
Saat ini si monster banteng itu terus melancar-kan serangan-nya pada kurungan rotan api milik Madika.
Madika yang melihat kurungan rotan api-nya baik-baik saja meski-pun sudah di serang berkali-kali kini langsung tampak tersenyum kagum.
"kekuatan tongkat ini benar-benar luar biasa!.... padahal ini kan hanya 25% kekuatan-nya saja..... kira-kira bagaimana jika sudah mencapai 100% kekuatan-nya?" batin Madika sambil memperhati-kan tongkat-nya dengan ekspresi kagum.
"oi!.... berhentilah kagum seperti itu.... ingat, ini hanya 25% kekuatan saja!.... jadi jangan terlalu percaya diri kalau kurungan ini bisa menahan serangan banteng itu.... kau harus tetap waspada karena cepat atau lambat kurungan ini akan hancur jika kau terus membiar-kan banteng itu menyerang!" ucap tuan Risiwuku menegur tindakan Madika yang tidak langsung menyerang balik si monster banteng itu.
"baik-lah, aku akan segera mengantisipasi serangan monster banteng itu guru." ucap Madika yang langsung patuh.
Kini Madika pun langsung mengayun-kan tongkat-nya dengan beberapa variasi gerakan.
setelah itu ia langsung menebas-kan tongkat itu di ke empat arah mata angin.
seketika itu juga tampak duri-duri tajam yang ada di sekujur batang rotan api itu langsung memanjang hingga lima meter dari permukaan batang rotan api.
hal itu pun membuat si banteng langsung terkejut. bahkan kini salah satu duri tajam yang memanjang itu berhasil melukai lengan kiri si banteng.
jika saja banteng itu terlambat sedikit saat menghindar, maka kemungkinan besar si banteng itu sudah tertusuk di bagian jantung.
Kini monster banteng itu langsung melompat ke belakang.
saat mendarat ke tanah, si banteng itu langsung mengaum dengan suara yang sangat keras dan dari wajah-nya terlihat bahwa banteng itu kini sangat kesal dan penuh amarah terhadap Madika.
Madika yang melihat hal itu kini hanya diam saja menatap si banteng yang sedang mengamuk itu.
setelah itu Madika pun kembali mengayun-kan tongkat-nya dengan cara yang sedikit berbeda dari sebelum-nya.
setelah itu tongkat yang di ayun-kan oleh Madika itu perlahan memancar-kan cahaya merah layak-nya lahar panas.
__ADS_1
setelah melakukan beberapa variasi gerakan, kini Madika langsung bersiap melancar-kan serangan-nya.
"duri kematian!" ucap Madika sembari mengayun-kan tongkat-nya ke arah banteng tersebut.
seketika itu juga, duri-duri yang sebelum-nya memanjang dari sekujur batang rotan api kini langsung menyala-nyala dan memancar-kan cahaya merah bagai-kan lahar, dan dengan cepat kini duri-duri yang memanjang itu langsung melesat ke arah si monster banteng itu.
Tuan Mawata yang melihat jurus Madika itu kini makin takjub dengan apa yang ia lihat.
ia merasa bahwa Madika benar-benar anak yang berbakat dan memiliki potensi untuk menjadi orang yang sangat kuat di masa depan.
"anak ini bahkan sudah menguasai beberapa jurus dari tongkat kaisar rotan api.... dia benar-benar luar biasa." batin tuan Mawata memuji Madika sambil mengelus janggut-nya.
Kini serangan Madika pun melesat cepat ke arah monster banteng itu.
sementara si monster banteng yang melihat serangan duri panjang itu kini langsung mengaum dengan suara yang sangat kuat.
monster banteng itu berusa menebas semua serangan duri panjang itu mengguna-kan kapak-nya. ia telah berhasil menghancur-kan beberapa duri panjang itu namun pada akhir-nya ia tetap terkena serangan duri panjang karena jumlah duri kematian itu sangat banyak.
si banteng itu pun tertusuk di bagian bawah bahu kanan-nya, setelah itu di ikuti dengan tusukan yang menembus paha kiri-nya, dan hingga akhir-nya ia pun kesulitan bergerak.
hal itu pun kini membuat beberapa duri kematian langsung menembus jantung, paru-paru, perut, leher, hingga berakhir menembus kepala si banteng.
hal itu pun membuat si banteng langsung tidak berdaya hingga akhir-nya harus menghembus-kan nafas terakhir.
si monster banteng pun langsung jatuh terkapar di tanah.
