
Sampai akhirnya setelah selesai, Alex segera menggendong sang anak. Lalu dia mengadzankannya sambil meneteskan air matanya.
Disela Alex mengadzankan anaknya, sekarang giliran Sasya yang hrus di bersihkan agar bisa kembali diberikan ruangan khusus supaya mereka bisa lebih nyaman jika keluarga besar akan datang menjenguknya.
...*...
...*...
Keesokan harinya semua keluarga besar Ayah Brian dan Bunda Hana sudah menjenguk Baby Syakil, dimana mereka semua merasa gemas ketika Baby Syakil membuka matanya serta kepalanya menggeliat kesana-kesini didalam bedongannya.
Sampai akhirnya keluarga kecil Ayah Brian telah tiba di Indonesia, tepat ketika Sasya sudah kembali kerumah. Semuanya berkumpul menjadi satu, benar-benar bersis seperti keluarga besar yang sangat utuh.
Sasya dan Alex hanya bisa melihat Baby Syakil diperebutkan oleh semuanya, apa lagi Lily dan Lukas. Mereka terlihat begitu antusias saat bertemu dengan Baby Syakil.
Saya bahagia mereka panjatkan setiap harinya, serta tak lupa mereka membuat acara Aqiqah untuk Baby Syakil yang diadakan dirumah kediaman keluarga besar Ayah Brian.
...*...
...*...
Beberapa tahun telah berlalu ...
Saat ini usia Baby Syakil sudah memasuki 6 tahun, dimana dia terlihat seperti anak laki-laki yang sangat tampan, manis dan juga baik. Hanya saja sifat jahil dan dinginnya, berhasil membuat Sasya darah tinggi setiap hari ketika menghadapi perlakuan Syakil.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Syakil sudah memiliki adik perempuan bernama Bianca Aneisha Alexander yang sudah berusia 1 tahun lebih.
Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh Syakil, lantaran tepat di hari weekend inilah mereka bisa berkumpul dirumah bersama-sama.
Dimana Syakil setiap harinya harus menemani sang Adik dirumah bersama dengan saudara dan tantenya.
Sasya yang memang merupakan seorang dokter, tidak bisa selalu menemani kedua anaknya ketika dia harus menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan banyak nyawa.
Namun, setidaknya Sasya sudah menjadi Mommy yang sangat terbaik untuk Syakil dan juga Baby Aneis. Ditambah tugas seorang Ibu, istri sekaligus dokter membuat Sasya sedikit kewalahan.
Akan tetapi Sasya berusaha semaksimal mungkin, bahwa dia harus mengerti dan sebisa mungkin untuk membagi waktu antara pekerjaan dan juga keluarga.
__ADS_1
Lantas bagaimana dengan Alex? Ya, saat ini Alex sudah bisa membuat perusahaan baru dirintis, bisa menjadi salah satu perusahaan terbesar yang ada di ASIA.
Semua ini berkat bentuan Joko, Pinjai dan juga doa semua keluarganya. Sehingga mereka bertiga berhasil melewati semua rintangan yang bisa membuat mereka menjadi lemah.
"Mom, Abang mau sekolah." ucap Syakil sambil menatap Sasya yang saat ini sedang memakaikan baju putrinya, karena Baby Aneis baru saja selesai mandi.
"Ya, Sayang. Sabar dulu ya, kan Abang sudah didaftarkan kesalah satu sekolah ternama. Jadi nanti kalau sudah ada kabar kapan masuk sekolahnya. Mommy langsunh memberitahukan pada Abang, bagaimana?"
"Uluh, uluh. Putri kecil Mommy ini sudah mulai pintar ya, hihi ...."
Sasya mencoba menjelaskan kepada Syakil jika dia memang sudah didaftarkan sekolah, hanya saja posisi saat ini bertepatan pada hari libur panjang.
Ya, Sasya tahu. Sebenarnya Syakil seharusnya sudah bisa bersekolah. Cuman, karena dia tipe anak dengan IQ-nya diatas rata-rata membuat semua sekolah TK memilih untuk menyuruh Syakil agar bisa dimasukkan ke sekolah dasar.
Apa lagi jika Syakil berada di sekolah Paut atau pun TK, maka sudah bisa dipastikan semua mata pelajaran yang akan diberikan mampu Syakil jawab dengan sempurna.
"Huhh, lamanya. Memang masuk sekolahnya enggak bisa dipercepat gitu?" ucap Syakil, spontan membuat Sasya menoleh ke arahnya.
"Kamu kira sekolah itu milik Nenek Moyangmu, apa? Ingat, Syakil. Sekolah itu bukan ajang perlombaan adu cepat siapa dapat. Tapi, sekolah itu tempatnya semua orang menuntut ilmu."
"Apa kamu lupa, banyak sekolah TK yang menolakmu untuk bergabung dengan murid lainnya. Beberapa guru mengatakan bahwa kamu bukanlah anak kecil biasa, melainkan kamu termasuk salah satu anak yang sangat luar biasa."
"Mommy harap kamu sabar dulu ya. Mommy yakin, kok. Sebentar lagi Abang akan mendapatkan kabar baik. Jadi Abang harus tetap semangat oke, jangan mudah menyerah."
