
Namun tidak bertahan lama, Anna langsung menangkis semua itu dan segera pergi meninggalkan taman menuju toilet untuk mencuci mukanya agar bisa lebih fres lagi karena wajahnya saat ini masih memerah akibat perlakuan Ash yang tidak terduga.
...*...
...*...
Di dalam toilet pria..
Ash sedang membasuh wajahnya berulang-ulang kali dengan sangat gusar, sambil menatap ke arah cermin besar.
"Arrrghhh.. dasar bo*dohnya kau Ash!! Bod*dohh, bo*doh, bo*doh!!" Alex memukul-mukul meja kramik wastafel hingga menatap tajam ke arah cermin dengan kondisi wajah yang basah.
"Apa ku sudah gila, hah!! Bisa-bisanya melakukan hal senekat itu pada seorang wanita, bagaimana jika Anna berpikir kalau kau itu pria yang me*sum. Mau taro dimana mukamu ini Ash, Ash.. arrrghhh.. si*al!!"
"Kalau begini caranya aku harus mencari momen yang tepat agar bisa meminta maaf pada Anna, supaya dia tidak salah paham padaku. Ya, pokonya aku harus selesaikan masalah kecerobohanku ini. Dasar bibir tidak ada akhlakk!!"
Alex memukul kecil bibirnya berkali-kali sampai ia kembali membasih wajahnya dan membuat rambutnya pun ikut basah. Tak lupa di samping toilet pria terdapat toilet wanita yang mana ada seorang wanita yang juga merasakan apa yang Ash rasakan. Siapa lagi jika bukan Anna.
Anna menatap lekat wajahnya di depan cermin yang mana wajahnya sudah basah akibat air yang selalu ia basuh ke wajahnya.
"Huhh.. ayolah Anna, ayoo.. jangan mulai lagi, ingat kau ke sini itu untuk melanjutkan masa kerjamu bukan untuk jatuh cinta. Jadi, stop memikirkan cinta. Cinta hanya bisa membuatmu sakit hati, sama seperti cinta pertamamu yang sudah menghancurkan hidupmu disaat-saat terakhir"
"Pokonya kau harus bisa menjadi wanita yang kuat, wanita yang mandiri. Supaya kau tidak bisa di remehkan, walaupun statusmu adalah seorang suster tetapi derajatmu lebih baik dari pada seorang pelakor yang berkedok teman!"
Anna mengepalkan kedua tangannya disamping kakinya hingga matanya menyorot tajam dengan keadaan memerah, dimana semua kejadian itu kembali berputar tepat di ingatan Anna.
Namun secepat kilat Anna kembali membasuh wajahnya dan tersenyum, setelah beberapa menit mulai mendingan Anna langsung mengelap wajahnya dengan sebuah tissu.
Lalu setelah beres ia kembali keluar dari toilet dengan berpapasan oleh Ash hingga bola mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"Ka-kau..?" Ucap Ash dan Anna secara bersamaan dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
"Ma-maaf.." Sahut keduanya lagi yang mana membuat mereka semakin gugup.
"Kau tidak salah, itu salahku. Jadi seharusnya aku yang minta maaf. Tapi jangan pernah berpikir jika aku ini tipe pria yang me*sum. Aku cuman tidak tahu kenapa refleks saja seperti itu. Jadi maafkan aku, jika kau mau menamparku silakan, aku terima semuanya karena memang itu adalah salahku" Ucap Ash dengan tegas dan sekarang telah berdiri tepat di depn Anna.
Seketika tangan Anna terangkat yang mana bertingkah seperti ingin menampar Ash begitu kencang, tanpa aba-aba Ash hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan perasaan takut. Tapi entah kenapa tamparan cantik yang akan datang seketika hilang dan tergantikan oleh kecupan lembut dari bibir Anna.
"Aku kembalikan kecupan di pipiku tadi kepadamu, jadi kita impas ya.. sampai bertemu lagi di ruangan pasien, dokter Ash dahhh..." Ucap Anna sambil berlari dengan cepat yang mana wajahnya terlihat kembali merona.
"Yaaakkk.. dasar Anna bo*doh!! Kenapa kau malah mengecup pipinya sih, arrrghhhhh.. kalau begini rasanya aku ingin pergi saja dari muka bumi ini. Huaaaa.. semoga saja dokter Ash tidak akan marah padaku, amin.. amin.. amin.." Celoteh Anna di dalam hatinya sambil berlari menutupi wajahnya.
Sedangkan Ash dia masih berdiri tegak dengan keadaan mematung, bahkan wajahnya benar-benar sangat merah.
"Ta-tadi di-dia me-membalas kecupanku? Se-seriuskah? Ke-kenapa ja-jantungku berdetak sangat cepat, a-apa a-aku mu-mulai ja-jatuh cinta?" Ash bergumam sambil menatap lurus ke depan dan memegangi dadanya.
