Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Aminah Adelia Malvynson


__ADS_3

Lukas, Key, Lily dan Jay mereka berdiri diatas panggung pelaminan dalam keadaan tersenyum. Rasanya bahagia sekali bisa menyambut satu persatu para tamu untuk mengucapkan selamat sambil memberikan doa pda mereka.


Apa lagi banyak nasihat-nasihat yang mereka terima dari berbagai para tamu. Mereka menjelaskan bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Tetapi ini merupakan langkah awal, bagi mereka supaya bisa menghadapi badai yang sudah menunggu di depan.


...*...


...*...


Beberapa tahun silam, Lukas dan Key sudah dikaruniai seorang pangeran kecil yang sangat manis berusia 5 tahun. Hanya saja sifatnya benar-benar mewarisi dinginnya kedua orang tuanya.


berbeda dengan anak Jay dan Lily yang usianya 1 tahun dibawah anaknya Lukas. Dia merupakan anak perempuan yang sangat bandel, dan juga polos. Dalam artian kata bandel, memang identik dengan anak kecil.


Cuman, anak dari Lily dan Lukas memang tipikal anak yang jahil, nakal dan juga ceria. Akan tetapi, dia merupakan cucu dari Ayah Brian dan Bunda Hana yang sangat lucu, serta bisa menghibur siapa pun yang ada didekatnya.


Di saat anak mereka sedang lucu-lucunya ternyata mereka mendapatkan kabar buruk tentang Abah Toni yang semakin menua dan juga sakit-sakitan.


Setelah melewati serangkaian perawatan yang intens, ternyata Abah Toni sudah tidak bisa ditolong akibat penyakit tua yang sudah menggerogoti tubuhnya.


Sama halnya seperti Papah Ferry, orang tua dari Ayah Brian. Dia telah tiada akibat terkena serangan jantung, kini hanya tinggal Mamah Syifa dan Umi Dewi yang tersisa. Ya meskipun usianya sudah tidak muda lagi, cuman mereka masih terlihat baik-baik saja.


Lily yang sudah meninggalkan keluarganya kurang lebih hampir 4 tahun, ikut tinggal bersama keluarga suaminya di New York. Saat ini sudah kembali ke Indonesia, dimana Jay sudah membangun perusahaan sendiri berkat bantuan dari Alex dan juga Lukas.


Rasanya senang sekali ketika Lily, Jay dan anaknya serta kedua mertuanya sudah kembali ke Indonesia. Mereka pun langsung tinggal dirumah mewah yang dahulu pernah dijadikan mahar untuk pernikahan mereka.


"Bi, lihat Amina?" tanya Lily, wajahnya sangat panik.


"Tidak, Nyonya. Bukannya, tadi Non Amina sedang bermain diruang tv?" jawab sang Bibi.


"Entahlah, Bi. Aku susah tidak mengerti lagi sama sifatnya yang menyebalkan itu."


"Kemarin dia mengumpet di lemari hanya untuk memakan ice krim, hingga semua baju menjadi lengket. Dan sekarang, dia menghilang lagi!"


Lily sudah sangat pusing ketika tidak mengerti betapa jahil dan nakalnya anak itu. Lantaran diusia 4 tahun dia benar-benar sudah sangat pintar untuk melakukan apa pun asalkan dia bisa menikmati ice krim kesukaannya.

__ADS_1


Aminah Adelia Malvynson adalah putri kesayangan Jay, yang saat ini berusia 4 tahun lebih. Amina selalu mewarisi sifat kedua orang tuanya, sehingga dia tumbuh menjadi putri kecil yang bisa membawa kebahagiaan.


Ya walaupu Aminah terkesan anak yang nakal, cuman bagi siapa pun itu hal yang wajar bagi anak seusia Aminah. Bahlan kehadiran Aminah mampu membuat kedua irang tuanya darah tinggi.


Berbeda sama kelurga besarnya yang sangat di penuhi oleh rasa senang, canda tawa dan juga menghibur untuk siapa pun yang ada didekatnya.


Sang Bibi terdiam sejenak saat mendengar suara itu, dia berusaha untuk konsentrasi mendengar dari mana asal suara samar yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Nyonya, apa Nyonya mendengar suara kresek-kresek?" ucap sang Bibi, mengecilkan suaranya.


"Ya, Bi. Saya juga mendengar, ini tidak salah lagi psti anak nakal itu, Bi. Dia terus membuat ulah, hanya karena ingin menikmati ice krim kesukaannya." jawab Lily, dengan berbisik-bisik.


"Sepertinya suaranya dari bawah meja makan, Nyonya." ucap sang Bibi, sambil menatap meja makan.


Saat ini posisi mereka berada dirumah makan, Lily sudah lelah mencari anaknya. Sehingga dia langsung mendekati sang Bibi yang saat ini lagi membersihkan meja makan.


