
Saat ini Madika dan para tetua serta ketua dan sesepuh sekte Balumba tampak sedang berbincang-bincang.
Para petinggi sekte Balumba itu saat ini sedang menjelaskan semua tentang sekte Balumba saat ini beserta perkembangannya dari zaman ke zaman.
Setelah menjelaskan semua tentang sekte Balumba, kini sang sesepuh pun mengajak Madika untuk menjadi pemimpin baru untuk sekte Balumba.
Bahkan sang ketua sekte sendiri, yakni Nakarapu juga merekomendasikan hal itu pada Madika.
Mereka semua saat ini meminta agar Madika mau menjadi pemimpin sekte tersebut karena mereka merasa bahwa Madika memang pantas menjadi pemimpin di sekte tersebut mengingat status Madika yang sebenarnya.
"Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik untuk memimpin sebuah sekte, tapi saat ini aku membutuhkan pasukan untuk melanjutkan rencanaku yang berikutnya." Ucap Madika sambil memegang dagunya.
"Rencana?... Boleh kami tahu apa yang sedang anda rencanakan saat ini?" Tanya Wilasopu.
"Setelah mendapatkan kembali tongkat kaisar rotan api, tujuanku yang selanjutnya adalah mengambil kembali hak-ku sebagai seorang putra mahkota dari kerajaan Tambolo dan aku akan mengambil alih tahta kerajaan yang seharusnya menjadi milikku." Ucap Madika.
Setelah berkata seperti itu, Madika pun kini mulai menceritakan cerita tentang dirinya di masa kini.
Ia menceritakan tentang dirinya yang lahir di keluarga kerajaan dan di masa ini ia merasa bahwa dirinya harus membalaskan dendam orangtuanya yang terlah melahirkan kembali dirinya di zaman ini.
Setelah menjelaskan cerita masa lalunya sebagai Madika Rosompodapala, kini seluruh petinggi sekte Balumba pun mendukung tindakan yang akan Madika lakukan itu.
Mereka berpendapat bahwa Madika memang harus membalas dendam untuk masalah tersebut, lagi pula, jika kelak Madika menjadi seorang raja, maka sekte ini juga akan memiliki hubungan dengan kerajaan Tambolo.
"Baiklah, jika anda memang berkehendak seperti itu, maka kami akan mengikutinya!" Ucap Wilasopu.
"Benar!... Untuk itu, mungkin sebaiknya anda mengambil alih kepemimpinan sekte Balumba untuk sementara waktu agar bisa memimpin sekte ini dalam peperangan tersebut!" Sanggah si ketua kelompok.
"Itu memang benar, hanya saja aku berpikir... Pasti beberapa anggota sekte Balumba ada yang masih menyimpan rasa kesal padaku... Karena dalam pertarungan sebelumnya aku telah membunuh cukup banyak orang, bisa saja orang-orang yang bunuh itu adalah sosok kekasih, keluarga, atau mungkin sahabat dari orang-orang yang masih hidup saat ini." Ucap Madika menanggapi.
"Apa yang anda katakan memang benar, tapi jangan permasalahkan hal itu, yang jelasnya saat ini kami sebagai para petinggi di sekte ini sudah menerima-mu, jadi jika ada yang tidak mau mengikuti-mu, maka biarkan saja mereka keluar dari sekte Balumba!" Timpal tetua Barugo sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang di katakan oleh tetua Barugo itu benar, lagi pula sejak awal orang-orang yang datang ke sekte ini rata-rata adalah orang yang datang dengan sendirinya, dan kami hanya memilih siapa yang pantas untuk masuk ke sekte ini... Jadi jika pada akhirnya mereka tak suka berada di sini, maka mereka hanya perlu pergi dan keluar dari sekte ini." Ucap tetua Supiri menyanggah perkataan tetua Barugo.
Kini para petinggi sekte Balumba terus mencoba membujuk Madika.
Kini Madika mulai berpikir serta mencoba mempertimbangkan hal itu, dan akhirnya Madika pun memutuskan untuk mengikuti saran mereka karena saat ini Madika memang juga sedang membutuhkan bantuan untuk mengalahkan kerajaan Tambolo.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengambil kesempatan ini... Mulai sekarang mohon kerjasamanya!" Ucap Madika.
__ADS_1
Mendengar ucapan Madika itu, kini para tetua sekte langsung memberi hormat pada Madika dan menyambut Madika sebagai ketua sekte yang baru.
Setelah itu mereka pun kembali berbincang-bincang.
Setelah beberapa lama kemudian, kini salah seorang guru dari sekte Balumba mengetuk pintu ruangan tersebut.
TUK TUK TUK....
"Permisi... Apa ketua sekte ada di dalam? Saat ini ada urusan kerajaan yang sedang berkunjung." Ucap si guru di sekte itu.
"Ya, ketua sekte ada di sini... Masuklah!" Jawab Nakarapu yang merupakan ketua sekte sebelumnya.
Setelah Nakarapu berkata seperti itu, kini si guru yang ada di sekte itu mempersilahkan dua orang urusan kerajaan itu untuk masuk.
Ia membukakan pintu ruangan pada kedua utusan kerajaan itu dan kini kedua pria yang merupakan urusan dari kerajaan itu kini masuk.
Saat kedua pria utusan kerajaan itu masuk, seketika meraka semua yang ada di ruangan itu langsung berdiri menyambut kedua pria itu.
