
Di dalam mobil
Hana, Qisya dan Brian sedang berada di jalan untuk berbelanja kebutuhan bulanan serta pakaian baru buat Qisya.
Awalnya Nyonya Syifa ingin mengatarkan Hana dan Qisya, namun saat melihat Brian yang hanya duduk santai di ruang keluarga bersama papahnya.
Kini, membuat Nyonya Syifa merasa sangat kesal. Makannya lebih baik Brian saja yang di suruh untuk mengatarkan mereka dengan tujuan agar Brian dan Hana bisa semakin dekat.
"Ayah, anti Isa mau ake tudung loh, bial antik aya bunda hehe.." ucap Qisya sambil duduk di pangkuan Hana serta menatap Brian yang sedang fokus menyetir.
"Wah.. pasti anak ayah akan semakin cantik dong, siapa yang ngajarin sayang? Oma ya.." tanya Brian sambil tersenyum dan sesekali menatap Qisya dengan keadaan menyetir.
"Ukan Oma ayah, api bunda. Bunda ilang atanya Isa lebih antik ake tudung dali pada di uncil-uncil ambutnya. Teyus uga bial aulat Isa ke tutup gitu" celoteh Qisya yang membuat Brian melirik Hana.
"Bukan begitu sayang, bunda kan bilang jika Qisya memakai kerudung itu akan lebih bagus karena Qisya menutup auratnya mulai sejak kecil. Bahkan cantiknya Qisya akan lebih bertambah, Tapi.. ada tapinya ya" ucap Hana sambil menasehati Qisya dengan nada yang begitu lembut.
"Api apa bunda?" tanya Qisya sambil mendongakkan kepalanya agar bisa menatap manik mata Hana.
Brian yang sedang fokus menyetir hanya bisa menyimak sesekali melirik Hana dan Qisya yang sedang membahas tentang aurat.
"Tapi, jika Qisya ingin memakai kerudung harus berdasarkan niat Qisya untuk menutup aurat sayang. Karena seorang perempuan, baik masih kecil atau pun sudah besar itu sudah ada ketetapan di dalam agama Islam bahwa mereka harus menutup auratnya dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Tetapi jika laki-laki aurat mereka hanyalah dari pusar atau yang sering kita sebut dengan bodong itu sampai selutut"
Hana mencoba menjelaskan Qisya dengan kata-kata yang mudah Qisya pahami serta menunjukan batas-batas aurat.
"Oh begitu bunda, belalti alo Isa mau pakai tudung halus kalena Isa mau utup aulat ukan kalena antik dong?" tanya Qisya.
"Bukan sayang, tapi untuk Qisya yang masih kecil kita bisa mulai secara perlahan tidak harus di paksanya. Namun, jika sudah besar seperti bunda, Oma atau anak yang sudah sekolah itu harus menutup auratnya supaya tidak ada yang berani niat jahat sama kita" ucap Hana.
"Teyus aulat itu apa bunda? Isa beyum ngelti hehe.." tanya Qisya sambil tertawa.
"Aurat itu adalah bagian dari tubuh kita yang tidak boleh dilihat oleh lawan jenis yang bukan muhrimnya, seperti contohnya Qisya mandi di depan rumah dengan keadaan telanjang nah, itu tidak boleh sayang. Apa lagi kalau bisa mulai sekarang Qisya harus belajar mandi sendiri tanpa bantuan ayah atau Opah karena kan mereka laki-laki jadi tidak boleh Qisya menunjukkan tubuh Qisya yang telanjang begitu sayang. Apa Qisya sudah mengerti?"
Hana terus menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang mudah Qisya cerna dan tidak akan membuatnya merasa pusing.
"Isa ngerti bunda, dadi alo Isa mau mandi halus cama bunda atau Oma ya. Belarti anti Isa mau belajal mandi cendili ya bunda api ajalin hehe.." ucap Qisya sambil cengengesan dan malah mendapati senyuman dan anggukan oleh Hana.
"Jika Qisya belum siap, jangan terlalu di paksakan!! Dia masih terlalu kecil untuk mengerti ucapan orang dewasa" saut Brian dengan nada dingin sambil fokus menyetir.
"Yakk.. ayah ish.., Isa udah besal ya. Isa uga mau kok aya bunda ake tudung, tan Isa pelempuan. Ata bunda adi ako pelempuan halus utup aulat dali ambut ampe kaki, dadi biar ndak ada olah-olah ahat. Ayah aja cudah utup aulat ake celana anjang maca Isa ndak ake tudung cih" jawab Qisya dengan nada sewotnya.
__ADS_1
"Ya sudah terserah Qisya saja" jawab Brian dengan nada dingin.
"Ayah napa cih.. malah-malah mulu? Ayah belantem ya ama bunda? Ayah ata Oma ndak baik belantem-belantem begitu, anti temennya cetan loh. Teyus uga belantemnya ndak boyeh lama-lama anti dosa teyus macuk nelaka. Ayah mau udah acuk nelaka teyus dadi temennya cetan?"
Qisya yang merasa ayahnya sedang memarahi bundanya ini merasa sedikit kesal dengan sikap Brian yang begitu dingin.
Padahal kemarin sebelum nikah sikap Brian dengan Hana baik-baik saja seperti layaknya 2 insan yang saling menyayangi satu sama lain.
Brian yang mendengar ocehan Qisya sedikit menusuk hatinya seketika langsung terdiam seribu bahasa. Apa yang di bilang Qisya memang ada benarnya, bahkan Brian sendiri merasa aneh kenapa dirinya bisa seperti ini?
