
Saat ini pedang api milik Niverom tingkat Papitu itu tampak memancar-kan kobaran api yang tidak ada padam-nya, sementara pedang halilintar di tangan kanan-nya tampak di kelilingi oleh arus petir yang berukuran kecil namun cukup banyak dan terus terjadi berulang-ulang.
Di sisi lain, Madika yang sudah menyiap-kan enam peluru angin di tangan kanan dan kiri-nya kini langsung mengeluar-kan sayap angin-nya.
"berhubung sekarang dia tak bisa terbang untuk sementara, maka aku-lah yang akan lebih unggul di udara saat ini!" batin Madika.
lalu Madika pun perlahan naik ke udara. saat berada di ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan tanah, kini Madika pun langsung melancar-kan serangan peluru angin ke arah Niverom itu.
"kali ini akan ku pasti-kan kekalahan-mu." ucap Madika dengan ekspresi mengintimidasi.
Saat ini Madika berniat menggertak Niverom itu. ia berpikir mungkin saja sebuah gertakan seperti ini bisa sedikit membuat mental si Niverom menjadi ciut.
Kini Madika pun langsung mengibas-kan kedua tangan-nya ke arah si Niverom.
seketika enam peluru angin itu pun langsung melesat cepat ke arah Niverom itu.
"hmm.... aku sudah mendengar beberapa informasi tentang peluru angin ini.... jika tidak salah serangan ini masih bisa di ledak-kan oleh pengguna-nya meski-pun serangan awal-nya meleset." batin Niverom itu ketika melihat serangan peluru angin melesat ke arah-nya.
Setelah berpikir seperti itu, Niverom itu pun langsung melompat jauh ke belakang sambil menghindari semua serangan peluru angin itu.
"sebaik-nya aku menandai posisi peluru angin yang ia sebar-kan ini!.... jangan sampai nanti-nya aku jatuh dalam jebakan bocah ini!" batin si Niverom sambil memperhatikan peluru angin Madika yang jatuh ke tanah saat ini.
Setelah itu si Niverom pun langsung mengalir-kan energi nara-nya ke tanah serta pepohonan di sekitar untuk mendeteksi peluru angin Madika yang meleset dan tidak terkena diri-nya.
dengan begitu ia pun bisa menghindari peluru angin yang tersimpan di tanah atau-pun pepohonan nanti-nya.
Sementara itu, Madika masih melaku-kan trik ini seperti biasa-nya.
Madika tampak terus memproduksi peluru angin dan terus melancar-kan serangan peluru angin ke arah Niverom itu.
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu, namun di Niverom itu tampak tidak terjebak sama sekali.
sedari tadi Niverom itu terus bergerak di tempat yang tidak ada peluru angin-nya.
hal itu-lah yang membuat si Niverom tak bisa di jebak sekarang.
"sedari tadi dia terus menghindari serangan-ku sambil bergerak di tempat yang tidak ada peluru angin-nya.... apa jangan-jangan dia sudah tahu tentang jebakan ini?" batin Madika sambil menatap Niverom itu.
"hahahaha.... bocah bodoh!.... trik yang sama tidak akan bisa kau guna-kan untuk melawan-ku!.... aku tidak akan terjebak oleh trik-mu ini!' ucap Niverom itu dalam hati sambil tersenyum licik. "sekarang mari kita lihat!..... apa-kah peluru angin-mu ini bisa berguna sebelum kau kehabisan Saga atau justru kau lebih dulu kehabisan Saga sebelum mengaktif-kan trik-nya?!..... hahahaha."
Saat ini, Madika terlihat sedang kesulitan untuk menjebak si Niverom dalam trik-nya itu.
namun itu semua tidak seperti yang terlihat karena sejak awal Madika sudah menduga ada-nya kemungkinan bahwa di Niverom sudah tahu tentang jurus peluru angin serta trik dalam penggunaan-nya.
Seketika Madika yang sedang melayang di ketinggian langsung tersenyum seolah sedang memancing amarah si Niverom.
"kenapa bocah itu tiba-tiba tersenyum?.... apa dia meremeh-kan ku?" batin Niverom itu yang kini langsung menatap Madika dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
"jika kau berpikir ini adalah trik yang sama dengan yang pernah kau lihat sebelum-nya, maka kau sudah salah besar." ucap Madika dengan tenang sambil mengeluar-kan tongkat kaisar rotan api milik-nya melalui lingkaran energi yang muncul di samping kanan-nya.
"akan ku kerah-kan seluruh kekuatan tongkat ini dalam satu serangan." ucap Madika dalam hati.
Mendengar ucapan Madika yang mengata-kan bahwa trik kali ini berbeda kini membuat si Niverom tampak sedikit terkejut.
ia merasa sedikit penasaran apa-kah yang di ucap Madika itu benar atau tidak.
Setelah itu si Niverom pun melihat Madika mengeluar-kan sebuah tongkat kecil dari ruang penyimpanan milik-nya.
"tongkat apa itu?.... apa jangan-jangan ini benar-benar trik yang berbeda?".
__ADS_1
Seketika si Niverom itu pun langsung terlihat waspada dan dengan cepat mengangkat kedua pedang di tangan-nya.
lalu ia menyatu-kan kedua pedang-nya dan membentuk silang (X) di atas kepala-nya.
"kalau begitu akan ku siap-kan juga jurus terbaik-ku!" ucap si Niverom itu.
Kini terlihat petir yang menyambar di awan gelap langsung turun tepat di depan pedang yang di silang-kan sebelum-nya.
selain itu kobaran api yang sangat besar pun muncul dari tanah tepat di bawah kaki Niverom itu, dan api yang berkobar-kobar itu langsung naik ke atas tepat di depan pedang yang menyilang itu.
Kini petir dan api saling bertemu di tengah-tengah tepat di depan pedang yang bersilangan itu, dan akhir-nya perlahan terbentuk-lah sebuah bola petir api yang bersinar terang di depan pedang itu.
"kali ini akan ku pasti-kan kematian-mu bocah!" ucap si Niverom dengan suara keras.
"tidak semudah itu mengalah-kan ku." ucap Madika dengan tenang sambil mengangkat tongkat-nya ke atas.
seketika tongkat kaisar rotan api itu langsung bercahaya dan tampak kobaran api berwarna biru langsung memenuhi pedang itu.
bukan hanya itu, kobaran api berwarna biru itu juga tampak beresonansi dengan angin milik Madika sehingga api biru tersebut jadi semakin besar dan tampak dalam wilayah yang sangat luas di udara itu api terus bergerak layak-nya angin yang bergerak bebas di udara.
"api ini tampak menari bebas seperti angin, karena itulah di masa lalu aku menyebut jurus ini sebagai tarian api dan angin!" ucap Madika sambil mengingat masa lalu-nya saat diri-nya masih menjadi seorang ksatria tingkat legendaris.
Sementara itu, si Niverom yang melihat kobaran api berwarna biru itu bergerak bebas dan mengelilingi Madika yang sedang melayang di udara kini tampak seolah takjub serta sedikit merasa bahwa level diri-nya dengan Madika yang saat ini tidak-lah seimbang.
"di.... dia.... bagaimana mungkin bisa melakukan ini?" batin si Niverom itu.
Lalu Madika pun langsung melempar tongkat kaisar rotan api-nya itu lurus ke bawah.
namun serangan-nya tidak di arah-kan ke arah Niverom itu.
__ADS_1