Melihat kematian si banteng itu, Madika pun langsung mengayun-kan tongkat-nya sekali, dan seketika duri-duri kematian yang tertancap di tubuh si banteng serta yang tertancap di tanah kini langsung lenyap bagai debu yang di terbangkan oleh angin.
kemudian madika pun berjalan mendekati si monster banteng itu. setelah itu ia pun langsung mengeluar-kan pedang angin di tangan-nya, lalu dengan pedang angin itu ia pun langsung membedah monster banteng itu. kemudian ia pun mengeluar-kan bola energi dari dalam tubuh banteng itu.
__ADS_1
Setelah itu, Madika pun langsung kembali menghadap tuan Mawata.
setelah itu, kini Madika pun langsung melanjut-kan ujian berikut-nya.
Madika saat ini tampak sangat bersemangat, hal itu di karena-kan diri-nya sangat percaya dengan kekuatan dari tongkat rotan api yang ia miliki.
ia merasa tidak terkalah-kan ketika mengguna-kan tongkat tersebut.
Pertarungan demi pertarungan kini Madika lewati, ia bahkan sudah menghadapi beberapa monster untuk bisa mendapat-kan bola energi yang nanti-nya akan di gunakan untuk mewaris-kan kekuatan tuan Mawata pada Madika.
kini Madika telah mengalah-kan monster yang ke enam, dan hanya tersisa satu monster lagi, atau lebih tepat-nya tersisa satu bola energi lagi yang harus ia dapat-kan.
Kini Madika kembali menghadap tuan Mawata dan langsung meminta tuan Mawata untuk menunjuk-kan monster berikut-nya yang harus ia kalah-kan untuk bisa mendapat-kan bola energi yang terakhir.
"jadi di mana lawan-ku selanjut-nya?" tanya Madika dengan penuh percaya diri sambil menghentak-kan salah satu ujung tongkat-nya ke tanah.
Tuan Mawata yang mendengar ucapan Madika kini langsung tersenyum tipis sambil menggeleng-kan kepala-nya.
"sebaik-nya kau beristirahat dan pulih-kan energi saga-mu terlebih dahulu." ucap tuan Mawata memberi saran pada Madika.
Madika yang mendengar saran dari tuan Mawata kini tampak sedang berpikir.
diri-nya saat ini memang merasa tidak terkalah-kan, namun karena tuan Mawata menyaran-kan untuk beristirahat, maka kemungkinan-nya monster yang ke tujuh adalah monster yang cukup sulit untuk di hadapi.
"aku yakin tuan Mawata bisa melihat bahwa kekuatan dari tongkat ini sangat luar biasa, namun, jika ia menyuruh-ku beristirahat, maka ada kemungkinan bahwa monster selanjut-nya tidak akan bisa di hadapi hanya dengan mengandal-kan tongkat kaisar rotan api saja." batin Madika mengira-ngira.
"baiklah, aku akan beristirahat sejenak dan memulih-kan saga-ku sebelum menghadapi monster yang selanjut-nya." ucap Madika sambil menangkup-kan tangan-nya ke arah tuan Mawata.
"keputusan yang tepat." ucap tuan Mawata yang kemudian langsung berbalik dan membelakangi Madika. "sekarang beristirahat dahulu, jika kau merasa benar-benar sudah siap, maka kau tingga memanggil nama-ku, akan segera datang menemui-mu." ucap tuan Mawata yang kemudian langsung menghilang dari hadapan Madika tanpa menunggu respon dari Madika.
__ADS_1