Apakah karena Brian masih terbayang-bayang oleh mendiang istrinya, jadi membuat Brian selalu berubah-ubah sikapnya?
Terkadang baik perhatian dan terkadang malah membuat Hana menangis.
Hana yang merasakan Brian sudah terdiam membuat dirinya mengerti apa arti kata diam sesungguhnya.
Omongan Qisya memang benar, hanya saja Hana merasa jika Brian sedang tidak baik-baik saja saat mendengar ucapan Qisya.
"Hoya.., nanti Qisya mau beli kerudung berapa?" tanya Hana yang mencoba untuk mencairkan suasana, bahkan muka Qisya yang tanya mengerutkan dahi menatap ayahnya kini kembali berubah seperti semula.
"Belapa ya? Bental bunda Isa mikil-mikil duyu ya, hem.. ahaa..., gimana alo kita boyong tokona aja bunda dali pada ibet-ibet tan, celakian cama mbak atungnya bial anti bica buat di ajang di lumah hehe.."
Bahkan kini Hana sudah mencubiti pipi gembul Qisya beberapa kali sambil menggelitiki pinggangnya yang membuat Qisya semakin tertawa geli.
"Haha.. ampun bunda, haha.." ucap Qisya sambil meliuk-liukkan badannya dan tertawa.
"Haha.. biarin saja, habisnya anak bunda ini sudah pintar bercanda ya" jawab Hana sambil menggelitiki Qisya dan tertawa.
Brian yang sesekali melihat aksi gemas mereka semua membuat ia seketika tersenyum menatap ke duanya.
Sedangkan Hana yang merasa Brian sedang menatapnya kini hanya bisa meliriknya dengan sudut matanya.
Sampai akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di Mall Plaza Jakarta.
Brian mencari tempat parkir, kemudian saat mobil sudah terparkir rapi kini mereka semua turun sambil Qisya yang selalu bergandengan dengan Hana dan Brian.
"Ayah, bunda... Isa ceneng deh bica gandengan aya gini. Cama kaya meleka yang celalu gandengan cama olang tuanya" ucap Qisya sambil berjalan dan menatap anak kecil yang selalu di gandeng oleh kedua orang tuanya.
"Alhmdulillah sayang, bunda juga senang bisa menjadi bundanya anak baik dan cantik seperti Qisya" jawab Hana sambil berjalan.
__ADS_1
"Ayah ceneng enggak bica nikah cama bunda?" tanya Qisya kepada Brian yang hanya sesekali menatap Qisya sambil berjalan.
"Senang sayang, kan Qisya yang minta ayah menikahi bunda" jawab Brian dengan terus berjalan.
"teyus belalti ayah cinta dong cama bunda?" celoteh Qisya yang membuat langkah kaki Hana dan Brian seketika terhenti dan menatap Qisya.
"Qisya tahu dari mana kata-kata itu?" tanya Brian dengan wajah serius.
"Isa pelnah anya cama Oma, tan Isa ukan anak ayah. Teyus Isa anyak alo Isa ukan anak ayah belalti ayah cama ibu dulu ndak menikah dong. Teyus Oma bilang ayah menikah cama olang lain ukan cama ibu kalena ayah cinta cama olang lain. Ayah uma nolongin ibu Isa yang cakit campe meninggal balu ayah ngulusin Isa campe cekarang gitu"
Qisya yang masih mengingat sedikit cerita mendiang soal ibunya dari Omanya waktu itu saat Qisya selalu menanyakan tentang sosoibunya.
Hana yang mendengar setiap ocehan Qisya membuat dirinya sangat terkejut bahkan seketika membuat tangannya melepaskan tangan Qisya.
"A-apa yang dikatanya Qisya benar? Lalu jika Qisya bukan anak mas Brian, lalu siapa Qisya? Kenapa mas Brian dan keluarganya mengangkat Qisya sebagai anaknya? Apa mendiang istrinya tidak bisa memberikan seorang anak?" tanya Hana di dalam hatinya dengan perasaan bingung.
"Astaga, mamah kenapa menceritakan semuanya tentang siapa Qisya sih. Dia masih kecil belum berhak tahu semuanya. Setelah pulang dari sini aku harus berbicara sama mamah tentang masalah ini" ucap Brian di dalam hati.
Qisya yang mendongak menatap kedua orang tuanya langsung terdiam membuat dirinya merasa bingung.
"Ayah, bunda napa alian diem aja?" tanya Qisya.
Brian sama Hana seketika tergelonjak kaget dan langsung menatap Qisya.
"Bunda gapapa kok"
"Ayah gapapa kok"
Brian dan Hana mengucapkan 1 kalimat dengan cara berbarengan yang membuat keduaya langsung saling menatap satu sama lain.
"Cie.. cie.. suit suit, haha.. ayah cama bunda bica baleng gitu omongnya. Ata Oma alo omongannya baleng itu belalti bunda cama ayah jodoh yey.." sorak Qisya sambil melompat-lomba senang.
Hana dan Brian hanya bisa tersenyum menatap Qisya yang begitu bahagianya karena sudah memiliki keluarga lengkap yang selama ini Qisya harapin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers, othor mau merekomendasikan novel teman yang siapa tau sesuai dengan genre kalian semua 🤗🙏 Jangan lupa sempaikan mampir ya, terima kasih..
__ADS_1