Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Meminta Izin Melamar Sasya


__ADS_3

Akhirnya mereka pun berjalan meninggalkan taman menuju toko es krim, kemudian kembali berjalan ke arah mobil Alex sesekali mereka mengobrol sambil bercanda membuat semua mata yang melihatnya merasa sedikit iri.


...*...


...*...


Di dalam mobil, Sasya asyik menikmati es kirim yang saat ini berada di genggamannya. Sedangkan Alex hanya sesekali melirik sambil tersenyum menatap Sasya dan juga menggelengkan kepalanya.


Kemudian Alex kembali fokus menatap ke arah depan, Sasya melirik Alex dan berkata. "Mas, mau? Enak loh.."


"Enggak usah, Sayang buat kamu aja habisin. Tapi ingat sehari sekali aja ya.. Enggak ada makan es krim lagi" tegas Alex.


"Yayaya bawel banget sih, baru juga makan sekali. Lagian jadi calon suami jangan pelit-pelit nanti kuburannya sempit, mau?" ucap Sasya sambil memakan eskrimnya.


"Ya bukan masalah pelitnya Sayang, tapi kan enggak baik buat kamunya. Apa lagi kamu seorang dokter, jadi pintar-pintarnya kamu untuk menjaga kesehatan" sahut Alex sambil mengusap kepala Sasya.


"Ya Mas, terima kasih sudah mengingatkan aku yang terkadang masih ke kanak-kanakan ini hehe.." Sasya menyengir kuda membuat Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Rasanya ingin sekali Alex mencubit pipi Sasya bahkan memeluknya begitu erat, tapi semua kembali lagi dimana Alex tidak berani menyentuh kulit Sasya yang nantinya akan membuat Sasya sedikit marah padanya.


Ketika Alex kembali fokus pada laju mobilnya lagi-lagi Sasya memberikan eskrim di tangannya tepat di depan wajah Alex membuatnya sedikit bingung.


"Ayolah cobain, enak kok dijamin ketagihan deh hehe.." Sasya menyodorkan es krim tersebut mengenai bibir Alex.


Mau tidak mau Alex pun memakannya perlahan sambil menatap ke arah depan, Sasya tersenyum kembali memakan eskrim itu membuat Alex menoleh sedikit terkejut.


"Sasya.. Sasya.. Kamu dari dulu benar-benar polos. Niatmu memang baik buat memberikan aku eskrim tetapi caramu yang salah. Jika seperti itu sama saja seperti aku kembali mencicipi bibirmu lagi hihi.." gumam Alex di dalam hatinya sambil melihat Sasya yang kembali menikmati eskrimnya.


Hampir 45 menit mereka melakukan perjalanan, sehingga mobil Alex sudah berada di depan pagar besar rumah Kakek Iram.


Salah satu bodyguard datang menghampiri mereka. Kemudian dia menanyakan ada keperluan apa datang ke sana, apa lagi mereka tidak mengenal Alex atau pun Sasya.


Namun, tidak berhenti dari situ Sasya langsung menelpon Bundanya untuk memberikan kabar bahwa dirinya sudah berada di luar.


Tak lama salah satu bodyguard datang mendekati temannya dan memberikan info bahwa mereka adalah salah satu cucu dari Kakek Iram. Tanpa basa-basi lagi mereka segera mempersilakan mobil Alex untuk memasuki pekarangan rumah.


Sesampainya di dalam Alex dan Sasya langsung turun dari mobil sambil tersenyum melangkahkan kakinya memasuki pintu utama.

__ADS_1


Terlihat jelas di raut wajah mereka seperti menunjukkan bahwa mereka sedang dalam mode bahagia.


Mereka berjalan menuju ruang keluarga dimana semua orang sudah berkumpul sambil memakan camilan yang ada di atas meja.


"Akhirnya kalian datang juga, bagaimana bukunya apakah sudah ketemu?" tanya Nenek Mona menatap Sasya dan juga Alex yang sedang bersalaman.


Sasya sama Alex menatap satu sama lain lalu menggeleng cepat kepalanya dan berkata secara kompak "Belum.."


"Loh kok bisa? Jangan-jangan ka-..." perkataan Ayah Brian terhenti bersamaan dengan Bunda Hana langsung menyelanya.


"Ayah, tidak baik berpikir negatif pada anak sendiri. Mungkin buku yang Sasya cari sedikit sulit untuk di temukan jadi mau tidak mau mereka harus lebih ekstra lagi mencarinya" sambung Bunda Hana.


"Apa yang dikatakan istrimu benar, Brian. Cobalah berpikir positif, kalau kamu mencurigai anakmu terus yang ada mereka tidak nyaman"


"Ingat! Sasya sudah besar bahkan seharusnya dia sudah memiliki anak, tapi karena keegoisanmu membuat Sasya harus menundanya lebih lama lagi"


Nenek Mona menjelaskan semuanya membuat Ayah Brian hanya terdiam, lalu Alex sama Sasya hanya bisa tersenyum dan duduk di kursinya masing-masing.


"Sudah Nek, tidak apa-apa. Buku yang Sasya cari memang susah bahkan kami sudah mencari di beberapa toko pun tidak ada. Mungkin kita harus memesannya" sahut Alex menatap Nenek Mona.