"Dek, nanti jika kamu sudah besar dan bisa ngomong. Abang cuman mau pesan, jadilah diri sendiri. Jangan mengikuti jejak Mommy yang sangat menyebalkan ini." gumam Syakil, sambil tangannya memegang tangan Aneis.
"Yayayaya, haha ... Yey nanana." gumam Aneis sambil menggigit-gigit mainannya dan mengangkat kedua kakinya.
"Yak! Apa-apaan ini, Syakil? Kenapa kamu malah mengatakan soal itu pada Adikmu?" ucap Sasya yang sedikit kesal.
Syakil malah mengangkat kedua bahunya sekilas, membuat Sasya sedikit geram dengan tingkah anaknya yang pertama. Syakil malah terlihat begitu cuek dan acuh.
Sampai akhirnya, baru saja Sasya mau mengoceh. Tiba-tiba sudah tertunda akibat terdengar suara suaminya dari dalam kamar mandi.
"Sayang, dimana handukku? Kenapa tidak ada?" teriak Alex.
Sasya mendengar itu langsung menoleh kearah pintu kamar mandi sambil mendengus kesal. "Makannya lain kali kalau mau mandi itu bawa handuk,.bukan cuman badan aja yang bawa badan!"
"Ya namanya juga lupa, Sayang! Cepatlah tolong ambilkan handukku, dan bawa kesini. Sekalian gosokkan punggungku!" titah Alex, dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Cih, udah tua masih aja minta dimandiin. Enggak malu apa sama burung cucakrawa!" gumam lirih, Syakil.
"Apa tadi kamu bilang?" sahut Sasya, sedikit mendengar ucapan Syakil yang sangat samar.
"Enggak, udah sama mandiin tuh big Baby kesayangan Mommy. Biar aku yang jaga Adik." jawab Syakil, sambil bermain dengan Aneis yang sudah terduduk dengan sendirinya.
"Huh, ya sudah kalian main di bawah ya Mommy ngurusin Daddy dulu sebentar." Sasya menggendong Baby Aneis, lalu menaruhnya di lantai tak jauh dari ranjang.
Sasya khawatir jika meninggalkan mereka diatas ranjang, kemungkinan akan membahayakan putrinya yang saat ini sedang aktif-aktifnya. Apa lagi diusianya Baby Aneis sudah mulai bisa merangkak, mengoceh dan sebagainya.
Jadi, Sasya harus ekstra keras menjaga kedua anaknya agar mereka tetap aman. Setelah itu Sasya menitipkan Baby Aneis yang asyik bermain kepada Syakil.
Kemudian Sasya berjalan kesal mengambil handuk dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Hampir 10 menit lamanya, Sasya keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sedikit basah akibat Sasya harus memandikan suaminya.
Begitu juga Alex, disaat Sasya sedang berada dirumah maka, sifat Big Babynya selalu keluar disaat-saat yang menyebalkan seperti ini.
Baru saja Sasya merasa hidupnya damai dari singa jantan. Kini anak pertamanya kembali berulah. Dimana Baby Aneis yang awalnya sudah di kuncir satu seperti pada gambar diatas sehingga terlihat sangat manis dan juga cantik.
Namun, pada akhirnya menjadi lebih lucu. Berbeda dengan Sasya yang melihat penampilan putrinya, membuat dia harus mengelus dada dan menepuk keningnya sendiri.
Sasya berjalan mendekati Syakil, yang masih tertawa melihat kejahilan tangannya sendiri dapat merubah sang Adik bagaikan sebuah tv lama yang menggunakan kedua antena.
Ditambah lagi, ketika Baby Aneis memainkan bedaknya, tangan jahil Syakil kembali berulah sehingga wajah Baby Aneis terlihat bagaikan adonan moci.
"Astaga, Syakil! Kau apakan Adikmu, hah? Kenapa bisa berubah seperti itu?" teriak Sasya, sambil bertolak pinggang menatap tajam.
"Orang Syakil cuman mau bantu Aneis, karena tadi ikatan rambutnya copot ditarik-tarik. Ya udah Syakil buat gaya baru aja."
"Terus dia numpahin bedaknya sendiri sambil mengoleskannya di wajahnya. Ya sebagai Abang yang baik, Syakil bantuinlah. Katanya Mommy kan sesama saudara harus saling membantu haha ...."
Syakil tertawa terjungkal-jungkal memegang perutnya sendiri yang terasa sakit, bersamaan dengan itu Baby Aneis pun ikut tertawa sambil bertepuk tangan.
Baby Aneis terlihat begitu bahagia saat melihat wajah menyeramkan dari Sasya, karena hanya Baby Syakilah yang berani menertawakan Mommynya disaat menegangkan seperti ini.
Sasya yang rasanya ingin sekali memarahi Syakil sambil mengunyel-unyel wajah putranya itu, seketika menghilang saat melihat tingkah Baby Aneis yang tanpa sengaja menepuk tangannya kewajah Syakil.
__ADS_1
Disitulah Syakil berteriak kesal, saat wajahnya pun ikut belepotan bedak sama seperti Baby Aneis. Sedangkan Sasya sedang berusaha menahan tawanya, tetapi nihil.
Sasya malah tertawa cukup geli saat melihat tingkah lucu putrinya yang berhasil membalaskan kejahilan Abangnya sendiri.