Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Pertemuan Kakek Iram dan Alex


__ADS_3

Sama halnya seperti Sasya dan Alex, dari situ Jay bisa belajar bahwasanya tidak mudah untuk seseorang bisa langsung berpindah agama. Banyak proses yang harus di lalui supaya bisa menyeram ilmu yang akan mereka jadikan paduan selama hidupnya.


...*...


...*...


Tepat di hari Minggu, semua sudah berkumpul di rumah Ayah Brian dan juga Bunda Hana untuk kembali mempertemukan Alex dengan Kakek Iram untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masa lalu mereka.


Di sini tidak ada satu pun yang berani mengatakan jikalau sebentar lagi akan ada kejutan besar buat Kakek Iram, semua orang hanya berusaha menganggap jika ini adalah pertemuan biasa supaya tidak akan membuat mereka curiga.


Kakek Iram dan Ayah Brian sedang berbincang-bincang mengenai masalah bisnis yang ingin mereka bangun bersama, begitu pun dengan Bunda Hana beserta Nenek Mona. Mereka sedang menyiapkan beberapa camilan dan juga minuman dibantu oleh Sasya.


Namun, Lily. Dia sedang keluar bersama teman wanitanya untuk mengerjakan tugas kuliah yang besok akan di kumpulkan. Lalu Lukas? Dia setia duduk manis di dekat Kakek Iram untuk berjaga-jaga.


Rasa bersalah dan tidak enak selalu menghantui Lukas sejak semalam, tetapi apa boleh buat. Dia juga penasaran ada masalah apa Kakek Iram dan Alex karena selama ini Lukas tidak mengetahui kisah mereka secara detai.


Sedangkan Key, dia tak henti-hentinya merasakan adanya kejanggalan dari wajah Lukas yang terlihat datar dan sedikit cemas. Entah, apa yang ada di pikiran Lukas sehingga berhasil menarik perhatian Key.


"Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit?" bisik Key dengan sedikit cuek, namun terlihat mengkhawatirkan kondisi Lukas.


"Biasa saja!" jawab Lukas sangat irit.


"Aku kenal kamu bukan sehari dua hari, jadi aku


paham betul semua tentang dirimu! Jika kamu seperti ini, itu tandanya akan ada sesuatu yang akan terjadi. Benarkan?"


"Jadi katakan, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kalian mengundangku beserta Kakek dan Nenek untuk datang ke sini?"


Key mencecar habis Lukas dengan semua pertanyaan yang mampu membuat Lukas cuman terdiam tanpa mau menjawab apa pun.


Meskipun suara mereka terdengar tegas dan bisik-bisik, tetapi Lukas tidak terlepas dari pantauan Ayah Brian yang saat ini sedang melirik tajam ke arahnya.


"Ti-tidak, tidak ada apa-apa! Bukannya Bunda dan Ayah memang selalu mengundang kalian untuk main ke sini, ya kan? Jadi apa yang harus di curigain!"


"Lagi pula ini hari weekend, Key. Tak masalah buat kami untuk mengundang kalian hanya sekedar mencicipi beberapa cake buatan Kak Sasya. Siapa tahu kamu dengan Kakakku bisa join buka usaha, kan? Jadi cobalah berpikir positif tentang kami!"

__ADS_1


Lukas menjawab semua ucapan Key dengan berpikir keras agar dia tidak melakukan kesalahan. Beberapa kali Lukas selalu melirik ke arah Ayahnya, yang membuat Key pun ikut melirik Ayah Brian. Tetapi dengan cepat Ayah Brian mengalihkan tatapannya sambil terus mengobrol.


Sampai akhirnya Bunda Hana, Nenek Mona dan juga Sasya datang membawa beberapa nampan berisikan makanan serta minuman di tangannya untuk memanjakan perut yang mulai sedikit keroncongan.


Ada beberapa potong cake buatan Sasya, lalu ada camilan dan juga minuman dingin menyegarkan. Perlahan Sasya letakan satu persatu di atas meja membuat mereka segera duduk lalu mencicipinya tanpa basa-basi.


Ya meskipun Nenek Mona sudah mencicipinya di belakang, tetapi bagi dia tetap kurang. Apa lagi Nenek Mona pencinta makanan manis, jadi dia memang sangat gemar memakan yang membuat mulutnya tidak berhenti bergoyang.


Belum lagi cake yang selalu Key buatkan setiap hari untuknya, tanpa adanya rasa keluhan apa pun.


Cake buatan Key dan Sasya memang 11 12, hanya saja Key sedikit lebih unggul. Cuman bagi Sasya itu tidak masalah, setidaknya dia bisa lebih belajar banyak dari Key supaya suatu saat nanti dia bisa memanjakan Alex dengan semua masakannya.


15 menit berlalu, ketika semuanya sedang bercanda dan bergurau tiba-tiba terdengar suara bel pintu yang mampu membuat Lukas terkejut.


Tingnong!


Tingnong!


"Sepertinya ada tamu, Sasya izin ke depan sebentar ya.." ucapnya sambil bangkit dari kursi dan berjalan mendekati pintu utama.


"Dia? Dia siapa?" tanya Key berhasil membuat semuanya menoleh ke arahnya dan juga Lukas.