Tapi seseorang malah mengagetkan Ash hingga membuatnya langsung terlonjak ke belakang dengan posisi hampir saja terjatuh.
"Siapa yang jatuh cinta, Dok? Apakah dokter sedang jatuh cinta?" Tanya seorang pria yang mana itu adalah seorang OB rumah sakit.
Seorang OB terdiam sejenak sambil menatap kepergian Ash. "Begitulah jika seseorang sedang jatuh cinta, terkadang moodnya selalu berubah ubah. Bisa senang, bisa sedih dan juga bisa sakit"
"Semoga saja dokter muda tidak sampai setres, kasihan kan kalau gila. Masa iya dia ke sini niatnya mau sekolah kedokteran ehh.. pulang-pulang jadi beban keluarga hihi.. Dahlah aku lanjut kerja saja dari pada mikirin urusan orang"
Seorang OB pun kembali meneruskan pekerjaannya dan pergi menjauhi toilet. Sedangkan Ash dia berusaha tenangin dirinya sendiri agar ketika bertemu dengan Anna tidak akan membuatnya terlihat gugup.
Cuman baru beberapa menit saja mereka sudah di pertemukan di dekat kantin.
"Ka-kau lagi?" Ucapan Ash mampu membuat Anna cengengesan dengan wajah manisnya. Lagi-lagi pertemuan mereka seperti sudah di setting dengan takdir, dimana keduanya berusaha menghintar untuk beberapa saat tetapi malah di pertemukan kembali.
"Ehh.. do-dokter Ash heheh.. mau makan? Ayo bareng saja, kebetulan aku juga mau makan siapa tahu dokter mau bayarin makananku kan. Jadi aku tidak perlu lagi mengeluarkan uang hihi.."
Anna mengalihkan rasa gugupnya dengan mengganti topik pembicaraan mereka, supaya bisa menghilangkan rasa canggung yang telah melanda di dalam hati mereka.
__ADS_1
"Cihhh.. dasar cewek matre! Ya sudah ayo makan aku yang teraktir, hitung-hitung aku bersedekah" Ucap Ash yang langsung berjalan lebih dulu dengan diikuti oleh Anna dari belakang.
"Jika dokter mau bersedekat aku bisa membantunya kok, jadi dokter cuman cukup meneraktir aku setiap hari. Maka dengan begitu dokter bisa beramal, siapa tahu kan buat mengurangi dosa dokter yang menumpuk hihi.. bahkan aku pun dengan senang hati akan menerimanya, jadi aku bisa lebih irit dalam mengelola keuangan. Terima kasih dokter Ash yang baik"
Anna berucap dengan sangat percaya diri sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Ash. Hingga Ash yang melihatnya pun rasanya ingin sekali menyuntikkan obat bius kepada Anna dalam jangka waktu lama.
"Huhh.. andai saja obat bius bisa di gunakan sembarangan, mungkin saat ini dia sudah menjadi putri tidur!" Gumam kecil Ash yang masoh terdengar di telinga Anna.
"Hahh? Si-siapa yang mau jadi putri tidur, Dok?" Tanya Anna dengan wajah penasaran sambil menaruh kedua tangannya di atas meja dengan menahan wajahnya hingga mata Anna menatap tajam ke arah Ash.
"Yaakkkk.. kenapa kau menatapku seperti itu sih!!" Teriak Ash sambil berdiri, yang membuat semua pengunjung menoleh ke arahnya. Ketika Ash menyadari ulahnya, kini ia hanya bisa menatap malu kearah mereka semua sambil tersenyum.
"Heheh.. ma-maaf, si-silakan lanjutkan" Ujar Ash yang telah berhasil mengalihkan perhatian mereka semua, dan kembali duduk menatap Anna.
"Puas buat aku malu, hem..?" Geram Ash dengan suara kecilnya, sedangkan Anna hanya bisa tertawa gemas.
"Hihihi.. salahmu sendiri teriak-teriak di tempat umum seperti ini. Sudahlah ayo makan aku sudah lapar, waktu istirahat kita tinggal 30 menit lagi. Jadi jangan sia-sia kan waktu yang tersisa"
"Permisi, Kak.. boleh minta menunya saya sudah lapar"
Anna langsung memesan menunya sendiri, yang juga di ikuti oleh Ash. Kemudian mereka menunggu pesanannya beberapa menit sambil memainkan ponselnya. Dimana Ash membalas chat dari Sasya, sedangkan Anna membuka sosial medianya.
Setelah beberapa menit pesanan pun datang, tanpa menunggu lama lagi mereka langsung malahapnya secara perlahan.15 menit berlalu makanan sudah habis lalu Ash membayarnya dan mereka pun kembali meneruskan pekerjaannya sampai jam kerja selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....
...Lets go di serbu... 🤸🤸...
__ADS_1