"Ti-tidak usah Kek, terima kasih. Nanti biar Sasya cari sendiri aja, kasihan juga Kakek repot-repot untuk mencarikan buku itu" ucap Sasya yang mulai tidak enak.


"Siapa yang repot, kan aku menyuruh anak buahku! Buat apa juga punya anak buah jika tidak ada gunanya?Jadi sudahlah tenang saja"


"Kamu cukup fokus sama pekerjaanmu, nanti tinggal kamu kirim data-data tentang buku itu biar segera di carikan di semua toko buku terbesar yang ada"


Ucapan Kakek Iram mampu bikin Sasya tersenyum dan mengangguk antusias, apa yang dikatakan Kakek Iram benar karena Sasya jarang sekali bisa mendapatkan hari libur. Baru-baru ini dia bisa libur di jadwal yang sangat padat.


Di saat semuanya kembali berbincang-bincang sesekali melihat ke arah layar besar dimana Lily, Lukas, Key dan juga Jay sedang bermain games perpasangan untuk menyelesaikan suatu misi yang tersembunyi.


Alex melihat adanya kesempatan emas baginya untuk bisa mengutarakan niatnya. Ya walaupun tidak ada persiapan tetapi ucapan Sasya tadi selalu terngiang-ngiang mengganggu pikiran Alex.


Ekhem..


Satu deheman Alex berhasil membuat semuanya menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Alex yang langsung ditatap seperti itu malah menjadi terkejut, jantungnya berdebar sangat kencang.


Benar-benar Alex tidak habis pikir, ternyata melamar seorang wanita bukanlah hal yang mudah. Padahal tadi Alex begitu semangat bibirnya sangat gatel untuk mengucapkan kalimat ingin melamar Sasya.

__ADS_1


Tetapi ketika baru saja dia berdehem malah semuanya menatap seakan-akan sedang mengitimidasinya. Alex menatap satu persatu mereka secara bergantian kemudian Sasya malah memberikan minum padanya.


"Ini minum dulu, pasti tenggorokanmu kering" ucap Sasya memberikan gelas berisikan air putih, Alex menerimanya dan meminumnya perlahan.


"Aduh.. Bagaimana ini, kenapa rasanya sulit untuk mengatakan bahwa aku ingin sekali melamar Sasya. Padahal tadi aku sudah bertekat buat ngelamar dia, cuman bibir ini terasa begitu kaku. Apa jangan-jangan aku gugup?" gumam Alex di dalam hatinya sambil mengangkat gelas mendekati ke mulutnya.


Tetapi naas, Alex yang asyik melamun malah menumpahkan air tersebut seolah-olah dia sedang meminumnya sehingga air berhasil membasahi baju dan juga celananya.


"Kak, itu Kak Alex kenapa? Kok dia malah menumpahin air minumnya ke pakaian? Apa dia ada masalah besar?" tanya Lily yang melihat Alex hanya terdiam melamun.


"Sepertinya dia setres!" ucap Lukas cuek.


"Ya ampun, Alex!! Itu celanamu basah loh.." pekik Bunda Hana melihat Alex menumpahkan semua airnya yang ada di dalam gelas.


"Astaga, Mas Alex kenapa kamu jadi ceroboh seperti ini sih!!" sahut Sasya yang langsung menatap Alex.


Alex yang mendengar suara semuanya memekik keras segera bangkit berdiri menyadari bahwa lamunannya membuat dia sampai tidak sadar jika saat ini celana dan juga bajunya sudah basah.


"Ehh... Ma-maaf semuanya, a-aku tadi lagi melamun" ujar Alex yang sudah berdiri penuh rasa kegugupan di dalam dirinya


"Apa ada masalah serius denganmu?" tanya Kakek Iram membuat Alex menoleh dan kembali merasa salah tingkah.


"Aaaa.. E-enggak Kek, hehe.. A-aku cu-cuman ma-.." seketika Alex menghentikan ucapannya dengan perasaan yang semakin gelisah.


Semua orang pun langsung menatap Alex, membuat Alex memejamkan matanya perlahan lalu kembali membuka mulutnya yang sedikit beegetar.


"Cuman ma-, ma apa? Katakan dengan jelas!!" tegas Ayah Brian.


"Ma-maaf semuanya, s-sebenarnya a-aku ma-mau ber-berbicara penting dengan kalian. Karena a-aku mau me-meminta i-izin untuk me-melamar Sa-sasya bu-bulan depan, a-apa ka-kalian se-setuju?"


Alex duduk kembali di sofanya yang memang masih basah tanpa memperdulikan pakaiannya. Tubuh bergetar dan juga tangan panas dingin di sertai keringat dingin memenuhi pelipisnya.


Alex sangatlah gugup, grogi dan juga gelisah kalau sampai salah satu dari mereka tidak ada yang menyetujuinya.


Semua orang yang ada di sana masih syok terkejut mendengar Alex meminta izin untuk melamar Sasya, sedangkan Sasya dia tidak tahu karena tadi dia dan Jay pergi ke kamar untuk meminjam baju serta celana Jay.


Tetapi tidak mungkin, postur tubuh Jay dan Alex sangatlah jauh sehingga Mommy Nisha pun ikut bersama mereka untuk meminjamkan pakaian Daddy Ken.

__ADS_1


__ADS_2