Perlahan Lily mendekati meja makan, lalu dia berjongkok mengintip dibawah kolong. Betapa terkejutnya Lily, ketika melihat anak semata mayangnya sudah menghabiskan 2 ice krim sekaligus ditangannya.


Baju serta mulut sudah terkena lelehan ice krim yang saat ini mengotori pakaian anak diusia 4 tahun. Amina terlihat begitu enjoy tanpa beban menikmati ice krim yang selama ini menjadi makanan favorit untuknya.


Itulah yang membuat Amina rela bersembunyi, hanya untuk menikmati manis serta dinginnya ice krim tersebut.


Loh kok bisa bocah berusia 4 tahun bisa melakukan hal tersebut? Ya, memang itu kenyataannya. Meskipun kulkas yang ada di dapur lebih tinggi dari Amina.


Namun, Amina adalah anak pintar yang memiliki segudang akal untuk mendapatkan apa pun yang seharusnya menjadi miliknya.


Amina beberapa kali mendorong sebuah kursi yang berada dimeja makan, yang ada di dapur untuk mengambil ice krim.


Kemudian kursi ditempelkan ke kulkas, lalu Amina memanjat perlahan sampai berjinjit hanya untuk membuka pintu kulkas demi guna mengambil ice krim kesukaannya.


"Astaga, Amina! Apa yang kamu lakukan disini? Mommy dari tadi nyariin kamu, loh!" ucap Lily, saat melihat anaknya berada dikolong meja makan.


"Eh, Amih hehe, I-ini angan ice kim. Amih auu? Enyak loh, dingin anis agi aya atu. Hempt ...."

__ADS_1


Aminah terlihat begitu enjoy menikmati manisnya ice krim tersebut. Sedangkan Lily, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka bahwa Amina bisa menjadi anak yang sangat menyebalkan.


"Bi, besok kita ganti kulkas yang lebih besar dan aku akan buatkan gembok biar anak nakal ini tidak akan bisa mengambilnya."


"Kalau perlu, sisa ice krim yang ada. Tolong bagikan kepada siapa pun yang mau, lalu kosongan frezzernya, supaya anak ini tidak bisa kembali menikmati ice krimnya."


Lily terlihat begitu kesal menoleh kearah sang Bibi, yang hanya bisa tersenyum ketika melihat anak majikannya malah biasa saja tanpa menggubris ucapan Mamihnya.


"Amih au bagi-bagi ice kim? Aminah au satu agi boyeh? Atau, Ami kasih Aminah aja. Aminah bica kok, akan cemuanya. Kan peyut Aminah gede hihi ...."


Aminah terkekeh tanpa sedikit pun merasa takut, ketika melihat wajah Mamihnya yang saat ini sudah benar-benar frustasi. Lily tidak tahu lagi, bagaimana harua menghadapi monster cantik yang saat ini berhasil membuat tekanan darah tingginya selalu naik.


"Ya ampun ini anak, bener-bener ya! Bisa tidak sehari aja Aminah jadi anak baik, angun dan juga nurut. Mamih lelah, Nak. Jika setiap hari harus seperti ini."


"Apa kamu tidak kasihan sama Mamih dan juga Papih? Bagimana jika kami sakit akibat ulahmu yang nakal ini, apa Aminah mau kehilangan Mamih dan Papih?"


Degh!


Aminah menjatuhkan sisa ice krimnya, lalu menatap.wajah Mamihnya yang saat ini sedang tersenyum kecil menatapnya.


Mata Aminah mulai berkaca-kaca, terlihat sekali dibalik kenakalannya. Ternyata Aminah sangat menyayangi kedua orang tuanya.


"Ndak! Amih cama Apih ndak boyeh ninggalin Aminah, titik! Hiks ... Aminah janji, ndak akan akal agi. Biyal Amih cama Apih cehat-cehat teyus. Aminah cayang Amih cama Apih hiks."


Aminah merangkak keluar dari meja makan, kemudian dia memeluk Mamihnya begitu erat sambil menangis. Lily, awalnya ingin marah akibat Aminah memeluknya dalam keadaan tubuh yang masih berlumuran ice krim.


Cuman, balik lagi. Lily sangat senang saat melihat betapa sayanganya Aminah kepada kedua orang tuanya.


Lily langsung berdiri sambil menggendong putrinya dan membawa pergi ke kamar Aminah, lalu Lily segera memandikan Aminah untuk kedua kalinya agar rasa lengket ditubuhnya akibat ice krim bisa segera menghilang.


Beginilah keseharian Aminah dan Lily, dari sini Lily sadar bahwa peran seorang Ibu dan istri tidaklah mudah.


Dari sinilah, Lily bisa merasakan betapa sulitnya dahulu Bunda Hana biaa mengurus 3 anaknya sekaligus dengan perbedaan jarak yang tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Ditambah Lukas dan Lily merupakan anak kembar, jadi tidak mudah bagi Bunda Hana untuk mengurus semuanya. Dari anak, suami, rumah dan juga lain-lain.


__ADS_2