya.


Dari mana Bisma bisa mengambil foto keluarganya Qisya? Itulah yang ada di dalam pikiran Qisya saat ini. Qisya pun mencopot foto keluarganya dan memegangnya dengan tangan yang sangat bergetar. Bahkan air matanya runtuh seketika saat ia memandangi foto mereka semua.


Foto tersebut di ambil saat acara akikahan kedua adik kembarnya yang baru saja lahir. Di sana terdapat foto keluarga lengkap yang terdiri dari Brian, Hana, Qisya, Lukas, Lily, Oma, Opa, Mbah Kung, Mbah Uti dan Arya dengan keadaan tersenyum bahagia menyambut kedatangan si kembar di dalam keluarga mereka.


“Hiks... Qisya kangen sama kalian semua, ta-tapi dari mana Daddy bisa memiliki foto ini? Sedangkan Daddy saja tidak mengenal keluargaku hiks...” Qisya menangis sejadi-jadinya sambil menatap foto keluarganya tersebut dan beberapa kali ia menciumnya dengan menumpahkan seluruh kerinduannya hanya dengan menatap foto tersebut yang saat ini sebagai obat untuknya.


Dan saat Qisya selesai mencium foto keluarganya, tak sengaja foto tersebut terjatuh dengan keadaan terbalik.


Degh !...


Degh !...


Duuaarrrr !...


Bagaikan di sambar ribuan petir yang sangat dahsyat membuat ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya pada saat itu. Qisya langsung mengambil foto tersebut untuk membacanya dengan tulisan spidol yang berwarna merah.


...*...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya ceritanya semuanya... 😁😁😁


Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗


Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗


Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰

__ADS_1


Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2