Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Melawan Niverom


__ADS_3

Niverom yang terkena tendangan Madika kini terhempas dengan sangat kuat dan menabrak sebuah pohon hingga batang pohon itu patah dan terjatuh di tanah.


Sementara itu, si Niverom itu ternyata tidak langsung tumbang karena setelah menabrak batang pohon ia masih sempat memposisikan diri-nya untuk bisa mendarat dengan aman di atas tanah tanpa tergeletak.


meskipun terseret cukup jauh di atas tanah, namun dengan memposisikan tubuh-nya sambil menunduk dan mencakar tanah ia berhasil menghentikan tubuh-nya dari gaya dorong yang di akibatkan oleh tekanan angin itu.


Setelah berhenti terseret, Niverom itu pun langsung memuntahkan darah dari mulut-nya.


"tendangan bocah itu lebih kuat dari dugaan-ku!" batin Niverom itu.


Di sisi lain, saat ini Madika tampak tidak bergerak dari posisi-nya setelah menendang Niverom itu. hal itu di karenakan kaki-nya yang ia gunakan menendang Niverom tadi mengalami cidera dan membuat-nya kesulitan untuk menopang bobot tubuh-nya sendiri.


"sial@n!.... tubuh-nya sangat keras sampai-sampai kaki-ku terkilir seperti ini!" batin Madika yang sedang berusaha untuk tetap berdiri agar Niverom itu tak menyadari luka yang ia alami.


"jika Niverom itu langsung menyerang maka aku akan kesulitan menghindari serangan-nya karena pergerakan-ku pasti akan melambat."


Setelah itu Madika pun kembali memasang sikap kuda-kuda sambil menahan rasa sakit di kaki-nya.


"jika saja tendangan-ku tadi tidak ku kombinasikan dengan Saga angin, maka sudah pasti kaki-ku patah sekarang.... untuk saat ini sebaik-nya aku mulai mengulur waktu hingga kaki-ku pulih kembali." ucap Madika dalam hati.


Sementara itu, saat ini Niverom yang berada agak jauh dari Madika tampak langsung pasang sikap kuda-kuda bertarung setelah melihat Madika yang tampak seolah siap untuk menyerang.


"sial!.... padahal aku baru mau memulihkan luka dalam yang ku alami menggunakan Nara, tapi seperti-nya ini akan memakan waktu!" batin si Niverom itu. "sebelum dia menyerang, mungkin sebaik-nya aku yang lebih dulu menyerang-nya!"


Setelah berpikir seperti itu, maka Niverom itu pun langsung melancarkan serangan bola api ke arah Madika.


Madika yang melihat hal itu langsung membuat perisai angin di depan-nya untuk melindungi diri.


saat bola api itu menghantam perisai angin, maka terjadilah ledakan yang cukup besar dan membuat rumput di sekitar ledakan itu menjadi terbakar dan tanah-nya jadi hangus.

__ADS_1


namun ledakan itu sama sekali tidak berefek pada Madika yang sudah melindungi diri-nya menggunakan perisai angin.


Tak lama setelah itu tiba-tiba banyak petir yang menyambar ke arah Madika.


namun saat petir itu menyambar ke arah-nya, Madika pun dengan cepat menggandakan perisai angin-nya menjadi empat lapisan.


lalu petir yang jumlah-nya cukup banyak itu terus menyambar dan menghantam perisai angin Madika secara beruntun. petir-petir itu pun mulai menghancurkan lapisan pertama perisai angin itu. tak lama setelah itu lapisan ke dua juga ikut hancur dan sekarang lapisan ketiga dari perisai angin itu mulai retak.


"sial! ini tidak akan bisa bertahan lama!" batin Madika sambil pasang ekspresi kesal. "setidak-nya bertahanlah sedikit lagi sampai kaki-ku benar-benar pulih!"


Setelah beberapa kali terkena serangan petir secara bertubi-tubi, kini lapisan ke tiga dari perisai angin itu hancur sehingga hanya tersisa satu perisai angin.


setelah beberapa kali terkena serangan, perisai angin yang terakhir itu pun mulai retak.


