Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Monster Semut


__ADS_3

Saat ini si monster semut itu terus mengejar gadis di depan-nya.


sementara si gadis itu kini semakin panik di kejar-kejar oleh semut raksasa itu.


Kini gadis itu pun langsung melompat ke salah satu dahan pohon yang paling dekat dengan-nya.


sementara si semut yang melihat hal itu kini langsung melancar-kan serangan-nya mengguna-kan elemen tanah milik-nya.


Monster semut itu melompat dan ketika ia mendarat, ia menghentak-kan kaki-nya ke tanah dengan sekuat tenaga hingga tanah di sekitar-nya langsung hancur dan terangkat ke udara.


Beberapa tanah yang terangkat di udara itu kini langsung memancar-kan cahaya merah redup, dan tanah yang memancar-kan cahaya merah redup itu kini langsung melesat ke arah gadis itu dengan sangat cepat.


Si gadis yang saat ini terus melompat dari satu pohon ke pohon lain-nya kini di serang oleh pecahan-pecahan tanah yang cukup besar dan kuat.


Tanah-tanah itu kini menghantam tempat-tempat gadis itu mendarat sebelum-nya.


akan tetapi gadis itu berhasil menghindar dan melompat ke pohon lain-nya sehingga tanah yang menghantam dahan pohon yang di hinggapi gadis itu sebelum-nya kini langsung patah dan berjatuhan di tanah.


"sial, tidak ku sangka akan jadi seperti ini!" ucap gadis itu dalam hati sambil menggertak-kan gigi-nya.


"aku harus buru-buru sekarang!"


Lalu gadis itu semakin mempercepat lesatan-nya dari satu pohon ke pohon lain-nya.


Setelah beberapa saat lari dari kejaran semut raksasa itu, kini gadis itu pun tiba di sebuah gua, lebih tepat-nya gua tempat Madika bersemedi.


Saat gadis itu melihat gua itu, si gadis itu pun segera berlari ke arah gua itu dan berniat bersembunyi di sana.


Namun, belum sempat gadis itu masuk lebih dalam ke gua, kini gadis itu telah di hadang oleh Askila yang saat ini berdiri di depan-nya dengan tatapan tajam serta ekspresi yang sangar.


"kenapa kau membawa mahluk itu ke mari?" tanya Askila saat melihat monster semut yang baru saja muncul di belakang gadis itu.


"tolong aku!" teriak gadis itu yang kini langsung berlari ke belakang Askila.


"hoi!.... jangan dekat-dekat dengan-ku!" bentak Askila ketika gadis itu bersembunyi di belakang-nya sambil memegang ekor-nya.

__ADS_1


"ma.... maaf."


"urus saja urusan mu sendiri bocah!.... aku sedang menjaga tuan-ku!" ucap Askila memarahi gadis yang umur-nya kira-kira sama dengan Madika.


"tapi aku sudah terlanjur di sini, ku mohon tolong aku." ucap gadis itu memohon.


"tolong dengkul-mu.... monster semut itu level-nya lebih tinggi dari-ku sial@n!" bentak Askila lagi.


"tapi bukan-kah kalau di biar-kan dia akan menyerang tuan-mu di dalam sana?" balas gadis itu.


"ehh??"


Seketika Askila di serang oleh kenyataan bahwa jika ia membiar-kan monster itu tanpa melawan, maka besar kemungkinan hewan monster itu akan mengganggu Madika yang masih bersemedi di dalam sana.


"bocah sial@n!" ucap Askila yang kini tampak kesal.


Mau tak mau, kini Askila pun harus menghadapi hewan monster jenis semut tersebut.


Askila pun kini langsung mengeluar-kan empat kloning milik-nya.


Kini empat kloning Askila mulai menyerang dengan cara mencakar dan menggigit.


Tampak salah satu kloning melompat ke arah kepala semut itu dengan posisi mulut terbuka untuk menerkam si semut raksasa itu.


Namun semut itu langsung melompat ke belakang dengan sangat cepat.


setelah itu si semut pun langsung menghentak-kan kaki-nya ke tanah.


seketika itu juga muncul tanah berujung runcing yang menjulang ke atas tepat di bawah kloning Askila serta Askila itu sendiri.


Karena Askila dan empat kloning-nya itu sadar akan serangan tersebut, kini mereka pun menghindar dengan cara melompat dan menjauh dari serangan itu.


Namun, saat mereka berhasil menghindari satu serangan itu, kini muncul serangan yang serupa lagi dan muncul tepat di bawah mereka lagi.


hal itu pun memaksa mereka untuk segera menghindar lagi dengan cepat.

__ADS_1


Serangan itu terjadi hingga beberapa kali, namun sayang-nya tak ada satu pun serangan si semut raksasa itu yang berhasil mengenai Askila.


Sementara itu, Askila dan empat kloning-nya yang sedari tadi bisa menghindari serangan dari semut raksasa itu kini mulai maju dan menyerang.


Kali ini salah satu kloning Askila melompat ke udara sambil melancar-kan serangan cakar dari jarak jauh.


Saat kloning itu mencakar udara, saat itu-lah muncul tiga petir tajam dengan pola cakaran langsung melesat ke arah semut raksasa itu.


Tidak hanya itu saja, kini tiga kloning serta Askila yang asli itu juga langsung ikut melancar-kan serangan masing-masing, yakni menyerang mengguna-kan semburan petir dari bola petir yang mereka buat di depan mulut mereka.


Askila dan tiga kloning itu menyiap-kan jurus-nya dengan cara membuka mulut-nya, lalu di depan mulut mereka akan terbentuk sebuah bola energi yang memancar-kan petir-petir kecil.


namun, setelah di lepas-kan petir-petir kecil itu berubah menjadi Sambaran petir yang sangat besar.


Kini serangan cakar petir serta empat serangan Sambaran petir itu melesat cepat ke arah si semut raksasa itu.


Hingga akhir-nya serangan Askila bersama empat kloning-nya itu langsung menghantam si semut raksasa itu dan seketika itu juga terjadi ledakan yang cukup dahsyat di tempat semut itu berdiri.


Ledakan itu menghasil-kan asap yang sangat tebal dan pekat sehingga Askila dan gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan di dalam sana.


Namun, tak lama setelah itu, kini asap tebal itu perlahan hilang dan secara perlahan terlihat sebuah dinding tanah yang sangat kokoh kini menutupi si semut raksasa itu.


Hal itu pun membuat Askila dan gadis itu langsung terkejut.


"sial!... dia masih sempat membuat pelindung dari tanah!" ucap Askila dengan ekspresi yang terlihat sangat kesal.


"kalau begitu terima serangan-ku selanjut-nya!" ucap Askila dengan semangat.


Lalu Askila dan empat kloning-nya itu langsung membuat formasi melingkar dan mengelilingi semut raksasa itu.


Setelah itu tubuh Askila yang di bagian punggung-nya yang bergerigi itu kini mulai muncul percikan-percikan petir kecil.


semakin lama, percikan itu semakin besar hingga akhir-nya petir itu langsung mulai menyambar ke berbagai lokasi.


Namun dengan segera Askila dan para kloning-nya menyatu-kan petir-petir mereka itu ke satu titik di atas mereka, dan satu titik yang di maksud di sini adalah titik pusat dari pola melingkar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2