Bahkan Lukas sendiri langsung menatap wajah Key dengan tatapan aneh, padahal dia bergumam sangat kecil nyaris tidak terdengar. Cuman karena Key memang tipe wanita yang jeli, jadi dia memang sangat peka.


"Assalammuaikum.." ucap salam seorang pria tampan, gagah dan juga berkharisma sedang berjalan ke arah mereka semua.


Dimana kedua mata Kakek Iram dan juga Nenek Mona hampir saja tercopot, Nenek Mona yang sudah menyadari bahwa itu adalah orang yang selama ini dia takutkan langsung bergegas bangkit dan memeluk Key.


"Astaga, Nenek! Lepasin, dada Key sesak banget ini!" titah Key. Nenek Mona sedikit melonggarkan pelukannya pada Key sambil terisak, kali ini Nenek Mona seperti trauma akan kehilangan keluarganya kembali.


Mungkin jika dirinya yang kehilangan nyawanya, Nenek Mona bisa menerimanya. Cuman kalau sampai Key yang jadi taruhannya maka dia tidak akan bisa menerima semua itu.


Key yang mendengar suara isak Nenek Mona langsung mendongak menatapnya, air mata Nenek Mona mulai runtuh bersamaan dengan getaran tubuhnya.


"Nek? Ne-nenek? Ne-nenek kenapa kok tiba-tiba nangis, ada apa Nek? Ada apa!" pekik Key dengan wajah penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Kek, Kakek! Nenek kenapa Kek, kenapa!"


"Astaga!! Kalian itu berdua kenapa sih, ketika orang ini dateng sikap kalian malah berubah. Satunya nangis ketakutan, satunya terdiam membisu, benar-benar membuatku bingung!"


"Maaf, Bunda Ayah. Semua ini ada apa? Kenapa kalian mengundang orang lain disaat kita sedang berkumpul seperti ini? Lantas ada apa hubungan apa orang itu sama Kakek dan Nenek, sampai-sampai mereka terlihat begitu syok!"


Semua terdiam membisu menatap satu sama lain, keadaan mulai sedikit menegang sehingga dengan cepat Ayah Brian langsung mengambil alih semuanya agar bisa menjadi sedikit tenang.


Key berusaha keras untuk menenangi Nenek Mona, sedangkan Lukas dia mencoba membuat Kakek Iram tersadar dari lamunannya.


Sasya mengode Alex agar tidak semakin membuat suasana semakin keruh, jadi mau tidak mau Alex pun berusaha tersenyum walaupun masih terasa sakit di dalam hatinya.


Tapi Alex ingat bahwa saat ini dia bukanlah Alex yang dahulu ketika bertemu dengan pengkhianat tanpa basa-basi segera menghukum mati.


"Maaf untuk semuanya jika kehadiran saya membuat kalian sedikit terkejut. Apa lagi untuk anda Tuan Iram, lama kita tidak berjumpa. Dan pada akhirnya takdir yang mempertemukan kita di sini" Alex tersenyum menatap Kakek Iram.


Tubuh Kakek Iram bergetar hebat saat melihat senyuman yang terukir di wajah Alex, seakan-akan ini adalah hari terakhir baginya.


Kakek Iram belum tahu jika saat ini Alex sudah benar-benar berubah, jadi apa yang dia ketahui tentang kekejaman Alex semakin membuatnya di pintu kematian.


"Tu-tuan A-alex? Ka-kau a-ada di sini?" tanya Kakek Iram. Alex bisa melihat ketakutan yang mendalam dikedua mata Kakek Iram ketika dia menatap Alex.


"Tu-tuan ma-maafkan su-suami saya ji-jika dia sudah me-membuat salah di masa lalu hiks.. Mo-mohon ampuni dia, dan ja-jangan sakiti dia a-aku mohon hiks.."


"Ji-jika memang harus ada nyawa yang menjadi korban biarlah hanya aku saja, tapi bukan suamiku atau pun cucuku. Biarkan mereka hidup dengan tenang hiks.."


Kalimat yang keluar dari Nenek Mona langsung membuat mereka semua menoleh menatapnya tidak percaya.


Secinta itukah Nenek Mona dengan Kakek Iram? Atau ini namanya cinta yang murni dan tulus? Mungkin saja, karena cinta rela berkorban demi melihat orang yang dia cintai bahagia sementara dirinya terluka.


Sama halnya seperti Nenek Mona saat ini yang rela mengorbankan nyawanya cuman demi keselamatan 2 nyawa yang dia sayangi. Nenek Mona merasa bahwa dia lebih baik mati sendiri, dari pada hidup menyendiri.


Alex yang melihat ketulusan Nenek Mona semakin membuat senyuman di bibirnya melebar, kemudian Ayah Brian menyuruh mereka untuk duduk agar keadaan tidak semakin menegang.


Lukas menatap tajam kearah Alex penuh aura mencekram, belum lagi Key pun ikut menatap Alex dan sesekali menatap Lukas. Menurut Key pasti Lukas tahu semua tentang ini, tetapi dia enggan untuk memberitahukannya.

__ADS_1


__ADS_2