"Silahkan duduk." Ucap Nakarapu sambil tersenyum ramah menyambut kedua pria itu.
Kedua pria itu pun langsung membalas senyuman dari mantan ketua sekte itu.
Sebelum keduanya menyampaikan apa yang menjadi tujuan mereka datang ke sekte balum, saat ini mereka mula-mula mempertanyakan situasi sekte saat ini karena saat ini sekte Balumba benar-benar tampak seperti baru saja di serang.
"Apa yang terjadi di sekte ini?" Tanya Seorang utusan yang bernama Simpo.
"Apa jangan-jangan kalian sudah mengalami penyerangan dari para Niverom?" Sela utusan yang lainnya yang bernama Lompu.
Mendengar ucapan Lompu, seketika mereka semua yang berasal dari sekte Balumba yang sama sekali tidak tahu apa-apa kini hanya bisa menatap dengan ekspresi bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya sesepuh Wilasopu.
"Ah... maaf, sepertinya aku salah paham ya?" Ucap Lompu.
"Ya... Memang jelas kau salah paham, tapi mengenai serangan Niverom yang kau sebutkan sebelumnya... Bisa kau jelaskan apa maksud ucapan-mu itu?" Tanya Madika yang saat ini sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Saat Madika mulai membuka suara, seketika itu juga Lompu dan Simpo langsung tersadar bahwa ada wajah baru di antara para petinggi sekte Balumba saat ini.
Keduanya pun menatap Madika dengan ekspresi penasaran dan bertanya-tanya.
__ADS_1
Namun, Nakarapu yang selaku mantan ketua sekte kini langsung memperkenalkan Madika karena ia melihat ekspresi Simpo dan Lompu yang tampak sedang bingung dengan identitas Madika.
"Ah... Maaf, sebaiknya aku perkenalkan dulu siapa anak muda ini." Ucap Nakarapu sambil menunjuk Madika dengan sopan.
Lanjutnya, "Anak muda ini bernama Madika Tumbawani, dia adalah sosok ketua sekte yang baru untuk sekte Balumba mulai hari ini." Ucap Nakarapu memperkenalkan Madika.
Mendengar perkenalan dari Nakarapu itu, seketika Lompu dan Simpo pun tampak seperti sedang menahan tawa.
Ya, benar saja, saat ini keduanya merasa geli mendengar perkenalan yang di lakukan oleh Nakarapu.
"Yang benar saja, apa kalian yakin dengan hal ini?" Ucap Simpo yang tampak seperti tidak percaya dengan kata-kata Risiwuku.
"Apa maksud ucapan-mu itu?" Tanya Wilasopu yang kini langsung menatap Simpo dengan tatapan tajam dan langsung memunculkan aura membunuhnya serta mengarahkan aura membunuhnya pada kedua pria itu.
Seketika Simpo pun langsung terdiam karena ia sadar betul bahwa saat sesepuh Wilasopu adalah sosok yang sangat kuat. Bahkan kekuatannya bisa di samakan dengan seorang raja atau bahkan bisa lebih kuat dari raja Doroko saat ini, yakni Ando Bangareso.
"Hei!... Jaga sopan santun mu!... Biar bagaimanapun kita saat ini sangat butuh bantuan mereka, jika masalah ini terus di biarkan maka bisa-bisa kerajaan akan semakin merugi!" Ucap Lompu berbisik pada Simpo.
"Maaf, aku kelepasan!" Balas Simpo.
"Jika kau datang kemari hanya untuk mencari masalah dengan sekte Balumba, sebaiknya jangan datang!" Ucap Wilasopu yang kemudian menghentakkan jari telunjuknya di udara.
Seketika itu juga terbentuklah gelombang energi yang menghasilkan hentakan yang sangat kuat di udara dan hentakkan dari gelombang energi itu menghantam kedua pria itu hingga rambut mereka beterbangan ke belakang.
"Ha... Hanya dengan jari saja bisa sekuat ini?!" Ucap Simpo dalam hati.
"Sialan!... Pak tua ini semakin hari semakin kuat saja!" batin Lompu. Lanjutnya, "Sebenarnya sekuat apa bocah ini sampai-sampai ia bisa menduduki jabatan sebagai ketua sekte?!"
Kini Lompu dan Simpo pun bertanya-tanya dalam hati mengenai identitas Madika yang sebenarnya.
Namun, hingga kini keduanya tampak masih sesekali menatap Madika dengan tatapan yang tidak mengenakkan.
Namun Madika tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali karena baginya ia tak butuh pengakuan dari kedua pria itu. Lagi pula tak ada untungnya jika kedua orang itu tahu seberapa kuat dirinya saat ini.
Madika pun kini hanya menatap Simpo dan Lompu dengan tatapan malas sambil memiringkan kepalanya ke samping.
Setelah itu, kini Simpo dan Lompu pun langsung memberitahukan tujuan mereka datang ke sekte Balumba.
"Begini, sebenarnya tujuan kami datang ke tempat ini adalah untuk menyampaikan pesan langsung dari raja Ando Bangareso." Ucap Lompu sambil menoleh pada Simpo untuk memberi kode pada Simpo agar mengeluarkan surat yang di serahkan oleh raja Ando padanya.
__ADS_1
Simpo pun langsung memahami kode dari Lompu dan ia pun segera memuncul-kan surat itu di tangan kanannya.