"kenapa sedari tadi dia hanya bertahan?.... apa yang dia rencanakan?" batin Niverom itu bertanya-tanya.


"baiklah, ini saat-nya!" batin Madika yang kemudian langsung melompat ke belakang untuk menghindar dari serangan itu karena kaki-nya kini sudah pulih.


di saat yang bersamaan, perisai angin Madika langsung hancur berkeping-keping dan banyak serangan petir dari Niverom itu yang kini menghantam tanah hingga tanah-tanah itu mengeluarkan banyak debu yang berterbangan di udara.


"sekarang dia mulai menghindar?.... apa dia sedang merencanakan sesuatu?" batin Niverom itu.


Setelah itu Madika pun langsung mengeluarkan sebuah pedang yang ia simpan di belakang pinggang-nya.


lalu ia mengayun-kan pedang-nya itu di udara dan dari ayunan pedang-nya itu tercipta sebuah angin berkepadatan tinggi yang bentuk-nya seperti bumerang. angin berbentuk bumerang itu sangat tajam dan langsung melesat cepat ke arah Niverom itu.


melihat serangan itu, Niverom pun langsung menghindari angin itu dan kemudian langsung mengeluarkan sebuah tombak petir-nya untuk menangkis serangan berikut-nya.


"sejujur-nya luka dalam-ku masih belum pulih!... tapi jika bocah itu tidak berhenti menyerang maka aku akan kesulitan untuk memulihkan diri dengan cepat!" batin Niverom itu.

__ADS_1


Setelah itu tiba-tiba tampak Madika yang kini sudah berada di depan Niverom sambil menebas-kan pedang-nya ke leher Niverom.


Niverom yang terkejut langsung mundur untuk menghindari tebasan itu.


sementara itu Madika tampak tidak puas, ia kemudian langsung menebaskan pedang-nya secara cepat dan mengeluarkan berbagai teknik berpedang yang ia miliki.


meskipun begitu, Niverom itu juga tampak tidak mau kalah. ia dengan tombak petir-nya langsung menangkis semua serangan Madika dan menunjuk-kan banyak teknik bertombak milik-nya.


Setiap kali pedang dan tombak mereka berhantaman, selalu saja tercipta tekanan angin yang kuat di sertai percikan petir kecil di sekitaran area senjata mereka berhantaman.


Saat kedua-nya kesulitan menumbangkan lawan-nya menggunakan teknik pertarungan jarak dekat, kini kedua-nya langsung melompat mundur dan menjaga jarak satu dengan yang lain.


"kemampuan berpedang-mu lumayan juga bocah!" ucap Niverom itu sambil berseringai.


"kau juga sama kuat-nya!" balas Madika.


"hahaha tentu saja!" ucap Niverom itu dengan penuh semangat sambil tertawa jahat. "tapi ini masih belum cukup!!... karena itu kau akan jadi mangsa yang cukup bagus untuk menaik-kan level-ku!" ucap-nya sambil menunjuk Madika.


"jangan bermimpi kau!" tegas Madika sambil menebaskan pedang-nya ke arah Niverom itu, dan di saat bersamaan terjadilah badai angin yang sangat kuat menghantam tubuh Niverom itu.


Niverom itu berusaha untuk menahan tubuh-nya agar tak terhempas oleh angin itu. namun kini kaki-nya perlahan mulai terseret dari tempat ia berdiri.


karena diri-nya tidak mau kalah, ia pun langsung menusuk tombak-nya ke tanah sebagai pegangan agar tubuh-nya tidak terseret.


Setelah menusuk tombak petir-nya itu ke tanah, kini Niverom itu menatap Madika dengan serius, dan tiba-tiba muncul petir dari bawah tanah yang menyambar Madika.


petir itu ternyata berasal dari tombak petir-nya yang Niverom tancapkan di tanah, dan Niverom itu merambat-kan petir-nya di bawah tanah agar bisa menyerang Madika dengan tiba-tiba.


Saat Madika terkena Sambaran petir itu, badai angin pun berhenti dan tubuh Madika sulit untuk di gerak-kan karena efek dari Sambaran petir barusan.

__ADS_1


__ADS_2